Menghidupkan Kartini berarti menolak jadi penonton. Ia memanggil kita untuk menyalakan etos kepahlawanan: hadir utuh, melawan ketidakadilan, merawat harapan dengan kerja nyata – bukan keluhan.
Oleh: Prof. Yudi Latif
KEMPALAN: Saudaraku, menghidupkan Kartini bukan sekadar mengenang nama, melainkan menyalakan lentera jiwa. Ia hidup dalam hasrat belajar tanpa henti – dari buku, dari kehidupan, dari luka bangsanya, dari cahaya dunia. Pengetahuan menyulutnya keberanian menjawab tantangan zaman.
Ia telah hadir dalam daya juang yang tenang namun teguh – menembus derita, melampaui batas, merajut relasi, menempa diri. Dari sana tumbuh emansipasi bermartabat: kecakapan yang bertanggung jawab, kehormatan yang kemudian menggerakkan peradaban, cinta yang mengangkat sesama dan meluaskan kemanusiaan.
Kartini adalah suara nurani yang gelisah. Menatap bahtera oleng, ia menulis: “Andaikata aku anak laki-laki, aku tak akan berpikir dua kali untuk menjadi pelaut… Kami tak ingin berlayar di kapal yang tenggelam; keberanian tangan memegang kemudi dan memompa kebocoran akan menyelamatkan kita.” Keselamatan baginya bukan penantian, melainkan buah tindakan.
Ia pun menyelami kasih yang lebih dalam. Dengan lirih ia bertanya: “Agama dimaksudkan sebagai karunia bagi manusia… Kita semua adalah saudara… tetapi sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan.”
Kegelisahan itu tak meruntuhkan iman, justru untuk meluaskan persaudaraan melampaui sekat.
Seruannya tetap bergema: bangkitlah – dari lumpuhnya jiwa dan kebiasaan menunggu. Sebab negeri ini tampak tumbuh, namun rapuh di dalam; arah kabur, nilai goyah, langkah berjalan tanpa haluan.
Di tengah gelombang, banyak yang menyelamatkan diri, sementara yang lain terabaikan. Bahaya terbesar bukan badai, melainkan sikap menyerah – mentalitas menunggu penyelamat. Tanpa keberanian, retakan kecil menjurus kehancuran.
Menghidupkan Kartini berarti menolak jadi penonton. Ia memanggil kita untuk menyalakan etos kepahlawanan: hadir utuh, melawan ketidakadilan, merawat harapan dengan kerja nyata – bukan keluhan.
Di tengah-tengah ombak ganas, kita tak dipanggil untuk lari, melainkan mencinta, memperbaiki, menjadi terang.
Kita pun tak lupa berdoa: “Ya Tuhan, lautan ini luas dan bergelora, bahtera kami terombang-ambing; jangan biarkan kami hanya memohon selamat, ajari kami berani memegang kemudi agar arah diluruskan dan harapan menemukan pelabuhan.”
*) Prof. Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi