Senin, 9 Maret 2026, pukul : 00:55 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Namanya Jimo , panggilannya Jimo Belong. Dia pegawai kecamatan, entah bagian apa, tetangga Hera. Dia termasuk dipercaya pak camat. Paling sering wira-wiri di depan rumah Hera jika Danang sedang main. Lalu bak spionase dia akan melapor ke Pak Camat soal Danang.

“Mas Danang sering main ke tetangga saya pak”.

“Mo…ada yang lebih penting.”.

“Apa yang penting pak?”

“Kamu cari informasi, sisik melik, soal orang tua Hera.”

“Iya siap..”

“Bagus, jangan lama-lama.”

Jimo pun bergerilya di desanya. Mendatangi beberapa orang tua. Dari selentingan tetangga akhirnya Jimo Belong tahu bahwa bapak Hera , Ngadiman, pernah menjalani tahanan karena dinyatakan ada hubungan dengan organisasi terlarang. Ngadiman jadi pengurus serikat buruh yang berafiliasi dengan organisasi terlarang. Jimo merasa sudah punya informasi emas untuk dilaporkan.

Suatu siang selepas jam kantor, Jimo memberanikan diri mengetuk pintu ruang Pak camat.

“Boleh menghadap pak?”

“Oo….Jimo…silaken..silaken….”

Jimo pun masuk ruangan dan segera ambil posisi duduk.

“Bagaimana? Gimana hasilnya?”

“Bener kondisi bahaya. Urjen..urjen..,” kata Jimo penuh semangat.

“Sik-sik , panggil ibu suruh ke sini,”perintah Pak camat ke Jimo. Jimo segera lari dan kembali lagi diikuti bu camat.

“Ada apa kok seperti penting sekali?” tanya bu camat.

“Maksudmu urjen piye Mo? Sing jelas,” lanjut pak camat.

“Urjen memang bapaknya wong mambu.”

“Yakin?”

“Iya yakin pak. Pernah ditahan. Bapaknya tokoh serikat buruh di pusat. KTP nya nggak tercatat di desa sini maupun di kecamatan. Tapi tokoh penting“

Pak camat dan bu camat berpandangan. Info dari Jimo ini membuat mereka tersentak dan sangat emosi.

“Lalu hubungan Danang dan Hera?”

“Saya dapat info valid. Memang Mas Danang pacaran dengan Hera. Bahkan sangat akrab dengan keluarga Hera.”

“Sik-sik kamu jangan bikin laporan palsu ya. Ini menyangkut hati dua orang yang sedang kasmaran. Salah info bisa bahaya.”

“Lho apa njenengan nggak percaya sama Jimo Belong? Informan handal pasca gestok. Dulu korban-korban tertuduh PKI, saya yang kasih info ke kodim.”

“Nggak usah jah-jauh Mo, apa yang kamu saksikan?”

“Ya itu mas Danang sering apel, sering wakuncar ke rumah Mbah Mangun. Bukan itu saja mereka sering berduaan pergi dan pulang sekolah.”

“Oh pantes ya, Danang kok berkeras naik sepeda. Katanya biar sehat. Motornya dianggurkan,” Sahut bu camat.

“Iya sehatlah karena  dekat Hera,” Jimo Belong melotot matanya sambil tangannya digerak-gerakkan bak jago strategi.

“Kamu punya usul bagaimana menghentikan mereka?” tanya pak camat pusing. Dia merencanakan agar Danang bisa masuk Akabri. Segala urusan harus bersih dari label PKI atau wong mambu. Hubungan Danang dengan Hera bisa membahayakan masa depan Danang dan juga masa depannya dia sebagai camat. Jika hubungan anaknya ini sampai diketahui orang banyak dan sampai ke Kodim atau Bupati, posisinya bisa berbahaya. Segala bau-bau Orla atau PKI tidak boleh nempel sedikit pun.

“Saya akan ingatkan Hera untuk menjauhi mas Danang Pak. Saya akan minta mbahnya atau pun simboknya agar menasehati Hera.”

“Awas kalau gagal, nasibmu bisa terpengaruh,”kata pak camat penuh tekanan.

“Tenang bos…,” kata Jimo Belong begitu percaya diri sambil menghisap rokoknya.

Jimo Belong di kalangan tetangga tidak disukai. Jimo kulitnya hitam, dagunya menonjol, pipi agak tirus dan giginya maju. Dia tukang cari muka ke lurah maupun camat. Paling suka melaporkan apa yang terjadi di lingkungan kampung ke pejabat. Ketika beberapa remaja dan pemuda menempel gambar PPP dan PDI di beberapa pohon dan tembok pada pemilu 1977, Jimo Belong lapor ke pak lurah dengan lengkap siapa pelaku dan kapan kejadian. Anak-anak muda itu sempat dipanggil ke kelurahan dan diperingatkan agar tidak mengulangi.

Pak lurah tentu saja ketakutan jika warganya ada yang nyoblos selain Golkar. Begitu pun pak camat akan berbahaya posisinya jika jumlah pemilih partai di luar Golkar banyak. Mereka ketakutan tangan-tangan Suharto merembet dan menjangkau  kemana-mana sampai individu-individu di desa. Semua orang ketakutan jika sudah menyangkut pilihan politik. Memang pemilu didasari asas Langsung Umum Bebas rahasia tetapi kata-kata bebas itu hanya jargon saja. Kenyataannya orang berpikir seribu kali untuk memilih selain Golkar. Apalagi jika ada saudara atau kerabat yang jadi pegawai negeri, maka memilih selain Golkar adalah aib dan siap menerima risiko. Tuduhan antek PKI bisa dicari-cari, meski sudah 12 tahun berlalu dan tidak ada sangkut pautnya.

Sementara Bu Camat dan pak camat sangat terganggu dengan kelakuan Danang, anak mbarepnya. Semua skenario bisa berantakan gegara sikap liar Danang yang nggak sesuai harapan ini. Bu caat sudah sepakat menjodohkan Danang dengan anak pak lurah Polan. Pak lurah punya anak gadis yang hitam manis yang sudah  diprospek untuk meneruskan karir bapaknya di dunia politik level desa dan punya ketrampilan tinggi dalam mengurus administrasi desa. Pak lurah dan bu lurah sudah sepakat. Dan, kabarnya anaknyapun sendika dawuh. Masalahnya tinggal di Danang.

“Kamu tahu Hera itu anake wong mambu?”

“Ha? Apa itu wong mambu?”

“Halah jangan sok bodoh le. Itu anake wong PKI!”

“Lho bapak ibu bagaimana, apa salah Hera? Siapa yang memilih jadi anak PKI?”

“Ya memang nggak salah. Tapi kedekatanmu itu bisa membahayakan nasib bapak.”

Danang terdiam. Dia nggak menyangka hubungan cintanya yang sedang tumbuh subur justru dihalangi dengan alasan yang dia tidak pernah berpikir.

“Hera anaknya baik, mandiri, punya prinsip, tidak mengandalkan orang tua..”

“Tapi ada info bapaknya ditahan. Malu bapak, pimpinan daerah, punya besan seorang tahanan.”

“ Sudah bebas pak, sudah dibebaskan tahun 79 kemarin. Tidak pernah dinyatakan bersalah hanya karena memilih ikut partai yang nggak sesuai kebijakan pemerintah sekarang saja.”

“Tapi itu bahaya. Bahaya juga untuk masa depanmu. Kamu mau masuk akabri, itu sangat penting menghindai hubungan dengan apa saja yang punya kaitan dengan PKI. Kamu itu anak bapak ibu. Kenapa nggak manut saja?”

Danang yang tidak biasa menangis itu masuk kamarnya. Dia tiduran sambil sesenggukan. Terlalu besar cintanya untuk Hera. Dia banyak sekali berkorban demi cintanya.

Danang sesak hatinya. Ingatannya melayang ketika siang pulang sekolah Hera menuruni tanjakan dengan sepedanya yang blong remnya. Lalu Hera tidak bisa menguasai keadaan. Ia  jatuh tersungkur masuk ke parit pinggir sawah. Hera tertindih sepeda. Hera mengerang shock dan kesakitan. Lalu Danang cepat bertindak. Sepeda disingkirkan, dibopongnya Hera ke sebuah gubuk di dekat situ. Hera jelas sangat senang menerima pertolongan dari jejaka ganteng itu. Bak permaisuri digotong sang pangeran..betapa manis..Lalu dia bersihkan lumpur yang mengotori baju, tangan dan kaki Hera.

“Tunggu dulu ya, saya cari obat merah..”

Hera saat itu seperti melambung. Dia berkhayal seandainya nanti Mas Danang jadi suaminya..Setelah itu Danang meminta temannya mencari obat merah sementara dia menjaga  Hera. Temannya pun naik motornya ngebut mencari obat merah dan kapas.

“Sakit dik?” tanya Danang penuh empati.

“Perih…”, sahut Hera sambil meringis.

Danang pun meniup-niup luka di bagian lutut itu. Hera salah tingkah. Mau bilang tidak usah tapi lukanya terasa semriwing jika dihembus.

Nggak lama temannya datang membawa obat merah dan kapas. Dengan pelan dan lembut  dibersihkan luka di lutut Hera dengan dengan kapas, lalu ditetesi luka itu dengan obat merah sambil dihembus-hembus.

“Perih?”

“Hmm iya perih, “ucap Hera, padahal nggak seberapa sakitnya. Tapi hembusan Danang terasa sejuk di lukanya. Hera yang sedang kelaparan itu merasa seperti terbang atas awan. Ada jejaka yang begitu sabar merawatnya. Seandainya saja nggak ada teman lain ingin rasanya dia memberi ciuman untuk mas Danang.

“Terima kasih ya masku…”, ucap Hera manja.

Danang tersadar lagi dari lamunan. Begitu ngilu hatinya. Bapak ibunya yang berpendidikan dan punya jabatan justru berpikir kolot. Justru orang-orang tua yang yang ternyata begitu kerdil pikirannya. Danang ingin teriak keras  tapi ditahannya, dia  hanya memukul-mukulkan tangannya ke kasur sambil sesenggukan. Haruskah cinta yang sedang merekah ini berakhir, apa nggak boleh lagi dia bersepeda berduaan dengan Hera sambil bercerita tentang lagu, wayang, film di TV atau acara aneka ria safari. Di dalam hati dia berkata “aku tidak akan menyerah!”

Hera tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungannya dengan Danang. Jimo Belong suatu siang masih pakai seragam kantor memarkir motornya di pekarangan depan rumah mbah Mangun.

“Ada apa Lik kok tumben mampir?”

“Ee nduk tak kasih tahu ya. “

“Apa ini lik?’

“Jangan teruskan hubunganmu dengan mas Danang. Tahu diri. Kamu anake wong mambu,” ucap Jimo dengan sengit. Dia lupa mereka bertetangga yang tiap harinya sering bertegur sapa.

Hera terkejut. Kenapa stigma wong mambu selalu dibawa kemana-mana. Urusan cinta kasih pun dibawa ke situ. Padahal mereka baru berumur beberapa bulan atau setahun ketika peristiwa itu terjadi.

“Saya ngga mendekati. Mas Danang yang datang ke sini.”

“Pokoknya jauhi dia.”

“Salahku apa?”

“Ya itu tadi, kamu anake wong mambu. Nggak pantas berdekatan dengan anak pejabat penting. “

Hera lari masuk ke kamarnya sambil menangis. Sangat sakit hatinya. Sakit sekali. Lagi-lagi harga dirinya sebagai manusia benar-benar dijatuhkan lagi. Penderitaannya belum berakhir. Cinta indah yang baru berkembang sudah menemui rintangan. Yang menghambat justru hal-hal yang tidak berkaitan dengan perilakunya atau kemampuannya .Tidak cukupkah bapaknya membayar dosa di penjara 14 tahun. Tidak cukupkah ibunya pontang-panting mengurus anak yang kecil-kecil sendirian. Tidak cukupkah rumah, mobil, barang perhiasan diserobot. Seribu tanya kembali menyesakkan dadanya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.