Rabu, 29 April 2026, pukul : 01:23 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Semarang kaline banjir ja sumelang ra  dipikir,  lagu populer yang dilantunkan oleh penyayi top Waljinah, mewakili situasi Semarang saat musim hujan. Saat itu Semarang hujan deras. Hera tidak bisa masuk kuliah karena rumah kosnya banjir dan air masuk ke kamar, hampir sebibir tempat tidur. Bertiga dengan dua temannya  duduk nangkring dimeja belajar. Tidak bisa beraktifitas, karena di luar rumah dan di jalan banjirnya lebih parah. Tidak bisa masak dan tidak ada persiapan makanan, jadinya seperti puasa, bagi Hera sudah terbiasa.

Ajaran simbahnya,  makan dan minumlah jika sudah merasa lapar dan haus. Jangan mengikuti nafsu keinginan makan ini dan itu. Ataukah karena dalam keterbatasan maka nasehat orang tua-tua jaman dulu seperti itu. Memang nikmatnya orang makan dan minum adalah saat lapar sekali dan haus sekali.

Kata simbah, Hera saat-saat usia sekolah jarang lapar dan jarang haus, cenderung tidak bernafsu makan. Karena itulah badannya kurus. Mungkin juga karena cacingan. Kata simbahnya anak sekolah itu kalau badannya gemuk tidak pantas,  tidak berani prihatin. Kalau sudah kerja dan berumah tangga pantas jika badan menjadi berisi gempal dan gemuk, pertanda makmur. Pemikiran orang tua dulu. Padahal gemuk belum tentu sehat.

Hera dan dua temannya tidak kuliah  menunggu air surut. Setelah dua hari air mulai surut. ,  lalu bersih-bersih ngepel lantai dan bantu buang-buang sampah yang menumpuk terbawa banjir masuk halaman. Karena Tidak ada kegiatan apapun, sambil ongkang- ongkang kaki duduk diatas meja, mereka ngobrol ngalor ngidul. Nunik nyeletuk.

“Mana nih cowok-cowok yang naksir Hera kok nggak ada yang datang bawa makanan. Justru saatnya sekarang membuktikan perhatian dan cintanya…mana??”

“Hooh yo mana mas Bagas, mana penjaga Perpus,  mana si Wardi toko pak ndut, dan mana tukang baso yg suka titip salam..wah cintannya palsu kabeh” , Endah ikut -ikutan ngeledek. Walaupun cuma candaan tapi hati Hera tersentil. Mungkin karena sedang sentitif.

“Sudahlah nasib kita tidak tergantung pada para cowok itu, tapi tergantung pada diri kita sendiri, tanggung jawab hidup kita berada di pundak kita sendiri.. ayo bergerak” , jawab Hera seperti sensi dan bangkit.

“Bergerak kemana di luar air masih menggenang jalan ke arah kampus ditutup”, sahut Nunik.

“Hera sepertinya lagi sensi banget ya soal cowok emang kenapa marahan sama Agung ya”, selidik Endah.

” Bukan marahan lagi tapi putus”, jawab Hera singkat.

” Haah yg benar…kok bisa sih teganya..?” komentar Nunik.

” Kok bisa? Ya bisalah semau-mau dia lah”,  Hera sewot

” Kurang asem juga ya si Agung laki-laki nggak komit, masalahnya apa sih Her…kok aneh bukannya  baik-baik saja? ” Nunik penasaran.

” Coba tanya Endah barangkali tahu”, Hera melirik ke arah Endah.

” Tanya aku??? Gak salah ngomong?? Aku tahu apa?? ” tanya Endah terheran.

” Ya barangkali diajak ngudarasa di suratnya.. hmm”,  seloroh Hera.

” G

Nggak lah, aku kan cuma kamu suruh kenalan saja, aku nggak bisa merangkai kata-kata indah. Walaupun namaku Endah. Ya udah dibalas sekali sudah habis. Tanya Ningsih mungkin tahu. Dia kan berbalas pantun bersuratan ria”,  kata Endah.Endah yang  pendiam dan lugu tidak macam- macam, merasa terusik.

” Malas bertanya ah, malah bikin tambah nyesek aku nanti.  Ningsih pernah kasih  nasehat setengah memperingatkan,  ‘mulai sekarang jangan kegedeanrasa ya Her”. Apa coba maksudnya, yang tahu bagaimana Agung dan  kisahnya denganku kan ya aku. Lha kok dia menasehatiku begitu”, keluh Hera.

“Kapan tuh? Nasehat Ningsih kelewatan ..berarti Agung banyak cerita kepadanya atau ada info- info tidak baik yang Ningsih sampaikan atau Agung sampaikan tentang dirimu”, Nunik berpraduga.

” Yo embuh wis ben wae sakarepe, kita toh gak bisa memaksa orang untuk suka atau tidak suka, biar berjalan alamiah”,  jawab Hera asal menjawab.

” Waduuh ngggak bisa begitulah, harus diklarifikasi apa penyebab sesungguhnya”,  desak Nunik.

” Tidak perlu biar cinta mencari muaranya sendiri”, Hera menimpali sok wise.

” Salut aku sama Hera, apa karena banyak pilihan ya..?” kembali Endah yang pendiam bersuara.

“Bukan itu juga Endah. Untuk apa juga aku bnyak yang naksir, setelah ditenani, unjung- ujungnya bubar…hanya akan menambah tumpukan luka aja”, Hera berkomentar absurd. Mereka tidak tahu sesungguhnya siapa Hera dan latar belakang keluarganya. Kalau mereka tahu barangkali saja malah ikut memaklumi keputusan Agung. Ini yang Hera takutkan. Dia akan semakin tersisih terpojok dan makin merasa menjadi orang hina.

” Kan tidak mungkin sebuah keputusan tanpa alasan yang jelas ” , Nunik menyecar lagi.

” Ya pasti adalah mungkin karena LDR, hubungan menjadi monoton”, jawab Hera singkat berharap polemik tentang Agung berakhir.

” Iih gak masuk akal deh,  alasan kok remeh “, Nunik yang cerdas mengkritisi.

” Bikin alasan kan bebas tidak ada larangan dan ketentuan”, kilah Hera yang menjadikan polemik jadi berlanjut.

” Ya sudah Her, berarti harus berpikir ke depan, pindah aja ke lain hati. Ada mas Bagas menanti, ada tukang baso, ada Wardi toko ndut, ada penjaga perpus si Pucat hahaha “, Endah menghibur.

” Ada tambah lagi Junaidi teman Wijaya nitip salam juga”, celetuk Nunik.

” Wis pek en, kabeh, dibagi situ dua- dua atau tiga-tiga “,  canda Hera kecut.

” Jangan patah semangat dong hanya karena seorang Agung “,  support Nunik.

Hera beranjak

” Yuk kita lihat situasi diluar,  kita ke dapur masak air kek bikin teh panas.”

Bertiga beranjak menuju ke belakang melihat  rak tempat…gula teh kopi dan bumbon mengambang di area dapur, yang  masih tergenang air, karena letaknya lebih rendah.

Mereka akhirnya makan mie instan stock yang tersisa.

Hera tiba- tiba ingat Penjaga Perpus yang pernah kasih pinjam buku Al-Quran dan terjemahananya dengan Pengantar Versi Haji A. Mukti Ali. mantan Menteri Agama saat Hera masih SD. Si Penjaga Perpus itu memperhatikan Hera karena buku yang di pinjam selalu buku fiksi novel, roman, kumpulan cerpen dan buku- buku sosil politik tentunya.

” Mbak, ini aku pinjamin buku bacaan bagus di baca disela- sela baca buku roman itu ya”, kata penjaga Perpus namanya Masruri. Masruri putih pucat pasi, kalo bicara gemetaran entah karena lapar puasa atau karena grogi.

” Alhamdulillah trimaksih Mas, buku Al-quran nya komplit kalau beli pasti mahal dan tidak kebeli” ,kata Hera tersenyum.

” Iya baca sepuasnya tidak usah ditulis di kartu kapan kembalinya “, melihat  wajahnya Masruri ini orang Sumatra bagian Selatan atau Barat. Bagi mahasiswa seangkatan Hera yang rajin ke Perpustakaan pasti mengenal sosok Masruri yang kurus pucat ini. Masruri pernah memberi kejutan Hera buah durian Bangkok besar, saat dia jaga shift sore hingga malam, dia pikir Hera akan senang  dengan pemberiannya. Ternyata Hera sangat tidak suka durian Hera bahkan langsung mual dan ingin muntah akibat bau durian yang menyengat. Hera berterimakasih dan teman-temannya berpesta durian.  Dalam hati Hera kenapa bukan buah mangga atau jeruk saja yang dibawa.

” Wooi Hera njangan ngalamun ini mie nya keburu dingin ntar ngga enak”, teriak Nunik

Hera bergegas menyambut mangkok mienya hanya sedikit karna stock tinggal 2 dibagi bertiga. Hera bercerita.

” Tadi aku nglamunkan seandainya ada orang nganter makanan betapa senangnya, kalian ingat kan saat pesta duren pemberian Masruri pucat itu.”

” Iya ingat kita langkahi  3 kali sambil baca- baca, sebelum kita makan, takut ada peletnya hahaha “,  kata Nunik

“Emang kenapa kalau kepelet sama si pucat?” tanya Hera.

” Emoh wong  aku nanti jadi I-eR kok dapet penjaga perpus pucat lagi.”

” Hahaha.. !!” mereka tertawa.

” Atau pilih Surip tukang baso aja biar wareg terus, siapa tahu kelak jadi usahanya maju oesat, punya warung Baso besar dan terkenal”,  kata Hera ngelantur.

” Iya ya daripada sama orang yang pinter tapi ujungnya nyakitin ngapusi hihihi”, Endah yang kalem itu mulai bersuara lagi.

” Biasanya orang yang sederhana seperti itu lugu, jujur  kerja keras baik hati dan nurut”, kata Nunik.

” Sudah jangan bicara soal laki- laki,  sepertinya aku tak hendak menikah”, kata Hera asal saja.

” Aaah yang benar “, Nunik dan Endah bersamaan menukas.

” Lha emang salah jika orang tidak menikah”, Hera gantian menukas.

” Ya sayang aja dan rugi kalau gak menikah, aku aja yang belum pernah punya pacar membayangkan, menikah itu enak dan menyenangkan”, kata Endah.

” Ya karena kamu belum pernah pacaran, jadinya hanya membayangkan yang serba enak dan endah huhuhu, aku doakan kamu cepat punya pacar biar tahu rasa “,  Hera  seperti ingin berbagi kesal.

Tahu- tahu hari sudah menjelang sore Parman tukang becak membawa pisang kepok pemberian rumah sebelah yang pohon nya ambruk. Kepoknya sudah semburat kuning dan cocok direbus, pasti legit dan bikin wareg.

Tak terasa Hera sudah memasuki akhir semester IV udah banyak SKS yang dia kumpulkan target terlama 3,5 tahun. Hera tidak memburu IP tinggi cukup IP kumulatif minimal 2,75 saja. Yang penting lulus belum tentu ijazahnya laku buat jadi PNS.

Mas Bagas masih sering main ke kost dia melihat perubahan Hera yang nampak suntrut. Tidak ceria.

” Dik, kok nampaknya lagi sedih, ada apa?” tanya mas Bagas penasaran

” Gak ada apa-apa mas,  kesel saja habis banjiran makalah- makalah belum diseminarkan kerendem air, harus ngetik lagi awang-awangen”, jawab Hera asal.

Mas Bagas tidak tanya lebih jauh dan Hera juga tidak cerita lebih jauh. Karena terlalu panjang dan berliku jika di ceritakan.

” Yowis kalau gak ada apa-apa, diseneng- senengke atine”, nasehat mas Bagas menembus ke jantung hati Hera.

Tiba- tiba Hera mrebes dia tahankan airmata nya sekuat tenaga. Dia tidak ingin mas Bagas tahu deritanya dan masalahnya. Hera lalu ke dapur mencari sisa rebusan pisang kepok, sambil menenangkan hati.

” Iki mas sisa pisang rebus perolehan dari Parman bantu negor pisang rumah sebelah”, suara Hera agak parau membuat mas Bagas curiga dan memperhatikan sungguh- sunnguh.

” Dik, yen pengin crita masalahmu critakan aku siap mendengarkan,  kalau gak ingin crita ya gak apa-apa, pesanku jangan sedih berlarut- larut, masih muda kok, masa depan membentang luas, pandanglah jauh ke mukamu masa depanmu.”

” Wah kok kaya lagu tho mas, lagu Pemenang LCLR Prambors tahun 78, lagunya bagus semua, kalau mudik ke Jakarta saya selalu nyetel lagu itu”, sahut Hera mengalihkan ke lagu- lagu Prambors Rasesonia. Ia jadi sedikit terhibur.

Hera tahu mas Bagas sangat perhatian tapi Hera sudah tidak ingin lagi berharap apapun, hatinya sudah tertutup kabut. Dia merasa bahwa sebaik apapun dia, jika orang tahu latar belakang keluarganya, pasti akan mundur pelan- pelan. Mungkin juga tidak semua pria begitu, tapi Hera antisipasi saja. Sehingga lebih baik membunuh perasaan yang mengarah kepada hubungan yang serius. Mas Bagas membiarkan hubungan mengalir begitu saja tanpa direkayasa, tanpa kembangan semestinya.

Keesokan harinya ada surat datang dari Larso, memberitakukan bahwa dia akan ada tugas survey lingkungan si daerah Pemalang kawasan Pantai Widuri dan Benowo, di pesisir pantai utara.  Larso mengagendakan datang pada sabtu pagi, Hera diminta menjemputnya, lalu berkuliner dan  sama- sama pulang mudik ke desa. Seharusnyalah Hera senang dengan situasi ini. Dimana dia punya kesempatan berduaan dengan Larso lebih lama. Tapi Hera hatinya sudah menjadi dingin. Dia malas menulis surat balasan, pulang dari Kampus Hera mampir kantor pos besar menulis berita lewat telegram siap menjemput hari Sabtu di Halte Tugu Muda. Telegram murah dan efisien di hari yang sama bisa diterima. Hati Hera GR dia membayangkan Larso sangat menantikan kesempatan ini. Karena selama ini tidak punya waktu yang cukup untuk bicara lebih serius. Hera akan berusaha mencairkan kebekuan hatinya dan ingin menetralisir perasaannya sehingga tidak nampak raut wajah pesimisnya.

Sudah hampir 4 bulan Hera tidak bersurat dengan Agung sejak pertikaian terakhirnya ditandai dengan surat yang tidak ditulis tangan. Tetapi diketik di komputer dengan huruf Italic ukuran font 9,  rapi dan jelas. Prolog suratnya:

Hera, semoga kau sehat selalu. Jangan kaget kali ini aku menulis surat tidak dengan tulisan tangan tapi aku ketik. Tujuannya agar kamu tidak salah baca. Membaca suratmu yang terakhir yang berisi kemarahanmu yang meledak- ledak dan menuduhku seorang pengecut yang tidak berperasaan, bla..bla..bla… membuatku teperanjat dan sadar memang benar aku tidak lebih dari seorang pengecut. Sekarang maki-makilah aku sepuasmu. Biar lega hatimu. Setelah itu jangan lagi hubungi sang pengecut ini. Benang tali kita sudah putus ya Hera jangan disabung lagi.  Semoga engkau bahagia dengan pilihanmu kelak.

Salam- Agung.

Itulah surat terakhir Agung, dan Hera shock. Dia tetap berkirim surat tapi tiada balasannya. Padahal Hera menulis itu berharap diberi penghiburan dengan cerita yang bikin adem tapi yang diterima justru vonis putus. Jelas dia shock. Luka itu masih basah dan perih. Hera bingung benarkah putus akibat surat kenarahan Hera. Kemarahan yang wajar sebagai bentuk klarifikasi. Tapi jawabnya adalah vonis yang seperti sudah didesain.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.