Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 10:58 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Tidak terasa masa Diklat Agung tinggal sebulan lagi. Hera optimis Agung bakal bisa melewati tahap ini. Jarang terjadi orang tidak lulus Diklat . Namun Hera tak urung merasa deg-deg juga  ‘jangan-jangan nanti….tidak lulus’. Itu yang selalu terngiang di pikiran Hera. Mengingat Agung masih sangat muda usianya baru 20 tahun, anak ndeso yang masih emosional, kuliah baru 3 semester, masih pantas jadi anak SMA, jadi beralasan Hera berpikir begitu. Hera berjanji pada dirinya waktu sebulan yang tersisa ini, akan  benar-benar menjaga hubungan dengan Agung tetap baik dan kondusif. Hera akan mengalah apabila Agung komplain sesuatu. Hera tidak melarang lagi kalo Agung   pengin main ke rumah.

Beberapa malam lalu selain cemburu kepada Raharjo, Agung cemburu menyaksikan Purnomo, teman kakak Hera yang lain Edi, menawarkan buku. Hera senang saja atas tawaran itu. Tapi buku itu justru belum sempat dibaca Hera. Buku yang sedang jadi topik hangat saat itu,  berjudul Catatan Seorang Demonstran, tentu sangat menarik bagi Hera. Buku bacaan Hera dan Agung termasuk berat, sementara di usia yang sama remaja lain menyukai bacaan Anita Cemerlang, atau cerpen cinta remaja. Justru dia membaca karya Shindunata, Ahmad Shobari, Cak Nur dan Cak Nun.  Saat Hera menyambut buku dari Purnomo, tak lama Agung merebutnya dan dibawanya, dia mengira pasti ada apa-apa di dalam buku itu.

“Pinjam dulu..”

“Lho entar dulu ta…”

Ya Hera pun mengalah. Toh dia memang tidak ada apa-apa sama Purnomo. Ini bentuk perhatian Hera ke Agung agar psikologisnya tidak terganggu.

Sesungguhnya Hera pengin sekali baca buku itu, tapi Agung juga kasih alasan untuk baca buku itu. Tentu saja setelah dipastikan  dalam buku itu tidak ada selipan apapun dari Purnomo.

Agung bilang akan membaca buku itu sebelum berangkat ke AS. Hera mengiyakan sambil berpesan agar dikembalikan saat selesai dibaca. Tapi Hera menunggu-nunggu buku itu tidak pernah dikembalikan.

Suatu hari Agung bilang ke Hera bahwa sebelum nanti berangkat ke US, akan mudik dan nyekar ke makam ibunya di Klaten. Sekalian Agung akan pamit bapak dan simbahnya. Untuk itu Agung mengajak Hera mudik bareng. Kebetulan juga Hera sedang libur semester. Hera juga sudah sangat kangen dengan simbah Kakung-Putri dan simboknya. Juga Hera sangat kangen dengan suasana desa.  Hera  kangen njerengin karak sambil bersenandung. Ia juga kangen menyaksikan dua gunung berjajar di sebelah kulon desanya. Itulah gunung Merapi Merbabu yang menjulang tinggi berwarna biru yang seperti memberi batas sebelah barat dunianya.

Lalu mereka merencanakan minggu depannya berangkat. Agung beli tiket Kereta Senja Ekonomi Jakarta – Solo. Uang  cah ndeso cupet, hanya cukup untuk beli tiket ekonomi. Agung membeli dua tiket tanpa tempat duduk karena sudah penuh, kata petugas loket. Hal biasa  kalau beli tiket dibilang  tidak ada tempat duduknya dan dibilang sudah penuh,  aneh memang. Lalu tiket yang ada tempat duduknya dijual kemana oleh siapa kepada siapa. Beli tiket sudah jauh-jauh hari tetap saja tidak dapat tempat duduk. Kondisi masih semrawut , banyak calo bergentayangan yang mungkin sudah memborong tiket sebelumnya.

Hari H sudah dekat, Hera rasan-rasan kepada ibunya kalo libur semester mau pulang.

“Buk aku mau pulang ya , kangen simbah.”

“Ya rapopo bagus nengok mbahmu mumpung libur. Simbahmu mungkin ya sudah kangen sama cucu kesayangannya.”

Hera tidak cerita kalau dia mau pulang bersama Agung. Hera takut tidak diijinkan. Selama ini Agung memang tidak begitu akrab dengan ibunya Hera. Agung sendiri memang tidak luwes seperti halnya Raharjo. Pendekatan Agung cenderung hanya ke Hera dan Hero saja.

Sampailah harinya. Hera menuju stasun Jatinegara. Janjian sama Agung ketemu di sana. Ini perjalanan yang mendebarkan. Jakarta-Klaten perjalanan hampir selama 12 jam tanpa dapat tempat duduk. Namanya juga kereta Ekonomi sebentar-sebentar berhenti. Agung sudah menyiapkan koran juga Hera untuk jaga-jaga. Kondisi ini sudah diperkirakan. Mereka tidak sendirian. Menjelang libur kereta memang ramai. Penumpang lain banyak juga yang tidak dapat tempat duduk. Beberapa orang menggelar selendang atau jarik di lorong kereta. Agung dan Hera memilih ruang kosong antar gerbong. Bau pesing jelas tercium karena di sebelahnya adalah toilet. Kadang angin semilir mengalir lewat pintu di kanan kiri. Kereta mulai melaju. Hera dan Agung duduk di lantai kereta dengan beralaskan koran. Mereka bercerita bermacam topik.

“Kira-kira kamu lolos nggak?” sambil setengah teriak mengalahkan suara deru kereta yang rodanya bergesekan dengan rel menghasilkan suara bising. Agung merasa kurang jelas kata-kata Hera. Dia pun menempelken telinganya ke mulut Hera sambil mencuri kesempatan ndusel ke Hera.

“Kamu kira-kira lolos nggak?” ulang Hera menempelkan mulutnya tepat di depan kuping Agung.

“Rasanya nggak ada yang memberatkan. Kalau aku nggak diterima terus siapa,” sahut Agung agak sok sambil menyibak rambut Hera.

“Kamu mau nggak kukenalkan bapakku?”

Hera berpikir sejenak.

“Nggak dulu..”

“Kenapa?”

“Nanti saja. Kan bapakmu dulu guruku. Ngak enak.”

Berulang kali Agung memeluk Hera sambil mengajak ngobrol Hera. Kadang Agung berpura-pura nggak dengar untuk bisa memeluk Hera. Hari makin larut. Hera dan Agung sudah lelah mengobrol. Mereka lalu gantian tidur di pangkuan. Agung berselonjor, dan merebahkan Hera agar tidur di atas kakinya. Lalu Agung membelai-belai rambut Hera. Hera menikmati itu. Dia sambil membayangkan suatu saat akan dilamar Agung lalu dia akan menyusul Agung ke Amerika. Hmm…Pasti simbahnya akan bangga cucunya hidup di Amerika.

Beberapa saat setelah Hera tertidur, lalu dia gantian duduk  berselonjor, lalu  Agung rebahan di kakinya. Hera merasa geli kakinya dipakai alas tidur Agung. Kereta senja ekonomi menjadi saksi berisik cinta mereka. Sebuah keromantisan yang terpaksa. Tetapi sangat indah dan langka.

Menjelang pagi kereta sampai di Klaten. Mereka turun di stasiun. Badan Hera capai. Begitu pun Agung. Masing-masing menuju daerahnya. Sambil mereka berjanjian akan jalan ke Jogja beberapa hari ke depan.

Sampai di stasiun Klaten, mereka turun.  Mereka berjalan sedikit menunggu bis ke arah Solo. Mereka naik bis jurusan Jogja-Solo, turun terminal Penggung, sebuah terminal yang nggak terlalu besar sebelum kota Delanggu.  Agung naik ojek ke rumahnya yang nggak terlalu jauh. Hera diminta menunggu. Hera menunggu di warung Soto.  Walaupun Hera sebenarnya ingin cepat sampai rumah ketemu simbahnya dengan naik ojek saja. Sambil menunggu Soto, Hera senyam-senyum ingat kejadian semalam di kereta. Ya walaupun romantika yang terpaksa karena tempat yang kurang nyaman, tapi justru di situlah sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi.Hera bisa berdekatan dengan Agung. Di atas kereta Ekonomi  Jakarta- Solo itu, di sambungan gerbong yang pesing dekat toilet itu, cinta mereka makin tumbuh bersemi. Genggaman jemari Agung tidak pernah lepas, meyakinkan Hera, bahwa dia berjanji dan  meminta Hera setia  menunggunya. Hera seperti punya sandaran harapan untuk masa depannya. Hera membayangkan lagu Kereta Biru Malam Ebiet. Hera melahap soto di depannya.

Agung tidak lama datang membawa motor. Agung tidak ingin kehilangan kesempatan sedikitpun untuk bisa mengantar Hera.

Hera diantar Agung melewati dua tempat  angker  menuju desa Hera. Karena pagi jadi tidak nampak angker. Saat melewati  jalan kecil menurun Hera teringat di situ dia pernah terjatuh karena rem sepedanya blong. Hera terjatuh dan luka, lalu Danang memapahnya ke gubuk  dan mengobatinya. Hera berlinang mengingatnya. Tapi kini yang di  depannya adalah Agung. Hera bersikap hati- hati jangan sampai air matanya menetes di punggung Agung. Hati Hera campur aduk rasanya. Sepertinya hal ini diketahui oleh Agung.

” Kenapa kok tiba- tiba diam, ingat  Danang ya,” kata Agung menikam tajam ke relung hati Hera. Hera agak gelagepan.Sulit mengelak.

” Nggak juga, biasa aja kok.”

Untung Agung tidak meneruskan pertanyaannya.Padahal Hera sungguh sedang berpikir keras kemana Danang. Danang seperti cerita yang sudah tamat. Tetapi ingatan Hera soal Danang belum tamat. Ada sisi Danang yang selalu diingatnya. Dalam keterbatasan Danang, dia orang yang selalu melayani,tidak pernah mengatur dan kemampuan menutupi emosinya sangat tinggi. Danang selalu ada dalam lubuk hati paling dalam Hera.

“Nanti kita akan melawati tempat angker satu lagi,” kata Agung memecahkan lamunan Hera.

” Iya tempat kita beraktrasi ya hahaha.”

Mereka tertawa riang mengingat saat pagi Agung menjalani ritual mengantar adiknya lalu  businya suwak dan langsung sehat ketika Hera muncul.  Lalu mereka bersamaan menuju ke sekolah.

Tidak lama sepeda motor Agung sampai. Di halaman yang luas dan rindang, Agung  berhenti. Ia langsung pamit tidak mampir dulu. Hera bikin kejutan simbahnya, mereka berpelukan. Simbah sangat gembira menyambut cucu kesayangannya muncul tiba-tiba.  Mbah kakung- mbah putri berkumpul menanyakan kabar keluarga Jakarta.

“Ibumu apik ta?”

“Iya mbah sehat. Mas dan adik-adik sehat.”

”Kok bisa kamu diantar Agung?”

“oh kebetulandia juga dari Jakarta. Ada training di sana.”

“Oo jadi bareng?”

“Iya mbah. Simbok gimana kabarnya?”

“Ya simbok masih jualan karak.Sehat.”

Setelah itu menjelang siang lanjut Hera dan mbahnya makan dengan sayur lodeh, ikan asin dan sambel tomat. Masakan khas desa yang selalu ngangeni. Sambil leyeh-leyeh Hera bercerita kepada simbahnya.

“Aku mau pindah kuliah mbah.”

“Bagus-bagus. Pindah ke Solo?” sahut mbah Mangun kegirangan.

“Pindah yang program sarjana mbah..”

“Oo lebih tinggi ya. Simbah matuk,setuju. Wong wedok jaman sekarang harus berpendidikan. Jangan bergantung ke suami.”

Tapi Hera sebenarnya bercita- cita ingin masuk UI.

“Simbah doakan kamu bisa sekolah di Jawa,dekat-dekat simbah.”

Hera sedikit kurang enak.Tapi dia tidak menolak keinginan mbahnya. Kadang mbahnya punya perasaan yang tajam meski dari sisi wawasan mungkin kurang.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.