
KEMPALAN: Pagi itu, Hera beserta kelompoknya bertugas masak untuk makan siang dan malam. Jam 10.00 Hera berangkat kuliah, selesai jelang jam 12. Sore ada kuliah lagi jam 16.00 lanjut latihan drama Teater.
Hera, Endah satu lagi Ningsih duduk di teras menunggu mas Bagas mengantar naskah. Ningsih oleh Hera akan diusulkan untuk menjadi Pemain Penonton, sehingga Endah tidak merangkap dan fokus hanya sebagai pengiring musik, penabuh saron.
Ningsih bisa juga dipersiapkan sebagai pemain cadangan panggung, jaga-jaga jikalau ada pemain panggung ada yang berhalangan. Ningsih orang yang suka berorganisasi, aktif di Senat mahasiswa punya sifat over confidence dan agak GRan. Kadang teman laki-laki menjadi ewuh. Ningsih berkulit putih rambut keriting kemerahan. Endah gadis lugu dan pendiam. Kedua gadis inilah yang Hera ceritakan kepada Agung dan Hera perkenalkan. Supaya Agung tidak merasa monoton sebab hanya menerima surat dari Hera saja. Karena Agung pernah mengatakan monoton berhubungan dengan Hera.
Bertiga masih membahas tentang usul Hera agar Ningsih terlibat dalam theater itu. Ningsih mempertanyakan, akankah disetujui oleh Sutradara atau asistennya?? Hera akan meyakinkan dan memberi masukan.
Di sofa sisi kanan, Nunik dan teman-temannya para mahasiswa teknik ramai berdiskusi. Di depan rumah kost pak Raden ada rumah yang dihuni para mahasiswa dari berbagai fakultas, rumah kost itu cukup besar, ada lebih dari 20 kamar. Kebanyakan mereka mahasiswa Fak. Teknik karena kampusnya tidak jauh dari situ. Nunik gadis periang wajahnya manis anak Teknik Sipil bepenampilan tomboy ramah dan baik hati, teman cowoknya berjibun. Nunik gadis yang pinter, dan memiliki fasilitas belajar yang lengkap sebagai seorang mahasiswa Teknik.
Penampilan Nunik menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga berada. Bapak dan ibu Nunik masing-masing kepala sekolah SMP dan SMA. Kamar Nunik posisinya di belakang di samping kamar Hera. Ada 3 kamar di belakang, paling ujung kamar yu Semi, sampingnya kamar Hera, lalu kamar Nunik.
Nunik punya tape recorder. Jika malam sering menyetel lagu Queen, atau lagu Gazebo. Hera juga suka lagu itu. Nunik suka ketok-ketok tembok Hera, lalu keluar di teras belakang dekat sumur Hera dan Nunik jingkrak- jingkar, mengikuti Like Copinnya Gazebo dan atau Radio Gaganya Queen. Hera terbawa jingkrak-jingkrak, benar-benar stress release. Hidup yang berat menjadi terasa ringan, walau sesaat.
Pernah ketahuan pak Raden, berdua di sidang dan dimarahi, kata pak Raden tidak sopan. Hera dan Nunik penghuni kos yang paling sering menerima komplain karena sering menerima tamu, istilah Semarang bolonya banyak. Ini hal yang tidak disukai pak Raden. Hal lainnya lagi yang tidak disukai, karena Hera dan Nunik sangat dekat dengan yu Semi.
Siang itu Nunik masih berisik dengan teman-temannya. Membahas tugas- tugas kelompok.
Motor bebek merah tahun 70 an berhenti di depan. Mas Bagas turun dari motor membawa sekantong plastik berisi beberapa set naskah drama.
“Ini dik naskahnya sore nanti dibagi-bagi ya,” kata mas Bagas menyodorkan bawaannya.
” Iya mas siip. Oya sekalian saya mau usulkan ini prolog aja dulu, mbak Ningsih ini mau aku libatkan ya. Sebagai Pemain Penonton buat ramai-ramai, biar Endah fokus nabuh saron saja,” kata Hera.
” Ooh gitu oke aja, usul yang bagus, nanti kita bahas lebih lanjut” jawab mas Bagas, membuat Hera, Ningsih, nampak lega.
“Saya pamit ya selamat mempelajari naskah, saya mau ke rumah Maladi, sutradara,” mas Bagas pamit, berjalan menuju motornya. Bertiga Hera, Ningsih dan Endah buka pintu masuk rumah laper mau makan siang, tapi Nunik memanggil
“Hallo cewek-cewek ki lho kanca-kanca pengin kenal,” kata Nunik, ada tiga cowok berkenalan semua kost di depan rumah di Jalan Taman Singosari.
“Ini Wijaya, ini Junaidi, ini Ali, ” kata Nunik sambil menunjuk teman-temannya, yang ditunjuk cengar-cengir.
” Hmm sing duwur rambut panjang iku Hera, sing putih Ningsih, sing kalem manis iki Endah,” Nunik gantian mengenalkan
“Woow asyiik bisa buat tambah anggota ya Jun,” kata salah satu cowok bernama Wijaya kepada temanya, Junaidi.
” Anggota apa ?!” tanya Hera.
” Hussst mengko wae biar Nunik aja yang nyampaikann,” bisik Junaidi kepada Wijaya.
Hera penasaran dengan kata nambah anggota apakah gerangan yang dimaksud. Pasti suatu waktu Hera akan tanyakan ke Nunik. Hera tipe orang yang rasa ingin tahunya tinggi untuk hal-hal tertentu, yang dirasa menggelitik.
Setelah selesai kuliah Hera lanjut bikin agenda untuk acara latihan drama. Biasanya latihan dimulai jam 18.30 hingga jam 21.00 kurang. Hera selalu berpesan kepada Tutik penghuni kamar depan untuk segera membukakan pintu saat Hera mengetok kaca nako-nya di dinding bagian atas kamarnya. Hal ini untuk menghindari suara Thing Thong di malam hari.
Mas Bagas dan mas Maladi sang sutradara, mulai mengumpulkan anggotanya untuk dibreifing. Semua anggota duduk melingkar. Acara diawali dengan berdoa semacam meditasi 10 menit, setelah hu ha hu ha aaa ooo iiii delapan kali, selama 15 -20 menit, dilanjutkan pokok acara maksud dan tujuan latihan, oleh sutradara. Pembagian peran atau casting-casting tokoh dan pembagian tugas diluar pemain. Seperti petugas urusan kostum, perlengkapan, dekumentasi, transportasi dan lain-lain.
Malam itu belum benar-benar latihan hanya penjelasan tentang karakter tokoh-tokoh dalam naskah drama dan keterlibatan para Pemain Penonton dalam menghidupkan drama, kedisiplinan pada saat latihan.
Juga membahas jenis musik sebagai pengiring, yang ber-genre kontemporer. Tidak terlalu rumit, kendang dan Saron dengan hentakan “dlang-tak dlang-tak thung-thung-thung…jreeenngg”
Breifing dan diskusi cukup menyita waktu.
Sang Sutradara dan asistennya berpesan agar masing-masing tokoh menghafal naskah, boleh saja berimprovisasi kepada pemain penonton, tapi tidak kekuar dari konteks.
Selama tiga hari sebelum latihan lagi masing-masing sudah harus hafat. Hera cukup punya kepiawaian untuk menghafal dan mengingat sesuatu. Karena apapun yang Hera hadapi dan lakukan dia hayati sepenuh hatinya. Hal-hal kecilpun dia perhatikan. Begitu juga terhadap sikap mas Bagas yang cenderung beda. Walau sejauh ini masih berjalan normal dan biasa saja.
Hera dan dua temannya kembali ke kost cukup berjalan kaki 10 menit melalui jalan terebosan, ada pagar yang rusak sehingga digunakan sebagai jalan pintas untuk pejalan kaki. Sampai teras rumah kost, Hera mengetok kaca Nako kamar Tutik memberi kode agar membukakan pintu. Pelan-pelan Tutik keluar kamarnya menuju pintu utama. Bapak ibu Raden sudah betistirahat. Aman.
Setelah mandi dan makan malam, Hera menuju kamarnya melewati kamar Nunik, Hera mendengar musik sayup- sayup. Hera menyapanya …dengan keisengannya
“Niknuk lagi ngapa?”
Yang merasa digoda membuka pintu kamarnya.
“Po ‘ o mbak? ”
” Boleh aku masuk?” tanya Hera.
“Hee…nggak boleh. Haha.. Bolehlah.. rene-rene!” jawab Nunik semangat.
Hera masuk ke kamar Nunik dan duduk di lantai.
“Nik, mau tanya ya,” Hera memulai pertanyaan.
“Siang tadi cowok-cowok temanmu si Wijaya dan kawan-kawan, cerita kita bisa buat tambah anggota maksudnya, anggota apa ya?”
“Ooh itu…iya mereka itu kan punya kelompok pengajian, anggotanya dah lumayan, aku juga diajak, melu yuk, nggak ada salahnya. Kan pengajian pasti ngajari yang baik-baik. ” kata Nunik.
” Wah lha aku sibuk banget ngene, kegiatanku sak ndayak . Kamu ikut dulu aja terus nanti aku dicritani,” Hera mencoba memberi usul.
“Pirang critan? Haha…”, Nunik guyon.
“Ah sak critan cukup.”
“Ya wis aku dulu yang ikut , aku juga dipesan Wijaya agar ngajak Rahma, dia sudah mau,” kata Nunik.
“Kapan mulai pengajian?” tanya Hera.
“Besok habis Magrib sampai dengan jam sembilanan,” jawab Nunik.
“Ya wis tak tunggu kabarnya ya..”
*
Dua hari kemudian Nunik memanggil Hera ke kamar.
“Hera sini …”
“Eh piye ada kabar apa?”
“Itu soal pengajian. Soal anggota itu. Isi pengajiannya aneh. Katanya Islam yang kita anut sekarang nggak ada benarnya, tidak murni, bid’ah dan lain-lain.
“Waduh.. Terus-terus?” tanya Hera sambil duduk di lantai.
“Mereka, Wijaya dan teman-teman mengajak para anggota baru untuk pengajian ke suatu tempat, di rumahnya Abah, di Solo arah Sukoharjo,” lanjut Nunik srius.
” Kamu mau ikut pengajian ke Abah itu?” tanya Hera.
” Aku belum memutuskan, tapi Rahma sudah putuskan mau ikut,” Nunik menjelaskan
” Sebaiknya kamu jangan ikut Nik,” Hera mencoba memberi saran.
” Iya tapi aku panasaran, minggu besok jadwal mudik pulang, bisa sekalian jalan,” Nunik menyampaikan keinginannya.
Entah benar atau tidak, dampak dari ikut pengajian, beberapa minggu kemudian Rahma berjilbab panjang. Sementara Nunik yang tomboy keluar dari pengajian. Rahma mengajak Tutik dan Rina. Akhirnya mereka bertiga berjilbab panjang, setiap makan malam mulai berceramah di meja makan. Tetapi tidak masuk ke otak otak model Hera, Nunik, Yanti Yayuk dan Endah. Ada teman yang manggut-manggut, gejala terpengaruh. Sementara Hera cs lebih banyak mendengar lewat kuping kiri keluar lewat kuping kanan atau malah keluar lewat mulut atau hidung.
Kelak, Wijaya menjadi orang paling disegani para Abu-abu. Wijaya itu mualaf yang jenius. Ahli strategi dan ahli merakit bom, bahkan Nurdin M Top yang buron kakap itu segan kepadanya.
Hera mengetahui dengan jelas bahwa embrio radikalisme itu muncul di era pertengahan tahun 80-an. Sel-selnya terjalin rapi dan makin besar. Mereka secara masif mengajarkan paham- pahamnya di lingkungan kampus dan pengajian- pengajian tertentu secara diam-diam. Tanpa terasa mulai banyak orang terpengaruh. Kelak setelah hampir 30 tahun sangat kelihatan hasinya.
*
Sudah satu semester lebih Hera tidak bersurat kepada Larso, janjinya ingin berkabar jika sudah pindah dari Jakarta. Hera harus mendahului berkabar, karena alamat Larso tetap. Baginya Larso punya arti penting. Ada sesuatu yang nampaknya harus ia diperjuangkan.
Hera dengan lancar menulis surat untuk Larso. Mengabarkan bahwa dia sudah di Semarang dan permintaan maaf telat berkabar, serta bercerita sedikit tentang aktifitasnya yag mulai padat dan menarik. Sepertinya hatinya lebih krasan di Semarang daripada di jakarta.
Tiba- tiba muncul pula keinginan untuk menulis surat kepada adiknya Danang, yang Hera kenal baik. Adik Danang banyak, Hera menulis untuk salah satu adiknya yang dianggap paling dewasa dan paling netral. Hera mengirimkan ke alamat rumah. Dengan nama pengirim yang disamarkan. Maksud Hera supaya tidak di sensor, walau kemungkinan itu sangat kecil. Hera menulis sangat hati-hati dan senetral mungkin dalam berkata-kata. Hera menanyakan kabar adiknya dan keluarga, Hera tidak bercerita tentang keberadaannya dan diujung surat menanyakan kabar bagaimana kabar mas Danang apakah sudah pulang? Itu saja.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi