Perang terbuka ini akan membawa konsekuensi politik serius bagi Trump. Dalam pilpres 2024 lalu 55 persen pemilih Katolik memilih Trump. Dukungan ummat Katolik ini sangat mungkin akan turun pada pemilu sela November mendatang.
Oleh: Dhimam Abror Djuraid
KEMPALAN: Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Adagium itu sering diucapkan oleh politikus dalam berbagai kesempatan. Presiden Prabowo Subianto juga kerap memakai ungkapan itu di berbagai kesempatan.
Tapi, ungkapan itu, tampaknya, tidak berlaku bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Alih-alih satu lawan terlalu banyak, bagi Trump seribu lawan terlalu sedikit, dan satu kawan terlalu banyak.
Bagi Trump cukup satu kawan saja, yaitu Benjamin Netanyahu. Selebihnya ia tidak butuh. Bagi Trump seribu lawan terlalu sedikit. Karena itu ia mencari lawan sebanyak-banyaknya.
Ia memecat Jenderal-jenderal dan Menteri-menterinya sendiri. Ia mencari musuh sebanyak mungkin. Di dalam negeri dan di luar negeri. Ia memusuhi Venezuela. Dan sekarang memusuhi Iran. Negara-negara Eropa yang menjadi teman koalisi dimusuhinya. Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan NATO tidak luput dari sasaran permusuhan Trump.
Ia menyerbu Iran tanpa bilang ke teman-temannya, karena ia memang tidak punya dan tidak butuh teman. Ia memusuhi teman-temannya yang tidak mau ikut perang bersamanya.
Karena merasa masih kurang lawan, Trump kemudian memusuhi Paus Leo XIV, pemimpin umat Katolik seluruh dunia. Dalam Sejarah dunia modern baru kali ini ada presiden yang secara terbuka dan terang-terangan memusuhi Paus.
Awal mula perseteruan terjadi ketika Paus Leo XIV mengecam serbuan Amerika dan Israel terhadap Iran. Paus juga mengecam keras penculikan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Alih-alih melunak, Trump malah menyerang balik Paus. Secara terbuka ia mengatakan tidak menyukai Paus. Ia menyebut Paus sebagai pemimpin yang buruk dan lemah, dan ia tidak membutuhkannya.
Paus Leo ialah Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat. Nama aslinya Robert Francis Prevost dari Chicago. Memusuhi Paus asli Amerika bisa memantik permusuhan dengan penganut Katolik di Amerika Serikat.
Di Amerika ummat Katolik bisa disebut sebagai minoritas karena jumlahnya hanya 21 persen. Jumlah ini tidak ada separoh dari penganut Protestan yang mencapai 45 persen.
Protestanisme menjadi identitas utama bangsa Amerika yang mayoritas adalah imigran dari Inggris di abad ke-17. Imigran Inggris berkulit putih dan beragama Protestan itu kemudian menjadi mayoritas dan menjadi identitas keamerikaan dominan yang disebut sebagai WASP (White Anglo Saxon Protestant).
WASP juga memainkan peran politik yang sangat dominan. Kelompok gereja Protestan Evangelis menjadi pressure group yang kuat dan sangat efektif dalam menentukan arah politik di Amerika. Para pemimpin gereja evangelis ini dikenal sebagai pendukung militan Partai Republik yang manaungi Trump.
Dalam pemilihan presiden 2024 Trump mendapat dukungan kuat dari kalangan kulit putih Kristen. Dari 41 persen pemilih kulit putih sebanyak 72 persen memilih Trump. Alasan memilih Trump Adalah janji politik Trump melalui program MAGA (Make Amerika Great Again), yang secara implisit ingin mengembalikan supremasi kulit putih dalam kehidupan politik di Amerika.
Dominasi dan supremasi kulit putih diyakini merosot karena kedatangan imigran dari berbagai belahan dunia. Sebagai negara yang dibangun oleh imigran, Amerika menganut prinsip multikulturalisme. Tetapi, sekalangan orang kulit putih konservatif tidak menyukai hal ini dan tetap menginginkan dominasi kulit putih.
Bahkan ahli politik hebat seperti Prof. Samuel Huntington pun risau akan kaburnya identitas kulit putih yang menjadi inti budaya Amerika. Ia mempertanyakan dalam bukunya ‘’Who Are We; The Challenge to America’s Identity’’ (2004). Ia menolak gagasan Amerika sebagai negara imigran, dan menegaskan bahwa identitas utama Amerika ada pada budaya WASP.
Kendati mayoritas penduduknya beridentitas WASP para founding fathers Amerika tegas dan jelas menjadikan sekularisme sebagai pondasi negara. Secara tegas dipisahkan antara agama dan negara. Salah satunya adalah melarang sekolah negeri memberikan pelajaran agama.
Tetapi Donald Trump melanggar prinsip itu. Ia memakai simbolisme agama untuk mendapatkan legitimasi terhadap kebijakannya. Perang melawan Iran dicarikan justifikasi agama. Ia mengumpulkan para pemimpin geraja ke Gedung Putih untuk melakukan doa bersama.
Ia mengunggah foto hasil rekayasa AI, yang menggambarkan dirinya seperti Jesus yang mengobati orang sakit dengan menyentuh kening si sakit. Unggahan itu dihapus setelah muncul kecaman dari Paus Leo.
Menteri Perang Pete Hegseth juga sekali tiga uang. Ia mengadakan kebaktian di departemen pertahanan Pentagon dan menyerukan penghancuran ekstrem terhadap musuh Amerika.
Hegseth dikecam luas karena dianggap sebagai orang yang – bersama Trump – haus perang. Legitimasi agama yang dipakai untuk menjustifikasi perang dikecam luas, termasuk oleh Paus Leo XIV.
Trump yang berangasan menantang balik Paus Leo. Sebaliknya, Paus Leo tidak takut menghadapi Donald Trump. Secara terbuka Paus mengatakan akan tetap menyerukan perdamaian dan mengritik siapapun yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak.
Perang terbuka ini akan membawa konsekuensi politik serius bagi Trump. Dalam pilpres 2024 lalu 55 persen pemilih Katolik memilih Trump. Dukungan ummat Katolik ini sangat mungkin akan turun pada pemilu sela November mendatang.
Hal ini akan menjadi keuntungan bagi Partai Demokrat. Dari berbagai survei menunjukkan bahwa Demokrat sekarang mengungguli Partai Republik. Pemilu sela akan menjadi ‘’moment of truth’’ bagi Trump. Partainya bisa kalah, dan ia berada dalam bahaya ancaman pemakzulan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi