
KEMPALAN: Lulus SMP Hera sempat ikut tes di SPG. Ia sendiri tidak terlalu yakin kenapa memilih SPG. Keterima dia di SPG Solo. Namun mbahnya keberatan karena dia harus kos dan mbahnya tidak punya teman. Sementara adiknya yang sudah lulus dari SD diambil kembali oleh Ratmi untuk diajak ke Jakarta.Tapi pertimbangan praktis mbahnya saja yang membuat dia akhirnya memilih sekolah di SMA. Dia sekolah di SMAN Jatinom. Jaraknya sekitar 10 km dari rumahnya. Tiap hari dia harus naik sepeda. Dari kampungnya dia sendiri perempuan yang sekolah di SMA itu. Maka tiap pagi dia harus naik sepeda pergi- pulang. Betis Hera sempat sakit karena tidak biasa bersepeda sejauh itu. Sehingga dia harus ijin di hari berikutnya.
Hera naik sepeda dari rumah pagi-pagi sekitar jam 6. Nanti di desa Ngaran dia baru akan bergabung dengan beberapa teman cewek dari desa lain. Melewati jalan-jalan yang melewati desa lain lewat Borongan hingga tembus di Jurangjero sebelum sampai ke Karanganom. Perjalanan berangkat adalah perjalanan yang berat karena jalan akan selalu naik atau menanjak, dibutuhkan banyak energi untuk menggenjot sepedanya agar bisa berlari agak cepat. Pulangnya jelas tinggal menikmati gaya gravitasi lewat kemiringan jalan yang hampir selalu menurun.
Meskipun belum ada ikatan apa-apa, Hera merasa ada sesuatu yang hilang karena Larso tidak lagi tinggal di desanya. Larso tidak bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Larso menjadi orang kota. Sejak bapaknya meninggal, Larso ngenger ke rumah pakliknya, adik bapaknya, ke Jogja dan melanjutkan sekolah di sana. Hanya kadang-kadang saja dia pulang. Larso tidak pernah bilang apa-apa tapi entah Hera merasa ada sesuatu yang sering terasa beda jika ketemu Larso. Masih ingat saat sebelum lulus SMP jika ke makam, saat malam Jum’at untuk nyekar di sarean, Larso dan Hera seperti selalu dipertemukan.
Sehabis ashar seperti biasa ibu-ibu dan pemuda pemudi biasa nyekar ke makam. Ibu-ibu dan anak perempuan akan bawa bunga serta sapu serta kadang-kadang kendi berisi air putih, sementara anak laki-laki bawa arit. Bunga akan ditaburkan di atas makam, lalu air kendi dicurahkan pas di bagian kepala di kuburan. Sapu dipakai untuk membersihkan kawasan sekitar kuburan. Anak laki-laki membersihkan rumput sekitar kubur dengan aritnya. Kesempatan itu sering digunakan Hera maupun Laro untuk saling melirik. Jika Larso belum datang maka Hera akan bolak-balik menyapu kuburan meskipun sudah tidak ada lagi sampah dedaunan yang mengotori kuburan. Malah dia dengan geli menyapu kuburan tetangga demi mengulur kepulangan dari sarean. Nah jika Larso datang, hatinya merasa begitu lega, meski tidak ada kata-kata terucap. Lirikan mata dan kadang senyum tipis membuat hatinya damai. Larso pun begitu. Saat Hera lewat dia pura-pura sibuk membersihkan rumput di kuburan entah kuburan siapa sambil matanya melirik ke arah Hera. Hera merasa hatinya berbunga-bunga. Sampai beberapa saat dia gugup sendiri. Dia heran dengan perasaan-perasaan seperti itu ketika dia mulai tumbuh dewasa.
Hera mengingat itu sebagai kenangan manis. Kini tidak ada lagi Larso tiap kamis sore di sarean. Lama-lama dia malas juga nyekar ke sarean. Kadang hanya mbahnya atau simboknya saja yang nyekar ke sana. Larso kabarnya sekarang harus kerja keras dan disiplin mengikuti aturan di rumah pakliknya yang kerja di departemen transmigrasi. Beberapa waktu sesudah di Jogja Larso pernah mengirim surat untuk Hera. Hera deg-degan terima surat itu. Baru kali ini dia menerima surat dari laki-laki.
Larso bercerita tentang sekolahnya yang berisi anak orang-orang besar. Dia sekolah naik sepeda, sementara teman-temannya naik motor atau bahkan mobil. Larso juga bercerita bagaimana pakliknya mendidiknya dengan keras. Pakliknya ingin Larso sukses seperti dirinya. Hera senang membaca surat Larso. Tidak ada kata-kata cinta atau suka di suratnya. Larso hanya bercerita dengan jenaka dan menghibur. Tapi itu cukup mengobati hati Hera yang lama tidak lagi merasa deg-degan seperti ketika ketemu di makam tiap malam Jum’at sore.
Sementara di sekolahnya sendiri Hera mulai mengenal banyak teman baru. Tidak sulit bagi Hera untuk bergaul di SMA, meskipun kadang ada rasa rendah diri. Dia selalu ingat ucapan-ucapan orang yang menganggapnya sebagai anak wong mambu. Ada cowok dari kelas lain yang sepertinya menaruh hati. Sering berpapasan tanpa sengaja di jalan karena cukup lama jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Tapi Hera nggak berani bertanya siapa cowok itu. Awalnya mereka cuma berpapasan di jalan karena ada yang masuk pagi ada yang masuk siang.
Lalu Danang cari cara gimana berkenalan dengan Hera. Kebetulan ada Budi teman sekelasnya yang tetangga Hera. Danang nitip salam buat Hera lewat Budi.
” Salam ya buat dia,” kata Danang sebelum pisah di halaman parkir sekolah.
” Beres..asal tarifnya cocok, ” sahut Budi.
“Mbak ada salam dari Danang..”
“Danang siapa?” Hera pura-pura tidak tahu sama sekali.
“Teman sekelasku yang mirip artis itu lho..” Budi sulit menjelaskan selain pakai deskripsi seperti itu.
Hera berusaha mencari-cari informasi soal Danang. Dia tanya teman semejanya.
”Ria tahu kamu Danang yang mana?”
“Itu anak kelas sebelah yang ganteng berkumis. Eee..mirip Rano Karno..”
“Ha yang benar?”
“Iya. Ada temanku yang suka sama dia. Temanku ini cantik. Tapi sepertinya Danang kurang menanggapi.”
Hera mulai paham orang yang dimaksud. Memang benar orangnya sering berpapasan di jalan.
Maka Hera pun berani bilang ke Budi.
“Salam kembali.”
Ucapan Hera itu jadi modal bagi Danang untuk percaya diri bahwa rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak itu Danang makin berani. Hera pun jadi merasa ada sesuatu antara dia dan Danang. Danang punya wajah yang mirip Rano Karno, juga posturnya. Ada kumis tipis menghiasi wajahnya meski baru SMA. Posturnya juga gagah, tidak kurus tidak gemuk, rambut dibelah tengah. Sangat mirip. Setiap ketemu Danang justru Hera lalu membayangkan Rano karno. Danang ini orangnya khas orang Jawa yang sopan. Umurnya lebih tua setahun. Tapi untuk sekolahnya seangkatan.
Rumah Danang berada di lokasi yang dilewati rute perjalanan Hera ke dan dari sekolah. Lama-lama Danang tidak saja kebetulan ketemu Hera di jalan tapi memang sengaja menunggu Hera lewat. Lalu membuntuti dari belakang. Tapi tidak mudah berbincang di jalan karena Hera selalu berangkat dan pulang ramai-ramai dengan teman-temannya. Selain itu Danang selalu membawa motor. Jadi tidak mudah berdekatan dengan Hera yang naik sepeda.
“Mbak ada titipan dari Danang,” suatu siang Budi bawa bungkusan.
“Apa ini Bud?”
“Ya buka sendiri.”
Hera penasaran…Dibuka bungkusan dari Danang.
“Ha kaset?..” ucapnya sendiri melihat isi bungkusan. Hera sangat senang mendapat kiriman kaset Jamal Mirdad. Lembayung Sutera. Hmm. Hera berbunga-bunga meski dia tidak terlalu suka lagu Jamal Mirdad. Dia lebih ngefans sama Ebiet. Album Camelia 1, 2 dari Ebiet jadi album favoritnya. Berita Kepada Kawan menjadi hits yang hampir semua orang mengenalnya.
“Terima kasih ya mas kasetnya..” kata Hera di suatu pertemuan di rumahnya.
“Ah nggak seberapa kok ,cuma kaset, semoga kamu senang,” kata Danang sambil menatap wajah Hera yang coklat manis. Hera sedikit tersipu dengan tatapan itu.
Danang mulai berani datang ke rumah Hera. Danang percaya diri naik motor ke rumah Hera. Dia anak pak camat. Motornya selalu ganti-ganti. Mungkin ada 3 motor yang dia selang-seling memakainya ke sekolah. Hera senang punya teman ganteng yang penuh perhatian, meski tidak pinter. Sebagai perempuan yang lama memendam rasa tidak percaya diri gegara status orang tuanya, perhatian-perhatian semacam ini sangat menyenangkan. Ini menumbuhkan rasa percaya dirinya. Karena tuduhan anake wong mambu benar-benar menjatuhkan mental dia, meskipun dia masih bingung apa kesalahan bapaknya. Apalagi Danang anak pejabat. Jadi Hera merasa tersanjung didatangi cowok ganteng , kaya dan anak pejabat. Dia punya teman cerita dan ada yang memperhatikannya.
Hera tetap menjaga hubungan baik dengan Larso. Larso kalau pas pulang ke desa, menyempatkan diri menemui Hera. Mereka justru baru bisa ngobrol sekarang. Padahal dulu saat SMP, saat dekat malah jarang mereka ngobrol seperti ini. Mereka jika ketemu seperti sahabat lama yang jarang ketemu. Penampilan Larso jauh berbeda. Sekarang begitu sopan dan terjaga sikapnya, nggak lagi mbengkaleng seperti saat SD dan SMP dulu.
Ada perbedaan yang cukup terasa mengobrol dengan Larso dan Danang. Larso selalu bicara mengenai perjuangan anak desa sekolah di kota bagaimana dia harus bersaing dengan anak-anak kota yang sebagian besar berkecukupan. Selain itu karena dia ikut pakliknya maka dia juga harus membantu pekerjaan di rumah pakliknya. Entah nyuci mobil, kadang nyiram taman dan juga ngajari belajar sepupunya yang SD. Larso bekerja lebih keras dibanding teman-temannya. Ia punya cita-cita yang cukup jelas, ingin kuliah di perguruan tinggi yang bagus.
Bicara dengan Danang lebih ke hal-hal ringan, santai dan lebih bersifat yang senang-senang. Hampir tidak ada kesulitan bagi Danang menghadapi beban hidup, kecuali bahwa dia memang tidak istimewa di akademik dan sepertinya tidak punya visi hidup masa depan. Tapi Danang orangnya ramah, pintar mengambil hati Hera. Danang juga memberi hadiah dengan membawakan kaset wayang kulit kesukaan Hera. Hera suka mendengar kaset wayang kulit dengan dhalang ki Narto Sabdo itu. Wayang dengan lakon Banjaran Karno yang dialognya membuat Hera sampai menangis. Tapi sering dia ulang-ulang memutar kaset pemberian Danang itu. Danang suka membawakan makanan kesukaan simboknya Hera. Pinter dia ngobrol dengan simbok, sangat akrab serasa mboknya sendiri. Hera melihat Danang itu seperti anak simboknya.
Cat: mbengkaleng berati nakal.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi