
KEMPALAN: Hera sulit melupakan Yu Semi meski sudah pindah. Cerita drama Karsiyem memang dramatis. Lha wong cuma tukang becak aja ternyata berani main mata sama cewek lain meski sudah punya istri. Tapi cerita tentang Yu Semi tidak kalah dramatis. Hera masih segar mengingat kejadian itu.
Suatu hari anak- anak kost di pak Raden dan juga pak dan bu Raden dapat undangan dari eks penghuni kost di pak Raden, namanya mbak Mia.Dia menikah di daerah Purwodadi. Para anak kost dan bapak ibu Raden mendatangi undangan dengan menyewa mobil colt station, sekalian piknik. Pak Raden menyusulkan pikniknya ke Bleduk Kuwu sawah garam, api abadi Mrapen dan napak tilas ke kantor Kawedanan Randu Blatung, Purwodadi. Radu Blatung adalah tempat dulu Pak Raden jadi Wedana. Tentu saja anak kost setuju dengan usulan Pak Raden.
Mereka pun jalan ke pesta Mbak Mia. Setelah acara masih ada waktu dan mendatangi tempat-tempat yang diusulkan Pak Raden itu. Rombongan diajak mampir ke rumah bekas anak buah pak Raden. Di situ disambut hangat dan disuguhi makan siang. Hera seperti biasa, bantu-bantu tuan rumah. Dia ikut upyek di dapur, entah nyuci piring atau angkat-angkat makanan. Istri anak buah pak Raden cepat akrab dengan Hera. Maka tanpa kikuk mereka ngobrol.
“Sudah lama kost di tempat bapak?”
“O sudah cukup lama bu. Kenapa bu?”
“Hmmm. Enggak kok. “
Mereka pun diam sejenak sambil beres-beres makanan.Pak raden dan suami tuan rumah ngobrol di ruang depan.
“Emm…Semi, ya Semi apa masih ikut di rumah pak Raden?”
“Oh masih. Setia di sana. Kenapa bu?”
“Dia itu aslinya dari desa sebelah. Kasihan dia.”
Hera mulai deg-degan. Dia mencium cerita tidak sedap.
“Kenapa bu, ada apa dengan Yu Semi?”
“Nganu….emm…Dulu pernah hamil.”
“Lho punya suami?”
“Ya sama pak Raden.”
“Ya ampun…Terus gimana?”
“Ya bagus dinikahi. Setelah anak lahir terus dicerai.”
“Waduh. Sudah beristri pak raden.”
“Ya sudah sama ibu . Yang kasihan itu anaknya cacat.Anak itu trus diopeni mbahnya. Mboknya Semi.” Lanjut tuan rumah dengan bisik-bisik.
Hera nggak bisa menyembunyikan sedihnya. Dadanya nyesek. Nggak habis pikir dia dengan kenyataan itu. Padahal Y Semi juga nggak cantik, juga nggak manis. Kulitnya cklat badannya sekel. Mungkin pak Raden sedang khilaf.Makanya ketika Pak Raden begitu getol seperti mengusirnya meski dengan cara halus, dia maklum. Dia menduga Pak Raden takut kalau rahasianya diketahui Hera. Hera sangat bersimpati ke Yu Semi tapi dia sengaja menjaga diri agar tidak ketahuan Pak Raden.
Tetapi tampaknya Pak Raden bisa membaca gerak-gerik Hera.
Yang bikin Hera nyesek adalah cara Pak Raden memperlakukan Yu Semi. Ya ia diperlakukan seperti pembantu, tidak ada sedikit rasa kasihan atau menghargai. Bahkan kalau jalan pun Yu Semi harus selalu di belakang Pak raden atau Bu Raden. Mungkin juga ajakan pak raden dan bu raden ke Semi jadi pembantu itu sebagai balas budi, itu bentuk pertolongan.
Sebaliknya Yu Semi butuh uang. Di tempat asalnya, daerah tandus, sulit cari uang. Mungkin Yu Semi merasa beruntung bisa kerja dapat gaji bulanan, bisa kirim uang ke desanya dan badannya tidak kotor dan bisa numpang tinggal dengan kondisi nyaman. Dia bayangkan kalau di desa, dia harus ke sawah atau kerja apa saja tanpa penghasilan yang jelas.
Yu Semi nampak sedih ketika Hera dan kawan-kawan pamit mau pindah. Entah bagaimana sepertinya Yu Semi seperti mendapat pendukung ketika Hera ada di situ. Padahal Hera cuma berusaha menjadi pendengar yang baik ketika Yu Semi bercerita. Tapi memang seperti ada yang disembunyikan ketika Yu Semi bercerita.
Tapi semenjak acara ke Randu Blatung itu Hera makin paham apa yang menjadi beban Semi.
*
Hera mendapat balasan dari adik Danang. Hera lega ternyata Danang masih di Sumatera bersama budenya. Kata adiknya, Danang disuruh pulang sama bapaknya akan dicarikan kerjaan di BUMN. Adik Danang juga bertanya lewat suratnya dimana alamat Hera. Karena di surat itu tidak ada alamat dan namanya pun palsu. Ya ini bisa dimengerti karena Hera takut surat itu jatuh ke bapaknya dan tidak sampai pesannya.
Hera berketetapan hati tidak akan membalas dan tidak akan memberitahu alamatnya. Hera justru menguji sampai dimana kekuatan cinta Danang. Apakah cuma sampai di situ saja. Atau Danang akan mencari tahu keberadaannya dari teman-teman dekatnya. Mestinya tidak sulit mencari info jika memang serius, begitu pikir Hera.
Libur semester 3 sudah tiba, Hera pulang ke Jakarta, karena sudah kangen dengan keluarganya: orang tua, kakak dan adik-adiknya.
Hera naik kereta Ekonomi dari stasiun Tawang, berangkat jam 9 malam. Hera selalu mendapat tempat duduk karena pemberangkatan awal dari stasiun Tawang. Hera membeli tiket langsung di stasiun itu. Harga tiket kereta Ekonomi Rp 3.500, harga tiket kereta Senja Utama dua kali lipat. Hera sebenarnya bosan banget naik kereta Ekonomi. Tapi karena uangnya mepet, tidak ada pilihan lain. Bagi Hera selisih uangnya bisa buat makan semingguan.
Hera pergi ke stasiun Tawang diantar mas Bagas naik motor. Hubungan Hera dengan mas Bagas mirip hubungannya dengan mas Raharjo. Sejak awal berkenalan dengan mas Bagas, Hera sudah langsung menaruh hormat dan merasakan mas Bagas sebagai kakak seniornya dan Hera sebagai adiknya.
Sekitar 25 menit sampailah mereka di stasiun. Mas Bagas menemani sampai kreta berangkat. Hera murung, ada banyak hal yang membuatnya sedih. Di stasiun Hera bercerita sekilas tentang kesedihanya kepada mas Bagas. Dengan senyumnya yang khas mas Bagas memberikan saran.
“Dik, semua orang hidup itu pasti punya harapan dan punya ‘karep’, hanya ada dua kemungkinan gagal atau sukses. Jadi harus siap jika karep atau harapannya pupus, gagal. Itu hal yang wajar kalau sukses ya bagus”
” Lha kalau pupusnya bukan dari diri kita, tapi akibat campur tangan orang lain gimana mas, kan tidak adil, nyesek”, kata Hera meninmpali.
” Ya namanya pupus ya pupus!! bisa dari mana saja penyebabnya, yang penting tanamlah lagi harapan baru, tanam dan tanam”, mas Bagas manasehati. Hera merasa kata-kata itu mengandung arti. Hera tidak bercerita detail tentang Larso, Agung atau Danang. Mas Bagas tidak menghiraukan semua itu, juga tidak ingin tahu. Mas Bagas orang yang simpel dan praktis cara berpikirnya. Sebagai laki- laki, mungkin punya karep dan harapan kepada Hera. Walaupun tidak pernah dikatakan. Mas Bagas tipenya wait and see saja. Syukur-syukur kekarepannya tersambut dan berhasil, jika tidak ya tidak apa-apa. Hidupnya tidak ada target yang muluk-muluk, mengalir saja.
Mas Bagas sangat hati-hati dan sangat menjaga perasaan Hera, sehingga Herapun santai menghadapi mas Bagas. Hal inilah yang membuat Hera tidak punya beban seperti kepada cowok yang lain. Suara Lagu Gambang Semarang mengalun di pengeras suara stasiun menandakan pengumuman bahwa kereta siap di berangkatkan. Hera siap-siap dan bergegas naik kereta, setelah mengucapkan terimakasih dan salaman.
*
Hera tiba di Jakarta sudah terang benderang sekitar jam 7 pagi. Hera biasa naik becak menuju rumahnya. Ibunya kaget, adik ragilnya riang gembira menyambut mbaknya. Senang sekali Hera bertemu keluarga. Ibu masih menjahit dan masih tetap mengajar kursus jahit.
Hera kangen dengan makanan Jakarta yang di Semarang tidak ada yaitu Asinan, Combro Misro dan Gandes Turi. Di rumahnya setiap malam di atas jam 7, ada kegiatan baru ramai-ramai menonton film seri kungfu yang diputar dengan kaset Betamax. Mas Edi rajin menyewa kaset serial Pendekar Ulat Sutera dan Pendekar Rajawali. Tokohnya Wan Fe Yang dan Yoko. Sangat berbeda menyandingkan kehidupan di desa dengan di Jakarta, kota yang tidak pernah tidur. Ibu biasa menutup pintu jam 12 malam. Karena hingga jam 11 masih saja orang mondar mandir keluar masuk rumah. Mas Raharjo masih kerap bertandang ke rumah dan masih tetap bawa martabak. Kata order “kopi dik ” masih tetap berlaku tidak berubah ketika Hera di rumah.
Kadang Hera merasa bersalah kepadanya atau kepada siapapun yang merasa kecewa atas sikap Hera. Inikah karma yang mungkin menyebabkan Hera juga akan terkecewakan dalam hidupnya.
Hari ketiga liburan di Jakarta, Hera bilang ke ibunya mau main ke bekas kampusnya IKIP Rawamangun. Barangkali ibunya akan titip sesuatu perlengkapan jahit menjahit. Padahal sesungguhnya Hera mau bertandang ke kostnya Jono. Sebelumnya Hera sudah menulis surat bahwa dia mau datang saat libur semester. Hera sampai di depan kost Jono.Kost-an Jono sepi, dua jam lebih Hera menunggunya. Jono yang roman mukanya selalu ketawa cengar-cengir, melihat Hera duduk di teras. Wajah Hera merengut sudah lama menunggu.
“Sudah berapa jam Her nunggunya?” tanya Jono enteng sambil buka sepatu.
” Sudah hampir jadi patung “, jawab Hera kesal dengan muka masam.
” Kasihan banget ki mbakyuku, maaf ya”, katanya menggoda.
” Aku mau tanya, to the point aja ya Jon. Sudah kelamaan menunggumu. Sebenarnya ada apa sih dengan kakangmu Agung, kok jadi berubah drastis sikapnya?” tanya Hera penasaran.
“Lha kan saya sudah ceritakan di surat kalau dia sibuk dengan kuliahnya dan sibuk dengan teman cewek yang Jepang itu”, kembali Jono menjelaskan.
” Aku kok kurang yakin, kalau dia menyukai cewek asing. Agung itu idolanya perempuan indonesia asli. Jangan-jangan ada alasan lain yang kamu tutup-tutupi” Hera menyampaikan keraguannya dan menyelidik.
” Aku sudah bilang apa adanya kok ga percaya seh. Saranku nih ya, sudahlah mulai sekarang jangan terlalu mikirin Agung nanti kamu makin kurus, buang energi. Jangan juga berpikir neko- neko, ada alasan lain. Agung sibuk dengan kuliahnya dan nggak sempat mikirin cewek yang jauh, sedang cewek yang dekat aja banyak hahaha..” Jono menggoda.
” Ooh begitu ya dasar laki-laki, tidak berperasaan, lalu kemarin- kemarin itu apa artinya? Mendayu- dayu, menghiba, ngumbar kata cinta dengan berbagai bahasa, mau melamar segala ..Ehh endingnya menyakitkan. Mbeldeges” , Hera kesal dan geram.
” Ya kali kemarin itu perempuan yang paling dekat cuma kamu, jadi pikirannya tercurah kepadamu terus. Sekarang cewek-cewek yang dekat di sekelilingnya kan banyak, masak mikir yang jauh, monotonlah. Kamu juga begitu kan sibuk kegiatan kuliah dan mending mikir cowok-cowok yang dekat kan hayo?” Jono seperti menohok, Hera kaget dengan kata-kata Jono terakhir.
” Apa maksudnya? Ayo katakan sejujurnya kakangmu ngomong apa di suratnya jangan ada hal yang ditutupi!” desak Hera.
” Agung katanya sering bertanya ke teman-teman kost yang kamu kenalkan kepadanya tentang aktifitasmu. Katanya kamu sibuk berkegiatan ekstra dan dekat dengan beberapa cowok. Dia merasa terciderai”, lanjut Jono. Penjelasan Jono membuat Hera kaget dan schock.
” Ooh, lalu kakangmu percaya? Dari dulu kebiasaannya berpraduga, tapi tidak benar.Ya sudahlah untuk apa dilanjutkan kalau memang sudah tidak ada kepercayaan dan kesamaan perasaan. Benar kata kamu Jon, buang-buang energi”, Hera menjawab sambil berpikir ke temannya, Endah dan Ningsih, yang suka ngelapor tentang dirinya pada Agung, dan apa maksudnya.
” Sabar Her, semoga semua itu hanya emosi sesaatnya Agung saja”, hibur Jono.
” Kali ini tidak, perasaanku mengatakan bahwa Agung sudah berpikir dengan logika, mungkin ada pengaruh lain yang lebih besar dan prinsip, bukan hanya sekedar karena merasa monoton atau karena mendapat laporan dari Ningsih dan Endah”, Hera menyampaikan analisanya.
” Aku tidak tahu hal itu. Wislah Her slow aja. Aku laper nih makan baso yuk!” ajak Jono.
” Ngaklah terimakasih aku mau pamit. Kita lihat aja perkembangannya. Jika nanti libur semesteran dia mudik ke Indonesia tidak mau nenemuiku berarti fix ya berakhir”, demikian Hera mengakhiri percakapannya dengan Jono, sepupu Agung.
“Wis ya mau pulang, maaf mengganggumu”, Hera pamitan.
“Hati-hati ya Her sing sabar.”
“Iya aku sabar kok, tapi aku akan cari tahu sesungguhnya ada apa sebenarnya dibalik perubahan sikap Agung yang dratis. Mungkin kamu menutupi atau tidak tahu, tapi aku yakin akan tahu kelak”, demikian Hera mengakhiri percakapannya dengan Jono.
Hera berjalan meninggalkan rumah kost Jono dengan hati luka. Pupus sudah harapannya pada Agung.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi