Minggu, 31 Mei 2026, pukul : 05:35 WIB
Surabaya
--°C

Karena Mudik, Bipang Ambawang, dan Publisitas

KEMPALAN: Seseorang akan dapat dikenal khalayak bisa karena prestasi atau kualitasnya, pun bisa juga karena hiruk pikuknya. Selebriti kita paham dengan baik konsep ini, persaingan memang begitu ketat di dunia gemerlap ini, dan tatkala dirasa mulai redup kadang bisa saja dimunculkan aksi-aksi settingan untuk mengangkat kembali pamor tersebut. Tidak berbeda dengan pemahaman ini, perilaku barang pun demikian.

Berawal dari deretan kalimat, “Yang rindu makan gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan dan lain-lainnya tinggal pesan dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah.”

Luar Biasa. Hanya dengan susunan kalimat dari Presiden Jokowi ini pada gilirannya telah memunculkan pertempuran pernyataan dari yang setuju dan tidak setuju. Masing-masing dengan pembenarannya sendiri-sendiri, tentu saja tanpa bisa menerima penjelasan dan rasionalitas pihak yang berbeda.

Bipang Ambawang, dua kata inilah yang saat sekarang seperti terbang di langit menyita perhatian publik. Beragam argumen bermunculan; babi panggang (bipang) tentu saja keberadaannya tidak dapat diterima oleh pihak tertentu karena daging babi memang diharamkan, sementara yang lain katakan tidak ada yang salah dengan pernyataan presiden karena agenda ini memang digelar Kementerian Perdagangan dengan tujuan untuk  menggerakkan kuliner lokal. Di luar dua pernyataan tersebut masih terdapat ratusan bahkan ribuan penyataan yang lain di media sosial.

Berawal dari larangan mudik yang selanjutnya diikuti solusi alternatif oleh presiden dengan menawarkan cara baru menikmati kuliner lokal, populer-lah bipang ambawang sekarang. Apapun alasan dan apapun adu argumen yang sedang seru-serunya mewarnai media sosial atas bipang ambawang ini dipastikan tidak akan berpengaruh besar terhadap agenda  pembangunan ekonomi nasional.

BACA JUGA  Lebih dari 1.000 Produk Makanan di Jepang Bersiap Hadapi Kenaikan Harga pada Juni

Yang pasti dan sudah terjadi sekarang ini adalah bipang ambawang naik kelas, semakin dikenal masyarakat dan pesanannya mendadak mengalami kenaikan yang sangat signifikan hanya dalam hitungan hari. Tentu saja ini adalah berkah terselubung (blessing in disguise) tersendiri bagi pelaku usaha bipang ambawang, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai kuliner lokal sekarang me-nasional dan dicari banyak orang.

Tanpa perlu meng-“endorse”  bintang sekelas Amanda Manopo yang lagi naik daun, produk lokal ini langsung meroket dicari-cari dan ingin diketahui keberadaannya. Masyarakat yang penasaran akhirnya berselancar mencaritahu, seperti apa sebenarnya bipang ambawang. Yang suka dan tertarik akhirnya bertransaksi dan yang setelah tahu kemudian tidak tertarik karena beberapa alasan pun akhirnya merasa sudah cukup mengetahui wujud bipang ambawang.

Baik tidak suka karena alasan selera ataupun tidak tertarik karena memang ada larangan sesuai keyakinannya, sesuai aqidah-nya. Berhenti sampai di sini sebenarnya tidak masalah, karena memang tidak ada peraturan pemerintah yang melarang perdagangan bipang ambawang.

Dalam tataran teori, dikenal beberapa jenis promosi agar produk tersebut dikenal dan disukai oleh masyarakat;  periklanan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), publisitas (publisity), juga promosi penjualan (sales promotion).

BACA JUGA  Terlibat Dalam Lobi Sengketa Politik Internasional Tanpa Kekuatan Militer Yang Diperhitungkan, Perannya Hanya Sebagai Boneka

Yang terjadi pada bipang ambawang seperti yang diungkap oleh Presiden Jokowi, secara tidak langsung menjadi sebuah bentuk promosi. Publisitas. Cukup tenang disampaikan oleh presiden karena memang keberadaan bipang ambawang  berbeda dengan miras.

Miras diharamkan dalam ajaran keagamaan dan ada pula peraturan pemerintah yang melarang memperdagangkan miras. Bipang ambawang yang berbahan dasar daging babi juga diharamkan, namun tidak ada peraturan pemerintah yang melarang untuk memperdagangkan bipang ambawang.

Di sinilah sebenarnya kata kuncinya. Apapun, yang pasti yang sedang terjadi sekarang ini bipang ambawang menjadi cukup dikenal, dikenal karena publisitas setelah diungkap presiden. Belum dikenal melalui rasanya.

Dalam pemahaman beberapa pemikir, ketenaran sebuah produk dengan pola publisitas seperti ini tidak akan bertahan lama. Berbeda dengan ketika produk tersebut menjadi dikenal karena rasanya, sesuai fungsi utama dari sebuah makanan.

Mencermati hal ini tentu kepada para pelaku usaha bipang ambawang tidak boleh merasa sudah cukup. Masih panjang perjuangan dalam menjaga keberlangsungan hidup sebuah produk, belum lagi ketika masih harus dihadang oleh produk-produk yang sudah melegenda seperti yang diungkap presiden; mulai gudeg, siomay, pempek, juga bandeng ataupun yang lainnya.

Minimal khalayak yang jauh dari bumi Kalimantan sekarang jadi tahu, “ooo yang seperti ini tho bipang ambawang”. Akhirnya, selamat bersaing produk lokal. Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya & Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.