KEMPALAN: Orang Jawa Timur memang terkenal praktis, lebih suka tunjek poin alias to the point, tidak mau repot berbelit-belit. Untuk meminta maaf pada hari Lebaran, misalnya, orang-orang biasanya cukup mengucapkan, ‘’Lahir Batin’’, maksudnya meminta maaf lahir dan batin.
Itu adalah budaya khas Jatim dalam berkomunikasi yang disebut sebagai komunikasi konteks rendah atau low context communication, cirinya selalu berterus terang apa adanya, tanpa berbelit-belit, dan menggunakan kode pesan yang bersifat eksplisit.
Ada juga komunikasi konteks tinggi atau high context communication, yaitu komunikasi yang berasal dari orang-orang yang mempunyai kode pesan yang bersifat implisit atau bersifat simbolis, dan sering memakai tembung sanepa yang bermakna ganda. Orang Jawa Tengah dan Jogjakarta biasanya masuk dalam kategori ini. Ketika meminta maaf dalam even Lebaran orang Jawa Tengah memakai ungkapan ‘’ngaturaken sedaya kelepatan’’ atau menghaturkan semua kesalahan untuk dimaafkan.
Perbedaan geografis dan budaya di Indonesia yang sangat beragam menciptakan pola komunikasi yang sangat beragam. Ahli semantik Edward T. Hall (1973) menyebut hubungan resiprokal yang tak terpisahkan antara budaya dan komunikasi. Communication is culture and culture is communication, komunikasi adalah budaya, dan budaya adalah komunikasi. Begitu kata Hall.

Dalam konteks Indonesia, cara berkomunikasi orang Jawa Timur bisa masuk kategori konteks rendah yang polos dan terbuka. Tapi, dalam konteks nasional, biasanya orang Jawa secara keseluruhan dianggap punya konteks tinggi yang berbelit-belit dan implisit. Orang-orang Batak di Sumatera Barat, atau orang-orang Ambon dan Papua, biasanya dianggap punya pola komunikasi konteks rendah yang lebih eksplisit dan terbuka.
Dalam konteks internasional secara keseluruhan bangsa Indonesia–bersama-sama bangsa-bangsa Asia–dikategorikan sebagai bangsa dengan budaya komunikasi konteks tinggi, sementara bangsa Barat, yaitu Eropa dan Amerika, diangap punya budaya komunikasi konteks rendah yang direct to the point alias tunjek poin.
Edward T. Hall menghubungkan komunikasi konteks rendah Barat dengan budaya individualisme masyarakat Barat. Sementara bangsa Asia yang menganut budaya kolektivisme mempunyai pola komunikasi konteks tinggi yang ditandai dengan komunikasi yang bersifat implisit, tidak langsung, dan tidak terus terang. Pesan yang sebenarnya sering tersembunyi dalam perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan, postur badan, ekspresi wajah, dan tatapan mata.
Presiden Soeharto adalah contoh budaya konteks tinggi yang paling menonjol. Ia sangat enigmatik dan cenderung misterius, karena sikapnya yang sulit ditebak. Gestur dan body language, bahasa tubuh Pak Harto bisa multitafsir. Ketika Pak Harto tersenyum belum tentu dia senang. Ketika Pak Harto menganggung-angguk belum tentu setuju atau mengiyakan. Justru sebaliknya, semua gestur itu bisa berarti sebaliknya. Pak Harto bisa mengancam akan menggebuk lawan politiknya sembari tersenyum.
Konteks fisik juga mempunyai makna tersendiri, misalnya dandanan, penataan ruangan, benda-benda hiasan, dan lokasi tertentu. Pernyataan verbalnya bisa berbeda atau bertentangan dengan pesan nonverbal dalam bentuk setting dan tata ruang. Pada 1990 Pak Harto mengundang puluhan konglomerat terkemuka Indonesia ke peternakan pribadi milik Pak Harto di Tapos, Bogor. Pada pertemuan itu Pak Harto minta para taipan kaya itu membagi beberapa persen sahamnya untuk koperasi supaya bisa dinikmati oleh rakyat. Para taipan itu menurut, meskipun merasa diperas. Lokasi pertemuan terjadi di peternakan dekat dengan kandang sapi adalah simbol bahwa kalau sapi sudah gemuk maka tiba saatnya diperas susunya atau disembelih untuk dinikmati dagingnya.
Dalam banyak hal, Jokowi sering disebut sebagai Soeharto Kecil atau bahkan pemerintahannya sering disindir sebagai miniatur Orba atau neo-Orba. Sebagai orang yang sama-sama punya latar belakang budaya Jawa Tengah Jokowi dan Pak Harto sama-sama punya gaya komunikasi konteks tinggi yang sering beda antara ucapan dan kenyataan.
Sementara itu, konteks budaya rendah ditandai dengan pesan verbal yang eksplisit, gaya bicara langsung, lugas, dan terus terang. Pada budaya konteks rendah mereka mengatakan apa yang dimaksud (they say what they mean), dan memaksudkan apa yang mereka katakan (they mean what they say). Dalam kondisi demikian komunikasi akan lebih terbuka dan mudah dipahami, karena apa yang dikatakan sesuai dengan yang dimaksudkan.
Almarhum Gus Dur menceritakan perbedaan antara bangsa Indonesia dengan beberapa bangsa di dunia. Bangsa Nigeria dan Angola, kata Gus Dur, punya sifat sedikit bicara, sedikit kerja. Karena itu negaranya tidak maju. Lalu orang Jepang dan Korea Selatan, sedikit bicara dan banyak kerja, karena itu negaranya maju.
Beda lagi dengan Amerika dan China yang banyak bicara tapi juga banyak kerja. Dua negara ini sama-sama maju. Lalu, ada negara yang banyak bicara tapi sedikit kerja, yaitu India dan Pakistan. Sampai sekarang negara ini belum maju. Wartawan yang penasaran bertanya, ‘’Kalau bangsa Indonesia masuk kelompok yang mana, Gus?’’ Gus Dur menjawab, Indonesia tidak masuk dalam empat kategori itu, karena di Indonesia antara yang dibicarakan dengan apa yang dikerjakan berbeda.
Ini humor khas Gus Dur yang bisa bikin ngakak tapi juga bisa bikin panas kuping. Bangsa Indonesia memang sering beda antara ucapan dengan perbuatan. Seorang pejabat atau politisi bisa dengan meyakinkan mengatakan tidak akan melakukan korupsi. Tapi tidak lama kemudian dia kena OTT KPK (operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi). Seorang petinggi partai bicara mendakik-dakik tentang Pancasila, tapi ternyata dia menerima aliran uang korupsi dana bansos. Presiden bilang anti-nepotisme, tapi anak dan mantu jadi walikota.
Karena tahu orang Indonesia sering tidak matching antara kata dan perbuatan maka almarhum KH Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU, mengusulkan kepada Bung Karno supaya diadakan acara halal bi halal nasional, yang mempertemukan para elite politik Indonesia yang ketika itu banyak yang berselisih pada masa-masa awal kemerdekaan.
Menjelang Idul Fitri 1948 Bung Karno risau karena para politisi saling berselisih pendapat dan banyak yang saling hujat dan serang. Bung Karno lalu berkonsultasi dengan Mbah Wahab yang kemudian mengusulkan diadakan halal bi halal nasional supaya semua bisa saling memaafkan pada hari Lebaran.
Ucapan yang disampaikan pada saat halal hi halal juga sangat khas, yaitu mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faizin, semoga menjadi orang yang kembali fitri dan berbahagia. Sejak itu halal bi halal menjadi tradisi nasional dan ucapan permohonan maaf pada Idul Fitri itu juga khas Indonesia.

Meski sudah dilengkapi dengan “lahir dan batin” tapi masih banyak yang tidak sesuai antara apa yang lahir dan apa yang dibatin. Sampai sekarang halal bi halal hanya menjadi seremoni rutin sekadar layanan bibir alias lips service.
Almarhum Jacob Oetama menyebutnya sebagai “Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus” (2004). Jakob mengatakan, komunikasi itu diwarnai beragam perbedaan.
Melalui komunikasi yang serba berbeda, berbeda latar belakang, berbeda pengalaman, berbeda pemahaman, berbeda sudut pandang dan kepentingan, justru seoptimal mungkin akan dibuat kesepemahaman bersama.
Diusahakan tercapainya pengertian bersama atau sekurang-kurangnya saling pengertian. Komunikasi merupakan pembawaan makhluk sosial dan masyarakat manusia. Tidak tulus bisa diartikan sebagai tak menyampaikan apa yang hidup dalam hati dan pikirannya. Sekadar basa-basi.
Masyarakat tidak tulus, dan pemerintah tidak jujur.
Krisis yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang bukan hanya krisis pandemi, tapi krisis keteladanan dan krisis kepercayaan rakyat. Karena itu, ketika pemerintah mengeluarkan larangan mudik, rakyat tidak peduli. Puluhan ribu–atau mungkin ratusan ribu pemudik–menerobos barikade polisi tanpa peduli risiko penularan pandemi. Rakyat menunjukkan public distrust kepada pemerintah dengan memamerkan pembangkangan publik (public disobedience) secara terang-terangan.
Pada momen Idul Fitri sekarang, siapa yang harus minta maaf kepada siapa? (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi