SURABAYA-KEMPALAN: Sejak jarum jam menyentuh angka tujuh pagi hingga menjelang tengah (07.00-22.00 WIB) atmosfer di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tak sekadar riuh oleh musik, melainkan bergetar oleh denyut nadi para penari. Memperingati World Dance Day 2026, UKM Tari UNESA menyajikan sebuah simfoni gerak bertajuk “Estafet Tubuh Menari”. Sebuah perhelatan yang bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan bahwa tubuh adalah ruang ingatan yang abadi.
Acara dibuka secara resmi oleh dua maestro akademisi seni, Prof. Dr. Warih Handayaningrum dan Prof. Dr. Trisakti, yang menandai dimulainya maraton artistik selama 15 jam nonstop.
Metafora Tubuh: Lebih dari Sekadar Gerak

Konsep “Estafet” yang diusung bukan sekadar perpindahan giliran di atas panggung. Ini adalah metafora transmisi energi. Lebih dari 20 seniman tari ternama tampil secara solo berkelanjutan, menciptakan benang merah artistik yang tak terputus.
Nama-nama besar seperti seniman kontemporer internasional Hari Ghulur, juara IMB Batara Sawerigadi, hingga sang maestro tari Bali I Nengah Mariasa, tampak melebur dalam alur ini. Tak ketinggalan, Dimas Bagus (Dimas Bapang) yang memukau lewat workshop eksklusif tari Topeng Bapang, serta Sekar Alit, sang Direktur Artistik sekaligus produser internasional yang merajut narasi ini menjadi tontonan berkelas dunia.
“Estafet Tubuh Menari adalah upaya merayakan tubuh sebagai ruang perjumpaan. Ini adalah pengalaman kolektif di mana memori dan semangat diwariskan langsung antar tubuh,” ujar Sekar Alit dengan nada yang filosofis.
Keunggulan Prodi Tari UNESA: Kawah Candradimuka Seniman Dunia

Perhelatan ini sekaligus menjadi etalase bagi Program Studi Tari UNESA yang kian mengukuhkan posisinya sebagai prodi unggulan nasional. Beberapa poin krusial yang menjadikan Prodi Tari UNESA sebagai standar emas pendidikan seni di Indonesia meliputi:
- Kurikulum Berbasis Industri Kreatif: Menyeimbangkan kedalaman tradisi dengan ketajaman manajemen seni pertunjukan global.
- Jejaring Internasional: Aktif dalam kolaborasi lintas negara yang membawa mahasiswa ke panggung-panggung dunia.
- Fasilitas Laboratorium Seni Terintegrasi: Ruang eksplorasi yang memungkinkan lahirnya karya-karya eksperimental dan kontemporer.
- Ekosistem Kolaboratif: Kedekatan antara praktisi profesional dan akademisi menciptakan lulusan yang siap kerja sekaligus siap berkarya.
Resonansi dari Ujung Timur hingga Barat
Daya tarik utama tahun ini adalah kehadiran lebih dari 35 sanggar tari yang menyatukan geografis Jawa Timur. Mulai dari hentakan magis Banyuwangi di ujung timur hingga keanggunan gerak dari Ngawi di ujung barat, semuanya tumpah ruah di UNESA.
Wakil Rektor IV UNESA, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Kes., memberikan apresiasi tajam terhadap pergerakan ini. Dalam komentarnya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara kesehatan fisik (atletisitas tubuh) dan intelektualitas seni.
“Estafet Tubuh Menari ini adalah representasi dari ‘Energi Kolektif’. Di UNESA, kami tidak melihat tari hanya sebagai hiburan, tapi sebagai disiplin tubuh yang membentuk karakter bangsa. Partisipasi puluhan sanggar dari Banyuwangi hingga Ngawi membuktikan bahwa UNESA adalah rumah besar bagi seluruh seniman. Ini adalah bukti nyata peran Wakil Rektor IV dalam mendorong kolaborasi strategis antara universitas, masyarakat, dan industri kreatif dunia,” tegas Prof. Dwi Cahyo Kartiko.
Menuju Masa Depan Ekosistem Tari
Dengan durasi yang fantastis dan keterlibatan lintas generasi, UKM Tari UNESA telah berhasil mengubah peringatan Hari Tari Sedunia menjadi sebuah dialog kebudayaan yang inklusif. Acara ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat bahwa selama jantung masih berdetak, tubuh akan terus menari, mengirimkan estafet pesan perdamaian ke seluruh penjuru dunia.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi