
KEMPALAN: Kota Semarang bukan kota pelajar seperti halnya Jogja. Tetapi kota dagang dan kota pelabuhan seperti juga Jakarta dan Surabaya. Posisinya di pantai utara Jawa. Kota Semarang lebih sering banjir jika hujan deras dibanding kota-kota lain. Tanahnya terus turun karena penggunaan air tanah oleh warganya sehingga air laut mudah naik. Karenanya ada lagu anekdot yang poluler untuk kota Semarang
🎵Semarang kaline banjir jo semelang ra dipikir.. 🎵🎼
Letak kota Semarang dibawah permukaan air laut. Kota itu konon dijuluki sebagai Venesianya Indonesia di saat banjir. Hera mengalami beberapa kali, banjir besar di kota Semarang sehingga tidak bisa masuk kuliah. Meskipun tidak ada ke istimewaannya seperti kota Jogya, atau Solo, tetapi Hera menjadikan kota Semarang sebagai pilihan persinggahan dalam perjalanan hidupannya sambil ngangsu kawruh di Undip.
Mungkin karena dia punya simbah yaitu mbah Semarang alias mbah Tuwo, jadi seperti ingin napak tilas. Betapa senangnya jika mbah Tuwo masih menangi, menyaksikan Hera kuliah di Semarang. Sayangnya tidak, mbah Tuwo meninggal saat Hera kelas kelas VI SD.
Tak terasa sudah satu semester Hera melewati perkuliahan di Semarang. Hera punya target lulus tercepat. Mengingat masa perkuliahan sudah terpakai juga di IKIP Jakarta. Kehidupan selama di Semarang cukup menarik dan penuh warna, di kota itu Hera tertempa dalam kemerdekaannya.
Beruntung saat Hera sebagai mahasiswa baru di Undip, tidak ada perpeloncoan, ini sangat melegakan hati Hera. Hal ini akibat protes keras dari masyarakat luas, dan kaum akademisi karena tahun sebelumnya, ada kasus heboh yang mencoreng nama baik Undip. Berita tentang seorang mahasiswi kedokteran Undip, dibuly dan dihukum saat ospek agar menggigit seekor kodok hidup. Sangat tidak manusiawi dan tidak ada relevansinya dengan ilmu kedokteran, serta pendidikan. Lha wong cuma menggigit tidak membedah kodok . Ospek atau perpeloncoan bagi Hera hanya menyisakan kenangan pahit dan dendam karena dia pernah mengalaminya di IKIP. Toh bagi Hera tidak berniat akan membalas dendam kepada yuniornya, dan juga tidak berniat ingin jadi panitia Ospek yang berlagak galak dan mendadak jadi kejam.
Bagi Hera lebih baik berpikir keras untuk bisa kuliah sambil kerja, mencari uang. Walaupun tiap bulan kakaknya. Edi, mengirim wesel Rp 50.000 sekalian untuk bayar kost yang 15.000. Hidup dengan uang 35.000 sebulan, sangat pas-pas an sehingga sulit mengaturnya. Hera mencari tambahan dengan mengajar sebagai tenaga honorer di sebuah SMP swasta pinggiran kota. Ia 2 kali seminggu mengajar dengan gaji Rp 10.000 sebulan. Itupun gajinya tidak pasti. Buat transport 8 kali dalam sebulan Rp 5.000., tersisa 5.000. Ini tidak sepadan dengan capeknya.
Tetapi Hera senang karena bergaul dengan anak pinggiran kota yang orang tuanya keluarga pra-sejahtera di bawah garis kemiskinan. Mereka sekolah SMP tapi tidak bersepatu, mereka memakai sandal jepit ke sekolah, kebanyakan anak pedagang ikan. Hera sedih kenapa dia juga bernasib sama dengan mereka dalam hal keterbatasan ekonomi, sehingga Hera mengajar dengan berharap upah. Padahal sebenarnya dalam hati Hera, ingin mengajar cuma-cuma tidak menerima gaji dan bisa membantu mereka yang serba kekurangan. Tetapi karena keadaan Hera pribadi, ia tidak bisa berbuat seperti keinginan hati kecilnya. Hera lalu berkomitmen, bahwa dirinya harus berdaya lebih dahulu, agar bisa membuat orang lain berdaya.
Hera masih bertahan kost di Jl. Singosari di rumah pak Raden. Keguyuban dan keakraban teman-temannya yang membuat Hera betah. Suatu sore selepas magrib ada suara bel
” Thing thong ” bunyi bel satu kali berarti ada tamu. Peraturan yang berlaku di kos pak Raden, kalau penghuni rumah pulang dari kuliah atau dari bepergian, maka bel dipencet dua kali ” thing thong thing thong. Sehingga siapapun yang sedang longgar harus membantu membuka pintu.
Yu semi bergegas membuka pintu karena bel berbunyi sekali, pertanda ada tamu.
“Den Hera wonten tamu!” suara yu Semi dari arah depan. Hera bergegas menuju pintu depan melewati pak Raden yang sedang baca koran.
” Nderek langkung bapak ” ucap Hera saat melewati kursi pak Raden.
” Hmmm ” jawab beliau singkat.
Hera membuka pintu. Berdiri sosok tinggi cungkring, rambut ikal gondrong berkacamata tebal.
” Ee…mas Bagas, ” Hera menyapa dengan sedikit kaget tapi senang.
” Hehehehe,” jawab mas Bagas senyum-senyum.
Lalu mereka duduk di kursi teras. Sebelah kiri.
” Dik skenario drama Karsiyem sudah jadi lho.. konsepnya kontemporer wae seperti theater Gandrik,” kata mas Bagas langsung bicara hobinya.
“Bener mas memang lagi model pertunjukan kontemporer, anak-anak muda pasti suka.” jawab Hera antusias.
” Besok aku fotocopikan naskahnya biar dik Hera pelajari, dan bagikan ke teman-teman yang lain,” begitu mas Bagas menjelaskan dengan riang. Dia besok akan datang lagi.
” Baik mas, saya tunggu naskahnya. Ngomong- ngomong target pertunjukan kita ini terdekat untuk event apa sih mas?”
” Lha kan untuk Festival Theater antar kampus dalam rangka lustrumnya FE gitu lho.” Lanjut Mas Bagas menerangkan.
” Ooh gitu. Ada berapa group theater yang sudah daftar mau ikut?” tanya Hera.
” Lumayan, infonya sih ada sekitar delapan group. Dari Undip sendiri ada tiga group theater yang bakal tampil termasuk kita”
” Ooh gitu, setelah pentas untuk Festifval, lanjut apa mas?”
” Mungkin pentas untuk para pelajar SMA sebagai pelajaran apresiasi seni pertunjukan, di gedung Pemuda. Ada permintaan dari beberapa sekolah SMA favorite,” jelas mas Bagas.
“Ooh yowis nanti di rapat dibahas secara matang, casting-castingnya. Jangan mas Bagas langsung tunjuk aku sebagai pemeran Karsiyem, harus melalui audisilah,” begitu saran Hera. Mas Bagas senyum-senyum. Sepertinya hidup dia hanya berisi senyum dan senyum.
Mas Bagas berperan sebagai Asisten sutradara tapi sering menggantikan sebagai sutradara, karena mas Maladi sebagai sutradara banyak kesibukan. Mas Bagas semakin rajin memberikan pelatihan setiap seminggu dua kali.
‘Sreek ‘ horden ram kaca ditutup dari dalam ruang tamu oleh pak Raden. Ini pertanda bahwa sudah jam 21.00, batas akhir kunjungan tamu. Mas Bagas berdiri.
” Aku pamit ya dik, besok ada kuliah jam berapa? Siangan aku antar fotocopi naskahnya ,” kata mas Bagas
“ iya saya tunggu siangan di teras sama Endah jam 12 an ya tidak usah thing thong,” jawab Hera menyarankan. Ada salah satu teman kos yang juga diajak Hera ikut terlibat di dalam kegiatan teater itu. Endah sebagai “pemain penonton” merangkap pengiring musik gamelan. Endah sebagai penabuh saron. Ada tiga group atau pengelompokan di dalam lakon Karsiyem yang akan dipentaskan.Yaitu, kelompok yang terdiri dari tokoh pemain di panggung, kelompok pemain tapi seperti penonton yang aktif mengompentari tokoh yang dipanggung sehingga terjadi dialog dengan tokoh yang di panggung. Lalu, kelompok penabuh gamelan sebagai musik pengiring. Alat musik yang dipakai hanya 2 buah saron, 1 kendang dan 1 buah gong kecil dan krecekan.
Hera kembali ke kamarnya di belakang dan masih merenung tentang aktivitasnya yang cukup padat tapi menyenangkan. Lalu dia berpikir tentang pribadi mas Bagas.
Berbincang dengan mas Bagas topiknya tidak pernah lari dari masalah seni, budaya, dan masalah sosial yang sedang hangat. Bagi mas Bagas semua peristiwa apapun akan menghasilkan puisi. Mas Bagas cukup dikenal sebagai Penyair Semarang, sekelas dengan Timur Suprabana dan Wiji Thukul. Pembawaannya saja yang berbeda. Dua nama penyair itu sangat serius dan konsen di duanianya, sedang mas Bagas hanya sebagai hobi. Mas Bagas seorang mahasiswa Teknik Sipil semester terakhir. Ia mungkin sedang mengerjakan skripsi atau cuti kuliah. Hal ini Hera simpulkan dari kesantaiannya. Setahu Hera mahasiswa- mahasiswa Teknik Sipil sangat sibuk dengan tugas-tugas menggambar dan tugas kelompok. Tetapi mas Bagas tidak nampak sibuk, justru sangat aktif di kegiatan seni dan sibuk sebagai redaktur koran kampus.
Hera merasa cocok dengan mas Bagas, karena sehobi tulis menulis, juga cocok dalam hal wawasan, sikap-sikap sosial yang bersifat universal. Mas Bagas tidak ikut dalam organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi dengan organisasi politik yang marak saat itu, seperti, HMI, PMII, KNPI, GMNI, PMKRI, dll. Bagi dia, hidup terkotak-kotak menjadi tidak merdeka.
Membandingkan mas Bagas dengan sosok : Agung, Larso dan Danang, seperti tidak nyambung. Seperti dua kutub yang berbeda. Tiga nama terakhir hanya berkutat pada persoalan pribadi saja, hati yang terluka, persoalan anakke wong mambu yang terdholimi dan persoalan sentimentil lainnya.
Hera tiba-tiba menjadi sangat-sangat remeh karena telah sibuk dengan persoalan pribadinya. Walaupun persoalan dengan Agung, Larso dan Danang juga persoalan penting bagi hidupnya.
Ya, Hera memang sedang mencari jati dirinya. Hidup dalam keterbatasan namun punya kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan masyarakat. Tidak mudah.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi