Di sisi lain, figur Khamenei memang memiliki posisi simbolik yang kuat di Iran. Bagi pendukungnya, ia bukan hanya kepala negara secara spiritual, tetapi juga representasi ketahanan ideologis Republik Islam Iran.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Presiden Rusia Vladimir Putin pernah melontarkan kesan yang tidak biasa usai bertemu pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Dalam satu kunjungan ke Teheran, Presiden Putin disebut mengibaratkan perjumpaannya dengan Ali Khamenei seperti bertemu Nabi Isa atau Yesus Kristus.
Pernyataan itu disampaikan oleh Muhammad Shafiuddin, Direktur Jaringan Berita Rusia Federal, yang menyoroti betapa kuatnya kesan spiritual sang pemimpin Iran di mata Kremlin.
Bagi Putin, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik yang penuh kamera dan jabat tangan formal.
Ia menggambarkan aura religius Khamenei meninggalkan pengaruh yang mendalam, seolah ruang pertemuan tersebut berubah menjadi lebih sunyi dari biasanya – mirip suasana musala kampung saat azan magrib baru berkumandang.
Di tengah citra Presiden Putin yang selama ini dikenal dingin dan kalkulatif, pengakuan semacam itu terasa seperti retakan kecil di tembok baja politik Rusia.
Hubungan Rusia dan Iran sendiri memang berkembang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir.
Moskow dan Teheran sama-sama menghadapi tekanan Barat, mulai dari sanksi ekonomi hingga persaingan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Dalam konteks itu, pujian Putin kepada Khamenei bisa dibaca bukan hanya sebagai kesan personal, melainkan juga sinyal politik: bahwa kedekatan kedua negara sudah bergerak melampaui urusan minyak, drone, atau strategi militer.
Namun, apakah ungkapan tersebut murni refleksi spiritual atau bagian dari bahasa diplomasi tingkat tinggi?
Dalam politik internasional, kalimat kadang bekerja seperti kopi sachet di warung – murah diucapkan, tetapi efeknya bisa panjang. Apalagi Rusia paham betul bahwa Iran bukan sekadar mitra biasa, melainkan salah satu poros penting dalam peta perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan sekutunya.
Di sisi lain, figur Khamenei memang memiliki posisi simbolik yang kuat di Iran. Bagi pendukungnya, ia bukan hanya kepala negara secara spiritual, tetapi juga representasi ketahanan ideologis Republik Islam Iran.
Maka ketika seorang pemimpin besar seperti Putin mengaku terkesan oleh kharisma tersebut, narasi tersebut dengan cepat berubah menjadi amunisi simbolik bagi Teheran – semacam stempel bahwa pengaruh Iran masih diperhitungkan di panggung global.
Sebagian pengamat melihat kedekatan Rusia dengan Iran justru membuka peluang lahirnya poros baru di tengah dunia yang makin terfragmentasi.
Di saat banyak negara sibuk saling menarik rem tangan geopolitik, Moskow dan Teheran memilih melaju di jalur yang sama, meski jalanan global penuh lubang dan tikungan tajam.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi