Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 08:53 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Seperti diduga sebelumnya, Agung mendapat panggilan tes wawancara untuk seleksi beasiswa luar negerinya. Seneng sekali tentu saja Agung mendapatkan kabar ini. Tidak lupa dia mengabari orang tuanya. Bapaknya pun bercerita di sekolah kepada para guru. Agung sangat bersemangat untuk berangkat ke Jakarta. Kesempatan dia  menemui Hera.

Segera dia siap-siap berangkat.  Dia menuju Jakarta dengan Kereta Api sore dari Jogja.  Selama perjalanan dia tidur tidak terlalu nyenyak di kereta. Dia memikirkan beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan dan gimana kira-kira menjawabnya dalam tes wawancara.  Juga perasaannya berbunga-bunga akan ketemu Hera.

Pagi hari sampai dia stasiun Gambir dalam keadaan ngantuk. Tapi demi menjemput impian dia lupakan rasa kantuknya.

Di stasiun dia numpang mandi dan bersih-bersih. Lalu dia mencari sarapan di stasiun. Dia makan bubur ayam untuk sekedar mengganjal perut dan minum air putih.  Dari situ dia menuju ke gedung tempat wawancara, Agung agak grogi. Dia melihat-lihat penampilannya sendiri. Ya dia yakin dengan kemampuannya meski penampilanya tetap ndesit. Para peserta lain juga sudah hadir. Beberapa diantar mobil. Mereka berkerumun di halaman depan sebuah gedung megah tempat wawancara. Agung berusaha tampil percaya diri.

” Gimana tadi?” tanya salah seorang pada yang baru saja diwawancara. Agung nguping pembicaraan mereka.

” Ya gitulah. Ditanya mengapa ikut seleksi. Kalau pulang mau mengerjakan apa. Dan beberapa  pertanyaan tidak terduga.”

” Maksudnya?”

“Tergantung jawaban kita.”

Ya Agung makin grogi dengan jawaban seperti itu.

Setelah beberapa lama menunggu, sampailah giliran dia. Agung masuk ruangan setelah menata hati. Pelan dan ragu dia masuk.

“Wow kamu masih muda lho.Berani ini berangkat?”

” Nekat Pak.”

” Dari kampung ini. Klaten ya?”

” Betul pak.”

” Biasanya ulet ini.”

“Apa yang akan anda lakukan sesudah lulus nanti?” tanya salah satu pewawancara yang terdiri dari 3 orang itu dengan nada bersahabat.

Atas pertanyaan ini Agung menjawab dengan lancar. Dia bilang akan balik ke Indonesia dan mengabdi di kantor itu.

“Gimana kalau kepincut cewek bule?” tanya pewawancara lagi dengan tertawa.

Agung  tersenyum. Tidak menyangka ada pertanyaan begitu. Ini mungkin yang dimaksud tidak terduga.

“Mana ada bule yang suka sama orang Asia Pak? Mana saya kecil begini.”

“Kalau ada yang mau?”

“Oh saya masih cinta Indonesia. Saya masih suka jangan bobor atau jangan lodeh. Saya pasti pulang. Indonesia terlalu indah untuk ditinggal Pak,kalau ada yang mau biar saya ajak ke sini, “ jawab Agung yakin. Pewawancaranyapun mengangguk-angguk dengan jawaban itu.

“Apa di perusahaan ini ada yang Anda kenal?” tanya pewawancara yang lain.

Nah di situlah Agung gelagepan lagi. Dia jelas nggak punya. Dia memang tidak menyangka juga akan ada pertanyaan seperti itu. Sedangkan perusahan ingin melihat dari keluarga apa Agung ini berasal. Para pewawancara menemukan nilai tes seleksi kemampuan dasar dan akademis Agung sangat bagus.  Tapi dia tidak punya beking.  Di perusahaan itu budaya beking masih sangat kuat.

Agung juga ditanya soal latar belakang orang tuanya. Ya Agung bicara lancar kan orang tuanya adalah guru. Tidak masalah. Tidak ada sangkut paut dengan organisasi terlarang atau masalah politik di masa lalu.

Usai wawancara Agung menuju warung di belakang kantor itu. Ada gang yang berbatasan dengan kantor lain. Biasa para pekerja kelas bawah makan siang di warung dengan harga terjangkau. Agung sudah menahan lapar sejak tadi. Makanan nasi campur dilahap dengan lauk ayam dan tempe serta kerupuk. Kemudian mencari mushola untuk sholat dhuhur.

Lalu dia menuju rumah Hera naik bis. Sepat tertidur beberapa menit dia di bis. Lalu tidak berapa lama sampai di rumah Hera.  Seperti biasa Hera kaget. Melihat Agung di depan rumah, Hera segera memberi isyarat tamu di rumahnya untuk sembunyi.

Obrolan berlalu beberapa saat soal apa yang sedang dia jalani di Jakarta.  Tersirat dari cara bicara dan raut wajahnya, Agung gembira sekali, demikian juga Hera. Hati Hera berbunga- bunga dan berdecak kagum atas kegigihan Agung dan  dalam meraih cita-citanya dan tentunya pada  kepandaiannya.

Kemudian Agung mengabarkan hal lain yang nengejutkan. Dia bercerita bahwa di desanya sedang heboh.

“Ada apa?”

“Kamu masih ingat Esti kan?”

“Ya jelas ingat, teman sebangkuku yang cantik, yang kamu taksir?”

“Iya betul.”

“Kenapa Esti?”

“Esti  dibawa kabur pacarnya,” kata Agung.

“Yang mahasiswa Jogja itu?”

“Iya karena  karena dia tidak mau dijodohkan oleh orang tua angkatnya. “

Ternyata Esti yang cantik bak Meriam Bellina itu bukan anak kandung ibu yang merawatnya, dia cuma anak angkat. Ibu angkatnya kaya, punya toko. Dia ingin menjodohkan Esti dengan adiknya. Daripada harta jatuh ke orang lain. Sayangnya adiknya ini sudah berumur, jauh di atas Esti. Tentu saja Esti tidak mau, lalu dia kabur. Ibu angkatnya yang terkenal galak bingung mencarinya. Ibu angkatnya sempat bertanya ke Agung tentang alamat Hera di desa. Ibu angkatnya bertanya ke mbah Mangun apakah Esti di situ. Lalu Ibu angkatnya minta alamat Hera di Jakarta.

“Apakah Esti ke sini?” tanya Agung lagi.

Hera kaget bagaimana Agung bisa bertanya begitu. Hera menata hati, dia harus berbohong karena sesuai pesan Esti jangan sampai kedatangannya di rumah Hera diketahui oleh siapa pun. Hera harus menjaga solidaritas teman. Hera tahu Esti sedang berada di kamarnya. Sudah beberapa hari Esti menginap. Apa yang disampaikan Agung Hera sudah tahu dari Esti.

“Mana mungkin Esti ke sini..”

Agung sepertinya nggak percaya melihat bahasa tubuh Hera yang mencurigakan. Agung curiga  Hera menyembunyikannya.  Saat itu Hera di kampusnya sedang masa penataran P4. Suatu sore pulang dari kampus, Hera mendapati Esti ada dirumahnya. Hera kaget setengah mati. Tapi sebagai teman baik Esti disilakan menginap di rumahnya. Seminggu kemudia Esti pamitan. Entah mau kemana, dia merasa merepotkan keluarga Hera.

Lalu setelah beberapa lama Agung pamitan.

“Kalau Esti sampai Jakarta sini , tolong ditampung dan dinasehati baik-baik ya. Kasihan kalau sampai salah langkah,” pesan Agung.

Hera makdheg. Agung sepertinya tahu, Esti ada di dalam. Hera hanya bilang iya-iya saja atas pesan itu.  Agung akan pulang ke Jogja. Agung menuju stasiun Gambir. Dia naik kereta lagi menuju Jogja. Di atas kereta dia jadi memikirkan dua orang yang dulu bersahabat baik: Esti dan Hera. Gara-gara Estilah dia dekat dengan Hera. Dia jadi kepikiran Esti.Meski cintanya ditolak tapi dia menyayangkan kalau orang baik seperti Esti harus bernasib naas.

Agung ingat saat mereka wisuda SMA, Agung menunggu Esti dan Hera berdandan di salon dekat desa Agung. Agung saat ingin menyerahkan surat yang memang khusus untuk Hera. Selama ini suratnya untuk Esti tapi dibalasi Hera.  Dengan sabar Agung menunggui sampai mereka selesai berdandan. Esti pun ikhlas Agung menyerahkan surat untuk Hera karena memang Esti tidak berminat dengan Agung. Agung heran kenapa dia begitu peduli dengan Esti sekarang.

Di atas kereta Agung berandai-andai kalau saja dia nanti lolos wawancara lalu lolos screening bersih lingkungan. Dia akan berangkat dulu ke AS. Lalu dia akan pulang untuk mengajak Hera menikah lalu diajak ke sana, ke AS. Dia ingin sekali membahagiakan Hera. Agung tahu bahwa Hera sejak kecil hidup dalam keterbatasan. Mungkin banyak anak yang bernasib seperti Hera. Tapi Agung tidak ingin melihat Hera nanti nikah dengan orang lain. Pasti Hera akan sangat senang mendampinginya. Hera pasti akan rajin memasak atau membuat bemacam kue untuknya. Agung belum tahu sejauh ini bahwa Hera anak orang mambu.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.