Senin, 20 April 2026, pukul : 03:43 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Jimo Belong sesungguhnya orang yang sangat ditakuti Hera sejak kecil. Wajahnya serem, bicaranya kasar. Jimo suka membentak tetangga,  para petani.  Dia arogan sekali sikapnya karena menjadi pegawai Pemerintah. Lagaknya seperti jagoan di kampung, suka mengintimidasi penduduk yang tidak tahu apa-apa tapi disangkutpautkan dengan organisasi terlarang. Entah katanya para petani itu dulu ikut BTI dan para pemudanya dibilang ikut Pemuda Rakyat, padahal mungkin juga mereka tidak tahu apa-apa. Terserah siapa yang dia kehendaki dia catat saja. Mungkin dengan begitu dia ingin menunjukkan prestasinya ke pak Lurah atau pak camat. Konon saking loyalnya dia, saudaranya sendiri Bayan Desa yang tertangkap di Wangen atau Cokro saat akan dieksekusi pasca peristiwa 65, dia tidak mau membantunya, padahal dia sangat bisa lakukan itu.

Jimo Belong di mata Hera lebih menyeramkan daripada penjaga penjara Salemba yang tampangnya masih tertanam kuat di benak Hera. Gerakan Jimo menghambat hubungan Hera dan Danang belum berakhir. Suatu sore Jimo mendatangi rumah mbah Mangun.

“Kulonuwun Pak Mangun, saya ke sini ingin bicara dengan bapak..” kata Jimo.

Mbah Mangun hanya mengangguk.

“Ini soal serius ngga main-main… Saya dapat amanat dari Pak camat,” lanjut Jimo.

“Tolong diberitahu , supaya cucunya ,Hera, jangan dekat-dekat dengan Mas Danang puteranya pak Camat. Ingat ya..Jangan bikin  masalah,” suara Jimo penuh tekanan. Matanya melotot makin menyeramkan.

“Sudah cukup bapaknya Hera saja yang keciduk, jangan sampai merembet -merembet ke yang lain.”.

Mbah Mangun yang hanya seorang petani itu pun mengkeret. Apalagi dengar kata-kata ‘keciduk’. Bagi pemerintah Orba tidak sulit menciduk orang dengan label ‘mambu PKI’. Gertakan Jimo membuat Mbah Mangun ciut dan berpikir agar cucunya selamat. Hera sama sekali tidak diajak ngomong saat itu sama Jimo.

Mendengar perkataan itu mbah Mangun Putri hanya bisa menangis dari kamar lain. Air matanya meleleh, terpikir cucu kesayangannya akan makin menderita. Kenapa derita ibunya harus terulang.

Mbah Putri ingat betapa dulu Ratmi, ibu Hera juga tidak kalah tragis nasibnya. Ratmi sejak lama sudah dijodohkan dengan teman sekolahnya sejak kecil. Pemuda dari kampung sebelah. Pemuda ini dari keluarga tentara. Keluarga itu sudah melamar Ratmi dengan sejumlah uba rampe, perlengkapan lamaran. Bahkan mereka sudah sepakat kapan hari pernikahannya. Mbah Mangun dan Ratmi sudah senang karena bakal menjadi pengantin.  Tapi tiba-tiba kesepakatan itu  dibatalkan sepihak karena Ratmi aktif dalam kegiatan Pemberantasan buta huruf itu. Ratmi menjalin kerjasama dengan para lurah dari berbagai desa yang umumnya adalah pendukung Sukarno untuk kegiatan pemberantasan buta huruf ini. Maka kedekatan Ratmi dengan para lurah dianggap sebagai bahaya bagi keluarga tentara itu. Beberapa lama Mbah Mangun merasa disepelekan dengan keputusan sepihak itu. Ratmi murung berhari-hari, rencana nikahnya gagal karena urusan seperti itu.

Mbah Putri ingat sekali kejadian itu. Kini cucunya mengalami nasib serupa meski belum sampai membicarakan pernikahan.

“Nduk sing sabar. Mbah yakin kamu nanti jadi wanita yang kuat. Jika memang mas Danang itu jodohmu, tidak ada yang bisa menghalangi.”

Hera sangat terhibur dengan kata-kata itu.

Esok pagi, ketika Hera berangkat sekolah menuju arah barat desa, dia kaget setengah mati. Wajah seram itu tiba-tiba muncul dari balik gubuk di pinggir jalan, ya Jimo mencegat Hera.

“Berhenti..berhenti….”

Hera berhenti minggir dekat buk. Hera langsung pucat dan gemetaran. Wajah Jimo memang  sekian kali lebih seram dari penjaga Penjara Rutan Salemba.

“Ingat ya, sekali lagi ingat. Jangan dekat-dekat lagi dengan Mas Danang. Jika nggak mau menemui kesulitan, lebih baik kamu jauhi Danang!”

Hera tidak berkata apa-apa. Dia ingin segera meninggalkan sosok yang menyeramkan itu.

“Kalau nekat, dukun akan bertindak!” ancam Jimo.

“Nggak mempan…,” tiba-tiba keluar begitu saja kata-kata itu dari mulut Hera. Padahal hatinya gemetaran. Jimo makin panas dengan jawaban itu.

“Awas ya rasakan akibatnya!” Jimo tidak mau kalah.

Hera segara naik sepeda melanjutkan perjalanan ke sekolah yang masih jauh dengan perasaan makin deg-degan. Hatinya berkecamuk. Dia heran kenapa tadi keluar kata-kata melawan Jimo itu. Dia ingat mbah putrinya sering bikin inthulk-inthuk setiap hari lahirnya, dia yakin badannya akan kuat terlindungi dari gempuran dukun. Hera secara tidak sadar ingin juga menggertak orang-orang seperti Jimo. Selama ini Jimo mearasa  di atas angin karena semua tetangganya takut, tidak ada yang melawan. Maka Hera ingin mencoba. Tidak ada salahnya, paling pol putus sama mas Danang. Tapi kesombongan harus dilawan.

Baginya sebenarnya urusan selesai jika saja Danang menjauhinya. Tapi hatinya berontak, kenapa urusan cinta kasih harus dicampuri dengan urusan politik masa lampau yang dia sendiri tidak tahu menahu.

Ya dalam lubuk hatinya Hera sebenarnya sangat menikmati mendapat perhatian dari mas Danang. Mas Danang lebih melayani, nggak pernah mengatur-atur. Dia kasih barang yang memang menjadi kesukaan Hera. Mas Danang ternyata juga masih nekat walaupun sembunyi-sembunyi, menunggu di pojok desanya agar bisa bareng Hera saat ke sekolah. Saat berkunjung ke rumah Hera, sepedanya di sembunyikan, agar tidak kecium sama Jimo Belong. Pacaran sembunyi-sembunyi ini memberikan sensasi tersendiri. Danang pun tidak mundur meski orang tuanya melarang. Dia ingin menunjukkan perlawanan meski halus.

“Apa begitu buruk ya anake wong mambu?” Hera seperti ngomong pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan mundur.”

“Baru juga camat lagaknya ngalah-ngalahin bupati..”

“Harap dibedakan Danang dengan orang tuanya,” sahut Danang.

Hera tahu Danang tidak begitu, dia kesal saja kepada orang tuanya.

“Memang cantik ya anak pak lurah yang mau dijodohkan itu?”

“hmm aku nggak tertarik…bagiku Hera pilihan terbaik”

“Ah masak sih?”

“Aku akan membuktikan..”

*

Sejak bapaknya bebas, bapaknya kadang menulis surat untuk Hera. Surat itu lebih banyak bertanaya kabar dan menceritakan kabar baik. Tidak pernah sekalipun bapaknya cerita pengalaman di penjara. Surat yang terakhir bapaknya menceritakan bahwa dia merasa kurang diperhatikan ibunya. Bapaknya dikalahkan dengan kerjaan menjahit atau kegiatan lain ibunya.

Hera berpikir mungkin bapaknya berharap dia akan diperhatiakn seperti dulu sebelum masuk penjara.  Sementara kondisi bapaknya sakit-sakitan. Badannya seperti rapuh begitu keluar dari penjara. Hera kepikir untuk menulis surat buat ibunya agar perhatian untuk bapaknya bisa diberikan lebih. Selain itu, adiknya yang dulu sempat tinggal di desa dan diambil ibunya saat lulus Sd, Hero, juga menulis cerita yang nggak kalah menyayat. Hero menuturkan bahwa saat acara-acara di lingkungan tempat tinggalnya, lurah atau ketua RW selalu mengumumkan agar hati-hati dengan para mantan tapol. Greng! Ngadiman tersinggung dan perih hatinya. Sejak itu dia enggan ikut kumpul-kumpul warga. Niat baiknya membaur dengan masyarakat justru disikapi penuh kecurigaan oleh para pejabat level bawah.

Hera dengan sangat hati-hati bercerita lewat tulisan di surat  kepada ibunya. Dia ceritakan bapaknya mengeluh agak kurang diperhatikan. Hera berharap ibunya bisa mengerti. Tai Hera kaget dan menyesal. Ternyata respon ibunya justru mara-marah.

“Aku pontang-panting membesarkan kalian dari kecil.Kubelain menjahit, mencari tambahan sana -sini, kok masih kurang. Harusnya bapakmu mengerti bagaimana ibu tetap setia, berkorban banyak hal demi keluarga.”

Hera merasa sangat bersalah menceritakan keluhan bapaknya ke ibunya. Hera merasa beban hidupnya sangat berat. Untuk anak seusia dia, tidak saja masalah keluarga tapi juga masalah cintanya  tidak mulus. Tapi beruntung tidak lama ibunya hamil dan lahir adiknya yang bungsu. Buah kasih sayang bapak ibunya ini membuat hubungan mereka kembali mesra.

*

Di kelas tiga Hera duduk dengan teman barunya Esti. Esti punya wajah cantik, putih. Tidak heran banyak yang naksir atau ingin kenal. Tapi dia sudah punya pacar mahasiswa di Yogya yang merupakan tetangga kampung. Mahasiswa ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tapi entah apa yang membuat Esti begitu mencintainya. Jadi teman-teman SMA yang naksir tidak ditanggapinya. Hatinya sudah untuk mahasiswa itu.

Suatu hari ada surat dari seorang cowok untuk Esti, Agung namanya. Esti tidak mau membuka surat itu. Esti tahu orangnya. Tidak ganteng tapi juga tidak jelek. Yang jelas Agung termasuk siswa pandai. Akhirnya Hera yang diminta membacanya. Hera pun membaca dengan sabar dan Esti mendengarnya dengan wajah datar cenderung tidak suka. Padahal Hera kagum dengan isi suratnya yang runtut dan tidak kampungan. Isinya lebih banyak berupa nasihat untuk belajar rajin demi masa depan. Sangat memotivasi. Surat seperti itu pasti dibuat oleh orang yang punya kecerdasan tinggi. Esti malah kebablasan

“Hera kamu saja yang balas ya.”

“Loh ngawur  kamu Es….kok balas surat diwakilkan..?Dia lho orang baik, pinter dan aku yakin nanti bakal jadi orang sukses. Kelihatan dari cara dia menulis surat”

“Ah aku nggak mau mengkhianati pacarku Her..”

“Lho kan baru pacar, belum ada komitmen. Masih mungkin untuk mencari alasan putus. Atau berteman dulu siapa tahu nanti Agung ini lebih cocok.’

“Aku males meladeni cowok itu, kurang greng.”

“Pacarmu kan juga belum jelas. Dia cuma menang tua saja.”

“Tapi aku sayang sama dia..”

Hera pun mengalah. Dia sudah baik-baik mengingatkan. Hera berpikir keras , mana mungkin dia menulis surat untuk orang yang dia tidak kenal langsung. Ya Hera tahu Agung memang selalu disebut saat pengumuman juara di sekolahnya. Agung juga langganan ikut lomba olimpiade mewakili sekolahnya. Tapi demi menyelamatkan temannya, dia akan coba. Ya sekedar merespon apa yang ditulis disurat itu.  Hera pun mendapatkan kesempatan mengarang bebas. Dia ucapkan terima kasih atas nasihat Agung dan terima kasih atas perhatiannya.

Merasa surat pertamanya dibalas, lalu Agung menulis surat berikutnya. Esti sudah nggak mau menanggapi. Hera lagi yang harus membalas. Surat berisi untaian kata-kata indah dalam bentuk puisi, dibalas juga dengan puisi oleh Hera. Karena mungkin sikap Esti dan isi surat tidak nyambung, lama-lama Agung tahu bahwa yang menulis itu Hera.  Mungkin juga Agung tahu Esti tidak akan mampu menulis surat seperti tulisan Hera. Agung tahu kemampuan Esti.

Agung pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Agung menulis surat untuk Hera.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.