Selasa, 21 April 2026, pukul : 12:42 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Dua tahun saja Hera pindah ke desa, dia berkesempatan menjenguk keluarganya di Jakarta. Ya pada liburan 1974 dia diantar kakeknya ke Jakarta, di daerah Utan kayu. Naik kereta api dari Klaten ini pengalaman bepergian jauh pertama kali sejak dia dijemput kakeknya dulu. Selama ini dia hanya berkutat di kampung saja. Pergerakannya hanya terbatas rumah, sekolah, sawah, sungai di sekitar desanya. Jarang keluar kota. Itu hal yang wajar bagi anak kampung.

Dibekali termos, arem-arem, endog yang diasinkan, Hera dan kakeknya menempuh perjalanan dengan kereta api berangkat senja selepas maghrib dari stasiun Klaten . Hera senang sekali menikmati perjalanan itu. Dia membayangkan akan ketemu kakak adik dan ibunya yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Setelah hampir selama kereta berjalan melewati Jogja, Purwokerto, Cirebon dan sampai Jakarta pagi hari. Pagi mereka turun di stasiun Jatinegara. Lalu sambil membawa tas berisi pakaian dan oleh-oleh, mereka meninggalkan stasiun.

“Apa susahnya jadi bujangan,” lagu Koes Plus kesukaan Hera mengalun dari radio di warung yang dia lewati. Hera yang cukup kaget menyaksikan keramaian ibukota itu terhibur hatinya. Ingin ikut menyanyi keras-keras dia tapi malu.

Lalu mereka naik bemo dari Jatinegara menuju rumah mereka di Utan Kayu. Sepanjang perjalanan Hera melihat banyak mobil berlalu lalang. Kota yang ramai , beda dengan tempatnya di Klaten. Tidak lama sampailah di mulut gang menuju rumahnya. Mereka berjalan kaki.

“Permisi..kulonuwun..” kata Mbah Mangun, kakek Hera, mengetuk pintu pagar.

“oh..ada tamu jauh..Ayo-ayo masuk,” sambut ibu Hera. Wanita itu sungkem sebentar ke Mbah Mangun, bapaknya. Hera merasa senang bisa melihat ibunya kembali. Dia diciumi berulangkali sama ibunya.

“Wow anakku pinter. Sudah makin besar. Kerasan kan di rumah embah?”

Hera yang masih kaku ketemu ibunya hanya mengangguk. Sejujurnya dia suka tinggal di desa. Cuma dia belum tahu kenapa harus dikirim ke desa. Entah mengapa ibunya meneteskan air mata saat melihatnya datang. Serasa ada kesalahan menitipkan anaknya kepada bapak ibunya di kampung.

“Ini ada titipan karak dari mbakyumu Rejo..” kata Mbah Mangun bapaknya sambil membuka tas yang berisi oleh-oleh itu.

“Wah ini makanan kesukaan, teman menjahit…” jawab Ratmi melihat bapaknya membawakan bingkisan itu. Ya yu Rejo Surti, sepupu Ratmini yang tinggal di belakang rumahnya di desa. Rejo Surti yang cantik, putih mirip bule itu punya usaha yang menopang hidupnya, jualan karak atau krupuk puli. Sehari-hari membuat karak dari sisa nasi, yang dibuat gendar lalu diiris-iris tipis dan dijemur. Hera sering membantu mengiris gendar menjadi karak mentah tipis-tipis kalau ada waktu luang selepas sekolah atau saat libur di teras rumah mbokdenya itu.  Sering sambil mengiris gendar itu sebagian dikunyahnya setelah dicampur parutan kelapa. Makanan yang enak dan nggak ditemukan ketika dia di Jakarta.

Hera memanggilnya simbok karena begitu dekatnya mereka , baik secara fisik maupun hati. Ya selain simbah Mangun, mbokde Rejo adalah orang tuanya di desa. Pelindungnya, yang sering membelikan jajan jika ada tuang jualan lewat, entah es lilin atau dawet. Hera sangat menikmati jajanan kampung itu.

Ratmini ibu Hera meninggalkan tanah kelahirannya sudah sejak 1957 yaitu ketika suaminya ditugaskan menjadi ketua serikat buruh di wilayah Sumut dan Aceh. Sejak itu suaminya menjadi orang yang sibuk. Sementara Ratmi lebih banyak mengurus rumah tangga. Tahun 1960 suami Ratmi, Ngadiman ditarik ke Jakarta untuk menjadi pengurus organisasi serikat buruh pusat.

Ngadiman termasuk orang yang beruntung. Saat SMP di Delanggu tahun 1938an dia sudah bantu-bantu kerja serabutan di Pabrik Karung Goni Delanggu. Di situlah dia lahir. Dia berteman baik dengan anak-anak meneer Belanda yang tinggal di rumah-rumah Loji sekitar pabrik. Sering dia bermain bola dengan anak-anak Londo itu di lapangan sebelah timur pabrik jika sore tiba. Pabrik itu sendiri sebelumnya adalah pabrik gula, salah satu pabrik gula selain yang ada di daerah Delanggu, Cokro, Klaten, Ceper, Ponggok . Karena lesunya ekonomi akibat masalah malaise yang melanda seluruh dunia, maka pabrik gula itu dialihfungsikan menjadi pabrik karung.

Tidak mudah tentu saja menjadi karyawan pabrik karung itu. Apalagi jaman Hindia Belanda dimana kaum pribumi masih menjadi warga kelas 3 sesudah Eropa, China. Kadang masih ada kelas antara yaitu indo dan arab. Karena kedekatan Ngadiman dengan anak-anak para meneer yang baik hati, maka dia berhasil menjadi buruh untuk membersihkan rosela sebelum diolah jadi karung.  Ngadiman sering main ke rumah para meneer di sebelah barat pasar Delanggu. Dia anak yang luwes, cerdas  dan rajin. Tidak heran dia bisa bergaul erat dengan anak-anak Londo dan diterima baik di keluarga mereka.

Kadang-kadang Ngadiman malah diajak ke Cokro ketika para meneer dan keluarganya berenang di kolam renang Cokro. Tentu saja Ngadiman senang sekali.  Dia makin rajin bekerja di pabrik itu. Dia melihat tidak semua orang Belanda berhati buruk. Para meneer yang dia kenal sangat baik sikapnya.

Ngadiman banyak belajar dari orang-orang Londo itu dari sisi kerja keras dan disiplinnya.

Lama-lama dia diangkat jadi pegawai tetap di pabrik itu. Terutama semenjak Indonesia mereka. Dia makin mendapatkan posisi penting. Dia sangat setia kawan, memperjuangkan nasib sesama buruh dan pembawaannya lucu. Teman-temannya sangat terhibur jika dia ada. Bakat kepemimpinannya juga menonjol. Selepas SMP dia lanjut ke SMA.

Tidak heran dengan karakternya yang begitu, saat pemilu 1955 dia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten.  Setelah merasa cukup mapan dia memberanikan diri melamar Ratmi yang asli dari desa Turus, Polanharjo. Ya Ratmi meski orang kampung kulitnya bersih, ayu dan mirip mbokde rejo yang seperti ada darah bule. Kecantikan Ratmi tidak terbantahkan. Saat acara  turun ke bawah seorang anggota DPR pusat memuji-muji Ratmi. Ratmi saat itu sebagai aktivis Pemberantasan Buta Huruf, meskipun dia cuma lulusan SR tapi berani tampil untuk membantu masyarakat.

“Siapa itu? Suaranya bagus dan ayu tenan, “ puji anggota DPR dari Klaten itu kepada para lurah yang menghadiri acara itu. Ya Ratmi membawakan tembang beramai-ramai dengan para gadis remaja, istilahnya panembromo dan dia yang mbowo (menyanyi solo sebelum tembang dimulai).   Untung anggota DPR itu diberitahu kalau Ratmi adalah gadis idaman Ngadiman yang segera akan menikah.

*

Adik Hera  yang dulu ditinggalkannya saat usia masih 6 tahun kini sudah makin besar. Tapi butuh waktu mereka untuk akrab kembali. Tapi lagi-lagi sosok ayah yang dia selama ini sering bertanya-tanya tidak ada di rumah.  Saat hari Minggu Hera untuk pertama kalinya diajak ibunya untuk menemui bapaknya yang katanya kerja di sentra industri. Ibunya membuat rendang, kering teri kacang dan tempe, membawakan karak dari kampung dan juga nasi sayur untuk bapaknya. Jumlah kiriman makanan yang banyak.  “Temannya bapak banyak. Jadi harus bawa makanan banyak biar teman-teman bapakmu bisa ikut makan,” Begitu kata ibunya menjelaskan.

Segera Ratmi mengajak Hera siap-siap. Tukang becak yang mangkal dekat gang di rumahnya dipanggil.

“Ayo pak antar ke tempat bapak..” pinta Ratmi membawa rantang dan bungkusan makanan.

“Penjara Salemba ya bu..” tukang becak itu memastikan sambil menyorongkan becaknya agar Ratmi dan anaknya bisa mudah naik.

Duor….!!!.Langit seperti runtuh. Hera shock mendengar kata-kata tukang becak itu. Iya dia tidak salah dengar ‘Penjara Salemba’. Ratmi tidak mengiyakan, diam saja tapi hatinya menangis, teriris-iris. Rahasia yang dia simpan terbuka begitu saja tanpa sengaja.

Tak terasa air mata Hera menetes. Dia balikkan mukanya agar ibunya tidak melihat. Ibunya tahu anaknya shock dan sedih tak terkira mendengar informasi itu justru dari orang lain.

“Sudah jangan menangis nduk..” Ratmi mengelus kepala anaknya yang baru berusia 11 tahun itu sambil satu tangan yang lain mengusapkan selendangnya ke arah matanya yang juga meneteskan air mata. Dia berdoa agar anak wedok satu-satunya itu kelak jadi wanita yang kuat, bernasib lebih baik dari dirinya. Deritanya biar untuk dirinya, tidak untuk anak-anaknya.

“Kita akan ketemu bapak…” lanjut Ratmi lagi menghibur anaknya. Sepanjang perjalanan dari Utan Kayu ke Penjara Salemba, tidak ada kata-kata terucap. Ratmi nggak menduga rahasia ini secepat itu terbuka. Hera hancur hatinya, berkecamuk segala perasaan. Dia tidak berani bertanya kepada ibunya.  Kenapa bapaknya ditahan. Kata mbahnya di desa, bapaknya orang yang baik, rajin, setia kawan. Tapi kenapa dipenjara? Apa bapaknya mencuri, merampok atau…Ah Hera belum sampai pikirannya selain menduga-duga seperti itu. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.