Selasa, 28 April 2026, pukul : 23:25 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Agung mengirim surat ke Hera mengabarkan bahwa dia diterima di UI. Surat kilat khusus dengan amplop warna kuning yang membuat Hera kaget. Seakan Hera begitu berarti bagi Agung. Hera bingung dengan sikap Agung yang begitu antusias ingin dekat dengan Hera. Hera juga sebenarnya khawatir ini akan menjadi ganjalan Agung meraih cita-citanya. Hera tahu Agung akan punya masa depan yang cerah. Tapi jangan gegara hubungan dengannya Agung gagal. Hera jelas sangat seneng dengan semangat Agung tapi sepertinya Agung terlalu antusias. Hera malah takut itu tidak berlangsung lama.

Hera jadi ingat Danang yang menjalani proses pendekatan dengan kesabaran, tidak menggebu-gebu. Tapi sayang masalah ideologis menjadi pengganjal hubungannya.

Surat agung bahkan menyertakan potongan pengumuman tes masuk di koran yang ada namanya. Ya itu cara Agung mengekspresikan perasaannya.  Agung ingin sekali meyakinkan Hera bahwa keinginan untuk dekat itu begitu kuat.

“Wajahmu seakan menghias lembaran jawaban ujian. Itu yang membuat aku begitu semangat mengerjakannya. “

Diapun membuat puisi di lembar kertas kartu bukti pendaftaran. Puisi puja-puji dan kerinduan terhadap Hera. Hera hati-hati menyikapi ungkapan cinta yang menggebu-gebu seperti ini. Surat, puisi dan semua soal Agung Hera simpan. Hera dibuat tersanjung dan lupa bahwa dia punya cacat sebagai anakke wong mambu.

Sementara Danang makin tertekan di rumahnya. Dia selalu dijadikan bahan untuk disalahkan. Dia tidak ingin menlanjutkan kuliah. Vonis bapaknya memang sudah jatuh bahwa dia tidak akan dibiayai kuliahnya jika tetap menjalin hubungan dengan Hera. Meski sudah putus tapi Danang terlanjur sakit hati. Dia meninggalkan rumah tanpa pamit. Tidak ada satu pun anggota keluarga diberitahu. Dia pun batal tes Akabri. Dia tidak minat.

Danang hanya mendasarkan naluri saja pergi kemana. Akhirnya dia terdampar di rumah budhenya di Palembang, Sumatera. Uang yang ia curi dari lemari bapaknya cukup untuk beli tiket dan sampai di rumah budhenya.

Dia nggak bercerita ke budhenya kalau sedang mengalami masalah.

“Lho kamu nggak ikut tes-tes masuk PTN?”

“Males budhe. Buat apa. Kebahagiaan nggak harus dicapai dengan sekolah tinggi. Banyak kok yang pinter tapi mikirnya kebalik. Banyak juga orang sukses tanpa sekolah tinggi”

“Maksudmu apa? “

“ya budhe nggak sekolah tinggi juga bisa hidup bahagia kan?”

“ya hanya dengan jualan ikan begini. Nggak bisa jadi pejabat seperti bapakmu. Kalau mampu sekolah lebih tinggi ya dicobalah.”

Danang nggak mau menceritakan kesedihan hatinya. Dia ingin melupakan.

Tiap hari dia bantu budhenya jualan ikan di pasar dekat rumahnya.

“Tante siapa itu orang ganteng yang batu jualan?”

“Kenapa ?”

“Kok mau ya anak ganteng gitu bantuin jualan ikan.”

“Ee orang Jawa memang gitu. Dididik untuk siap menderita. Nggak mau cuma duduk-duduk minum kopi sambil merokok.”

“Tante boleh kenalan dong?”

“Lho ya kenalan sendiri, dia kan nggak sombong dan ramah..”

Rumah budhe Danang jadi sangat ramai. Gantian para pelanggan ikan budhenya sering main ke rumah untuk ngobrol ngalur ngidul dengan Danang. Jualan budhenya di pasar pun makin laris. Mungkin Danang menjadi daya tarik.

“Mas Danang kapan-kapan temani nonton dong..” ajak Evi.

“Eh aku sih mau-mau saja. Tapi aku perlu ijin budheku.”

“Aduh sudah besar kok masih minta ijin.”

“Kan untuk menghormati budheku sebagai tuan rumah.”

“Hmm gitu yang orang Jawa, terlalu nurut.”

Danang kaget dengar kata-kata Evi. Evi nggak tahu bahwa dia sedang minggat dari rumah karena benci sama orang tuanya yang kolot. Cinta dihubungkan dengan ideologi. Orang tua nggak tahu makna cinta. Danang jelas masih mencintai Hera. Proses yang ia jalani untuk mencintai Hera bukan proses instan. Sudah lama. Dan, semua alamiah, tidak mengada-ada. Dia membopong Hera yang jatuh, bukan sandiwara. Dia menambalkan ban sepeda Hera yang kempes, bukan drama. Kalau pun ada yang agak drama ya sekedar memberikan kaset kesukaan Hera. Itu wajar.

Bahkan Danang tidak mau meminta cium atau memegang tangan Hera. Cintanya benar-benar cinta dari dalam hati dan jauh dari nafsu. Maka Danang merasa cewek tetangga budhenya itu orang-orang aneh. Baru kenal beberapa hari sudah mau ngajak nonton, ngajak main ke pantai, dan beberapa ajakan yang lain. Danang masih belum bisa melupakan Hera.

*

“Jimo kamu pergi ke rumah orang tua Hera. Tanyakan kemana Danang”.

“Baik pak,” jawab Jimo seperti biasa, tugas atasan selalu dia sambut baik meski tidak berhubungan dengan pekerjaan kantor. Cepat dia memacu motornya pulang. Segera menuju rumah mbah Mangun.

“Mbah Mangun tidak perlu bohong, kasih tahu saja kemana mas Danang?”

“Lho kok dibalik? Saya nggak tahu apa-apa. Sejak Hera ke Jakarta, nak Danang tidak pernah ke sini lagi. Sudah lama.”

“Coba diingat-ingat dulu.”

Mbah Mangun lalu ingat Danang pernah datang minta pamit. Tapi tidak bilang kemana, cuma minta doa restu mau pergi. Tentu saja mbah Mangun makin sedih bahwa Danang yang sudah menyatakan putus itu pun masih mengharapkan doa restu darinya. Orang tua yang nggak tahu apa-apa, cuma petani kampung tapi begitu dihargai oleh Danang.

“Oh pernah ke sini pamitan, katanya mau pergi,” lanjut mbah Mangun.

“Iya pergi kemana?”

“Nak Danang nggak bilang. Hanya pamitan saja mau pergi jauh.”

Jimo makin geram. Kemana lagi harus bertanya. Dia ke rumah simbok Hera di belakang rumah itu.

“Lik Rejo, tahu Danang kemana?”

“Walah Danang kan mainnya ke rumah depan. Mana saya tahu.”

“Jangan pura-pura Lik..”

“Walah buat apa. Kalau nggak tahu ya nggak tahu.”

Jimo kecut mukanya. Hatinya sesek. Nggak ada yang bisa dibanggakan ke pak camat. Kembali ia ke rumah pak camat tanpa hasil.

“Gimana?” tanya bu camat.

“Gelap..!”

“Gelap piye ta?”

“Mbah Mangun juga nggak tahu bu. Lik Rejo budhenya juga ngak tahu.”

“Waduh piye anakku iki…,”bu camat pun menangis menyesali kekerasan sikapnya.

“Makanya pakne, anak jangan dipaksapaksa..” bu camat pun berani menyalahkan suaminya.

“Loh bukannya kamu setuju bune untuk menghalangi Danang berhubungan dengan Hera. Kok sekarang begitu?”

“Ya kan nggak nyangka anak sulungmu minggat. Dia anak baik, penurut, nggak pernah protes. Tapi kita terlalu keras memperlakukannya. Anak nggak bisa dipaksa menuruti kemauan kita. Itu sudah kuno pak.”

“Halah mbok nggak usah ceramah. Ya sudah sekarang kita cari…”

“Cari kemana?”

“Nganu..Saya punya usul. Hmm.. Gimana kalau ditanyakan ke wong pinter lagi?”  usul Jimo.

“Oo iya itu usul yang bagus, itu tugasmu Jimo,” sahut Pak Camat.

Jimo pun berkeliling bertanya ke para dukun langganan. Setelah mendengar jawaban mereka, satu jawaban yang sama dari beberapa dukun: Danang ke luar pulau.

Segera dilaporkan hasil konsultasinya ke dukun.

Pak camat dan bu camat makin kalut. Bu Camat takut kalau Danang nekat lalu bunuh diri. Satu-satunya anak laki dan sulung pula.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.