Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 09:06 WIB
Surabaya
--°C

Di Balik Cerita Rp182 Triliun,  Kita Kaya atau Miskin?

KEMPALAN: Di dunia musik kita tidak banyak lagu tercipta dengan judul hasrat. Tercatat hanya ada Hasrat Murni, setelahnya ada Hasrat dari Sahara Band, kemudian Hasrat dan Cita nya Fariz RM yang dipopulerkan Andi Meriem Mattalata. Satu lagi Hasrat Cinta karya Dorie Kalmas yang untuk pertama kali dibawakan dengan baik oleh Yana Yulio. Di luar 4 lagu tersebut di era ’80-an ada Dina Mariana yang mempopulerkan Sekedar Bertanya, namun khalayak sering salah mengerti mengira lagu ini berjudul Hasrat Hati.

Silahkan berjalan-jalan menembus waktu membuka kembali lagu-lagu dengan judul hasrat tersebut. Secara umum hasrat lebih dikenal sebagai keinginan atau harapan yang sangat kuat. Dalam tataran mikro ekonomi ada Marginal Propensity to Consume (MPC), satu satuan  tambahan pendapatan yang digunakan untuk tambahan konsumsi, jadi bukan pendapatan yang digunakan untuk konsumsi.

Secara gampang MPC dipahami sebagai hasrat untuk berkonsumsi yang tentu saja memiliki formulasi dan pengukuran tersendiri sesuai peruntukannya. MPC punya pasangan Marginal Propensity to Save (MPS), hasrat untuk menabung, yang kalau dijumlahkan nilainya selalu 1.

Karena masing-masing bernilai antara 0 sampai dengan 1, berarti kalau di atas 0,5 bisa disebut hasratnya besar dan jika dibawah 0,5 berarti berhasrat kecil.

Status ekonomi masyarakat dapat dilihat dari MPC dan MPS ini. Kita bisa renungkan sendiri, jika orang tersebut memiliki hasrat berkonsumsi lebih besar dibanding hasrat menabungnya, berarti termasuk orang kaya atau orang miskin. Pun sebaliknya jika hasrat berkonsumsinya lebih kecil dibanding hasrat menabungnya, termasuk orang kaya ataukah orang miskin.

Tentu saja keduanya disertai dengan kemampuan daya beli beli untuk konsumsi dan juga memiliki lebihan anggaran untuk menabung. Yang harus diketahui jika seseorang sudah sampai pada keputusan berani menabung berarti semua kebutuhan sudah tercukupi dan sebaliknya jika keputusan-keputusan berkonsumsi masih terus dilakukan berarti masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Berangkat dari sudut pandang yang demikian maka dapat dimengerti bahwa orang kaya adalah orang yang memiliki hasrat menabung lebih besar dibanding hasrat berkonsumsinya. Orang miskin adalah orang dengan hasrat menabung lebih kecil dibanding hasrat berkonsumsinya.

Memahami hal yang demikian maka untuk melihat orang tersebut kaya atau miskin tidak perlu membandingkan dengan orang lain tapi cukup memperbandingkan MPC dan MPS-nya atau hasrat berkonsumsi dengan hasrat menabungnya sendiri-sendiri. Ini dari satu sudut pandang yang tentu saja dapat juga dilihat dari sudut pandang yang lain.

Bagaimana dengan Indonesia tercinta ini. Kita sebenarnya termasuk negara kaya ataukah negara miskin. Dengan APBN lebih dari Rp2.500 triliun sebenarnya kita sangat berkemampuan. Baik untuk pembiayaan pembangungan ataupun belanja rutin temasuk juga pembayaran hutang berikut bunganya.

Fakta menariknya, di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir dengan berbagai upaya yang terus dilakukan kabinet dalam rangka pemulihan ekonomi nasional ternyata sampai akhir Maret 2021 secara agregat masih terdapat Rp182 triliun dana terparkir dalam rekening.

Melalui Youtube Sekretariat Presiden hal  demikian cukup disayangkan. Presiden sampaikan bahwa jika pemda tidak segera membelanjakan anggaran yang berasal dari transfer pemerintah pusat tersebut tentu berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Belanja modal menjadi hal penting untuk segera dilakukan dibanding belanja aparatur, di samping juga untuk mempercepat terjadinya peredaran uang di daerah.

Dengan anggaran masih tersimpan di bank berarti tidak terdapat pergerakan ekonomi, tidak ada multiplier effect tercipta. Padahal harusnya dengan besaran tersebut beberapa agenda dapat dilakukan. Belanja aparatur pun kemampuan melahirkan efek penggandanya sangat besar.

Dengan pengertian, anggaran yang diterima oleh para aparatur harus dibelanjakan juga, jangan kembali disimpan. Di sisi yang lain kalau belanja modal sudah jelas, diyakini mampu menciptakan perputaran uang yang lebih besar. Intinya adalah pada terjadinya transaksi atau pergerakan uangnya tersebut.

Anggaran sudah jelas ada, yang diperlukan sekarang adalah hasrat. Hasrat untuk berkonsumsi, MPC. Melihat pemikiran sebelumnya keberadaan hasrat berkonsumsi dan hasrat menabung terus disandingkan karena mereka memang berpasangan. Disebut kaya pada saat hasrat berkonsumsinya rendah dan hasrat menabungnya tinggi.

Dikatakan miskin ketika hasrat berkonsumsinya tinggi dan hasrat menabungnya rendah. Yang terjadi saat sekarang kita harus memperbesar transaksi, yang  perlu untuk dipikirkan dan direalisasikan adalah hasrat untuk berkonsumsi, memperbesar MPC. Tujuannya tidak semata-mata ‘menghabiskan’ anggaran, tapi lebih pada terjadinya transaksi dan pergerakan ekonomi sebagai agenda pemulihan ekonomi lokal.

Pertanyaannya sekarang, dengan memacu penggunaan anggaran yang Rp182 triliun, dengan hasrat berkonsumsi yang besar, seperti apakah penjelasannya supaya kita tidak divonis miskin? Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.