Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 15:06 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Raharjo masih merenungkan cerita tentang musibah kecelakaan tragis yang menimpa Hera. Dia geleng-geleng membayangkan anak balita perempuan umur 4,5 tahun kecebur jumbleng berisi kubangan tinja dan mungkin tempat bersarang  binatang-binatang menjijikan lainnya. Tentu ini Pertaruhan buat dia, karena Hera yang bertanya.

Raharjo memulai analisanya, perkiraan berat badan anak perempuan usia 4,5 th normalnya antara 15-20 kg, sedangkan tinggi  badan ideal seusia itu antara 95-110 cm.  Kaki Hera menginjak seng penutup jumbleng  yang rapuh itu dengan kekuatan penuh bahkan disertai hentakan karena sambil loncat mengambil pentil mangga. Kenapa posisi jatuhnya tidak berdiri dan tenggelam? Sedangkan lubang kakus berukuran lebar 1,5 m x 1,5  dan dalamnya kira-kira   2 m. Dengan  tinggi Hera sekitar 95 -110 cm, mestinya dia sangat mungkin dalam posisi berdiri apalagi kalau agak tenggelam. Kenapa dia malah dalam keadaan terlentang? Inilah yang menjadi pertanyaan Hera kepada Raharjo. Secara logika sains, di dalam septic tank ada gas Metana yang merupakan senyawa hidrokarbon yang memiliki karakteristik mudah terbakar dan berbau busuk menyengat. Hera bercerita tidak mencium bau apapun apalagi bau busuk. Kalau pun ada lubang kecil bekas injakan kaki mestinya suplai udaranya tidak akan menghilangkan bau di dalam kubangan itu.

Banyak kasus, orang dewasa meninggal saat terjerembab di lubang septic tank karena menghirup gas Metana, dengan luka terbakar atau tubuh gosong di sebagian tubuhnya.  Hera tidak ada luka gosong sama sekali, kulitnya bersih. Hera kuat sekian jam di kubangan gas Metana itu. Bahkan bisa berteriak memanggil ‘ibuu..ibuu..’, walaupun akhirnya lemas dan hanya bisa terisak.

Pak Imron penjual tempe keliling yang nenolong dan orang-orang yang menonton, semua memakai masker dari kain perca yang lebar dari sisa bahan jahitan ibu Hera. Yang tidak memakai masker pasti akan menutup hidungnya rapat-rapat. Hera saat diangkat dalam kondisi diam saja, gigi mengunci rapat karena kedinginan sehingga terjadi hipotermia dalam tubuhnya. Hera matanya terbuka, tidak berkedip. Sehingga Hera melihat apapun yang dilakukan orang-orang kepadanya. Tapi tidak merasakan sakit apapun. Itulah kebesaran dan kuasa Tuhan.

Hera mungkin dibuat pingsan atau mati sesaat supaya tidak merasa ketakutan dan sakit. Padahal luka di kakinya lebar dan banyak mengeluarkan darah sehingga harus dijahit. Setelah luka dikorek dan dibersihkan di rumah sakit, baru Hera tersadar dan merasakan perih di kakinya.

Ini misteri bagi Raharjo. Pertanyaan Hera yang cukup mengganggu Raharjo adalah saat beberapa hari Hera demam tinggi, ada sosok lelaki tua berhidung mancung yang sering hadir dan menunggui denga penuh kasih sayang. Tidak ada laki-laki dewasa di rumah ibu Hera.  Satu-satunya laki-laki adalah kakak Hera, Edi yang baru kelas 1 SD.

Keluarga Hera punya pembantu rumah tangga, namanya Nyew Klan. Dia asli Tionghoa, berkulit putih, mata sipit, sabar dan murah senyum . Dialah pengasuh Hera, lalu juga mengasuh Hero. Nyew Klan umurnya sekitar 16 tahun. Dia ikut keluarga Bu Ratmi sejak awal ibu Hera menikah dengan bapaknya dan tinggal di Jakarta. Hera tidak tahu Nyew ini asalnya dari mana dan bagaimaa pribumi bisa punya pembantu Tionghoa.

Ratmi bingung setiap Hera memanggilnya dan  ingin memperlihatkan ada bapak tua berhidung mancung muncul,  ibunya selalu tidak melihat. Ratmi takut Hera ini mengigau. Padahal Hera melihatnya, nyata.

Raharjo merasa punya  tugas untuk menjawab siapa sosok itu. Dia menghubungi seniornya di komunitas supranatural. Dia membuat janji akan main ke rumah Eko. Suatu sore pulang kerja Raharjo mampir ke rumah Eko berboncengan motor dengan seseorang. Namanya Langlan. Selepas maghrib sambil menikmati martabak seperti biasa dia menyeletuk  “kopi dua dik ya” lalu mengobrol. Istilah tu akhirnya sering  buat ledekan adik-adik Hera. Setiap dengar motor Raharjo, Hero menggoda..”kopi dik”.  Petang itu Hera membuatkan minum dua cangkir kopi. Saat menghidangkan Raharjo memperkenalkan temannya yang lebih senior.

“Dik kenalkan ini temanku”

“Langlan,” ucap Langlan sambil bersalaman dengan Hera.

Ketika bersalaman dengan Hera, pak Langlan kaget, njenggirat..sepeti orang kesetrum.  Herapun kaget kenapa begitu reaksinya, tapi Hera tidak bertanya. Hera tetap bersikap tenang naun juga menyimpan tanda tanya. Lalu Hera teringat peristiwa beberapa tahun silam di desa ketika masih SD.

Waktu itu Hera dan teman-teman perempuan akan berangkat sekolah  menghampiri  salah satu teman perempuan tetangganya, Yani. Kakek Yani bernama mbah Joyo. Mbah Joyo orangnya pendiam dia seorang spiritualis seperti mbah Mangun kakeknya Hera. Tapi mbah Joyo lebih aktif dalam berlatih. Seminggu dua kali pergi ke suatu tempat perkumpulannya untuk mengasah ketajaman spiritualnya. Pagi itu mbah Joyo sedang ada tamu, mbah Marto. Konon mbah Marto itu orang linuwih, ilmunya lebih tinggi. Mbah Marto pagi itu tertarik pada anak-anak dan iseng ingin menerawang memeriksa githok atau tegkuk anak-anak yang duduk di lincak bambu depan rumah menunggu Yani.

“Rene nduk simbah periksa githokmu,” begitu mbah Marto memanggil Puji yang duduk paling pinggir. Puji pun mendekat ke mbah Marto.

“Tundukkan kepala,” perintah mbah Marto.

Puji menunduk seperti orang mengheningkan cipta. Lalu Puji diterawang tengkuknya dengan cara tangan kanan mbah Marto bergerak di atas tengkuk seperti meneropong sesuatu ditengkuk Puji.

“Waah piye iki kok seperti ini. Yo wis sekolah yang rajin ya jangan gemuk-gemuk,” pesan mbah Marto.

Lalu giliran Retno. Pada Retno dilakukan hal yang sama.

“Waah bocah iki  apik. Ini ada macan gede di tengkuknya,” kata mbah Marto.

Kini giliran Hera. Hera pun mendekat. Lalu melakukan apa yang dilakukan Puji dan Retno. Mbah Marto menerawang. Mbah Joyo , Puji dan Retno memperhatikan apa yang terjadi.

“Ha..waduh !!” teriak mbah Marto seperti terhentak.

“Bocah iki anake sapa? Putune sapa kang Joyo?”

“ Cucu Pak Mangun depan rumah kebun yang luas itu. Ada apa?”

“Sepertinya Dayange menjaganya. Ada ular naga gedhe di tengkuknya. “

Anak-anak itu bingung mendengar  dialog kedua orang tua itu.

Lalu giliran meriksa Yani yang barus saja selesai siap-siap.

“Walah cucumu ini tengkuknya ada  wedus prucul”.

“Pantesan sekolah sering nggak naik.”

Memang benar untuk tiap kelas selalu butuh 2 tahun untuk naik. Puji nanti memang meninggal di usia 30 karena badannya gemuk, sering sakit pusing .

Sambil berjalan menuju sekolah, Hera dan teman -temannya, masing- msing memendam perasaan takut, dan  tanda tanya apa yang dimaksud mbah Marto.

Setelah remaja Hera mengenal Horoskop sering membaca Zodiak dan Shio Tahun kelahiran. Tahun kelahiran Hera memang bershio Naga atau Leong. Dia mikir apa memang ada hubungannya dengan Naga yang dibilang Mba Marto. Hmm Hera  jadi ingat pertunjukan Barongsay saat perayakan Imlek di Jakarta. Dia  sering diajak Cik Nyew Klan melihat ke pasar Pal Meriam.  Namun Nyew akhirnya berhenti bekerja di keluarga Hera setelah kawin.

Saat selesai bikin kopi Hera tersenyum melihat di dinding terpajang foto keluarganya. Bapaknya membopong Tika adiknya yang lahir sesaat setelah bapaknya dibebaskan sementara tahun 68 , disamping nya ibu Hera. Berurutan di baris depan dari kiri cik Nyew  Klan dengan  balutan kain dibetisnya karena selalu korengan, lalu Hero,Hera, Edi dan Eko. Foto anak-anak berpose tidak melihat kamera jaman itu takut  kalau mau diajak ke studio foto. Foto itu dibuat tahun 1968 dimana perstiwa kecebur jumbleng belum terjadi. Hera ingat habis foto makan bakso favorit saat itu, Meester, di depan stasiun Jatinegara.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.