
KEMPALAN: Hera berusaha menyembunyikan rasa sedihnya yang luar biasa. Sebenarnya dia sedih bukan karena putus cinta atau patah hati. Bukan. Tetapi lebih pada merasa terhina dan teraniaya akibat suatu hal. Di lubuk hati Hera terdalam mengatakan bahwa Agung bersikap seperti itu, yang menjurus pada pemutusan hubungan dengannya, bukan karena laporan dari teman Hera atau ketidaksetiaan Hera. Bukan. Itu hanyalah alasan karena Agung tidak sampai hati mengatakan yang sesungguhnya.
Agung tahu hati Hera akan sangat terluka jika alasan sesungguhnya dia nyatakan. Hera sangat sensitif dengan statusnya sebagai anak wong mambu. Hera sudah sangat terluka dengan sikap orang tua Danang pada khususnya, dan sikap masyarakat pada umumnya, yang alergi dan anti dengan yang berbau PKI. Aturan negara mengharuskan begitu jika ingin aman sebagai PNS atau pegawai BUMN. Harus bersih lingkungan. Agung tidak ingin menambah bentuk luka yang sama. Mungkin juga Jono tahu hal ini. Tapi tidak tega menyampaikan. Sehingga memakai alasan Hera telah menciderai perasaan dan hati Agung, karena banyak cowok yang mendekati, atau Hera sudah tidak bisa dipercaya, hubungan menjadi monoton dan sebagainya. Itu alasan yang paling umum, masuk akal dan dianggap bisa diterima oleh Hera.
Mungkin juga Agung masih ingat kata-kata Hera yang kesal karena diputus hubungannya dengan Danang akibat persoalan diluar dirinya, persoalan orang tuanya yang eks Tapol 65. Agung selalu mengatakan soal jodoh tidak mau dicampuri oleh orang tuanya. Dan jika dia akan memutus hubungan dengan Hera maka alasanya harus karena persoalan mereka sendiri, bukan faktor dari luar. Hal ini untuk menutup alasan yang barangkali memang ada intervensi.
Tetapi bukan Hera namanya jika hanya diam saja, Hera pasti menyelidik dan akan membuktikan bahwa alasan sesungguhnya adalah seperti kata hatinya yang terdalam.
Bosan sekali rasa hati Hera jika cinta selalu dibenturkan pada hal-hal yang demikian, sama seperti bosannya Hera ketika setiap tanggal 30 september wajib nonton Film G30 S/PKI yang jelas melenceng dari sejarah, sama bosannya juga setiap dengar kata-kata di berita TV hati-hati dengan bahaya laten PKI atau berita kerusahan yang selalu dibilang : “diduga didalangi oleh PKI…” selalu saja PKI, PKI, PKI sebagai kambing hitam tiada habisnya. Bahkan kebakaran hutan di Kalimantan pun oleh Bob Hasan dituduhkan pada PKI. Sejak kapan PKI punya program membakar hutan?
Hera sampai eneg, mual dan pengin muntah- muntah atau membanting- banting apa saja yang ada di dekatnya. Tetapi tidak pernah dia lakukan. Dia lampiaskan dengan ngulek sambel dan masak. Hera selalu juara satu setiap ada lomba bikin sambel di acara Tujuh belas Agustusan. Sebagai kompensasi dari pukulan psikologis terdasyat bagi anak Indonesia yang terlahir dari orang tua yang mambu, adalah berkegiatan yang positif syukur-syukur berkarya sehingga akan mengangkat harkat dirinya dari keterpurukannya.
Di dalam keluarga Hera, tidak semua sama dalam menyikapi persoalan ini, ada yang biasa saja, ada yang sangat menyembunyikan dan tidak ingin bersentuhan dengan hal yang berbau 65, ada yang tidak peduli, ada yang diam-diam konsen dan prihatin dan support. Masing- masing punya cara dalam menyikapi tergantung dampak yang diterimanya. Hera satu-satunya yang berbeda. Dia terlalu peka dan sensitif dengan masalah ‘permambuan’ ini. Dia hanya tidak suka kalau melihat orang dianiaya dalam ketidakberdayaan.
Hera masih di Jakarta, beruntung ada hiburan baru nonton serial film Kungfu Wan Fe Yang si Pendekar Ulat Sutera. Hera sedikit terlupakan kepedihan hatinya. Hera menjadi malas untuk bertemu orang, termasuk ketemu Larso. Tapi Hera sudah terlanjur menyampaikan kabar bahwa dia berada di Jakarta saat libur semester 3, dan Larso ingin menemuinya. Sebenarnya hati kecilnya, ingin membatalkan pertemuan itu dengan mengirim surat telegram mengatakan sudah akan balik ke Semarang. Tetapi Hera tidak tega. Sehingga Hera tetap akan menemuinya seperti agenda semula. Hera kurang semangat. Hera apatis dan dilanda rasa pesimis yang akut.
Adalah sebuah keajaiban, mungkin seribu satu orang daerah yang berpangkat atau PNS, jika tidak melarang anaknya berhubungan dengan orang mambu atau anak orang mambu. Kecuali sama-sama mambu.
” Assalamu’alaikum..”, suara salam memecah keheningan pagi jelang siang, saat Hera sedang iseng merajut bikin syal dari benang wol.
” Wa’allaikum salam, wah kang Larso, tak kira nggak jadi datang lho.”
Hera memanggil Larso kang ikut-ikutan saja, berawal dari saat mendengar cerita Larso tentang kakaknya dia selalu memanggil kakak lelakinya dengan sebutan kangmas.
“Wah kok gasik banget jam berapa dari Bandung??” tanya Hera, karena perjalanan Bandung ke Jakarta cukup lama.
” Abis subuh langsung ke stasiun jeng, pengin cepat- cepat sampai hehehe”, kata Larso dengan wajah cerah, kebalikan dengan Hera.
” Aku buatkan teh panas manis dulu ya”, kata Hera beranjak ke belakang. Saat keluar Larso sudah memanggil tukang kue yang lewat dia sepertinya lapar. Larso hoby makan, mungkin karena dulunya hidup susah dan di desa tidak pernah melihat kue beragam seperti di Jakarta. Hera kembali ke belakang mengambil piring. Larso memilih kue pisang bungkus daun, kue lumpur, pastel, risol, lupis putu ayu, kue mangkok, masing-masing ambil satu. Larso yang membayar semua. Karakter Larso sangat baik, peduli dan suka membantu orang yang kesusahan.
” Ayo jeng di maem aku laper.”
” Iya habiskan aja aku kan bisa beli tiap saat, wong tukang kue itu tiap hari lewat,” kata Hera.
” Kalau makanan kas Semarang apa aja yang menarik jeng? ”
” Wah banyak dan enak-enak lagi, seperti wingko babat, lumpia. Kalau yang berupa lauk ada mangut, iso babat gongso..”
“Oya kegiatannya apa aja jeng, sudah mulai sibuk banget ya?” tanya Larso.
” Iya kang aku menikmati kegiatanku di kampus. Aku juga nyambi ngajar, cari tambahan untuk fotocopy literature, ingin juga cepat selesai, malu kelamaan minta uang wesel terus “, Hera menyampaikan keluhannya.
” Iya ya jeng saya juga gak kepenak kalau kelamaan dibiayai kangmasku terus. Aku juga jadi guru les. Seperti anak-anak ITB yang lain hobinya nyari uang dari les”, Larso menyampaikan hal yang sama.
“Bukannya banyak ikut proyek dosen?”
“Itu yang agak senior.”
“Ngomong-ngomong nanti kalau sudah lulus mau nglamar kerja kemana? ke negeri atau swasta?” tanya Hera ingin tahu.
” Ya pasti nglamar ke instansi negeri ke beberapa Departemen, nanti mana yang nyangkut”, jawab Larso.
” Ooh gitu, pengin jadi PNS ya , terus jadi pejabat?” kata Hera menimpali.
“Iyalah rata-rata dari generasi kita kan begitu keinginannya jadi PNS aau kerja di BUMN, aman ayem. Emang cita-citamu kerja dimana jeng?”
” Kalau aku jelas tidak ingin jadi PNS atau BUMN lah”, jawab Hera.
” Kenapa ? Dicoba aja jeng PNS itu cocok lho buat perempuan”, kata Larso.
“Iya begitu juga kata ibuku, wah jadi ingat kabur dari IKIP padahal ini prioritas jadi PNS secara otomatis menjadi guru melalui program Iktan Dinas Diploma “, Hera menyampaikan dengan roman sedih, tiba-tiba dia merasa keputusan meninggalkan Ikip adalah keputusan yang salah.
” Ya sudah tidak perlu disesali to jeng. Wong sudah menjadi pilihannya. Buktikan saja kelak bahwa pilihanmu itu benar dan di ridhoi Allah”, demikian nasihat Larso sangat menyejukkan dan terkesan relijiyus.
” Iya wong aku juga punya banyak alasan dan argumen yang kuat kenapa aku ikut tes Sipenmaru ambil S1 dan aku harus siap dengan konsekuensinya”, Hera seperti menenangkan dirinya.
” Jeng semester 4 nanti saya ada survey lapangan tugas kuliah di daerah Pemalang, boleh saya mampir ke Semarang ya, penasaran sama makanan khas semarang hehe”, kataa Larso bersemangat dan berharap.
” Penasaran sama makaan atau orang Semarang?”
Larso terdiam. Tidak siap dengan guyonan Hera. Larso terlalu polos.
“Dengan senang hatiii..!! Siap-siap bawa sangu yang cukup ya buat makan-makan menu khas semarang dan perbaikan giziku hahaha” canda Hera menutupi kegalauan hatinya.
Larso hari itu minta antar ke Perpustakaan Nasional dan ke Toko buku di Matraman, dua tempat yang tidak jauh dari Utan Kayu.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi