Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 21:50 WIB
Surabaya
--°C

Berpuasa dengan Syukur

Oleh: Ferry Is Mirza

Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur

KEMPALAN: Kemarin catatan Ramadhan (11) berjudul Puasa dan Rasa Syukur. Nyaris sama dengan judul hari ini. Namun kandungan isinya berbeda maknanya.

Orang berpuasa banyak ragam motivasinya.
Ada yang melakukannya karena sadar bahwa itu kewajiban.
Ada pula yang memang karena sekedar terbawa “lingkungan sekitar” alias ikut-ikutan.

Ada juga yang menyadari bahwa puasa itu adalah salah satu kebutuhan dasar dalam hidupnya.

Dari sekian banyak motivasi, tiada lagi yang lebih tinggi dan mulia dari sebuah kesadaran sejati bahwa puasa itu adalah bentuk “rasa syukur”. Yaitu menyadari secara penuh bahwa puasa itu adalah karunia yang luar biasa dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak sekedar kewajiban, tidak juga karena keperluan, apalagi karena didorong oleh keadaan.

Melakukan puasa karena merasa diwajibkan, boleh jadi melahirkan perasaan beban, bahkan terpaksa. Mau atau tidak mau harus dilakukan karena memang kewajiban. Tapi dalam hati boleh jadi timbul “was-was”  dan rasa keterpaksaan itu.

Jika ini terjadi maka nilai puasa, baik secara pahala maupun sebagai kekuatan transformasi karakter, menjadi sangat mengecil.

Akibatnya puasa menjadi amalan wajib tahunan yang hampa. Setelah Ramadhan usai semua kembali menjadi seperti biasa. Ibaratnya sebuah bisnis, tiada untung. Hanya kembali modal karena sekedar melaksanakan kewajiban.

Pesan moral puasa juga tidak efektif karena tidak menyentuh kesadaran terdalam.

Melakukan puasa karena kebutuhan juga berakhir dengan hasil yang kurang maksimal. Sebab melakukannya seolah memenuhi keinginan pribadi. Jika hal ini diungkapkan dalam bahasa negatif maka puasa seperti ini seolah sekedar memenuhi hawa nafsu.

Dan karenanya pilihan tertinggi adalah berpuasa karena memang menyadari jika puasa itu sendiri adalah sebuah karunia besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebuah kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya tercinta.

Menyadari kenikmatan puasa menjadikan berpuasa tidak saja mudah dan ringan. Tapi dengan kesadaran seperti itu puasa akan dilakukan dengan penuh gembira dan nikmat. Detik demi detik akan berlalu dengan kelezatan menjalankannya.

Ternyata memang syukur itu adalah fondasi utama dalam melakukan ubudiyah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahwa ibadah bukan sekedar kewajiban agama yang ditujukan untuk mengumpulkan pahala. Tapi memang sebuah ekspresi iman untuk mengakui semua karunia nikmat Allah dalam hidup.

Ibadah-ibadah yang kita lakukan itu semuanya kira-kira menjadi pembuktian akan kesadaran tertinggi untuk mengapresiasi karunia Ilahi. Setiap ruku’ dan sujud kita kira-kita mengekspresikan: “Thank you Allah” atas segala nikmatMu.

Itulah rahasia jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh isterinya yang terkagum dengan sholat malam dan seluruh ibadahnya
Sang isteri bertanya:  “kenapa engkau melakukan semua ini ya Rasulullah?”.
Beliau menjawab:  “Tidakkah saya seharusnya menjadi hamba yang mampu bersyukur (kepada Allah)?”.

Ingat, kesadaran “Syukur” dalam bentuk ibadah-ibadah itu juga belum mampu mengimbangi kebesaran karunia Allah. Karenanya jangan pernah merasa mampu membayar segala karunia nikmat Allah dalam hidup kita.

SurgaNya tak akan diraih sekedar dengan ibadah-ibadah kita. Pada akhirnya surga itu hanya dimungkinkan untuk kita dengan “kasih sayangNya” (rahmah) jua.

Semoga kita semua mampu mencapai tingkatan kesyukuran dalam menjalankan ibadan puasa ini. Ringan, senang, tenang, dan merasakan “ladzdzah ‘ubudiyah” (kelezatan ibadah) kepada Allah Ta’ala. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.