Rabu, 29 April 2026, pukul : 01:21 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hari berganti, dan minggu pun berjalan menjadi bulan. Hera beserta teman- temannya masih tekun berlatih theater. Terhitung sudah 6 minggu dikali 2, sudah 12 kali latihan, hari H semakin dekat. Masih ada perbaikan sana-sini. Mas Bagas dan Sutradara semakin bersemangat melatih dan menekankah agar para pemain menjiwai karakter tokoh-tokohnya. Drama Karsiyem bercerita tentang persoalan kehidupan wong cilik .

Sampailah pada hari H. Tim Hera di bawah asuhan Maladi dan Bagas siap tampil. Karsiyem penjual pecel dan suaminya Parman bekerja sebagai tukang Becak. Mereka hampir setiap hari ribut masalah keuangan. Karsiyem merasa uang hasil jualannya sering berkurang, saat terakhir dihitung 15.000, ketika akan dipakai belanja dihitung lagi tinggal 14.000. Hal sepert itu sering terjadi bahkan kadang berkurangya Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu. Nilai sebesar itu berarti sekali bagi Karsiyem. Karena dari uang itu bisa untuk belanja bahan untuk bumbu sambel pecel. Tuduhan tentu mengarah kepada suaminya, Parman.

Sebagai tukang becak Parman memang mata keranjang,  suka menggoda para PRT langganannya yang minta diantar  pulang pergi ke dan dari pasar berbelanja. Parman badannya gagah tegap, tidak berpotongan sebagai tukang becak. Isu yang beredar ada diantara para pembantu rumah tangga yang tergoda dan pacaran dengan Parman.  Karsiyem menyampaikan isu itu kepada anak perempuannya, Partini. Mereka berdua berencana menyelidiki, mungkin karena Parman punya wanita idaman lain (WIL). Inilah yang menyebabkan Karsinyem sering kehilangan uang.

Para pemain penonton berperan memanas-manasi  dangan kata-kata provokatif dan celotehan lucu-lucu. Saat Karsiyem di panggung ribut dengan suaminya.

“Njaluk pegat wae yu.Isih akeh lanangan kok…… Parman ncen payah,”  celetuk pemain penonton.

“Karo aku wae yu….dijamin setia setiap saat, ” pemain penonton lainnya menimpali.

“Huuu….. Hahahaha !!” para pemain penonton tertawa bersama penonton. Drama menjadi makin hidup. Para pemain makin percaya diri.

Karsiyem yang diperankan Hera, lalu bertanya,

” Eh penonton , yang tadi ngomong itu  laki-laki bukan?”

” Lha iyo laki-laki tulen tho! Ra percaya? Deloken….!” kata salah satu penonton.

“Lha berarti sampean sami mawon!! matanya seperti keranjang, sudah tahu bojone Parman kok ngajak ….,” sahut Karsiyem sambil  melirak-lirik menyindir Parman. Lalu musik pun bergema ‘dlang tak dlang tak…thung…thung….jreeeng’.

“Hahahaha…!!” tertawa lagi semua penonton.

“Bener Yu ini rombongan keranjang,  yang bermata banyak, jangan percaya yu. Mulutnya merayu yu Karsiyem tangannya juwal-jawil saya, ” kata penonton perempuan, Ningsih.

“Dik Karsiyem sayang, sudah tho jangan bimbang, jangan hiraukan omongan wong – wong stress itu,”  kata Parman menunjuk pada para pemain penonton.

“Cintaku padamu sedalam lautan Atlantik lho… seluas Samodra India,”  tambah Parman sambil cengar cengir.

“Ngapusiiii!! Ora ngandel,” teriak pemain penonton.

“mbelll” kata yu Karsiyem dengan bibir meruncing.

Partini, anak yu Karsiyem, muncul di panggung menambahi kisruh.

“Aku lho mbok pernah mergoki bapak.”

“Heh mergoki apa?”

“Ya itu ternyata bapak punya WIL. Makan bakso berduaan dengan yu Siti, pe er te rumah gedong di Jln. Erlangga!”

“Oo pantes. Tak kira duitku hilang dicolong inthuk. Jebul inthuke bernama Parman,” lanjut yu Karsiyem makin geram kepada Parman.

“Lho mbok berarti aku anak inthuk  ya?”

Penonton pun bersorak-sorak.

Karsiyem yakin duitnya diambil Parman untuk menraktir perempuan lain.

.“Huuuuuuu!! Parman pancen methakil…!!”  teriak penonton.

Karsiyem pun melabrak Siti. Dengan emosi dan suara tinggi Karsiyem langsung ngegas

“Wo ini to wedokan sundel..”

“Apa sundel? Apa salahku?” tanya Siti nggak kalah galak.

“Lha kamu sudah bermain mata sama suamiku..”

“Walah Parman iku ora lanang. Mung gagah awake . Wong saben jajan bakso aku sing mbayari..”

Penontonpun bersorak, sambil tertawa. Mereka mendapat hiburan dari cerita rakyat kecil.

“Ya ampun…Parman. Lha duit iku mbok nggo apa. Mesthi nduwe cemceman liya meneh iki…”, Karsiyem makin emosi.

“Parman ki sontoloyo…wong dia malah pinjam duit ke saya, katanya untuk biaya sekolah anaknya katanya,” lanjut Siti.

“Oalah Parman…Parman..!!” teriak Karsiyem.

“Sunat lagi aja ben kapok…!!” sahut pemain penonton…Penonton pun riuh.

“Nah sekarang kamu ke sini ayo sahur utangnya Parman, kan untuk biaya sekolah anakmu?!” tagih Siti.

Karsiyem hampir semaput mendengar itu. Nggak menduga ia justru mendapat serangan dari Siti padahal ingin melabrak.

Demikian kurang lebih cerita di dalam drama Karsiyem.  Topiknya sederhana tidak rumit hanya masalah keseharian  rakyat kecil.

Hera dan tim merasa sukses mementaskan dramanya.

Hera bertiga sering pulang malam karena aktivitas kampus itu. Mereka mulai tidak nyaman dengan sikap pak Raden yang sering menegur.

“Kok sering pulang malam?”

”Iya pak maaf, kita latihan drama. Mau tampil.”

“Wah saya nggak mau tahu. Aturannya jam sembilan malam sudah harus pulang. Kalian kan sama orang tua dititipkan ke kami. Jadi kami harus tegakkan aturan.”

“Maaf pak..maaf” , ucap Hera dan teman-temannya bersamaan.

Dianggapnya Hera dan teman-temannya itu menyalahi aturan. Alasan klasik. Sesungguhnya jelas yang diincer Hera. Karena feelling pak Raden, Hera mengetahui rahasia yu Semi.

Hera memutuskan untuk pindah kost.  Setelah bertanya-tanya, ada sebuah rumah tua yang dihuni seorang Eyang Holand Spreken lagi. Ini informasi dari Maladi sutradara drama itu.  Rumahnya besar, khas rumah Dinas pejabat jaman Belanda.  Hera jadi ingat pejabat di lingkungan Pabrik Karung Goni Delanggu. Rumah bangunan Belanda dengan pintu dan jendela tinggi besar, dinding tebal dan kokoh.

Lalu Hera, Endah dan Nunik pindah ke rumah tua itu di Jalan Atmodirono. Di  belakang rumah itu ada halaman luas tempat becak-becak dititipkan. Salah satu tukang becak bernama Parman, dan pembantu Eyang Marta yang Holand Spreken itu, bernama Siti. Dari sinilah mungkin mas Bagas dan Sutradara terinspirasi sehingga lahir drama Karsiyem. Memang cerita kehidupan nyata dari rakyat kecil yang kadang tidak kalah rumitnya dengan perselingkuhan para pejabat kaya.

Mas Bagas membantu pindahan, angkut-angkut barang-barang milik Hera dan teman-temannya. Dan mereka menyewa dua becak. Kamarnya sangat luas dengan 3  dipan kayu kasur kapuk cukup kokoh.  Di  depan rumah pojok kiri tumbuh pohon flamboyan yang bunganya merah dan daunnya berguguran sehingga hanya tinggal bunganya saja.

Ketika Hera membuka Jendela kamarnya yang model Belanda, Hera sering melihat burung Hantu bertengger di dahan pohon Flamboyan itu, matanya mencorong. Di rumah kost yang baru Hera dan dua temannya merasa lebih nyaman. Eyang Marta hidup dengan satu pembantu dan satu  cucu perempuan, Utari.  Anak kost memanggilnya Mbak Utari, dia bekerja sebagai dosen honor  pelajaran bahasa Belanda dan bahasa Jepang, di beberapa universitas dan tempat kursus. Eyang Marta sudah sangat sepuh,  jalannya memakai walker yang berkaki empat. Yu Siti yang masih sangat muda setia merawatnya. Eyang Marta dan cucunya mba Utari berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

Memang piyayi-piyayi sepuh di pusat kota semarang dan toko seputar kampus masih banyak yang Holand Spreken.

Mas Bagas sering bertandang di kost Hera yang baru,mereka lebih longgar dan bebas mengobrol berlama-lama. Rumah kost yang baru sering untuk berkumpul dan berdiskusi para insan pers kampus.

*

Hera baru menerima surat dari Agung. Ia membaca surat yang diterima terakhir,  tidak ada lagi kehangatan, terasa garing dan dingin. Pasti ada sesuatu penyebab yang membuatnya berubah drastis. Hera mendapat cerita dari sepupunya, Jono,  kalau Agung banyak teman-teman cewek dari berbagai negara. Dia malah banyak cerita soal teman-teman kuliahnya yang dari China, Jepang, Korea atau teman bule  yang cantik dan smart. Hera makin merasa terpojok. Cerita itu seakan membandingkan para cewek itu dengan dirinya.

Hera dapat cerita dari Jono sepupu Agung kalau di sana ada teman Jepang  yang mirip Oshin. Mereka sering mengerjakan tugas di library berdua sampai malam. Kadang mereka belanja, lalu masak bareng di apartemen Oshin. Kata Agung Oshin seperti gadis Asia yang rajin memasak , menghormati laki-laki sekaligus pintar. Yah Hera makin merasa dirinya tidak berarti apa-apa lagi bagi Agung. Agung juga bercerita ke Jono kalau hubungan dengan Hera makin monoton, tidak menarik. Hera berpikir memang sebaiknya hubungan ini diakhiri. Dirinya tidak harus menjaga kesetiaan dengan Agung.

Tapi Hera terhibur lomba dramanya mendapat juara dua. Ini menjadi hiburan tersendiri. Kerja kerasnya mendatangkan hasil, meski tidak berupa uang. Hiburan lain adalah datangnya surat dari Larso. Larso senang Hera pindah Semarang dan meneruskan di program S1. Larso bercerita kalau dia sibuk di kegiatan seni tari dan kerawitan. Tapi Larso hanya bisa di bagian kerawitan. Di situ banyak ketemu teman-teman dari Jawa. Bagi Larso kehidupan kampus di luar kuliah malah lebih menarik daripada ilmu di dalam kelas.Larso yang mirip deegan Hera yang menikmati aktivitas di luar kuliah.  Sama dengan Hera Larso pun sibuk memberi les ke anak-anak SMP dan SMA. Dari situ dia dapat uang tambahan.

Rencana pada  liburan semester 3 nanti  Hera akan mudik ke Jakarta menemui Jono dan janjian dengan Larso.Semntara surat Hera untuk adik Danang belum juga dibalas. Hera was-was ada apa. Jangan-jangan suratnya disortir Pak Camat atau memang adiknya juga nggak tahu kabar Danang.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.