
KEMPALAN: Agung tidak cuma encer otaknya, tapi dia juga pemberani dalam hal mengejar cinta.
Agung yakin jika Hera sampai mau repot-repot menulis surat walaupun atas nama Esti, pasti ada getaran nada cinta di hati Hera juga walaupun kecil. Agung harus memupuk getaran itu. Setelah beberapa hari merenung bagaimana cara bisa menyampaikan isi hatinya ke Hera. Dia mencari info dimana kelas Hera dan dimana tempat duduk Hera.
Maka Agung menulis beberapa kalimat di selembar kertas, lalu dibungkus dengan amplop. Agung cari cara untuk menyampaikan surat secara langsung kepada Hera, tidak melalui perantara. Bagi dia menyampaikan surat secara langsung itu adalah proses yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Paling pol diberi senyum kecut. Jadi nggak perlu takut.
Suatu siang saat istirahat pertama dia ke kantin. Meski nggak terlalu lapar tapi dari sanalah alasan bisa dibuat. Sekedar pesan es teh manis dan sebuah bakwan cukuplah bagi Agung untuk meneruskan langkah menuju kelas Hera. Dari Kantin, Agung mlipir-mlipir lewat samping kelas Hera, dia mondar-mandir di bawah jendela seperti menunggu sesuatu. Tidak ada orang yang melihat . Tapi Hera tanpa sengaja melihatnya pas Agung menatapnya.
Perasaannya gemetar. Dia takut akan diinterograsi cowok cool nan cerdas itu gara-gara menjadi penulis palsu balasan suratnya. Makin takut dan deg-degan dia melihat tatapan Agung yang tajam bak Jimo yang lain. Gemetaran hatinya melebihi apapun, Lebih gemeter dari saat pertama ketemu Danang dan lebih gemetar dari saat beradu pandang dengan Larso di makam saat nyekar. Tatapan Agung menghujam langsung ke jantung Hera. Mungkin karena Hera selama ini merasa bersalah kepadanya, atas karangan bebasnya bahkan berpuisi untuk Agung. Hera tidak tahu maksud Agung apa dengan mondar- mandir di bawah jendela yang persis di samping meja Hera. Lalu selembar kertas tipis dia keluarkan dari sak bajunya dan dijulurkan ke Hera setengah dilempar dengan buru-buru dengan matanya memberi kode. Buru-buru juga Hera menyaut kertas itu. Adegan itu begitu cepat. Tidak ada teman Hera yang tahu apa sebenarnya yang sedang berlangsung. Bahkan Hera sendiri belum paham kalau surat itu untuknya. Dia pikir itu untuk Esti. Tapi sekilas ada tulisan to Hera disampul surat. Hera ingin sekali membaca apa isinya. Tapi dia tahan, dia selipkan ke tasnya.
Dia akan membaca nanti jelang pulang sekolah. Karena hatinya masih berkecamuk, antara ingin tahu isinya dan takut ketahuan Esti. Hera sudah menduga pasti dia akan dimaki-maki dengan surat itu.
Begitu bel akhir berbunyi dan selesai berdoa , Hera cepat-cepat membuka sampul surat itu. Suratnya ternyata pendek. Sejenak dia lega, nggak ada kata makian. Tapi justru membuat dag dig dug yang lain.
“Besok pagi aku tunggu di buk sebelah barat desa, dekat gubuk. “
Hera heran kok Agung sampai tahu detil tempat itu. Iya tempat Jimo mencegatnya dan mengancamnya. Apakah ancaman yang sama akan diberikan Agung. Huh…Hera pusing.
Ternyata Agung ini anak guru SMP Polan dimana letaknya di sebelah timur kampung Hera. Maka Agung tidak sulit , untuk cari sisik milik desa dan rumah Hera. Karena dekat kantor Sekolah bapaknya. Malah Agung beberapa kali mengantar adiknya yang sekolah di SMP itu pagi-pagi meski agak jauh dari rumahnya. Jadi Agung tahu kira-kira jam berapa Hera biasa berangkat sekolah.
Menunggu hari esok pagi adalah siksaan panjang bagi Hera. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan jawaban apa yang akan diberikan jika ditanya peranya sebagai penulis surat-surat balasan dari Esti itu. Hmm Hera takut tapi juga senyum-senyum sendiri menyesali kenapa mau-maunya membantu Esti sampai sebegitu.
Keesokannya di dekat buk dimana Jimo pernah mencegat Hera, Agung benar telah menunggu. Tapi dasar laki-laki, dia pura-pura memperbaiki motor bebek bututnya yang rusak. Baru saja dia mengantar adiknya ke sekolah. Sambil menunggu Hera dia ngutak-atik motornya. Tidak lama Hera benar lewat sendirian. Sambil menata hati dan perasaan, Hera berhenti dan ikut berjongkok. Lalu bodohnya Hera dia bertanya dengan penuh perhatian
“Kenapa Gung motornya?” Hera berucap begitu sja. Padahal sebelumnya tidak pernah ngobrol. .. Hati Agung bersoark gembira, pancingannya berhasil. Serasa dia sudah bisa membuka pintu sukses untuk bisa menundukkan Hera. Tapi dia bingung harus menjawab apa, karena sesungguhnya motornya tidak rusa.
“Hmm..agak tersendat jalannya. Kukira businya..” jawab Agung serius.
“Oh jadi gak papa?”
“Kamu datang langsung beres.”
Hera nggak paham dikira serius.
“Kamu yang jawab suratku untuk Esti kan?”
“kok tahu?”
“Ya saya tahu Esti. Nggak mungkin dia menulis seperti itu.”
“Maaf saya hanya membantu Esti.”
“Oh gak papa, itu justru karunia buat saya. “
“Lho memang kenapa balasannya?”
“Ya cukup bermutu, berbobot. Bukan kelasnya Esti”.
Wow Hera tersanjung. Pujian yang bahkan tidak pernah diberikan oleh Danang atau Larso.
Lalu mereka pun jalan berdua. Hera bersepeda dan Agung naik motor pelan. Mereka berbincang-bincang soal hobi. Sepertinya mereka cocok dalam hal intelektualitas dan hobi. Dengan Danang cerita wayang, dengan Agung cerita soal buku. Soal intelektual atau sastrawan seperti Cak Nun, Cak Nurcholis Masjid, Mohammad Shobari, Ahmad Tohari, YB Mangun.
Tapi Hera harus menjaga siasat. Sementara dia akan lewat tempat dimana Danang biasa menunggu, dia kasih kode ke Agung untuk duluan. Ternyata pagi itu Danang tidak ada di sana. Mungkin ia masih takut habis dimarahi bapaknya.
Sejak itu Agung punya modus baru mengantar adiknya ke sekolah. Padahal adiknya biasanya bareng dengan bapaknya. Lalu Agung akan menunggu di tempat yang sama. Sandiwara kecil terjadi setiap Hera melewati pojok kampung Danang. Hera mulai berpikir alternatif. Tidak bisa dia menutup hatinya selain untuk Danang. Dia harus membuka banyak alternatif, toh usianya masih muda.
Agung mulai berani main ke rumah Hera. Mereka berdiskusi , kadang berdebat soa agama, soal budaya, soal sastra. Diskusi yang ramai membuat mereka seperti berantem. Hera melihat pikiran yang cemerlang pada diri Agung, kadang pikiran itu seperti jauh melampaui usianya. Agung masih sangat muda tapi kadang dia bicara seperti mahasiswa tingkat akhir atau cendekiawan yang melahap banyak literatur. Buku-buku bacaan berat dia pinjamkan ke Hera.
Hera kagum akan kepandaian Agung. Dia membaca garis nasib sukses di diri Agung. Ini beda dengan Danang yang lebih banyak menikmati hidup dan menjalani masa remaja dengan happy. Danang dan Agung seperti dua titik esktrim, di tengahnya ada Larso. Ya Agung sangat serius dan pemikir.
“Nduk kancamu itu siapa?”
“Itu anaknya guru SMPku mbah..”
“Mbah nggak suka cara dia ngomong. Seperti keminter. Sopan santunya kurang.”
Hera nggak berani membantah mbahnya. Memang benar Agung pinter tapi karena kaku tidak seluwes Danang, kesannya seperti keminter. Agung ingin Hera mengikuti selera dan pikiran Agung. Pada titik ini Hera ingat sahabat semejanya, Esti. Iya paham kenapa Esti nggak suka sama Agung. Esti cantik, tapi cara berpikirnya nggak akan sampai jika mengikuti otaknya Agung. Sudah pantas Esti tidak mau membalas surat Agung meski ada kilau sukses pada diri Agung di masa depan. Hera mencoba membuka persahabatan yang lebih serius dengan Agung. Danang sangat tidak suka dengan sikap Hera ini. Danang tidak mau kalah.
Sementara Danang bercerita bapaknya sedang mencari dukun yang ampuh untuk menundukkan Hera maupun Danang agar saling menjauh. Jimo termasuk yang ditugaskan mencari dukun yang cespleng agar Hera klepek-klepek menyerah. Danang meski sangat hormat pada orangtuanya jadi merasa aneh melihat sikap bapak ibunya. Dia mengirim anaknya sekolah agar pinter, pada saat anaknya mulai pinter justru diberi contoh yang bodoh.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi