Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 10:45 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Beberapa tahun kemudian, Hera makin sadar dia begitu menikmati kehidupan desa. Hera makin banyak menemukan hal-hal baru yang menyenangkan. Dia  tinggal di desa yang masih kental menjunjung tradisi. Dia ingat waktu SD dulu sangat menunggu-nunggu saat mbahnya mengajaknya menyiapkan upacara wiwit. Upacara kecil menjelang panen padi. Hari ini mbah putrinya menyiapkan sejumlah makanan dan perlengkapan untuk wiwit. Hera tidak lupa diajak menemani simbah ke sawah. Simbah menyiapkan nasi, sayur trancam, ingkung ayam, ikan asin atau gereh pethek dan jajanan pasar. Lalu berangkatlah mereka ke sawah dimana padi mulai menguning dan siap panen beberap hari ke depan. Simbah putri   menggendong tenggok berisi makanan-makanan itu. Begitu melihat Mbah Mangun menggendong tenggok berisi makanan, anak-anak tetangga sudah paham.

“Wiwit…wiwit…!” anak-anak itu saling sahut menyahut.  Mereka berlarian lalu mengikuti di belakang menuju ke sawah yang akan panen. Anak-anak itu menunjukkan muka-muka berseri karena akan menikmati nasi istimewa:nasi dengan sayur trancam, diberi suwiran ayam panggang dan jajan pasar. Makanan mewah bagi anak kampung.

Beberapa menit kemudian sampailah mereka di pinggir sawah. Di bawah teduh pohon munggur/trembesi, mbah Mangun menurunkan gendongannya. Lalu ia menyiapkan empat bungkusan yang berisi makanan-makanan tadi untuk ditempatkan di tempat tertentu. Anak-anak duduk mengelilinginya. Mbah Mangun membaca doa-doa  agar hasil panen akan baik, tidak diganggu hama. Beberapa anak yang cukup besar ditunjuk untuk menghantar bungkusan itu ke 4 penjuru sawah. Larso termasuk di dalamnya.

“Le ini ditaruh dipojok sana ya…,’ kata mbah Mangunmemberi instruksi sambil menunjuk ke pojk timur utara.

“Kamu yang sebelah utara barat,” Mbah Mangun memberi petunjuk berikutnya.

Begitulah empat anak diminta menempatkan sesajen di tempat yang dimaksud.

Meskipun itu dimaksudkan sebagai sesajen nyatanya akan diambil oleh teman-teman Hera. Lalu sisa makanan dibagi untuk anak-anak yang mengikuti acara wiwit itu. Acara ini dimaksudkan agar hasil panenan bagus  tidak dimakan hama wereng atau tikus. Anak-anak lalu makan nasi wiwit di bawah pohon nan rimbun di tepi sawah, diiringi semilir angin yang berembus pelan. Salah satu makanan terlezat yang mereka pernah rasakan.

Usai upacara wiwit mereka pulang. Hera kebagian menggendong boneka Mbok Sri atau Dewi Sri atau Dewi Padi dalam kepercayaan masyarakat jawa. Boneka  dibuat dari seuntai padi sebesar satu genggaman orang dewasa yang dihias menyerupai orang-orangan , dikepang dan dihiasi dengan bunga. Simbah  menyiapkan selendang bagus dan bersih untuk dipakai Hera mengemban mbok Dewi Sri dari sawah menuju rumah.

Sampai di rumah mbok Sri dibaringkan di amben kamar dalam atau senthong. Dialasi selendang yang tadi buat ngemban. Setelah sehari semalam boneka mbok Dewi Sri biasanya oleh mbah Mangun putri akan dicantolkan di tiang rumah . Hingga padinya akan mengering dan bisa ditumbuk. Hera sangat menikmati mengikuti upacara kecil itu.

Mbah Mangun putri juga tidak pernah lupa bikin inthuk-inthuk saat wetonnya Hera. Inthuk-inthuk adalah tumpeng lancip seperti kerucut, diujungnya dicubles dengan lombok abang dan bawang merah. Sekelilingnya diberi janganan atau urap dan telur ayam kampung rebus. Tumpeng itu ditaruh di lorong bawah amben tempat tidur. Mbah Putrinya sepertnya tahu, meski Hera tampil ceria dan penuh tawa di kesehariannya, di dalam hatinya ada gumpalan kesedihan yang disimpannya. Mbah Putri kadang menemukan Hera menangis terisak di tengah malam. Bayangan bapaknya yang menjalani hidup di rumah tahanan jelas pemicunya. Dia sudha mulai tahu bagiamana ibunya bekerja keras, memanggung semua beban sendirian untuk membesarkan anak-anaknya dan tetap setia menjaga cintanya untuk suami. Tawaran dari beberapa orang untuk memperistrinya tidak pernah menggoyahkan kesetiaannya untuk bapaknya. Untuk itulah Hera menangis.

Pagi-pagi setelah bangun setelah semalam inthuk-ithuk itu ditaruh di bawah longan maka Hera , kakak dan adiknya akan berebut untuk cepat-cepatan mengambil telur rebusnya. Mendapatkan sebutir telur adalah kebanggaan dan kebahagiaan. Makanan yang jarang didapatkan dikesehariaan. Meski akhirnya telur itu dibagi tiga tapi meraihnya terlebih dahulu adalah prestasi. Ritual inthuk-inthuk untuk menjauhkan Hera dari pengaruh-pengaruh jahat.

Saat makan Hera sering mengamati alas piringnya ada tulisan made Holland atau di teko tempat minum ada tulisan AMS, amsterdam. Hera tahu itu barang pecah belah peninggalan jaman Belanda. Beberapa kali juga dia bertanya kemana mbah kakungnya sering pakai jaket atau jubah-jubah tebal macam baju dingin di Eropa.

“Mbah kok punya pakaian begitu?”

“Oleh-oleh dari bapakmu dulu.,.” jawab mbah kakungnya.

Hera berpikir memang bapaknya termasuk orang yang punya jabatan penting. Jaman sesudah kemerdekaan bisa ke Jakarta lalu ke luar negeri pasti hanya akan dijalani oleh pejabat penting.

Setelah SMP mulai dia paham apa yang sebenarnya terjadi. Bapaknya tokoh organisasi buruh yang berafiliasi ke partai yang lalu dilarang pemerintah baru.

*

Hingga kini pun Hera menikmati tradisi lain yang berlangsung puluhan tahun di desa itu yaitu wayangan saat 1 Suro. Hera tidak tahu tradisi itu dimulai sejak kapan, namun sejak dia tinggal di desa itu, setiap tahun selalu ada acara wayangan, menanggap wayang kulit sehari semalam. Penduduk sekitar pasti akan berbondong-bondong datang. Hera sendiri  tidak terlalu paham cerita wayang, dia menikmati sekali suasananya.  Begitu ramai pengunjung yang menonton wayang. Hera biasa minta uang ke mbah atau simboknya.

Bersama teman-temannya Hera akan berkeliling dari satu pedagang ke pedagang yang lain.

“Mbah beli sate kere…,” Hera mencoba makanan khas tu. Sate yang dibuat dari tempe gembus dan jeroan.

Berikutnya dia datangi penjual sosis kiwir. Sosis yang biasa dijual saat pertunjukkan wayang. Sosis ini berisi kecambah dan diberi saus kecap yang rasanya khas. Akan sangat nikmat dimakan dengan menggigit lombok.

Larso dan teman-teman  juga sibuk menggunakan kesempatan itu untuk main judi. Yang dia hobi adalah main othuk, permainan dadu.  Ada seorang bandar  melempar dua dadu dan menggelar kertas bertulisan angka berurutan 1-12 dalam kotak-kotak. Para pemain judi akan  memasang uang di kertas yang berisikan angka-angka itu .Jika angka yang keluar pada dadu atau jumlahnya sesuai dengan angka di kertas tempat dia naruh uang , maka dia akan dapat uang 20x lipat dari jumlah yang dia pasang.

“Tembus…,” teriak Larso kegirangan karena ia menang. Angka yang muncul sesuai tempat dia naruh uang. Hasil ini membuat dia makin semangat memasang uang di atas lembaran kertas itu.

Setelah beberapa lama, Larso mulai kalah-kalah terus. Uang yang ia dapat berkurang terus.

Larso lalu beli jajanan kesukaan, glali yang dikasih tepung warna putih.

Lalu dia pindah ke judi lotere. Seorang bandar menghadap roda lotere yang atasnya bertuliskan angka 1-24. Di sisi pinggir ada jarum yang menunjuk ke roda itu. Roda lotere diputar oleh bandar. Beberapa saat roda akan berhenti dan jarum akan menunjuk ke angka tertentu. Larso memasang beberapa rupiah di angka-angka itu. Sangat menyenangkan.

Ia berhenti setelah uangnya habis. Dia kemudian beralih menonton wayang. Saat-saat sore waktunya perang. Di situlah dia dan anak-anak akan sorak sorai sambil tepuk tangan melihat jagoannya dari pendawa memenangkan peperangan lawan kurawa. Aapalagi saat Werkudara membabat habis buta atau Dursasana, penonton pun ikut bergembira serasa mereka ikut dalam peperangan itu. Suara gamelan, kendang, kepyak dan cempolo yang dipukulkan ke kotak wayang  melengkapi kesempurnaan keriuahan peperangan itu..

Ketika Hera duduk di ruangan di rumahnya, pasti teman-teman sekolahnya yang menonton wayang sengaja berseliweran lewat samping rumah sambil nyanyi-nyanyi. Mereka berharap Hera akan mendengar dan keluar. Lalu  mengharapkan disuruh mampir. Tapi Hera justru salah tingkah harus bertindak apa. Dia malu menemui teman-teman SMP yang tidak satu kelas itu.  Ada salah satunya adalah Nur. Nur ini sering dipacoke sama dia oleh gurunya. Gurunya ini om dari Nur.  Padahal Hera belumlah berpikir ke sana.  Gurunya malah kadang keterlaluan sikapnya gara-gara Hera tidak menanggapi pancingan gurunya itu. Saat itu kalaupun lirak-liri atau hatinya deg-degan justru saat berpapasan dengan Larso, anak nakal yang pinter itu. Tapi nakalnya Larso sepertinya  nakal anak-anak yang cari perhatian. Bukan nakal yang kelewatan, seperti berantem atau nyuri.

“Tahu kan di sini ada anake wong mambu?” kata gurunya itu di suatu kelas. Hera kaget. Lalu dia paham bahwaitu ditujukan kepadanya. Orang-orang mulai paham  bapaknya ditahan karena menjadi pengurus organisasi buruh yang berafiliasi pada  partai yang kemudian dilarang, meski tidak jelas apa salahnya. Istilah wong mambu sering digunakan untuk menjuluki orang-orang yang tertuduh PKI. Hera begitu sakit hatinya dibilang begitu di dalam kelas yang nggak ada hubungannya dengan kejadian itu.

“Wis mbak nggak usah nangis,” Kata Wuri teman sebangkunya menghiburnya.

“Kalau nangis nanti malah ketahuan lho,” Wuri melanjutkan. Ya Hera merasa dirinya yang dituju oleh guru itu.

Malah ada guru lain yang bilang di dalam kelas

“Hati-hati ya tahun ini banyak terpidana dari pulau Buru akan pulang. Hati-hati dengan mereka. Kalian harus ikut mengawasi,” kata guru itu. Hati Hera terasa diiris-iris. Ia semakin merasa orang yang paling buruk. Padahal dia baru berumur 3 bulan ketika peristiwa itu terjadi.

Pembebasan itu sebenarnya bukan murni akibat niat baik pemerintah Orba tetapi berkat desakan Amnesty internasional. Amnesty Internasional melihat adanya pelanggaran hak asazi dan kemanusiaan yang berat  dalam penahan para orang-orang yang dianggap PKI tanpa proses peradilan itu.  Bapaknya memang akhirnya dibebaskan pada tahun 1979 itu. Beruntung bapaknya tidak jadi dipulau-burukan. Tapi kondisi bapaknya sungguh menyedihkan. Nampak begitu tua dan rapuh. Lebih sering sakit-sakitan daripada sehat. Itu pun diwajibkan lapor tiap minggu e kodim atau kantor polisi.

Hera tidak tahu apa yang dialami bapaknya di penjara. Bapaknya pun tidak pernah bercerita. Bapaknya sepertinya tidak mau menanamkan dendam di kalangan generasi muda, biarlah penderitaan dialaminya sendiri bersama para tahanan lain. Ngadiman mengalami sendiri bagaimana disundut rokok berkai-kali atau distroom. Ada tahanan lain yang kepalanya dipukul dengan popor senjata atau ditendang sepatu lars. Ada yang kupingnya jadi budeg karena pukulan aparat. Hidung atau mulutnya berdarah karena pukulan petugas.  Kekerasan-kekerasan yang berulang tiap hari.

Kekejaman aparat memang tidak pernah diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya. Tapi banyak para pembezuk yang sempat melihat kejadian-kejadian itu. Tapi ada juga aparat yang berhati baik. Mereka bisa tenggang rasa dengan penderitaan yang dialami para tahanan.

Ada temannya yang bapaknya hilang sesaat setelah peristiwa pembunuhan beberapa jenderal pada September 65. Bapak temannya seorang lurah di desa Jeblog, desa selatan Ponggok. Bapak temannya dan beberapa lurah dipanggil untuk sebuah konferensi di Klaten. Saat itu keadaan serba kacau. Para lurah itu tidak tahu itu konferensi apa. Mereka sebagai aparat desa datang saja karena undangan itu atas nama pemerintah. Bapak temannya hanyalah pemuja Sukarno, Bung Besar. Bukan pengurus partai. Ia sangat setuju dengan ide Bung Karno yang tidak ingin Indonesia menjadi bagian dari kapitalisme yang didengungkan AS. Bung Karno melawan dengan berbagai cara. Mulai membentuk Conefo mengadakan pesta olahraga Ganefo, keluar dari PBB yang menjadi kepanjangan tangan negara-negara Barat itu. Bung Karno tahu ide busuk AS yang ingin menguasai tambang tembaga dan emas di Papua serta tambang minyak di berbagai belahan bumi nusantara.

Pak Lurah itu  senang dengan ide berdikari nya Bung Karno. Namun sejak mendatangi konferensi itu bapak temannya itu nggak pernah pulang lagi hingga kini. Anak-anaknya masih kecil. Beruntung ada satu kakak sulungnya diterima kerja di sebuah pabrik ban asing di Jakarta kemudian. Sehingga kakaknya itu yang membiayai ibu dan adik-adiknya.

Anak-anak sekolah yang ikut organisasi pelajar atau kemahasiswaan yang ada sangkut pautnya dengan PKI pun disuruh wajib lapor tiap hari selama sekian bulan ke kantor polisi atau ke kodim. Setiap anak disuruh bawa bahan bangunan atau menyumbang material lain untuk membangun rumah tahanan di kodim untuk menampung para tahanan politik terdakwa PKI. Lucu para korban dibiayai oleh korban yang lain. Cerita politik selalu menyisakan kisah kemanusiaan yang menyayat.

Hera tidak pernah bercerita soal kata-kata gurunya di kelas. Dia tahu mbah putrinya begitu protektifnya ke dia sebagai cucu wedok kesayangan. Pernah saat rewang di tetangga lik Marni bertanya

“Nduk sudah lama ya nggak ketemu bapak? Kasihan sekali kamu , bapakmu gek dimana ya.” tanya ibu itu.

Mendengar itu mbah putinya langsung murka.

“Apa maksud kamu tanya begitu ke cucuku? Jangan tanya aneh-aneh ke anak kecil.” Begitu kata-kata mbahnya melabrak si ibu itu. Orang-orang yang rewang di situ melihat adegan itu. Sejak itu mereka tidak pernah bertanya lagi. Hera sebenarnya tidak paham sekali mengapa mbahnya marah saat itu. Tapi beranjak besar saat SMP dia mulai paham.

*

Penduduk desa itu turun temurun tetap menjaga tradisi wayang. Mereka yakin jika pertunjukkan wayang dihentikan maka desa itu akan dilanda musibah atau pagebluk. Mereka tidak pernah protes atau mempertanyakan adat itu. Bagi mereka tidak ada jeleknya merawat budaya yang baik itu. Kesenian wayang tetap terjaga tidak punah ditelan jaman. Dalam pewayanganpun disampaikan ajaran-ajaran yang baik, kebaikan melawan kejahatan, kejujuran harus diutamakan, kesetiakawanan dan juga nasionalisme. Hampir semua unsur-unsur kebaikan ada dalam cerita wayang.

Masyarakat umumnya menikmati wayang karena cerita wayang selalu dibuat dinamis mengikuti tren cerita yang sedang berkembang di masyarakat. Mereka seolah melihat cermin dalam cerita wayang.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.