
KEMPALAN: Agung sudah sampai Jogja. Dia sudah lega melewati tahap tes wawancara, tinggal menunggu hasilnya. Tahu bahwa nanti dia akan melanjutkan pada jurusan yang sama di US, geofisika, dia tambah semangat belajar. Kebosanan yang dulu pernah diceritakan pada Hera teratasi dengan semangatnya yang menggebu ingin lanjut kuliah ke luar negeri.
Hera diam-diam merasa terlecut juga melihat semangat dan cita-cita tinggi Agung. Mereka sama-sama dari desa, kenapa dia harus kalah dengan Agung. Demikian pikiran Hera. Pada level yang berbeda, tapi Hera ingin juga mengabdi untuk bangsa. Pendidikan yang ditempuhnya memang hanya D2 karena alasan biaya dan dia ingin cepat bekerja sebagai guru. Ya guru yang akan mengabdi di daerah pelosok. Guru yang ke sekolah naik sepeda, disapa murid-muridnya yang menunggu di halaman sekolah dengan penuh hormat, lalu membawakan tasnya. Profesi sederhana tetapi terhormat. Itu bayangan Hera, seperti yang dialaminya ketika SD bersama Larso. Hera menekuni kuliah di FPBS, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.
Hera menjalani kuliah semula dengan tekun. Tetapi suatu hari Agung dalam suratnya menyarankan agar nanti tahun depan ikut tes seleksi penerimaan mahasiswa baru, Sipenmaru ambil S1. Katanya sayang masih muda sekali belum pantas jadi guru, belum matang umurnya . Nanti murid sama gurunya besar muridnya. Hera begitu tersihir dengan kata-kata Agug. Dia memang kagum sama Agung. Sehingga Hera kuliah kurang serius, malah dia lebih serius belajar soal-soal kisi-kisi masuk perguruan tinggi. Mungkin Agung membayangkan gimana nanti punya istri yang tidak selevel. Alasan Agung bahwa dia masih terlalu muda untuk jadi guru, hanya alasan saja. Agung orang yang ambisius, ia ingin mengatur, termasuk tingkat pendidikan Hera. Hera merasakan itu. Kontras dengan Danang yang lebih melayani. Tapi Hera merasa tertantang dengan saran Agung.
Ada hal lain juga yang membuat Hera bersemangat lagi untuk ambil program S1 adalah ibunya. Suatu hari suatu hari ibunya rasan-rasan “Nduk kamu nanti kalau sudah lulus jadi guru sebaiknya berpikir untuk segera berumah tangga ya.”
Selama ini Hera memang tidak bercerita soal hubungannya dengan Danang, Agung maupun Larso kepada ibunya. Mbahnya di desa yang lebih paham. Ibunya dan dua orang kakaknya tidak tahu soal ketiga pemuda itu. Karena pemuda – pemuda itu cah ndeso yang lepas dari perhatian ibunya. Kalaupun Agung datang ke rumahnya di Jakarta bisa jadi menurut ibunya ya hanya teman sekolahnya saja. Atau ibunya masih menganggap bocah, belum serius.
Ratmi, ibu Hera terlalu sibuk dengan jahitannya. Karena memang itu sumber nafkahnya. Tanpa ada jahitan sekian kepala nggak bisa makan. Bahkan bapaknya pun pulang dalam kondisi sakit, tidak bisa membantu mencari nafkah. Di rumah ada tukang obras, ada tukang sum dan ada juga yang memasang kancing baju. Rumahnya cukup ramai dengan usaha konveksi rumahan. Hera sering disuruh-suruh bikin makanan kecil entah bakwan, pisang goreng atau singkong goreng untuk ngasih camilan buat para pekerja itu. Hera nggak mungkin membantah permintaan ibunya.
Suatu malam ibunya menasehati.
“Nduk cah wedok nek wis lulus sekolah wis cekel gawe jadi guru PNS, wis mapan, mulailah berpikir berumah tangga, ibu sarankan carilah teman hidup yang mapan secara materi. Yang dewasa bisa ngemong. Maksud ibu yang lebih tua dan bertanggung jawab.”
Nasehat yang bagi Hera mundur beberapa tahun ke belakang seperti generasi ibunya. Hera justru kaget ibunya yang di Jakarta menasehati seperti itu. Sementara kakeknya di desa malah lebih berpikiran maju “Nduk kamu kalau bisa selesaikan kuliah sarjana. Kamu harus mandiri , tidak tergantung orang lain. Nanti kalau ada apa-apa nggak susah seperti ibumu.”
Hera merasa kakek neneknya yang merawat dia dari kecil lebih memahami jalan pikiran dan cita-cita Hera. Ternyata ibunya berkata begitu ada alasannya. Ada teman kakak Hera yang sering main ke rumah. Nampaknya cuma main-main saja. Kadang main gitar bareng atau main catur sama Eko, kakak mbarep Hera. Tapi ibunya mengamati sebenarnya ada satu dua orang yang teratur datang dan menunjukkan sikap yang berbeda. Ada Raharjo dan Purnomo.
Di mata ibunya keduanya orang Jawa sopan, pengertian sama ibu bapak, apalagi sejak Hera di situ, kalau pulang kerja sering disempatkan mampir walaupun cuma catur atau nyanyi-nyanyi sampai larut. Bentuk perhatian pada orang tua membawakan sekedar oleh-oleh juga sering dilakukan Raharjo. Terus kalau Hera nggak ada di rumah karena menginap di rumah sepupunya, mereka itu sering tanya dimana dik Hera .
Tetapi Hera justru berpikir belum ingin berumah tangga cepat-cepat. Masih jauh. Dia ingin sekolah seperti Agung atau Larso, tingakt sarjana. Kalau mungkin S2 atau S3 dengan biaya sendiri.
Ibunya mungkin merasa berat membiaya lima anak dan dia jadi satu-satunya sumber penghasilan. Jika saja ada satu yang cepat menikah dan dapat suami mapan, beban pikiran Ratmi akan sangat jauh berkurang.
Ternyata suatu hari kakak mbarepnya, Eko pernah bilang ke ibunya
“Buk, temanku yang sering ke sini, Raharjo, tanya apa Hera sudah punya pacar.”
Ratmi bingung, Hera masih kuliah. Sedangkan Raharjo sudah kerja mapan. Sebenarnya Ratmi suka dengan sikap dan pribadi Raharjo itu. Ketika Hera ditanya ibunya justru Hera bingung bahkan ketakutan, takut kalau segera dilamar. Dia merasa belum pantas baru setahun lulus SMA masih 19 tahun masak menikah….ooh tidak , teriak Hera dalam hati.
Hera cuma jawab ke ibunya
“Buk, aku masih ingin sekolah lagi.Nanti sambil kerja, ngajar. Aku janji tidak akan menyusahkan ibu dan minta biaya kuliah dari ibu, “kata Hera sambil menangis.
Tapi Hera sempat berpikir nasehat ibu sebenarnya benar dan tepat, karena di Jakarta orang tidak memikirkan apakah dia anake wong mambu atau bukan. Teman masnya Hera bekerja pada perusahaan International milik Jerman yang bonafide, posisinya juga bagus. Sejak mendengar permintaan ibunya, Hera jadi sering lama-lama di perpustakaan kampus. Dia berangkat jam 10 pagi setelah memasak untuk keluarga , lalu pulang menjelang jam 17.00. Dia takut ditanya-tanya soal pernikahan. Maka lebih baik dia menyepi di perpustakaan dan bia belajar tenang tanpa diganggu untuk bikin gorengan.
Tapi di lubuk hati terdalam Hera sebenarnya cuma ada 3 nama yang secara emosi harus diperjuangkan untuk membuktikan bahwa anakke wong mambu itu tidak nista dan tidak seperti yang dikhawatirkan orang-orang yang berpikiran sempit dan kerdil. Memang Agung tidak pernah mempermasalahkan itu. Begitu pun Larso. Tetapi Hera siap-siap kalau suatu saat itu akan muncul. Karena Agung maupun Larso berasal dari keluarga yang sangat mendukung partai yang berkuasa. Bagi keduanya mungkin tidak ada masalah dengan status anakke wong mambu, tapi bagi keluarga besarnya mungkin akan merupakan masalah serius.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi