Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 19:51 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Jimo mencari dukun yang dikenal ampuh. Dia pergi ke salah satu desa di sebelah barat Ponggok. Dia harus bisa menemukan dukun yang sesuai pesanan pak camat agar bisa memisahkan Hera dengan Danang. Ini adalah pertaruhan bagi Jimo. Jika berhasil posisi dia  di kantor akan aman. Setelah beberapa kali bertanya ke orang yang ditemui di pinggir jalan, akhirnya ketemulah rumah dukun yang dimaksud.

Jimo keder ketemu dukun. Mba dukun pakai iket kepala, beskap dan berkubis tebal.Meski dia galak ke orang-orang di kampungnya tapi begitu ringkih di depan mbah dukun. Seakan dia seperti dikuliti kejelekannya, padahal mbah dukun tidak melakukan apa-apa selain memandanginya. Mbah dukun meminta Jimo duduk di kursi di ruang tamu.

“Silakan. Ada keperluan apa mas?” suara mbah dukun penuh wibawa sambil menghisap rokok disertai batuk ringan.

“Begini mbah dukun. Hmm..begini…Ada anak juragan saya yang naksir teman perempuannya.”

“Lalu masalahnya apa?”

“ Nganu mbah…orangtuanya nggak setuju. “

“Lha kenapa?”

“ya karena perempuan ini anake wong mambu.”

“hmm..hati-hati ini. Biasanya orang tertindas justru sulit ditundukkan.”

“Lho kok mbah dukun bilang begitu. “

“ Iya ini pengalaman saya. Bisa jadi dia keturunan wong ampuh. Siapa nama anak itu?”

“Hera. Hera mbah.”

“Weton  ?”

“Senin Kliwon.”

Mbah dukun menerawang sebentar. Lalu diam beberapa saat. Mbah dukun lalu masuk kamar yang terhubung ke kamar tamu. Sebuah keris dikeluarkan dari rangkanya. Lalu dia membaca mantra umak-umik sambil menyalakan kemenyan. Jimo menunggu dengan gelisah. Dia pun menunggu sambil menghisap rokoknya. Setelah ada petunjuk,  beberapa saat lalu mbah dukun keluar lagi.

“Wah ini berat. Siapa orang tua anak ini ya?”

“Ya saya kurang tahu mbah. Sudah lama pindah ke ibukota, sepertiya dulu tokoh penting, “ Jimo mulai mikir pergi ke dukun lain. Dia melihat muka mbah dukun seperti tidak percaya diti.

“Sepertinya banyak yang melindungi anak ini.”

“Nggak bisa diusahakan mbah?”

“Seorang dukun pantang menyerah. Saya akan membantu,” mbah dukun masuk kamar lagi. Dia mengambil kain yang dibentuk seperti boneka kecil diikat. Sebentar dibaca mantra-mantra.

Mbah dukun keluar lalu duduk lagi. Dia nampak serius,

“Begini, kamu kuburkan boneka ini di depan rumah perempuan itu. Jangan sampai ada yang tahu. Harus dicari waktu semua orang tertidur.”

“Nggih mbah dukun. Akan saya laksanaken..”

Jimo segera pamit setelah memberikan amplop sebagai ucapan terima kasih.

“Kalau berhasil, anak perempuan itu akan tidak menarik lagi bagi anak juraganmu.”

Jimo berpikir bagaimana cara mengubur boneka itu di depan rumah mbah Mangun agar tidak terlacak dan tuan rumah nggak tahu. Dia harus bisa menundukkan Hera agar pak camat merasa puas atas hasil kerjanya.

Tengah malam, Jimo bangun lalu mengendap-endap keluar dari rumah. Bahkan istrinya pun nggak tahu dia keluar lewat pintu dapur. Dia merangkak menuju rumah Mbah Mangun. Kepala ditutup dan memakai sarung untuk menutup tubuhnya. Dia bawa cangkul kecil atau pethel. Setelah dipastikan tidak ada orang, Jimo menggali tanah depan rumah, sangat pelan. Karena agak keras, dia kencingi dulu tanah itu. Dia teruskan menggali pelan sambil tangannya mengambil tanah yang dia gali. Agak basah tanah terkena bekas kencingnya yang belum kering. Bau pesing kencingnya sendiri nggak dia hiraukan. Lalu dengan cepat boneka dari mbah dukun dikubur di situ. Lalu beberapa jampi-jampi dia bacakan. Yakin yang dia kerjakan sesuai perintah mbah dukun, segera dia lari. Dia pastikan tidak ada yang melihat operasi senyapnya. Pelan dia masuk rumah jangan sampai anak istrinya tahu. Hatinya deg-degan. Lalu dia sempatkan menikmati sebatang rokok sebelum tidur.

*

Jimo melaporkan ke pak camat kalau sudah menjalankan misi mencari dukun dan syarat yang harus dijalankan untuk membuat Hera tidak menarik bagi Danang.

Mbah Mangun merasa ada yang aneh di depan rumahnya, di teras ada bekas galian. Dia tidak tahu siapa yang melakukan. Ketika Hera dikasih tahu, dia sempat kaget. Tapi Hera menduga itu kerjaan Jimo. Dia santai dengan kejadian itu. Malah dia ketawa-ketawa.

“Biarkan saja mbah. Paling itu kerjaan dukun,” jawab Hera datar. Dia ingat mbah putrinya pun sering melindungi dia dengan inthuk-inthuk setiap hari lahirnya. Sepertinya ini kuat-kuatan adu dukun melawan dukun. Hera tertawa sendiri.

Dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga bulan, Jimo melaporkan Danang masih sering datang ke rumah Hera. Sepertinya benar penerawangan mbah Dukun bahwa Hera dipagari sangat kuat. Salah satu dukun bilang ada orang tinggi putih yang selalu memagari Hera sehingga sulit ditembus segala mantra dan jampi-jampi.

Pak camat tetap berusaha. Mungkin bukan Hera yang harus ditundukkan tapi anaknya sendiri, Danang. Hera mendapat laporan dari adik-adik Danang yang cukup dekat dengannya bahwa Danang sekarang sering menjadi limpahan kemarahan orang tuanya. Segala pembicaraan hampir selalu berakhir dengan memarahi Danang. Danang kadang seperti orang linglung.

Kedekatan Agung dengan Hera juga makin terlihat. Setiap pagi Agung selalu mengantar adiknya ke SMP sebelah kampung Hera. Adiknya sendiri heran kenapa kakaknya tiba-tiba begitu rajin mengantarnya. Padahal Agung harus segera sekolah tapi kenapa dibela-belain mengantarnya pagi-pagi. Bapaknya pun heran dengan perubahan sikap Agung yang seakan penuh perhatian ke adiknya. Bapaknya pun mulai curiga. Dia ingin tahu apa yang terjadi.

Agung selalu menunggu di buk sebelah barat kampung menunggu Hera saat pagi. Tapi selalu modusnya businya rusak. Tentu Agung malu ketahuan teman-teman cowok Hera yang lewat di situ jika menunggu tanpa alasan. Maka tiap pagi dia pura-pura jongkok memperbiki busi sambil menunggu Hera lewat.  Jika Hera kelihatan dari jauh , dia akan siaps-siap dengan motornya.  Lalu dia akan dengan semangat menarik tangan Hera sambil naik motornya. Hera pun menikmati hiburan itu. Dia seperti melayang di angkasa merasakan tarikan tangan Agung. Dia hanya perlu menjaga keseimbangan sepedanya sehingga tidak oleng atau menabrak motor butut Agung. Atau kaki Agung mendorong sepeda Hera dari belakang, sehingga Hera tidak perlu nggowes sepedanya. Mereka seperti anak-anak yang sedang menikmati permainannya. Tidak cukup itu , sore hari setelah pulang sekolah Agung masih sering main ke tempat Hera. Agung seperti orang yang mabuk cinta. Berulang kali mengucap ‘I love you ‘dengan berbagai bahasa. Dari jawa, Indonesia, Inggris, Jepang semua dicoba. Tapi Hera masih bisa menjaga hati. Tidak menolak tapi juga belum menerima. Meskipun teman-teman Agung menganggap mereka jadian.

Suatu kali Danang datang saat Agung di situ. Terjadilah suasana yang kurang nyaman di hati Hera. Untung Agung langsung pamitan.

” Pamit dulu ya”, kata Agung.

” Iya terima kasih Gung..”, sahut Hera.

” Ramah amat…” tanya Danang.

” Ya namanya teman..”. Hera agak nggak enak menjawabnya.

“Asal cuma teman saja,” kata Danang. Ada nada cemburu di sana.

Danang selain mendapat serbuan di rumah, juga mendapat serangan di luar. Agung sepertinya juga mendapat angin dari Hera. Danang  memendam rasa cemburu yang sangat dalam. Dia jelas sangat cemburu, Agung bukan lawan yang ringan. Agung memang terkenal sangat cerdas. Hera punya respek ke orang pinter meski kadang kurang luwes. Sementara Danang hanya bermodal kebaikan hati dan kemampuan olahraga. Danang ketua unit kegiatan salah satu olahraga di sekolah. Dia jago main badminton. Smashnya terkenal mematikan. Jika dia main  banyak orang termasuk cewek-cewek terhibur menyaksikan penampilan dia.  Tapi Danang tidak pernah mengatakan rasa cemburunya ke Hera. Dia hanya memendam dalam hati. Dia tidak suka memaksa atau mengatur-atur Hera. Dia hanya berharap Hera bisa menghargai ketulusannya mencintai Hera.

Entah Hera terpengaruh jampi-jampi dukun atau memang Agung memang punya daya tarik sehingga membuat Hera membuka kesempatan. Hera mulai merasakan dirinya tidak lagi anak yang begitu tanpa arti, anake wong mambu. Dia mulai percaya diri karena ada dua orang ang bersaing memperebutkannya. Masih ada satu lagi, Larso, yang meskipun tidak aktif tapi Hera merasakan Larso mengharapkannya. Setiap pulang acara ketemu di makam masih berlanjut. Mereka berpandangan, tersenyum , menyapa lalu berpisah. Cara berkomunikasi yang sangat istimewa. Seakan sinyal paling kuat sudah dikirim meski tanpa penjelasan. Hera tahu Larso sedang berjuang keras meraih masa depan, dia yakin suatu saat pasti Larso akan mengatakan sesuatu.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.