Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 10:45 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Tiba di Jakarta Hera kembali disibukan dengan aktivitas keseharian membantu ibunya. Senang sekali ibu Hera dapat oleh- oleh emping melinjo, hasil kebon halaman depan rumahnya di desa. Ada sekitar 30 pohon melinjo besar-besar berjajar rapi di halaman rumah mbah Mangun. Hasilnya nggak habis-habis.

“Salamu’allaikum Neng, ” Hera dikagetkan oleh suara dari balik pintu. Sang tamu  langsung masuk, tanpa disuruh.

” Ooh mas Pur, bawa apa itu mas?” lanjut Hera masih belum hilang kagetnya.

” Ini bakpia patok, sama geplak. ”

Hera makin kaget tahu Purnomo bawa oleh-oleh khas Jogja.

” Lho kapan mas Pur ke Jogja? ”

” Kamis kemarin, mendadak ada panggilan dari Telkom Jogja ada masalah,” jawab Purnomo.

” Ooh naik apa mas Pur,” Hera menyelidik sambil mengingat tragedi dituduh Agung di kereta.

“Kamis sore ke Jogja pesawat,  Minggu malam balik Jakarta naik kereta,” lanjut Purnomo apa adanya.

“Ooh ….,” kata Hera sambil buka bungkusan bakpia patok sambil masih berpikir soal peristiwa di kereta itu.

“Ngomong- ngomong dah selesai belum baca bukunya?”

“Tinggal dikit lagi selesai,”  jawab Hera berbohong. Buku masih di Agung.

“Bagus nggak?”

“Bagus, seruu, catatan kehidupan seorang aktivis, hidupnya untuk perjuangan. Entah dapat apa, berhasil atau tidak,” lanjut Hera berbohong dengan lancar. Hera bercerita seakan sudah membaca buku itu, padahal baru sempat membaca pengantarnya, itupun sekilas.  Memang benar satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan berikutya jika ingin tetap aman.

“Naik kereta turun mana mas Pur?”tanya Hera masih penasaran.

“Aku turun stasiun Bekasi, nganter titipan ke kakak dari orang tua,” jawabnya lagi.

“Emang kenapa neng?” gantian Purnomo bertanya.

“Gak apa-apa, mas Pur sudah makan belum, saya barusan masak balado terong,”  Hera segera mengalihkan pembicaraan, untuk menyembunyikan rasa penasarannya.

“Waah masakan kesukaanku itu. Boleh ya aku ngicipi?”

“Makan aja, panggil mas Edi sekalian.”

Purnomo hafal letak bel di dekat mesin jahit, dia pencet bel untuk memanggil Edi, kakak Hera. Tak lama Edi turun dan mereka makan dengan lahapnya.

Hera buru- buru masuk kamar menghindari percakapan lebih lanjut dengan Purnomo.

Hera berpikir lagi soal tuduhan Agung di kereta, mungkin saja benar. Hera tidak menanyakan apapun dan juga tidak ingin bercerita apapun kepada Purnomo lebih lanjut. Terbesit kekhawatiranya andai benar yang di kereta itu Purnomo, dan dia melihat dirinya dan Agung di kereta, lalu dia cerita ke mas Edi. Berikutya sampai ke ibunya. Itu yang Hera takutkan, karena sudah terlanjur ia tidak bercerita kalau dirinya pulang bersama Agung. Hera juga sedikit malu dengan aksi ngambeknya. Padahal bisa jadi Agung tidak salah.

*

“Aku lulus lho,lulus  Pendidikan dan Pelatihan,” ucap Agung saat bersama Hera di bis.

“Wow..selamat ya….,” kata Hera sambil menmegang kepalaAgung dengan bangga dan haru walau dia sudah yakin pasti lulus. Acara perpisahan dengan instruktur ekspatriat akan dilaksanakan malam Minggu.

“Kapan berangkat?”

“Minggu depan ,“ sahut Agung.

“Sudah siap tiket keberangkatan,” lanjut Agung lagi.

Agung mulai mempersiapkan segala keperluan yang harus dibawa. Hera membantu membuatkan cek list  barang yang harusdibawa. Tidak terlalu banyak, tidak seperti perempuan. Agung tidak modis cukup bawa 2 celana jeans,  2 celana bahan, beberapa kaos, dan beberapa kemeja. Obat-obatan yang umum seperti flu, minyak angin, obat batuk, perlengkapan mandi.

“Jangan lupa bawa dasi dan jas. Takut susah mencari ukuran jas yang pas  di US, siapa tahu nanti ada acara-acara resmi bisa dipakai,” usul Hera.

Waktu yang tinggal seminggu dimanfaatkan dengan baik dan Hera ingin memberi kesan terbaik di pertemuan terakhir. Hera sudah berjanji tidak akan membuat hal- hal yang tidak mengenakkan. Hera sibuk berpikir mau memberikan kenang-kenangan apa untuk Agung. Hera putuskan membelikan Matches Zippo yang digrafis nama mereka. Agung perokok dan Hera ingin Agung selalu mengingatnya. Agung  senang sekali dengan pemberian Hera.

” Kamu minta kenangan apa dariku, ayo bilang saja. Uang rupiahku besok sudah nggak payu,” kata Agung.

” Belikan uang dolar saja buat tambah sangu,” sahut Hera. Walau hidup dalam ketebatasan, Hera tetap lebih suka memberi daripada menerima.

” Itu sudah disiapkan dengan jumlah yang lebih dari cukup.”

” Ya udah belikan dasi dan jas aja, ayo kita cari bahan di pasar Sunan Giri disitu ada ratusan penjahit asal Padang, terkenal rapi jahitannya,”  usul Hera.

” Oke, sambil makan Bakso ya.”

” So pasti itu Bakso Sinar Garut dan Es kelapa muda dan nangka.”

Pasar Sunan Giri berada tidak jauh dari Kampus IKIP Jakarta sehingga Hera sangat hafal. Di pasar itulah pusat penjualan baju seragam sekolah dari TK hingga SMA, pusat penjualan aneka bahan, bahan kebaya, bahan furing dan bahan- celana atau jas. Di pasar itu pula berkumpul ratusan penjahit dari kelas mahal, sedang, hingga  yang biasa saja. Ibu Hera sering nitip dibelikan perlengkapan jahit-menjahit.

Pasar Sunan Giri terkenal di wilayah Jakarta  sebagai pusat penjualan baju seragam dan perlengkapan jahit menjahit terbesar. Di pasar itu, dijual aneka warna benang, aneka jenis benang,  aneka kancing dengan segala model, aneka jenis resleting,  peralatan kerajinan tangan untuk rajut dan songket, untuk bordir hiasan baju. Bagi yang hobi menjahit akan sangat betah berada di pasar ini, karena akan bisa memunculkan inspirasi untuk mendesain aneka model baju.

Mereka menuju pasar Sunan Giri dan memilih-milih dasi dan bahan untuk Jas. Hari berikutnya mereka ke  Dept Store Sarinah Thamrin. Agung ingin membeli beberapa wayang kulit  Bima, Arjuna dan Kresna untuk dibawa. Dan mereka menuju  di toko Jewelry.

“Kamu mau apa?”

“Ah nggak usah…”

Agung nekat membeli bross.

“Kamu pilih yang motif apa?”

“Hmmm..”

Ahirnya Hera memilih  bross motif bunga anggrek. Hera suka sekali dengan hadiah ini. Dia akan simpan dan memakai saat Wisuda S1 nanti.

Hera sudah di rumah setelah mengantar Agung belanja. Hera tiba-tiba merasa akan ada sesuatu yang hilang. Kehilangan besar yang akan membuat hatinya kosong. Hera seminggu ini sedih sekali. Apakah ini artinya dia sungguh mencintai Agung. Entahlah.

Hera ingin mengikuti kata hati saja dalam seminggu ini.

Pikiran Hera tidak lepas sedikitpun dari Agung yang sebentar lagi akan pergi jauh. Dan dia berpikir apakah akan bisa bersama lagi atau tidak.

Malam Sabtu, 19 April tahun 1985  adalah malam terakhir Agung bertandang ke rumah Hera. Itulah malam setelah mereka membeli sourvernir di Sarinah. Malam itu Agung dan  Hero ngobrol sambil main gitar. Mereka berdua membawakan lagu-lagu Beatles, Yesterday, Hey jude , I want to hold your hand.  Hero mengikut saja pilihan lagu dari Agung.

Hera ikut menyanyi sambil membayangkan Agung akan segera pergi.

Lagu-lagu yang mengalun malam itu,  membuat hati  Hera terasa tersayat, entah karena kekuatan lyric-nya atau suara gitarnya, atau suasananya. Sungguh suatu suasana  yang mengharukan  yang belum pernah Hera alami sebelumnya. Malam terus berjalan.

Sampailah lagu John Lennon mengalun.  Sepertinya Agung ingin meninggalkan kesan mendalam untuk Hera .

Oh my love for the first timeinmy life..

My eyes are wide open…

🎵….I feel sorrow… oh I feel dreams..everything is clear in my heart..

I feel life…oh I feel love….🎵

Hera menyimak lagu itu.Ingin ia ikut berdendang tapi tidak kuasa .Air matanya   tumpah .  Dia  terisak. Agung tahu Hera berderai air mata, dan Hero juga tahu. Tapi, mereka membiarkan, tidak menghentikan lagunya. Justru Agung merasa telah menyanyikan lagu itu dengan sempurna. Mungkin kesan itu lebih kuat daripada yang dirasakan Yoko Ono ketika John Lennon membawakan lagu itu.

Hera tidak tahan. Dia lari masuk ke dalam, ke dapur memasak air. Sambil tersedu, Hera menyeduh dua cangkir kopi untuk dua pengamen yang telah menguras air matanya itu.

Hera menghidangkan kopi dan Agung melirik sambil tersenyum, hatinya bangga dan senang bisa membuat Hera menangis.

” Sudah malam lho. Besok pagi buta kan harus berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma, aku sih senang aja kalau nggak pulang. Wong Halim lebih dekat dari sini,” kata Hera sambil mengusap air matanya.

” Iya besok ada om yang  mau antar dengan mobilnya,” jawab Agung.

” Wah berarti harus pulang ke rumah si om dong, tinggal dimana omnya?”

” Jakarta Selatan.”

Mereka menikmati kopi sambil menghisap rokoknya.  Agung berat mau pulang. Malam ini rasanya semua lagu enak sekali dimainkan.

“Baiklah aku pamit ya sampai ketemu di Bandara, ”  Agung beranjak menyenderkan gitar ke kursi. Agung tahu Hera memang akan ikut melepas kepergiannya di bandara.

Hera memanggil ibunya  untuk kali pertama menemui Agung.

” Bu Agung mau pamit, dan mohon doa restunya, semoga sekolahnya di Amerika sukses dan lancar,” kata Hera mewakili Agung. Ibunya  kaget.

” Cah cilik kok arep sekolah adoh- adoh, lha mbok di UI saja atau STAN,” sahut bu Ratmi spontan. Bagi ibunya Hera  sekolah yang paling top itu UI dan STAN.

” Lha gak papa to bu biar nanti jadi orang hebat, wong di biayai pemerintah,” lagi-lagi Hera menjadi jubir Agung.

” Iyo le Gung, tak doakan kamu sukses ya,  jaga diri baik-baik di negeri orang,” kata Bu Ratmi sambil menjabat dan menepuk-nepuk punggung Agung.

” Nggih bu maturnuwun,” jawab Agung singkat.

Agung pamit dan mencium tangan Hera. Airmata Hera kembali berlinang. Sambil agak menjauh dari Ibunya Hera,Agung berbisik.

“Ini aku titip buku harianku,”kata agung sambil memberikan diary-nya.

Hera tidak mengerti apa maksudnya.

“Kok?”

“Dengan menyerahkan buku harian ini, artinya aku menyerahkan hidupku padamu,” Agung menekankan suaranya.

Hera makin tersanjung. Dia masuk kamar masih dengan menahan air mata. Begitu tuluskah Agung, tanyanya.  Hera menyetel alarm sebelum subuh dan meletakan jam weker ke kamar Hero. Maklum cowok di keluarga Hera bangsawan semua, bangsane tangi awan.  Hera minta tolong Hero agar dia mengantar nya ke Bandara Halim. Hera belum tahu benar jalur menuju kesana walaupun tidak terlalu jauh dari Utan Kayu.

Pagi itu Hera sudah siap berpakaian gaun paling anggun yang dia miliki, baju jahitan ibu warna salem dengan bahan bermotif daun. Agung pasti akan kaget melihatnya karena selama ini Hera selalu memakai jeans, atasan kaos atau blouse.

Hero mengajak naik bis lalu ganti dengan angkot Trans Halim.

Sampai di Halim Agung dan teman-teman beserta keluarga pengantar sudah berkumpul dan berfoto- foto ria. Dari jauh Agung melihat Hera,dia  terpana tidak percaya. Tapi sejenak lalu dia sadar, tersenyum lebar menyambut Hera dan Hero.Mereka bersalaman dengan keluargo omnya Agung yang di Jakarta.

Lalu mereka berfoto- foto Agung merangkul pundak Hera, dan menitipkan jacketnya ke ke Hera. Indah sekali hari itu. Hera berjanji pada dirinya untuk tidak menangis. Dia sudah habiskan airmatanya semalaman.

Waktu boarding sudah dekat, Agung memeluk dan mencium kening Hera hal pertama kali dia lakukan terhadap Hera. Sebuah ciuman kening yang bermakna kasih sayang yang tidak terbalut emosi. Demikian Hera merasakan. Mendadak Agung menjadi sangat dewasa. Atau semalaman dibriefing oleh omnya. Entahlah.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.