
KEMPALAN: “Nduk simbok seneng sama mas Danang .,.”kata simbok.
“O iya mbok. Kenapa, ganteng ya?”
“ nggak..nggak cuma ganteng tapi orangnya nggak sombong. Coba anak pak camat kok mau ya ngobrol sama simbok tukang karak..”
“ya karena ada maunya mbok..”
“Ee tapi nggak bisa dibuat-buat lho nduk…”
Hera senang sekali mendengar kata-kata mbok yang nampaknya sangat terkesan dengan pribadi Danang. Dia sendiri heran kenapa Danang yang kaya itu mau dekat-dekat dia.
Hera sendiri sangat terhibur dengan kehadiran Danang. Dia mendapat penghargaan yang mengembalikan rasa percaya dirinya.
“Kamu sukanya apa kalau sedang nganggur ?”
“Ya dengar lagu di radio atau dengar wayang. “
Begitu obrolan suatu saat Danang datang. Lalu minggu berikutnya Danang dengan segepok kaset wayang kulit dari Ki Narto Sabdo berjudul Banjaran Karno. Kisah Basukarno yang terkenal itu. Hera sangat senang dengan hadiah itu. Hera mendengarkannya di saat malam hari.
Kisah Narapati Basukarno yang harus berperang di pihak Kurawa padahal dia seibu dengan adik-adiknya para Pandawa. Karno yang sejak kecil tidak dirawat oleh ibunya kadang membuat Hera menyamakan dengan dirinya. Karno malah tidak punya bapak. Itu pun Hera menyamakan dengan dirinya yang sejak kecil ditinggal bapaknya karena harus menjalani hidup di penjara.Maka Hera sangat menikmati kisah hidup karno yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdo dengan sangat baik. Dialog yang menyayat hati antara Kunti dengan Karno membuat Hera sering bersimbah air mata di atas bantal di malam hari.
Hera meskipun suka lagu pop dia juga menikmati kesenian asli bangsanya. Baginya wayang punya nilai seni yang sangat tinggi. Di dalam wayang ada paduan segala seni: seni bertutur, seni menggerakkan wayang, seni musik gamelan, harmoni antar sinden, harmoni dengan gamelan, harmoni gerakan wayang dan iringan gamelan, sungguh seni yang rumit.
Selain itu di dalam wayang Hera menemukan pitutur yang baik. Dari ceria Banjaran karno dia mendapat pelajaran tentang ikhlas.
Karno berada di pihak Kurawa untuk melawan saudara-saudaranya sendiri. Jika Karno nggak berada di pihak Kurawa, Duryudana dan adik-adiknya nggak akan berani melawan Pandawa. Karno akhirnya ikhlas mati di tangan adiknya, Arjuna. Saat mati justru Karno disambut para bidadari untuk masuk surga. Sementara Kurawa yang lain, Duryudana, Dursasana dan adik-adiknya semua masuk neraka. Belakangan diketahui bahwa Karno berpura-pura berdiri di pihak Kurawa biar Kurawa berani melawan Pandawa sehingga kejahatan di muka bumi bisa diberantas lewat perang Baratayudha. Niat mulia itu pantas diganjar dengan surga. Perbuatan sangat bergantung pada niat.
*
Hera sedih ternyata Larso dalam setiap surat selalu berpesan agar tidak dibalas. Hera berpikir pasti ini aturan pakliknya agar arso kerja kras untuk studi dan nggak boleh berhubungan dengan perempuan. Pakliknya mungkin berpikir perempuan hanya akan menganggu onsentrasi belajarnya.
Pernah dalam suatu surat Larso menuturkan deritanya. Ketika sedang membersihkan kandang burung milik pakliknya dan memberikan makan dan minum untuk burung , seekor burung kesukaan pakliknya lepas. Burung itu katanya harganya sangat mahal dan itu burung yang paling disukai pakliknya. Larso tentu saja takut sekali. Dia meminta-minta maaf ke pakliknya. Tapi itu belum cukup. Dia diminta pakliknya mencari burung itu sampai ketemu. Larso bingung. Walaupun pesimis, dia tetap bertanya dari rumah ke rumah, mencari di kebon tetangga dan dia amati pohon-pohon di sekitar rumah. Tidak nampak. Kalau pun nampak dia juga bingung bagaimana menangkapnya. Lalu dia ke kampung lain di sekitar rumah pakliknya. Sampai beberapa hari burung itu tidak ditemukan.
Pakliknya marah, uring-uringan sampai berhari-hari. Urusan burung ini mengalahkan urusan-urusan lain. Sepertinya sisi baik Larso hilang semua gara-gara seekor burung ini hilang. Larso berpikir meski dia keponakan langsung ternyata kasih sayang pakliknya masih lebih besar ke burung-burungnya daripada ke dia. Larso menangis dalam hati. Apakah demikian buruk nasib seorang ponakan yang ngenger ke pakliknya. Tapi demi masa depan yang lebih baik Larso menguatkan hatinya. Dia harus belajar menderita lahir batin. Dia tidak mau bercerita ke ibunya. Takut akan mengganggu hubungan kekerabatan antar keluarga mereka. Padahal Larso tahu dulu pakliknya sering dibantu bapaknya. Hanya kepada Hera Larso bisa bercerita tentang penderitaannya.
Membaca cerita itu tidak terasa air mata Hera pun menetes. Tetesan air mata sedih dari seorang sahabat. Cerita itu membuat Hera ingin sekali memberikan rasa empatinya. Tapi pasti di akhir surat ada catatan untuk tidak dibalas. Padahal Larso bisa saja meminta Hera membalas surat dengan dialamatkan ke sekolah. Tapi mungkin Larso sangat takut jika ketahuan pakliknya lewat temannya atau lewat siapa saja. Maka cerita-cerita Larso hanya jadi bahan bacaan, bukan dialog.
*
Mulai kelas dua Hera kehilangan satu per satu sahabat perempuannya. Mereka semua mulai kos dekat sekolah. Jadi Hera lebih sering berangkat pulang dengan teman-teman laki-laki. Mbahnya juga nggak mengijinkan Hera kos. Meski berat Hera tetap taat pada omongan simbahnya.
“Ini laku prihatin nduk..” pesan mbahnya. Hera paham maksud mbahnya.
Danang suka membuntuti Hera. Pada suatu siang saat pulang sekolah Danang menemukan Hera di pinggir jalan berhenti dengan seorang teman lain.
“Lho kenapa Her?”
“Nganu mas..kempes mas. Sepertinya bocor bannya..,.” kata Hera penuh harap.
Kebetulan kejadian itu jauh dari kampung. Posisi di tengah area persawahan
“Oh kamu tunggu sini saja. Biar kubawa ke tukang tambal ban.”
“Nggak usah mas; ngrepoti, “ sahut Hera agak jaga gengsi.
“Ah nggak papa. Jauh lho bengkelnya.”
“Ya mas kalau begitu. Terima kasih ya.”
Danang langsung dengan sigap membawa sepeda ke bengkel terdekat. Gemnbrobyos keringatnya. Tapi nggak dirasakannya. Sepeda ditambal beberapa lama oleh bengkelnya. Lalu Danang menaikinya lagi ke tempat Hera menunggu di bawah pohon mahoni.
“Makasih mas Danang,” ucap Hera penuh haru. Hatinya bunga sekali melihat sikap danang yang seperti Dewa penolong.
Danang merasa lega bisa menunjukkan perannya . Danang semakin mendapat angin. Hera pun makin suka sama Danang. Danang makin sering berduaan pergi dan pulang sekolah. Danang naik motor Hera naik sepeda. Teman-teman cowok Hera sungkan untuk berbarengan naik sepeda karena kedekatan Hera dengan Danang.
“Dik bagaimana kalau tiap hari kujemput ke rumah nanti pulang kuantar..”
Hera sebenarnya sangat senang dangan tawaran itu. Berat bagi dia naik sepeda pulang pergi 20 km tiap hari. Kalau sampai rumah pasti capai. Teman-temannya pada enak tinggal di rumah kos cuma 10 menit ke sekolah.
“Mas bilang saja ke simbah, diijinkan nggak..”
Maka Danangpun memberanikan diri bilang ke Mbah Mangun.
Dia susun kata-kata dengan baik. Dengan pelan diutarakan maksudnya.
“Mbah minta ijin,” kata Danang hati-hati setelah mencium tangan Mbah Mangun di ruang tamu.
“Gimana kalau seandainya Hera tiap hari saya antar jemput. Kasihan Hera mbah, jauh,” Danang melanjutkan dengan agak takut.
“Ooo terima kasih nak atas kebaikannya. Tapi…tapi biar Hera naik sepeda saja.”
Danang terdiam. Nggak berani lagi dia menawar atau memberi alasan.
“Kalau mau berbarengan dengan Hera, ya silakan nak Danang naik sepeda saja.”
Tawaran mbah Mangun berat buat Danang. Hera sudah menduga pasti begitu jawaban mbahnya. Nggak akan diijinkan cucu kesayangannya ini dibonceng laki-laki yang bukan saudaranya. Karena Hera pernah dinasehati untuk jadi orang yang bersabar dan bersyukur. Punyanya sepeda yang nikmati sepeda itu. Belajar sabar dengan sepeda itu.
Maka sejak itu Danang mengalah. Dia justru yang naik sepeda tiap hari. Di pinggir kali, di jembatan dia selalu menunggu Hera lewat. Lalu naik sepeda bersamaan ke sekolah. Pulangnya pun begitu.
“Kok mas mau naik sepeda?”
” Ya gimana lagi, demi barengan cewek manis..”
Hera pun tersipu mendengarnya. Dia menyadari betapa besar pengorbanan Mas Danang demi cintanya.
Tapi kabar kedekatan Danang dengan Hera sampai juga ke orang tua Danang. Mereka tidak suka dengan hubungan ini. Dari sini orang tua Danang mulai menyusun rencana menghalangi hubungan mereka dan kalau bisa harus diakhiri sama sekali. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi