Rabu, 15 April 2026, pukul : 08:35 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hari Senin, dua hari sejak keberangkatan Agung, Hera menerima telpon. Hera memberikan  nomor telpon kepada Agung saat berangkat. Itu nomor telepon rumah mbak Iis, tetangga sebelah, satu-satunya rumah yang sudah pasang telpon di sekitar rumah Hera. Ia termasuk termasuk orang berada, bapaknya kerja sebagai kontraktor di PLN. Tetangga-tetangga lain selalu numpang telpon di situ dan meninggalkan uang pecahan untuk sekedar menyumbang tagihan bulanannya. Agung sebelum berangkat sempat minta nomor telpon yang bisa dihubungi. Untung ada mbak Iis sebagai satu-satunya yang sudah menyambung telepon.

” Mbak Her, ada telpon dari temannya di Amerika”

” Oh ya..” Hera bergegas dengan hati deg-deg mengikuti  mbak Iis, ke rumahnya.

” Maaf ya mbak Iis jadi merepotkan.”

” Gapapa mba Her siapa tahu penting,” katanya.

Hera mengangkat gagang telpon, ada suara yang nampak riang dari seberang sana

” Hallo Her my sweet…aku sudah sampai dengan selamat,” kata Agung begitu gembira. Mungkin dia gembira karena mampu mencapai tempat tujuannya dengan selamat.

” Hallo senang dengar suaramu. Ini pakai telpon internasional apa nggak mahal?” jawab Hera memikirkan  soal tarif telpon. Ya pikirannya tarif di sana seperti tarif di Indonesia.

” Welah kamu ini, kok malah mikir biaya telpon. Biaya telpon itu nggak seberapa dibanding mendengar suaramu itu. Suaramu bagiku sangat berarti.  Bahkan lebih penting dari pada uang untuk makan atau beli-beli yang lain,” sauara Agung tampak meyakinkan sekali.

Hera geleng- geleng. Sebegitukah Agung.

” Iya gimana suasana di sana, musim apa?”

“Lagi musim semi.Ya di sini masih sepi, perlu teman ini. O ya aku kirim dua postcard lho, satu dari Singapora dan satu dari Hongkong dan satu surat lagi.”

Wah Hera mulai tersanjung.Tapi dia juga berpikir Agung begitu kesepiannya sehingga menulis begitu banyak surat.

” Oh ya aku belum terima, mungkin nanti seminggu lagi ya. Wah nggak sabar nih nunggu postcardnya, kamu di kota apa? ” tanya Hera.

” Seperti pernah kubilang, di kota Denver, Colorado”.

“Waah tetanggaan donng sama John Denver..Hmm ingat lagunya..Sun shine, Living on the jet plane.”

“‘Iya haha… bisa aja kamu,  disini semua serba disiplin, tertata, tapi nyenyet banget,” kata Agung.

” Sudah jam berapa disitu?”

” Sudah tengah malam.”

Hera mulai merasa nggak enak ke mbak Iis. Telpon Agung ternyata lama.

” Ya pantesan nyenyet, malam- malam. Kok bisa malam-malam cari telpon? Sudah istirahat, jangan kelamaan. Satu mahal, dua tidak enak numpang ke telpon tetangga,”  bisik Hera di telpon.

” Oke yang penting sudah dengar suaramu, miss you.”

” Miss you too, have a nice dream,” Hera mengakhiri percakapan.

Besoknya lagi , siang hari waktu Jakarta, tengah malam waktu Denver, Agung menelpon lagi. Agung hampir dua hari sekali telpon. Surat dan beberapa post card juga sudah Hera terima. Dalam salah satu telponnya, Agung berpesan kalau ada orang yang bertanya tentang apakah ada saudara yang di kuar negeri bilang tidak ada. Agung khawatir ketahuan polisi, dia dengan teman- temannya berhasil membobol telpom umum di sana untuk bisa nelpon long distance antar negara secara gratis hanya dengan sekali memasukkan coin. Katanya diakali pakai kawat. Keisengan anak- anak kreatif  Indonesia yang sering salah tempat.

Surat Agung datang setelah beberap hari karu posnya datang.Ya Agung bercerita perjalanan melewati Singapura dan Hongkong. Hera membacanya dengan membayangkan seandainya dia yang pergi kira-kira sampai nggak.

Agung benar-benar tidak bisa untuk tidak komunikasi lebih dari 3 hari degan Hera. Ini yang membuat Hera justru tidak enak dengan mbak Iis yang selalu memanggil dia tiap ada telpon. Menyusahkan, walaupun mungkin tetangga yang baik itu tidak merasa disusahkan. Kalau hera mengingatkan agar Agung untuk tidak sering-sering telpon, dia malah salah paham. Dikiranya Hera tidak suka sering-sering ditelpon. Dalam hati Hera sangat bangga punya teman di Amerika dan sering menelpon.

Di beberapa suratnya Agung bercerita tentang kampusnya yang sejuk dan rindang. Kampus selalu penuh dengan pohon-pohon hijau dan rerumputan yang terawat rapi. Ada bunga warna-warni yang tumbuh saat musim semi karena memang ditanam.Nanti dia akan mati saat musim dingin. Agung bercerita bagaimana sayur dan buah di sana bagus-bagus dan harganya relatif murah. Di awal-awal dia kesulitan menangkap bahasa Inggris orang sana. Meskipun sudah melewati training pre-departure tapi tetap saja banyak kesulitan menangkap pengucapan bahasa Inggris orang Amerika. Beruntung ada temannya orang Indonesia yang sering membantu dan bareng belanja ke super market.

Di surat yang akan datang, dia berjanji akan mengirim foto kampusnya. Tidak lupa Agung berpesan, agar Hera belajar sungguh- sungguh karena ujian Sipenmaru tinggal seminggu lagi. Hera senang Agug selalu mendorongnya maju dalam sekolah.

Hera mulai belajar sungguh-sungguh untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi jalur Sipenmaru. Hera sudah mendaftar Sipenmaru, pilihan pertama UI dan pilihan kedua UNDIP. Seminggu setelah mendaftar dia mengambil kartu dan denah lokasi Ujian.  Pelan-pelan Hera bercerita kepada ibunya .

“Buk Hera  mendaftar untuk ikut ujian seleksi masuk PTN lagi.”

“Ha? Untuk apa? Kamu jadi guru saja sudah pas.  Habis lulus D2 pasti ditempatkan di daerah dekat Jakarta. Anak perempuan mau nyari apa.  Jika IKIP Jakarta  maka penempatannya biasanya Jawa Barat dan Lampung. “

“Aku pilih UI lagi. Masih penasaran karena tahun lalu gagal.Pilihan kedua Hera ambil di UNDIP Semarang.”

“Wah ibu kok kurang setuju. Jauh dari ibumu. Menjadi guru adalah profesi yang paling tepat untuk perempuan, liburnya banyak,  kerjanya tidak full seharian,  tidak pulang malam, dan dihormati. Ikuti aturan di IKIP, gak perlu susah-susah  cari kerja karena program Diploma langsung ditempatkan di SMP- SMP Negeri. “

Hera sedih mendengar ibunya tidakjuga berubah sejak setahun lalu. Hera merasa belum siap menjadi guru dan tidak siap jika harus ditempatkan di pelosok. Sebenarnya bukan itu masalahnya, bisik hati Hera. Setelah bekerja kemana lagi kalau tidak disarankan menikah. Itu hal yang sangat ditakutkan. Hera mengulangi perkataannya “Kalau Hera diterima, Hera janji tidak akan meminta biaya dari ibu. Aku mau kuliah sambil bekerja.”

Ibunya diam saja, hatinya sedih. Dan, ia tetap tidak setuju.

Dalam seminggu Hera booking kakak sepupunya, putra pakdenya, mas Gatot yang jago Matematika untuk mengajarinya. Untuk pelajaran yang lain Hera merasa tidak terlalu sulit. Dia bisa belajar dari buku kumpulan soal dan kisi-kisi. Di sela-sela itu Hera masih sering menerima telpon dari Agung. Kata-kata Agung membuat Hera  makin semangat untuk pindah kampus.

*

Hari H ujian tiba. Hera melewati dua hari ujian dengan lancar.

Sesudah itu Hera menunggu pengumuman di bulan Juni akhir atau awal Juli.  Sementara itu di IKIP Hera sudah selesai Ujian semester, ujian praktek mengajar dan lain-lain. Sudah tidak ada aktifitas kuliah, tapi teman- teman Hera di IKIP sibuk regestrasi dan  mengisi formulir dan biodata untuk penempatan. Hera justru kabur, tidak nongol-nongol di kampusnya. Dia sudah yakin akan pindah dari IKIP.

Sebulan kemudian. Tepat hari pengumuman penerimaan mahasiswa baru, nama Hera tercantum di koran Nasional. Hera diterima pada pulihan ke dua yaitu di Undip. Hera merasa senang dan bersyukur walau tetap gagal masuk UI. Hati Hera riang sekali, dia membayangkan hidup merdeka dan akan kost, tidak ikut neneknya dan tidak ikut orang tuanya. Hera lalu sejenak berpikir darimana biaya semua ini. Satu- satunya harapan adalah sumbangan dari kakaknya. Tapi kebutuhan mereka  juga banyak karena mereka punya tanggungan bayar kredit motor.

Keputusannya sudah bulat walaupun ibunya tidak setuju,  Hera tetap mau nekat. Hera ijin ke ibunya akan pulang kampung di desa simbahnya. Hera membayangkan simbahnya akan menyambutnya dengan suka cita, karena memang simbah berkeinginan Hera kuliah tidak jauh darinya, setidaknya di Jawa Tengah.

Hera terjepit dalam siatuasi yang sulit.Ibunya tetap menginginkan Hera tinggal di Jakarta, dan membereskan kelulusanya di IKIP tidak langsung cabut begitu saja. Di sisi lain regestrasi ulang mahasiswa baru harus segera dilaksanakan. Jika pada waktu yang telah ditentukan tidak mendaftar ulang maka akan dianggap mengundurkan diri. Hera menangis sedih  karena pilihannya adalah nekat, tidak sesuai keinginan ibu.

Ternyata seorang anak  melawan kehendak seorang ibu adalah persoalan yang sangat berat. Hera ada perasaan seperti menjadi anak yang tidak berbakti kepada ibunya. Dan merasa menjadi anak pembangkang. Walaupun Hera punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri.  Sejak awal Hera memang berkeinginan kuliah S1 selagi secara umur masih memenuhi syarat untuk ikut ujian seleksi PTN. Dulu di luar pilihan IKIP,  Hera juga ambil pilihan di UI  bahkan pilihan pertama dan kedua. Tapi gagal. Diulang lagi gagal lagi.

Hara demam, badannya panas tinggi saking bingungnya, dia stress. Kuliah S1 jenjangnya cukup lama sekita 4,5- 5 th.

Hera dibawa ke dokter terdekat. Hanya diberi obat vitamin saja dan penenang. Memang dia tidaksakit. Hera sambil menangis bilang ke ibunya,

“Buk, Hera minta maaf sekali…”

Ibunya Hera diam. Mungkin mengijinkan tapi tidak merestui. Ibunya Hera mencoba merenung bahwa jaman sudah mulai berubah. Wanita tidak harus berperan seperti generasinya.

“Ijinkan Hera sekolah di Undip Semarang ya.”

Hera memohon sambil terisak.

Bu Ratmi tidak berkata apa-apa. Tapi dalam hati dia berharap semoga pilihan itu yang akan memberikan masa depan terbaik bagi Hera.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.