KEMPALAN: “Janjine lungane ra nganti suwe suwe, pamit esuk lungane ra nganti sore, janjine lungo ra nganti semene suwene, nganti kapan tak enteni sak tekane”. Keren, bait-bait refrein Banyu Langit-nya The Godfather of Broken Heart Didi Kempot ini dengan sangat baik dilantunkan oleh Judika.
Indahnya ber-Indonesia, darah Sihotang namun cukup piawai membawakan genre campur sari. Yang terlewatkan bisa klik Youtube atau MP3-nya. Bila kita membuka kembali MP4 album Banyu Langit yang dibawakan dengan baik oleh Didi Kempot tentu ini adalah hal biasa. Pun demikian album Cinta Karena Cinta, sangat baik dibawakan oleh Judika. Ini juga biasa.
Yang luar biasa adalah ketika Judika membawakan Banyu Langit tersebut. Sudah dikenal dengan baik oleh masyarakat sebagai penyanyi di barisan rock-populer, ternyata mampu membawakan campur sari dengan indah merdunya. Marah-kah para pekerja seni campur sari? Tersaingi-kah komunitas penyanyi di genre ini?
Begitulah gambaran untuk melihat lebih jauh keberadaan Ritel Berjaringan (RB) yang selama ini divonis tidak boleh berdekat-dekatan dengan Pasar Tradisional (PT). Keberadaannya dihadang dengan beberapa syarat dan ketentuan karena diyakini dapat mematikan PT dan melumpuhkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Beberapa wilayah bahkan dengan tegas menghadang masuknya RB ini ataupun membuat pola-pola pengetatan operasional yang cukup beragam. Sudah barang tentu yang demikian menciptakan kerepotan tersendiri bagi pengelola dan/atau pemiliknya.
Mulai kewajiban memajang karya UMKM setempat, batasan jam operasional, batasan jarak dengan PT, sampai batasan produk yang dijual. Barrier tersebut terus dikreasi, diciptakan, dan direalisasikan, namun yang terjadi di lapangan, keberadaan RB masih terus bisa bertahan dan beroperasi.
Fakta ini membuktikan bahwa keberadaannya di era digitalisasi ini memang dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan terbukti memudahkan pemenuhan kebutuhan masyarakat, terlebih di masa pandemi Covid-19. Realita ini yang tak terbantahkan dan tidak dapat diingkari.
Sejatinya jika dibuat identifikasi dari beberapa sisi akan dapat diurai satu demi satu. RB dipahami sebagai toko modern yang sesuai Perpres 112/2007 adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan.
Berpijak pada deskripsi ini tentu saja menjadikan RB dituntut untuk tampil baik, menarik, juga marketable berkiblat pada konsep dasar pemasaran yang teruji agar memiliki daya tarik bagi pembeli. Layanan harus selalu baik didukung proses pembayaran menuju digitalisasi sesuai tuntutan era perubahan yang serba praktis dan cepat serta mudah.
Dengan pola fixed price menjadikan kedua belah pihak, penjual dan pembeli mempunyai kemerdekaan dan kenyamanan. Setuju silahkan dibeli, tidak setuju boleh ditinggalkan. Hal yang demikian dalam segala hal tentu saja berkebalikan dengan landasan pemikiran di PT.
Tawar-menawar pastinya yang lebih dikedepankan. Dari pemikiran dan fakta yang demikian sebenarnya dapat dimengerti bahwa antara RB dan PT sejatinya memiliki pasar yang berbeda. PT memiliki pelanggan tersendiri dengan karakteristiknya sendiri. Demikian pula dengan RB yang pastinya mempunyai kelompok pelanggan tersendiri dengan pemikiran serta pola belanja yang berbeda.
Pelanggan RB terbiasa dengan semua yang serba rapi, bersih, cepat, mudah, dan praktis. Sementara PT memiliki kelompok pelanggan yang terbiasa sukarela menghabiskan waktunya di pasar untuk sekedar menguji kemampuan tawar menawar (note: tawar-menawar tidak selalu dikarenakan konsumen kekurangan daya beli) ataupun memilih dan memilah berbagai jenis barang dagangan untuk mengetahui dan memastikan kebenaran dan kualitas barang.
Yang perlu disadari bahwa terdapatnya dua bentuk kelompok pelanggan ini adalah karena dua hal yang berbeda pula. Pelanggan PT terbentuk secara alamiah, disemangati pemikiran bahwa harga keseimbangan harus lahir dari permintaan dan penawaran dengan status aktif kedua belah pihak, artinya ada proses tawar menawar.
Sementara di RB dengan kesengajaan dan kesadaran, pelanggan dibangun berdasar konsep pemasaran yang terpola. Lahirlah pelanggan tipe pelanggan ideal, pelanggan yang loyal karena layanan, kerapian, kebersihan, kecepatan, praktis, dengan segala pemanfaatan teknologi digitalisasi yang memudahkan.
Pada gilirannya bisa disimulasikan, pelanggan PT diberikan kesempatan untuk berbelanja di RB. Yang terjadi adalah keengganan kedua belah pihak. Pelanggan PT yang terbiasa membolak-balik barang dengan pertarungan tawar-menawar harga, tentu sangat tidak menikmati belanja di RB. Pun sebaliknya, pelanggan RB yang terbiasa dengan segala kepraktisan tentu menemukan banyak ketidaknyamanan ketika harus belanja di PT.
Pola pikir keduanya sudah berbeda. Mencermati situasi yang demikian sejatinya dapat dikatakan bahwa sebenarnya tidak terdapat persaingan antara RB dengan PT. Keduanya memiliki pasar yang berbeda, memiliki loyalis dan palanggan yang berbeda. Tidak berlebihan kiranya jika kemudian muncul pemahaman bahwa tidak masalah jika kemudian RB dan PT ini berdekat-dekatan.
Seperti hal-nya keberadaan genre rock-populer dengan campur sari, keduanya memiliki loyalis memiliki penggemar yang berbeda, tidak masalah jika kemudian dua genre ini tampil satu panggung. Yang berpotensi menjadi masalah adalah ketika pelaku RB “bergaya” PT dan sebaliknya. Jika ini yang terjadi maka dimungkinkan akan ada situasi teracak-acaknya bentuk pelanggan dan persaingan antara RB dengan PT tentunya tidak dapat dihindari.
Pertanyaannya, ketika seorang Judika sukses membawakan Banyu Langit, telah teracak-acak kah bentuk pelanggan atau penggemar kedua genre ini?
Atau justru seorang Judika dapat dikatakan telah berperan besar dalam mengangkat aliran campur sari seperti halnya RB yang di beberapa wilayah disimpulkan berkontribusi positif dalam pengembangan UMKM karena diwajibkan menyediakan area-nya gratis untuk berwirausaha bagi UMKM. Mari berpikir tenang. Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi