Kini publik menanti apakah saran JK untuk menunjukkan ijazah asli akan diikuti dan dilaksanakan, ataukah drama ini akan terus berlarut. Jokowi tetap nekad dengan kedunguannya bersama ternak liarnya.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Sangat gamblang dan mudah untuk memahami sikap mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK), kemarahannya (tetap dalam koridor sebagai negarawan) untuk Joko Widodo dan Gerombolan Termulnya di Jakarta Selasa, 21 April 2026.
Jelas JK merasa terusik dengan kelompok pendukung Jokowi yang kerap disebut dengan Ternak Mulyono (Termul), selama ini membabi buta menjadi gerombolan pembela mantan Presiden Jokowi asal tabrak, kali ini mebabrak batu karang
Strategi komunikasi politik JK sangat indah ketika menegaskan legitimasi historis dan membangun tekanan moral pada Jokowi dan para Termulnya yang notabene pendukungnya yang dungu, tolol dan membabi buta menyerang siapapun yang dianggap mengganggu Jokowi dari bercak hitamnya selama berkuasa.
JK terpaksa menegur langsung Jokowi, untuk mengingatkan pendukungnya agar tidak acak-acakan bahkan sampai berani mengusik dirinya. Yang selama ini justru menutup semua aib Jokowi dari bahaya malah mulai terbongkar semua perannya sebagai Presiden boneka.
Semula para Termuk mengira JK akan ketakutan ketika mulai diserang. Semua kita tidak menduga nalurinya sebagai negarawan sejati, JK balik bereaksi tidak ada kesan takut, khawatir, maupun memilih menutup perannya yang besar bagi Jokowi, semua di buka untuk membuka mata para Termuknya yang selama ini buta, siapa Jokowi yang sebenarnya.
JK dan beberapa tokoh lainnya memiliki peran yang penting dalam karier Jokowi sampai di puncak kekuasaan sebagai Presiden walaupun dengan proses yang tidak sewajarnya.
Tuduhan JK tidak tahu diri dan berterima kasih kepada Jokowi sebagai Wakil Presiden, bagaikan petir berbalik arah menyambar Jokowi, bahwa Jokowilah Jokowilah yang tidak bisa balas jasa terhadap JK, membiarkan ternak liarnya mengerang dirinya.
Awal persoalan keinginan Jusuf Kalla tentang Kasus Ijazah Jokowi yang membuat gaduh yang berlarut-larut agar Jokowi tunjukkan saja ijasah aslinya, ini masalah sederhana menjadi masalah yang berlarut-larut membuat gaduh.
Sebagai tokoh negarawan yang kenyang pengalaman dalam kekuasaan, JK merasa risih melihat keadaan seperti ini. Bahkan, ketika Termul yang selama ini merasa jumawa, JK terpaksa membongkar lembaran sejarah mengenai awal mula karier politik Joko Widodo yang selama ini jarang diketahui publik secara mendalam.
JK juga merasa merasa risih ketika Termul bayaran malah menyeret tokoh lain seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarnoputri asal-asalan menabrak.
Jokowi itu mengetahui tokoh di atas adalah penentu nasib Jokowi bisa naik sebagai Presiden. Terkait dengan JK menjadi Wapres selama ini, saya sebagai pengamat politik mengetahui berdasarkan fakta bahwa Megawati-lah yang meminta JK mendampingi Jokowi pada Pilpres 2014.
Alasannya, Megawati menilai Jokowi saat itu belum memiliki pengalaman yang cukup di level nasional, sehingga membutuhkan bimbingan tokoh senior agar negeri ini tidak “rusak”.
Saran pamungkas JK agar Jokowi tunjukkan Ijazah aslinya ke publik. Bagi JK, transparansi adalah kunci agar isu ini tidak terus digoreng setiap malam dan menghabiskan energi bangsa secara sia-sia.
JK meminta agar pihak-pihak yang ia sebut sebagai “termul” atau buzzer untuk berhenti menyebarkan narasi provokatif. Ia menegaskan bahwa setiap langkah politiknya masa lalu murni demi kepentingan negara, bukan sekadar kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Pernyataan Jusuf Kalla ini seolah menjadi pengingat bahwa marwah seorang senior bangsa tidak mudah digoyahkan oleh serangan digital.
Dengan membongkar fakta sejarah dan menantang adu bukti, JK ingin berusaha menunjukkan bahwa kejujuran administratif jauh lebih penting daripada perang pernyataan di media sosial.
Kini publik menanti apakah saran JK untuk menunjukkan ijazah asli akan diikuti dan dilaksanakan, ataukah drama ini akan terus berlarut. Jokowi tetap nekad dengan kedunguannya bersama ternak liarnya.
Sumbu penentuannya ternyata ada ada pada Presiden Prabowo Subianto, mampu bersikap negarawan seperti JK atau akan terus-menerus melindungi Jokowi hitam dan sampai akhir hayatnya tak bisa lepas dari pengaruh dan jasa Jokowi bersama Parcok bisa menjadi Presiden via kerjasama dengan oligarki.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi