Sabtu, 7 Maret 2026, pukul : 04:23 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Persahabatan antara Raharjo dengan, masnya Hera, Eko, sangat erat. Mereka bahkan seperti saudara, kompak. Begitu juga persahabatan Purnomo dengan kakak Hera nomer dua, Edi. Para alumi STM yang sekolahnya mayoritas laki-laki itu memang punya prinsip bahwa keutuhan persahabatan dan persaudaraan di atas segalanya. Prinsip persahabatan yang mungkin tidak dianut oleh jenis sekolah yang lain.

Hera meski menghabiskan masa kecil dan remajanya di kampung , termasuk orang yang supel mudah bergaul dan ramah dimana saja. Sehingga Hera cepat akrab dengan teman-teman kakaknya, dan menganggap mereka seperti saudara sendiri. keakraban yang alami dan terjadi begitu saja.  Di antara teman-teman yang datang Raharjo termasuk paling pengertian. Setiap datang ke rumah, ia membawa gula, kopi dan cemilan. Yang paling sering dia bawa adalah martabak. Kebiasaan ini tentu diingat oleh Hera maupun bapak ibunya. Tidak salah kata orang kedekatan hati kadang memang dipupuk dari bagian perut. Jika perut sering dimanjakan hati bisa berbunga.

Raharjo biasa menyerahkan bawaannya ke Hera. Jadi Hera tahu betapa Raharjo ini pemurah dan perhatian. Kadang saat main catur atau nyanyi, Raharjo sering bercanda ke Hera

“Dik pesan kopi ya.  Emm jangan manis.”

“Mana enak mas…?”

“ Nanti minumnya sambil melihat kamu aja,” candanya. Hera menanggapi dengan senyum. Bangga tentu wanita diberi pujian semacam itu.  Hera bersikap sepeti dengan mas-masnya. Dia sering ikut ngobrol dan menghidangkan minuman atau jajanan yang ada. Dia memang sering ingin tahu misal tentang pekerjaan yang dilakukan teman-teman masnya itu. Dari sana dia dapat gambaran tentang dunia kerja.

Tidak jarang juga pembicaraan yang serius soal alam dan manusia. Raharjo yang melanjutkan ke jurusan Fisika di sebuah universitas ternama di Jakarta itu sering menghubungkan ilmu modernnya dengan ilmu kejawennya yang kuat. Dia bisa cerita soal Syeh Siti Jenar mengenai konsep manunggaling kawula Gusti yang sering disalahpahami oang awam. Atau ajaran Hindu soal reinkarnasi. Kita ini reinkarnasi dari siapa, siapa dia, siapa Eko, siapa Hera dan siapa ibu di kehidupan sebelumnya. Tidak jarang ada cerita mistis tentang dunia makhluk halus yang ternyata eksis dan berinterseksi dengan kita di kehidupan sehari-hari. Hera kadang heran dengan dunia-dunia yang jauh dari pemikirannya. Lalu dia ingat inthuk-inthuk mbah Mangun yag selalu menyertai wetonnya atau  boneka bayi yang dikubur Jimo Belong di teras rumahnya untuk menaklukkan dia. Semuanya ada dan dipercaya orang. kehidupan spiritual memag luas. Bahkan upacara wiwit yang dilakukan masyarakat Jawa tempo dulu bisa dibahas secara menarik oleh mas Raharjo.

“Mas Jurusanmu Fisika atau metafisik?” sahut Hera yang takjub dengan uraian mas Raharjo.

“Oh kedua-duanya, “ sahutnya sambil ketawa.

“Bahkan sebelum Einstein menemukan rumus E sama dengan m ce kuadrat, nenek moyang kita sudah mengenal santet. Santet itu mirip-mirip dengan teori Einstein lho dik.”

Mereka terbahak. Padahal tidak paham-paham amat bagaimana maksudnya. Tapi Hera sedikit paham bahwa sekumpulan massa bisa ditransfer ke tempat lain melalui media entah cahaya atau apa dalam bentuk energi sehingga berpindah ke tubuh manusia target atau sasaran. Sayang ilmu begitu tidak dibedah secara eksak dan terbuka. Atau memang itu kategori ilmu yang tidak untuk umum. Demikian Hera berpikir.

Tapi sejak ada bisik-bisik bahwa Raharjo bertanya soal pacar Hera,  Hera jadi sedikit kikuk kalau bertemu Mas Raharjo. Sebaliknya Raharjo malah makin perhatian dan berusaha menetralkan kekikukan Hera. Hera merasakan kedewasaan mas Raharjo. Beda memang menghadap laki-laki yang lebih tua. Rasa ngemongnya menonjol. Raharjo menduga, Eko, sahabatnya itu pasti sudah menyampaikan pertanyaannya pada ibu atau mungkin malah ke Hera langsung.

Suatu hari Raharjo membawakan buku bacaan karena  di rumah kakaknya ada taman bacaan. Berbagai jenis buku ada di sana. Raharjo tahu Hera suka membaca buku-buku sejarah atau buku sastra yang bervisi.  Raharjo membuka pembicaraan saat Hera sedang iseng bantu pekerjaan ibunya pasang kancing baju seragam pesanan dari sebuah Taman kanak-kanak.

” Dik, ini aku bawakan komik serial SH Mintarja, ‘Api di bukit Menoreh’ dan Ko Ping Hoo. ”

Hera melihat sebentar ke arah apa yang dibawa Mas Raharjo.

” Wow terima kasih mas, pasti seru. Saya dulu di desa selalu ngikuti drama Radio serial ‘Naga Sasra  Sabuk Inten’ karya SH Mintarja juga.”

Jawaban Hera tentu membuat hati Mas Raharjo berbunga. Tidak salah dia bawakan buku untuk Hera.

” Ooo..yang serial itu ada juga. Nanti kapan- kapan saya bawakan.”

“Wah maturnuwun mas.”

“Eh..  buku-buku  yang itu…juga ada.”

“Maksudnya ‘yang itu’ apa Mas?” Hera agak mengernyitkan dahi. Dia pikir nggak mungkin Mas Raharjo suka buku stensilan model Enny Arrow atau Nick Carter yang digandrungi para pemua lepas puber pertama itu..

“Buku-buku yang dilarang kejaksaan.”

” Oh ya? Judulnya apa itu mas?” Hera makin penasaran.

” Itu lho buku ‘Bumi Manusia’ karya Pramudya  Ananta Tour”.

“Waah maau sekali, sudah lama pengin baca,” sahut Hera kegirangan.

” Tapi harus hati- hati bacanya ya harus ngumpet. Jangan nanti sudah dicap wong mambu malah bacaannya karya Pram. Bisa berabe.”

Hera sekilas jadi ingat lagi wajah-wajah kaku menakutkan penjaga penjara, wajah Jimo Belong dan wajah pegawai kelurahan. Mungkin kalau mereka melihat Hera baca buku itu, buru-buru mereka dapat prestasi baru, dia lapor atasannya dan menemukan penganut partai terlarang dari kalangan  generasi muda. Pimpinan tertinggi bisa bikin garis politik baru untuk menambah penataran P4 menjadi 200 jam atau ditambah wajib militer. Bisa heboh koran ibukota. Hera tersenyum geli.

“Kenapa senyum- senyum  dik?” tanya Raharjo.

“Nggak apa-apa. Ingat di desa  sering rebutan radio sama simbah. Saya pengin nyetel drama radio, simbah pengin nyetel kethoprak,” kilah Hera.

“wah kapan- kapan pengin juga main ke desanya simbah. Mau cari belut sama Eko, “ sahut Raharjo seperti dapat restu mendekati induknya dulu baru ke sasaran. Ya memang selama ini Raharjo menggunakan pendekatan top down dalam menjerat Hera, tangkap bosnya dulu baru targetnya. Dia percaya cara it muajarab. Agung beda, dia sangat intens mendekati target tanpa top down, benar-benar bottom up. Danang menggunakan kombinasi keduanya. Sayang pihak ortunya yang justru menghalangi.

“Dik Hera suka nyanyi gak?”

“Suka dikit- dikit.”

Raharjo lalu ambil gitarnya Eko, gitar kenangan  hand made by bapak Ngadiman saat bertapa di Rutan Salemba. Hadiah ulang tahun untuk Eko. Raharjo memetik gitar lagu Vision. Lagu jadul dari Cliff Richard. Hera pun bersenandung.

” Vision of you, in shades of blue … Smoking, drifting, lazely drifting….”

Hera menyanyikan pelan, kebetulan hafal lagu itu. Kord lagu itupun sederhana.

Hera bersyukur meski cap wong mambu banyak megahambat pegerakannya. Tapi nyatanya dia dikaruniai teman-teman yang bermacam-macam. Dari situ dia banyak belajar.

Raharjo nampak sangat lega bisa mengajak Hera menyanyi. Dia merasa di atas angin jika harus bersaing dengan Purnomo teman Edi adiknya Eko.

Hera hatinya bersih tidak punya perasaan apa – apa terhadap Raharjo.  Karena dia menganggapnya  sebagai kakak. Hera mulai berpikir untuk bersikap biasa saja, tidak kikuk. Karena dia harus punya keberanian menjawab jika suatu saat Raharjo mengatakan sesuatu. Tapi Hera takut cinta datang karena telah terbiasa.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.