Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 43)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Mbah Mangun hatinya ikut sedih dan merasakan betapa ribet hati cucunya. Secara umur sudah waktunya menentukan pilihan calon pendamping hidupnya. Tetapi mengingat status anake wong mambu, membuatnya serba sulit menentukan pilihan. Simbah tahu watak cucunya itu, hatinya pasti berontak setiap  terjadi ketidak adilan jangankan terhadap dirinya, terhadap orang lainpun, dia akan bela dengan sungguh- sungguh. Mbah Mangun putri jadi teringat pernah mendapat teguran dari Hera gara-gara memberikan uang fitrah berbeda kepada cucu- cucunya saat lebaran. Cucu si A diberi fitrah 30.000,  Cucu si  B  diberi 15.000. Padahal si A dan si B seumur, sama- sama laki- laki, sama-sama SMP dan hubungan keduanya terjalin akrab.

Saat itu Hera menanyakan kepada simbahnya apa alasannya memberi fitrah berbeda, simbah menjadi bingung, hanya menjawab  dan berjanji akan memberi tambah fitrah kepada cucunya si B. Simbah sudah mikir pasti Hera akan protes , jika alasannya karena orang tua si A sering memberi uang kepada Simbah, tetapi orang tua si B tidak atau jarang sekali. Maka Hera akan bilang : kalau begitu simbah harusnya memberi fitrah ke cucu B lebih banyak karena orang tuanya lebih susah hidupnya, atau paling nggakl ya sama. Simbah tahu persis karakter Hera, sehingga simbah diam saja. Dalam kasus fitrah itu Hera langsung bertindak, lalu memberi tahukan kepada simbah putri nya bahwa Hera sudah memberi tambahan uang 15.000 kepada si Cucu B, atas nama mbah Putri dengan dalih karena salah kasih amplop. Peristiwa ini diceritakan oleh simbah kepada ibunya Hera. Sejak itu simbah hati- hati sekali, jika ada sesuatu selalu minta pertimbangan Hera. Suatu hari, ibu Hera saat mudik, akan memberi oleh-oleh kepada saudara dekat yang di kampung tetapi tidak sama, yang satu terasi yang satu kecap. Simbah lalu menegur ibu Hera, “jangan begitu, harus sama. Aku wedi di “sereg” karo anakmu wedok, dikira aku mbaginya tidak sama”.

BACA JUGA

Hera tersenyum saat Ibu Hera menceritakan hal itu. Hera kaget, karena merasa hal biasa tapi ternyata simbah benar- benar mencamkan dan sadar bahwa dia tidak seharusnya berlaku tidak adil.

Simbahnya ingin tahu sikap cucunya cenderung kepada siapa ia menjatuhkan pilihan. Setelah pertanyaannya kemarin mau pilih Larso atau Danang belum terjawab.

“Nduk, simbah arep tanya lagi ya, kamu jangan gusar”, tanya simbah hati-hati.

“iya tanya apa mbah “, jawab Hera pelan.

“Iku lho kok Nak Danang datang lagi, terus nak Larso seperti nya juga sungguh- sungguh berniat baik”, kata simbah masih hati-hati.

“Lha apa simbah yakin mereka itu tenanan”, Hera balik tanya dengan wajah suram.

“Lho piye tho kalau tidak tenanan kenapa pada kesini, nyedaki kamu?”,  simbah balik bertanya.

“Ya  mungkin mereka coba- coba aja mbah, belum tentu mereka siap dan berani ngadepi rintangan” , jawab Hera. Sepertinya simbah paham maksud Hera, hatinya ikut pilu.

“Nduk simbah ngerti, di daerah memang lebih gampang orang cari tahu siapa kita, karena saling kenal. Dan orang desa cenderung berpikirnya pendek takut-takut nanti dipecat dari kerja di Pemerintah jika beristrikan anakke wong mambu, padahal kan ya belum tentu juga”, kata simbah.

“Embuh mbah aku males mikir, aku tak ra usah duwe bojo wae ya mbah, ben ora usah mumet ”  , jawab Hera asal, tapi membuat simbahnya kaget.

“Husst tidak baik ngomong begitu,  ora keno. Nduk, simbah pernah dicritani ibumu, katanya ada pemuda temannya mas Eko, suka sama kamu dan serius. Dia uwis pegawai, wis mapan , tapi tidak kamu tanggapi, memangnya kenapa? Dia bekerja di Jakarta pasti ora mikir soal-soal sing ra mutu itu” , simbah bertanya ingin tahu tapi ada nada  sedikit kekesalan pada situasi jaman.

“Ya nggak kenapa-kenapa mbah,  wong aku sudah anggap keluarga sendiri, seperti masku dewe,  aku wegah dadi bojone mbah”,   jawab Hera.

“Iku soal gampang to nduk, sing penting masa depane wis jelas mapan, uripmu bakal kepenak”, mbak Kakung yang tadinya diam saja ikut urun saran.

Kalau dipikir memang benar nasehat orang tua. Hidup sudah susah kok dibikin makin susah, milih yang belum jelas, milih yang tidak diijinkan keluarganya. Hera jadi merasa seperti bersalah kepada mas Raharjo. Di lubuk hati terdalam Hera ingin buktikan kepada salah satu siapa yang serius dengan Hera dan tetap konsisten tidak terpengaruh pihak luar. Dan, ia ingin menunjukkan bahwa keputusan memilih Hera tidak salah.

“Piye nduk kok meneng wae?” tanya simbah putri.

“Aku nggak mikir bojo disik mbah, mau konsentrasi kuliah dulu, biar cepet lulus terus cari kerja di perusahaan swasta yang bagus”, kata Hera.

“Yo kudu mikir bojo jugalah nduk,  yang pasti yang mana, biar nutup rembug  jika ada yang datang tanya- tanya ingin melamar”,  kata simbah.

“Memang ada mbah yang suka tanya-tanya”, Hera penasaran.

“Ya ada aja, banyak yang ngrasani”, kata simbah tidak menyebut siapa.

“Ya dijawab saja anaknya masih sekolah atau belum tentu anaknya mau menikah”, jawab Hera jengkel.

“Husst ati-ati ngomongnya.. Nek ra nikah ora duwe keturunan lho..”, kata simbah. Hera tersentak, satu-satunya tujuan Hera menikah hanyalah karena ingin punya anak. Hera suka anak kecil dan suka mendongengkan anak- anak mbak sepupunya, sangat ingin punya anak, yang kelak akan difasilitasi dengan pendidikan yang baik sehingga tidak seperti dirinya.

“Yo pengin duwe anak sih mbah, tapi ora buru-buru biar aku kerja dulu, biar bisa nyenang-nyenangkan simbah, simbok dan ibu-bapak”, jawab Hera.

“Halah nduk orang tua itu kalau anak cucunya sukses, berumah tangga dengan baik, sudah ikut senang dan bahagia” , jawab simbah lagi. Betapa tulusnya orang- orang tua itu batin Hera. Kebahagiaanya juka melihat anak cucunya sukses rumah tangganya baik dan rukun. Semoga Hera bisa mewujudkannya, batin Hera tidak begitu optimis.

Ada suara motor memasuki halaman yang rindang dengan pepohonan melinjo yang berjajar-jajar rapi. Danang datang lagi.

“Kulonuwun mbah “, sapa Danang ramah.

“Ee..mas Danang kae Hera lagi di mejanya.”

“Njih mbah maturnwun “, Danang masuk lalu duduk di kursi meja persegi empat yang biasa buat belajar.

“Piye dik, balik Semarang kapan aku antar sampai Boyolali ya biar tidak dua kali naik bis”, kata Danang menawarkan. Sejatinya Hera sangat senang dengan tawaran itu. Hera hanya akan naik bis sekali nunggu bis di Halte pasar Boyolali atau yang agak dekat Halte Stadion Boyolali, bis langsung ke Semarang dari Kartosuro.

“Rencana aku besok mas pulang,  agak pagian ya kalau mau ngantar aku”, jawab Hera. Baginya kerepotan yang luar biasa adalah sulitnya transportasi. Di rumah simbahnya Hera tidak ada motor. Adanya hanya sepeda tidak mungkin simbah anter ke stanplat Delanggu naik sepeda. Andong terlalu makan waktu.  Danang tentu tidak keberatan untuk mengantar Hera. Cintanya belum luntur.

“Dik, aku minta maaf untuk peristiwa yang dulu itu ya”, kata Danang memelas berharap Hera memaklumi.

“Nggak apa-apa mas, wis biasa, penjenangan po ra wedi didukani bapak-ibu tho kok berani-beraninya main lagi kesini” kata Hera tidak ada basa-basi.

“Aku sudah nggak gentar lagi, nggak takut lagi kok dik, atiku wis kuat, tidak bisa lagi dihalangi, nggak ada pengaruhnya lagi”,  kata-kata Danang seperti anak yang beranjak dewasa.

” Oya, baguslah “.

Obrolan berlanjut cukup lama. Lalu Danang pamit pulang.

*

Esok paginya Danang datang menepati janjinya. Dia naik motor menjemput Hera. Hera sudah menunggu. Segera mereka berangkat setelah pamitan mbah Mangun dan mbokdenya.

Hera menikmati dibonceng Danang sambil mengenang masa lalu. Motor melewati jalan desa ke arah barat. Udara bersih dan angin semilir terasa agak dingin di pagi hari. Motor melewati desa Nglangun, Plumbon lalu Karanglo. Sudah lama, sekitar empat tahun lalu Hera dibonceng Danang. Kanan kiri sawah hijau. Lalu lintas tidak ramai. Sambil naik motor Danang membuka pembicaraan lagi.

“Gimana kuliahmu?”

“Ya kuliahnya sih lancar. Yang berat di biayanya. Ibuku hanya seorang pengusaha konveksi kecil-kecilan. Anaknya banyak. Simbah ya hanya bergantung pada hasil panen yang nggak mesti.”

“Oo..tapi beruntung kamu bisa kuliah. Aku malah cuma luntang-lantung.”

“ Sebenarnya itu pilihan mas. Masa depan kita, kita yang menentukan. Mas Danang kurang nekat “, kata Hera agak nekat.

Danang sempat kaget dengan sindiran Hera. Tapi memang benar ucapan Hera.  Padahal dia sudah nekat melawan bapaknya. Tapi memang semangatnya untuk sekolah tidak sehebat Hera.

Motor sudah sampai Cokro akan menuju Tulung.

“Apa rencanamu mas?”

“Aku mau minggat lagi. Baru pulang sudah ada intel hebat Jimo Belong  beraksi lagi mengabarkan kedatanganku ke rumahmu. Bapakku sudah mengancam-ancam.”

“ Minggat kemana mas?”

“Aku mau nyari kerja di Kalimantan. Di sana kan lagi booming kayu. Ijazahku Cuma SMA. Harus terima nasib.”

“Lha yang katanya ada saudara bisa memasukkan ke BUMN itu piye?”

“Walah hanya angin surga. Minta duitnya iya tapi masuknya nggak jelas.”

“Aku sih suka yang berjuang dengan kemampuannya sendiri, sesuai keahliannya.”

“Lha aku cuma lulus SMA, nggak punya kemampuan khusus.”

“Saya doakan kamu sukses di Kalimantan.”

“Hubungan kita gimana dik?”

“Susah mas hubungan dengan anake wong mambu. Lebih baik Mas Danang mencari kerjaan dulu. Sambil aku teruskan kuliahku. Kita lihat ke depan”, sahut Hera lagi dengan membayangkan permintaan yang sama dari Larso. Dia dalam posisi sulit karena masih ada ganjalan status itu. Larso ngotot tapi keluarga besarnya belum tentu mengamini.

Jawaban yang paling enak memang menggantung. Cewek  memang yang memutuskan. Sakit sekali jika berkata iya tapi ternyata cowoknya harus berembug lagi dengan keluarga besarnya.

Danang pulang dengan agak kecewa. Tapi dia bisa memaklumi meskipun sedih. Status tidak jelas. Pekerja bukan, mahasiswa bukan, cinta pun tidak jelas.

“Darimana lagi kamu ?” bapaknya sudah siap di depan pintu bahkan ketika Danang belum duduk.

“Bapak itu ingin membahagiakan anak atau bapak sendiri?”

“Bapak pengalaman le. Bapak sudah menjalani hidup lebih lama daripada kamu.”

“Kenapa begitu takut dengan wong mambu? Rejeki yang ngatur Gusti Allah pak.”

“sudahlah kamu manut saja.”

“Saya sudah manut. Jadinya ya gini. Luntang-lantung. Kuliah nggak, kerja juga nggak. Bapak susah kan lihat anak lanang mbarep seperti ini?”

Pak camat tidak bicara lagi. Diam-diam air matanya menetes. Dia menyadari bahwa kekerasan hatinya memang membuat semua susah. Seandainya dari awal dia setuju hubungan anaknya dengan Hera mungkin Danang akan termotivasi untuk kuliah. Bu Camat mendengarkan pembicaraan dua lelaki bapak anak itu sambil menahan air matanya. Sebagai seorang ibu tak kalah sedihnya menyaksikan nasib anaknya itu. Masih beruntung Danang tidak nekat bunuh diri atau mabuk-mabukan. Dia takut juga jika nanti anak perempuannya juga akan digantung cintanya oleh laki-laki.  Tidak mudah memang menjadi orang tua yang bijak, apalagi dia perempuan yang harus nurut suaminya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait