Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 10:46 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Raharjo semakin rajin main ke rumah Eko, mereka punya hobi yang sama , main musik. Raharjo membeli gitar bagus dan dititipkan di rumah Eko. Itu juga sebagai alasan agar dia bisa sering-sering ke sana.  Suatu ketika dia membawakan lagu Lolong dari Ebiet G Ade. Lain kali lagu Take me home, Sun Shine-nya John Denver,  atau lagu nostagia Willingly. Lagu-lagu itu terdengar begitu syahdu di telinga Hera. Itu  membuat perasaan dan hati Hera ngelangut. Pikiran Hera seperti  mengembara, bukan memikirkan Raharjo, atau mengagumi  betapa indahnya petikan gitar Raharjo. Tapi malah ia terbayang wajah  Danang, dimanakah sekarang dia berada, apakah dia masih di rantau, apakah keluarganya sudah menemukannya atau belum. Ah Danang mengapa orang tuamu masih begitu kolot, batin Hera.

Lalu bayangan pindah ke Agung. Hera bertanya  sedang apakah dia, ataukan sedang belajar sambil membayangkan wajahnya. Ataukah dia juga sedang memetik gitar mengalunkan lagu untuknya. Tidak lupa juga Larso yang lirikan dan senyumnya menusuk jantung saat ketemu di makam, sedang apakah dia di Bandung. Sosok Larso yang  dulu bandel berubah jadi sopan, penurut, ngalahan. Hera bertanya-tanya kok bisa begitu.  Hera tersenyum, dalam hati dia minta maaf pada mas Raharjo. Mungkin lagu seperti Willingly ditujukan untuknya, tapi Hera menangkap dan memberikannya untuk hati yang lain.

Selepas jam sembilan, di Jakarta, masih tampak sore. Ratmi menutup pintu rumah setelah lewat jam 12.00 karena malam, Ratmi masih sering lembur nge-sum dan masih silih berganti teman-teman kakak Hera datang dan pergi. Biasanya Eko dan Raharjo ngobrol ngalor ngidul hingga lepas tengah malam, soal apa saja. Yang paling menarik bagi Hera jika mereka sudah cerita tentang dunia mistis, dan dunia supranatural. Konsep manunggaling kawulo Gusti dari Syeh Siti Jenar oleh Raharjo diyakininya benar. Surga atau neraka itu ya adanya di dunia ini. Surga itu berupa rasa tentram dan kebahagian yang  ada di dalam hati manusia. Jiwa yang tentram itu jiwa yang merdeka. Tidak terseret kepada hal-hal duniawi dan yang bersifat materi.

Raharjo melanjutkan bahwa manusia terlahir kembali di dunia karena tugas- tugas di kehidupan yang lalu belum selesai. Dan harus dibayar di kehidupan yang sekarang. Maka kita akan dipertemukan dengan orang yang  di kehidupan sebelumnya. Bisa jadi Raharjo dan Eko dulunya kakak adik, dipertemukan kembali karena ada sesuatu tugas atau hutang antara mereka yang belum selesai. Sehingga begitu kuat ikatan persaudaraannya dikehidupan yang sekarang.

Mendengar cerita-cerita unik itu, Hera yang sedang baca komik di ruang tamu tertarik, lalu keluar ke teras.

” Waah seru ngobrolnya,” kata Hera ikut duduk meriung di teras.

” Belum tidur tho dik,” tanya Raharjo.

Hera lalu menanyakan sesuatu ke Raharjo yang sering terjadi ketika dia masih balita.

Dan Hera bercerita tentang peristiwa masa kecilnya, yang kebetulan kakaknya, Eko tidak  tahu, karena saat peristiwa itu  sudah bersekolah di desa, dibawa simbah ke desa.  Saat umur empat setengah  tahun Hera mengalami kecelakaan tragis. Ketika itu Hera berumur 4,5 tahun adiknya adiknya Hero baru usia 3,5 tahun mereka bermain-main di bawah pohon mangga di kebon belakang rumah di Utan Kayu. Di bawah pohon mangga yang besar itu ada jumbleng atau kakus . Jumbleng itu ditutup dengan tumpukan seng yang sudah keropos sana sini dan karatan.

Kakak beradik itu memungut pentil-pentil mangga yang kecil untuk mainan pasar-pasaran.  Hera karena tidak mengira kalau dibawah seng itu adalah lubang kakus kubangan tinja yang dalam, berukuran sekitar 1,5 x 1,5m.  Saat itu Hera melihat sebuah pentil mangga yang agak besar  jatuh di atas seng. Dengan tanpa mikir dia melangkah menginjak seng itu penuh semangat hendak memungut mangga itu. Byuur!!!

Hera terperosok jatuh terjun masuk ke lubang kakus itu. Hero saat itu masih kecil, hanya menangis ketakutan malah lari ke kebun kangkung di belakang rumahnya. Ada perasaan takut disalahkan.  Saat itu di sekitar Utan kayu masih banyak kebon luas.

Hera berteriak memanggil ‘ibuuu…ibuuu’ sekuat tenaga. Ada lubang dan rongga seng bekas pijakan kaki Hera yang mengalirkan udara segar yang justru menolong Hera bisa bernafas. Hera terus berteriak memanggil ibunya sampai suaranya melemah dan berubah menjadi isak tangis.

Sementara di rumah, Ratmi dan para penjahit sibuk dengan suara mesin yang riuh. Mereka tentu tidak mendengar apa-apa. Entah sudah berapa lama dan berapa jam Hera tergeletak di lubang kakus itu. Hera didalam kubangan itu posisi nya terlentang tidak tenggelam, Hera justru seperti tidur di atas kasur, ya kasur tinja. Dan Hera tidak merasa mencium bau apapun, matanya terbuka, melihat langit-langit seng yang bolong karena bekas pijakan kaki kecilnya.

Ratmi tidak tahan ikut gabung dengan obrolan malam itu. Dia ikut keluar ke teras.

“Siapapun yang kehilangan anak,  tidak mungkin orang tuanya mencari ke lubang kakus,” begitu Ratmi menyela cerita itu.

Ratmi lalu meneruskan cerita Hera. Ada orang yang sedang buang air besar di WC belakang rumahnya. Dia  mendengar isakan tangis anak kecil. Lalu dia perhatikan dan mencari arah asal suara tangisan itu . Ia mendengar suara itu berasal dari lubang kakus. Si bapak itu segera teriak-teriak di gang depan rumah

“Ibu.. ibu.. ibu ..ada anak kejebur kakus…ibu siapa yang anaknya nggak ada.”

Ratmi paling panik karena punya dua balita yang kebetulan main- main di belakang dan tidak kelihatan. Hari itu sekitar jam 2 atau 3 sore peristiwa Hera terperosok sekitar jam 10 pagi. Ratmi berteriak mencari Hera ke sana kemari,  tidak mendapatkannya. Hero dipanggil saat itu malah takut, hanya menunjuk- nunjuk saja ke arah kakus.

Ratmi makin panik. Lalu ada seorang tukang tempe keliling berhenti. Dengan sigap dia mencari tangga bambu. Dia pasang tangga itu masuk ke kakus dengan terlebih dahulu mencari poisi tangga yang paling stabil. Dia masuk dan meraih Hera yang terkpar di atas tumpukkan tinja itu. Lalu Hera dibopong ke atas dengan tubuh dan baju, rambut ikalnya tebal gluprut dengan tinja.

Semua pekerja menyiapkan air di bak-bak untuk memandikan Hera. Kaki Hera sebelah kiri robek karena tersayat seng, mengekuarkan darah cukup banyak. Hera dijungkirkan dimandikan diguyur bergantian oleh beberapa pekerja tukang jahit. Gigi Hera mengunci, tidak bisa dibuka. Lalu diketuk-ketuk dengan sendok biar terbuka. Tetap nggak mau membuka. Ratmi berteriak histeris.

Pakde sebelah rumah mencari becak untuk membawanya ke RS Saint Carolus, rumah sakit besar satu-satunya dekat ru,ah. Dan di situ pula dulu Hera dilahirkan. Mata Hera tetap tebuka, tidak berkedip dan gigi terkatup rapat. Ratmi masih menangis meraung-raug melihat kondisi anaknya. Tidak lama sampailah mereka di Rumah sakit.

Di RS suster segera membersihkan luka Hera dan menjahitnya. Disitu hera mulai merasakan perih. Hera menggeliat. ibu nampak lega dan tangisannya perlahan berhenti. Hera sudah terlalu besar untuk digendong. Besoknya ibu membuat kendurian nasi dan  jajan pasar lalu dibagi-bagi ke tetangga dan di letakkan di dekat jumbleng.

Hera dalam beberapa hari demam tinggi. Di dalam demam itu Hera merasa ditunggui orang tinggi besar berhidung mancung. Wajahnya itu ternyata mirip mbah kakung yang ditemuinya kemudian beberapa tahun saat hijrah ke desa.

Tiap malam Hera selalu panggil- panggil ibu, setiap sosok bapak tua seperti orang Belanda berhidung mancung itu muncul.  Itu nyata dilihat Hera  bukan halusinasi, karena sosok itu akan datang disaat Hera dalam sebuah kesulitan. Bapak tua itu berbaju hijau, bukan loreng, memakai crop serdadu Belanda,  kakinya buntung sebelah.

Mendengar cerita itu Raharjo makin simpati dengan ibunya Hera. Di mata Raharjo Bu Ratmi  benar-benar perempuan tangguh. Tidak terbayang sedihnya saat peristiwa itu. Ratmi mondar-mandir ke RS dengan punya dua balita adik Hera, Hero dan Tika yang  masih bayi. Ratmi benar-benar menanggung beban berat semnatara suaminya saat itu masih mendekam dalam penjara.

Hanya karena keajaiban dari Tuhan Hera bisa terselamatkan.

Malam itu Ratmi keluar sambil menangis meneruskan cerita Hera.

“Saya tidak kuat mendengar cerita ini sebenarnya. Dan tidak membayangkan Hera akan hidup sampai sekarang. Melihat matanya terbuka tidak berkedip dan giginya mengatup, saya sudah bayangkan Hera akan pergi selamanya.“

Hera lalu bertanya ke mas Raharjo

“Siapa lelaki tua yag mirip mbah kakung saya yang sering hadir saat aku dalam kesulitan itu mas?”

Raharjo tidak bisa langsung menjawab. Dia ingin melakukan meditasi dulu pada saat yang nyaman. Baru dia akan menjawabnya nanti.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.