Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 23:50 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Tanpa terasa Hera sudah di akhir semester  kelas 3. Dia sudah berpikir untuk lanjut kuliah kemana meski masih dibalut keraguan. Diam-diam saat mengisi formulir bebas tes dia isi IKIP Jakarta. Ini tentu saja mengagetkan banyak orang yang dekat dengan dia. Dia ingin mendekati orang tuanya. Meski kadang rindu juga akan suasana desa yang banyak kenangan.

Ternyata dia diterima di IKIP Jakarta . Tidak heran jika Hera lolos karena Hera termasuk anak berprestasi saat SMA. Meski anake wong mambu dia penerima beasiswa Supersemar yang mensyaratkan prestasi yang bagus dalam hal akademik. Mbahnya tentu kaget dan keberatan. Iya mbah Mangun keberatan karena akan berjauhan dengan cucu kesayangannya itu.

Mbahnya menyarankan Hera ikut tes lagi untuk masuk UNS biar dekat. Hera tak kuasa menolak permintaan mbahnya. Danang tetap jadi andalan Hera untuk mengantar beli formulir maupun menjalani tes di Solo.  Mereka berboncengan naik motor. Perjalanan yang cukup jauh. Untung jalan belum terlalu ramai. Perjalanan pergi lancar. Namun naas saat habis tes, mereka pulang, di tengah jalan motor dicegat polisi di Kartosura.

Danang nggak mampu menunjukkan SIM, maka dia dikenai tilang.

Sampai di rumah Danang dimarahi bapaknya. Kejadian ditilang polisi menjadi alasan bapaknya untuk memarahi Danang dan menegaskan bahwa hubungannya dengan Hera itu tidak diridhoi.. Memang Danang seperti pesakitan bagi keluarga pak camat sejak menjalin hubungan dengan Hera.

“Mulai sekarang kamu akhiri saja. Bapak nggak mau membiayai kuliahmu kalau kau tetap menjalin hubungan dengan Hera.”

Danang berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah. Lebih baik untuk mengadu nasib jauh dari rumah sambil melupakan Hera.

Nampaknya salah satu dukun yang diusahakan untuk Danang itu mempan. Setelah pengumuman  lulusan SMA sambil menunggu penerimaan mahasiswa baru dan menjelang Hera hijrah ke Jakarta, Danang menyampaikan permohonan maaf kalau tidak bisa melanjutkan hubungan lagi.   Danang mengucapkan kata perpisahan yang tidak disangka-sangka Hera

“Kita  masih muda kita sebaiknya konsentrasi dulu urusan masa depan masing-masing, sementara kita tidak usah lanjutkan hubungan ini. “

Duuorr..Hera seperti mendapat pukulan yang sangat dahsyat.

“Mas itu benar dari dalam hatimu?”

Kata-kata yang terkesan halus itu sebenarnya seperti vonis yang menyakitkan. Hmm bagaimana Danang bisa berubah seperti itu sementara sejauh ini Dananglah yang dengan telaten menyiram bunga cinta untuk Hera. Hera pun tidak memungkiri perasaan sayang yang tubuh berkat kesabaran dan ketelatenan Danang. Walaupun hati kecil Hera belum pasti memilih Danang. Tapi ucapan perpisahan itu sungguh nggak  disangka Hera. Itu sepertinya memang menegaskan bahwa anake wong mambu tidak boleh untuk disayangi. Hati Hera hancur lagi. Mengapa cinta harus dihambat dengan hal-hal yang tidak berkaitan.

Hera tidak percaya itu ucapan dari dalam hati Danang. Danang seperti disihir untuk mengucapkan kata-kata itu. Tapi nyatanya Danang terus menjauh sesudah itu. Baru pertama Hera menangis sedih, gara-gara Danang. Mbah Mangun putri ikut menangis karena bagi dia Dananglah orang yang cocok untuk Hera. Danang berlaku seperti kakaknya Hera. Tidak banyak menuntut, tidak banyak meminta, mengayomi dan membantu.

Mbah Mangun ingat lagi bagaimana dulu Ratmi, ibunya Hera, diperlakukan dengan sangat hina oleh keluarga tentara yang melamarnya. Beberapa saat sesudah lamaran keluarga itu dan tanggal nikah ditetapkan, utusan keluarga itu datang dan memutuskan pembatalan secara sepihak, tanpa ada kompromi.

Padahal Ratmi dan anak tentara itu sudah saling cinta. Barang-barang dan semua ubo rampe yang diberikan saat lamaran yang seabrek, dikembalikan semua.

Tapi anehnya saat tentara itu pulang tugas dari Kalimantan justru menuju ke rumah Mbah Mangun dulu dan ingin segera mengajak Ratmi nikah. Mbah Mangun bingung. Tentara itu diberitahu kalau pernikahan sudah dibatalkan pihak keluarganya.

Si tentara marah-marah dan menangis di depan mbah Mangun dan Ratmi. Mereka masih saling cinta. Tentara itu bahkan akan mengajak Ratmi kawin lari lalu dibawa ke Kalimantan. Tapi Mbah Mangun menyarankan tentara itu pulang dan berbicara dengan keluarganya. Sejak saat itu tidak ada lagi kabar.

Mbah Mangun makin kelara-lara atas sikap Danang jika mengingat kisah Ratmi dan tentara itu. Mengapa cucunya harus menerima nasib seperti itu. Hati Mbah Mangun seperti teriris. Meski jauh dari kata nikah tapi sikap itu sangat melukai.

*

Hera berangkat ke Jakarta. Beberapa teman dipamiti. Saat seharusnya Hera meninggalkan kenangan di desa, justru Agung mendekat. Agung diterima di UGM dengan bebas tes. Orang tua Agung tentu sangat bangga anaknya diterima bebas tes di UGM.

Saat perpisahan Agung mengantar sampai ke stanplat bis Delanggu. Sebelum Hera naik ke bis Jurusan jakarta Agung mengatakan,

“Aku pasti akan menyusulmu ke Jakarta,”  dengan suara mantap dan pandangan mata yang meyakinkan. Agung memberika secarik kertas sambil mencium punggu tangan Hera. Kertas itu dibuka Hera di atas bis.

“Aku tresna sliramu “.

Hera terhenyak membacanya.  Hatinya degdegan. Hera heran mana mungkin Agung akan nyusul ke Jakarta, wong dia sudah memilih kuliah di UGM. Tapi bukan Agung namanya kalau tidak nekat dan membuktikan kata-kata nya.

Beberapa hari kemudian Agung muncul di depan rumah Hera di Jakarta.

“Lho Gung kok ke sini?”

Hera kaget melihat Agung berdiri di depan pintu rumahnya.

Diam-diam Agung datang ke Jakarta untuk ikut tes di FT UI. Setelah tes Agung mampir ke rumah Hera di Utan kayu.

“Kamu tahu siapa aku kan?”

“Iya. Kamu selalu memenuhi kata-katamu. Tapi mengapa UGM kau tinggal?”

“Aku ingin dekat sama kamu.”

“Tidak harus Agung. Kamu bisa kejar cita-citamu. Cinta bukan soal jarak geografis, tapi soal hati dan kepercayaan.”

“Aku tidak percaya. Cinta itu soal kebiasaan. Witing tresna jalaran saka kulina.”

“Ya bisa begitu. Tapi cinta tidak hanya satu varian Gung. Ada jenis cinta yang lain.”

“Mestinya kamu senang dengan kenekatanku Her. Mengapa sepertinya kamu tidak menghendaki ini?”

“Bukan begitu. Aku takut kamu cuma emosi, bukan hasil pemikiran yang hati-hati.”

Hera mulai tersanjung lagi. Masih ada harapan.

Tetapi setelah Agung diterima di FT UI ia justru mendapat tantangan dari keluarga. Ibunya Agung ternyata masih saudara dengan ibunya Danang. Maka kabar bahwa Hera ke Jakarta pun sudah diketahui orangtua Agung. Mulai ada keberatan dari orangtuanya. Orangtua Agung  khawatir sekolah Agung malah tidak beres jika berdekat-dekatan dengan Hera.

Bapaknya Agung tahu siapa Hera. Hera termasuk anak kesayangan saat di SMP. Hera sempat mendapat pujiannya saat membuat geguritan bahasa jawa. Bapaknya Agung takjub dengan ketrampilan Hera membuat geguritan yang bagus. Bagi bapak Agung itu termasuk kemampuan langka, anak sekarang bisa membuat geguritan dalam bahasa jawa Yang begitu indah. Tapi untuk urusan cinta Agung dan Hera, orang tuanya tiidak begitu saja disetujui.

Orangtua Agung tetap bersikeras agar Agung kuliah di Jogja, tidak jauh dari rumah, mudah diawasi. Akhirnya Agung mengalah dan  memilih kuliah di Jogja.

“Untuk ke depan bapak ibu tidak bisa memaksa saya lagi. Sekarang saya bisa memenuhi keinginan bapak ibu kuliah di Jogja. Tapi soal pilihan pasangan hidup, saya nggak mau bapak ibu nanti ikut campur,“ Agung mulai memberi sinyal perlawanan.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.