Sabtu, 7 Maret 2026, pukul : 04:49 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Larso memberi kejutan. Lama dia tidak bersurat, tiba-tiba saja ada surat dari Larso  untuk Hera. Amplop surat putih bergambar patung Ganesha jelas membuat Hera terhenyak. Larso yang pemalu dan sangat ndesit itu mengabarkan dirinya keterima di ITB. Ini surprise bagi Hera. Hera lalu ingat anak nakal yang dulu sering mengganggunya dengan jamu daun keladi yang dideplok dan bikin sekujur badan gatal-gatal saat mandi di sungai . Anak yang sering mengintipnya dari bawah  saat dia manjat jambu depan rumah itu kini membuktikan prestasinya. Larso yang hanya berani memandangi Hera di kuburan saat ritual nyekar malam Jumat itu meluncur ke papan atas prioritas pilihan Hera.

“Mulai sekarang kamu boleh balas suratku jeng.”

Demikian salah satu bunyi baris surat Larso. Tapi aneh alamat yang tertera adalah alamat kampus. Bagaimana Hera mau membalas surat Larso kalau alamatnya alamat kampus. Tapi  sudah ada nada keberanian di sana, tidak lagi hidup di bawah kekangan Omnya yang pejabat di salah satu departemen itu.

Tapi tidak kalah mencengangkan lagi kini Larso justru bercerita harus numpang di beberapa tempat untuk tidur dan mandi. Awalnya dia numpang di masjid Salman, lalu kadang tidur di pom bensin atau di mushola dekat kampus di daerah Taman Hewan atau di Lebak Gede. Atau malah kadang umpelumpelan dengan sesama temannya yang punya kos-kosan.  Sebulan pertama Larso diselamatkan dengan adanya program Penataran Pancasila. Paling tidak dalam sehari dapat makan sekali dan 2 kali snack. Ini sangat membantu tahap awal keberadaannya di Bandung. Dia bisa menghemat uang walaupun kalau malam masih sering merasa lapar. Selama beberapa hari tidur pindah-pindah. Dia punya kakak tetapi hubungannya sangat formal. Membuat dia nggak berani minta ijin tinggal di rumahnya.

Akhirnya dia kos setelah ada sumbangan uang dari kakak. Kakaknya yang bos perusahaan minyak multinasional engiriminya uang rutin meski minim .

“Aku makin mendekati impianku,” demikian Larso optimis. Dulu Larso tidak pernah berani mengatakan sebenarnya apa cita-citanya sehingga begitu serius belajar. Ternyata diam-diam dia punya impian kuliah ke Bandung. Meski pun Larso juga merasakan keminderan sebagai anak daerah . Baginya semua temannya pinter, tidak ada yang bodoh. Lain sekali dengan kondisi saat SD hingga SMA. Dia bisa merasakan bahwa dia cukup menonjol diantara teman-temannya, kini beda.

Hera makin senang bahwa dia berada di tengah para pria yang hebat. Meski Danang mulai tidak masuk dalam orbitnya, kini datang Larso. Ada dua pria tangguh yang menggantikan kepergian Danang. Agung yang serius dan meledak-ledak dan Larso yang santai cenderung minder  tapi berprestasi. Ini beda sekali dengan karakter Danang.

Surat Larso menghibur Hera. Dia membalas dengan bercerita gimana dia shock hidup di kota besar Jakarta. Beda sekali dengan kehidupan dia di desa. Meskipun di desa ada juga gangguan orang seperti Jimo atau tolakan keluarga pak camat tapi Jakarta sepertinya memberi beban berat bagi Hera. Apalagi kakeknya mulai mengeluh kesepian ditinggal Hera.

Di kampus dia jadi bahan gojlokkan ketika ospek di kampus. Nama-nama Batak, NTT, Ambon  yang beraneka warna mulai menganggu kuping Hera. Bagi dia nama itu ya Sugeng, Slamet, Budi,Heru dan sebagainya. Kakak kelasnya ada Pardede, Hasudungan , Cristofel. Nama-nama yang asing di telinga. Nama-nama itu yang kejam di saat ospek di kampus.

meminta yang aneh-aneh, memaki sebagai gadis kampung tapi suka nggodain Hera di luar acara ospek.

Dia pun harus setiap hari naik turun bis kota. Mana nama mbahnya tiap hari disebut para kondektur bis kota..’ Mangun..Mangun’…Dia mau protes orangtua kok dipakai guyonan  tapi memang begitulah Rawamangun biasa disebut. Belum perutnya yang mual mencium bau solar tiap hari. Tapi Dia harus menghadapi itu. Memang selama ini hidupnya tidak pernah berjalan mudah.

Suatu pagi saat duduk di halte menunggu bis, seorang kakek tua, seumuran mbahnya bercerita sambil menghiba. Herapun bertanya basa-basi,

“Mau kemana kek?” tanya Hera kasihan melihat penampilan kusut kakek itu.

“Kakek ngak punya uang neng. Mau nyari anak,  katanya dia jualan lotek di pasar Senen.”

Hera pun kasihan. Dia kasihkan uang sangunya untuk kakek itu seluruhnya sambil menunjukkan rute bis menuju ke Senen.

Hera begitu bangga bisa membantu kakek itu walaupun dirinya dalam keadaan kepepet tapi mampu memberi bantuan. Pada hari berikutnya ketemu lagi kakek itu. Kata si kakek belum sempat ketemu anaknya. Hera pun memberikan uang sangunya. Hari itu dia rela jalan kaki ke kampus sejauh 1,5 km.

“Mbak tadi menyelematkan orangtua. Kasihan, ngak punya uang.” Cerita Hera dengan bangga ke adiknya Hero.

“Pengemis?”

“Iya tapi mau nyari anaknya?”

“Sudah berapa kali ketemu?” tanya Hero adiknya.

“Lho ya sering.”

“Bisa ya baru kenal ngobrol soal anaknya. Dia tidak pantas dikasihani. Dia itu pegemis. Kalau nyari anaknya yang nggak berulang kali ada di Halte. Kamu ditipu mbak, ketipu,” Hero sambil tersenyum sinis.

“Wah nggak percaya, dia pantes dikasihani. Mbak yakin sudah menolong orang yang tepat.”

“Ya sudah mbak. Saya di Jakarta lebih lama. Saya tahu karakter  orang di kota besar. Jangan terlalu polos seperti di Turus mbak. Bahkan di Tulus pun ada orang seperti lik Jimo. Ingat. Jangan lugulah.”

Hera merasa kesal sudah berbuat kebaikan sampai dibelain jalan kaki malah dituduh tertipu.

Suatu siang datanglah petugas kelurahan. Hera yang menemui.

“Ada apa pak?”

“Lho anda siapa?”

“Saya anaknya Pak Ngadiman. Ada yang bisa saya bantu?”

“Hmm. Kok jarang kelihatan mbak. Bapak kok sudah dua bulan tidak lapor?

“Saya memang nggak tinggal di sini. Sejak bapak ditahan keluargaku hidup susah. Kami harus berbagi beban dengan keluarga lain agar bisa bertahan hidup. Bapak terbaring sakit di tempat tidur.”

“Tapi kan wajib lapor?”

“Lho kenapa harus lapor?”

“Ya demi stabilitas nasional.”

“Waduh bapak dalam keadaan lemah, sakit. Bisa mengganggu stabilitas nasional apa? Apakah bapakku tokoh penting yang bisa bikin kondisi tidak stabil?  Sehingga begitu takut pemerintah sama bapak saya. Dulu lapor mingguan, bulanan, sekarang baru dicari sesudah dua bulan. Kok seperti kontrol kehamilan saja.”

“Ya kan kita harus mengawasi para mantan tahanan politik.”

“Bapak saya pulang dalam keadaan kurus, layu dan sakit-sakitan pak. Mungkin sebenarnya akan dibunuh pelan-pelan di penjara kan? Tapi Tuhan masih mengijnkan bapak ketemu anak istrinya.”

“Ya kan salah bapak mbak.”

“Bapak lihat saja bapakku. Orang sakit bisa apa? Apa nggak cukup bapak menderita 14 tahun di penjara? Pulang badan layu, kurus , tua.”

“Saya hanya menjalankan tugas.”

Ibu Hera ikut emosi, gara-gara mendengar kata ‘yang salah bapak’ hingga ikut nimbrung pembicaraan itu.

“Salah versi siapa? Suamiku ikut organisasi resmi, sebagai ketua serikat buruh. Tidak pernah korupsi, tidak pernah maling, tidak menyusahkan orang. Suamiku hanya memperjuangkan agar para buruh bisa lebih sejahtera. Salahnya dimana?”

Petugas itu diam saja tidak siap mendapat serangan bertubi-tubi dari Hera dan ibunya.

“Bilang saja ke atasanmu kalau suamiku sudah lapor. Kasih tahu kalau suamiku sakit, nggak bisa bangun. Kerja untuk siapa bapak-bapak ini?”

“Iya bu terima kasih, saya kerja untuk pemerintah yang menggaji saya. Saya pamit dulu.”

Baru itu Hera tahu bahwa bapaknya diminta lapor ke kelurahan setiap minggu, setiap bulan. Padahal saat ini sudah tahun 1983, ketakutan apalagi yang dirasakan pemerintah sementara para tertuduh tanpa diadili sudah dihabisi, sampai akar-akarnya. Tanpa pembelaan.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.