Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 04:32 WIB
Surabaya
--°C

Lepasnya Momentum Peningkatan Konsumsi, dengan Apa Harus Diganti?

KEMPALAN: Tidak beda dengan sebuah pertandingan sepak bola yang kadangkala memunculkan peluang emas melalui tendangan penalti untuk mencetak gol, pun demikianlah agenda Pemulihan Ekonomi Nasional. Momentum Idul Fitri layaknya tendangan penalti untuk mencetak gol meraih kemenangan.

Namun sayang, peluang emas kali ini, Idul Fitri saat ini kembali belum berhasil dimaksimalkan untuk lebih menggerakkan ekonomi setelah Idul Fitri tahun lalu juga gagal dimanfaatkan. Persis seorang eksekutor penalti yang gagal mencetak gol.

Wajar, deretan pemain terbaik dunia pun pernah gagal mencetak gol melalui titik putih penalti. Bisa disebut Diego Maradona, Christiano Ronaldo sampai Lionel Messi. Jajaran pemain kelas satu ini pernah gagal memanfaatkan peluang emas tersebut.

Seperti itulah kita, yang gagal memanfaatkan peluang emas. Idul Fitri, sejatinya adalah momentum kelas satu untuk meraih peningkatan konsumsi sebagai media peningkatan transaksi dalam pemulihan ekonmi sekarang ini.

Sejatinya, pemerintah pun sudah memiliki agenda sebagai pengungkit ekonomi selama Ramadhan – Idul Fitri,  program peningkatan daya beli dan program pendorong konsumsi. Ada THR Karyawan Swasta dan Pegawai ASN, Program Percepatan Perlindungan Sosial, Penyaluran Bantuan Beras, Program Hari Belanja Online Nasional, juga Kampanye Bagi Kurma (kado untuk keluarga di rumah).

Agenda-agenda  tersebut sangat nyata adalah untuk mengerek konsumsi karena selama ini kontribusi konsumsi terhadap Produk Domestik Bruto juga cukup signifikan, 60%.  Dengan kucuran dana di kisaran Rp 203,9 triliun sampai akhir 2020 yang dikeluarkan pemerintah dalam berbagai bentuk; Bantuan Sosial, Bantuan Langsung Langsung Tunai, Dana Desa, Subsidi Listrik, juga Program Keluarga Harapan, pemerintah sangat berharap daya beli Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) meningkat.

Di luar Idul Fitri, sebenarnya ada momentum-momentum lain yang sebenarnya sangat potensial untuk menaikkan konsumsi. Ada Tahun Baru, ada Imlek, Ramadhan, Idul Adha, Natal, juga Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Ramadhan dan Idul Fitri yang waktunya berimpitan dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang adalah pimpinan klasemen momentum peningkatan konsumsi. Di semua tingkatan dan di semua lini mengalami peningkatan transaksi.

Dimensi ekonomi di masa Idul Fitri sangat terasa bahkan bisa dikatakan saling salip dengan dimensi religiusitasnya, meskipun untuk sampai pada kesimpulan yang sebenarnya masih memerlukan kajian lebih lanjut. Peningkatan daya beli  didukung tradisi konsumsi Idul Fitri yang sudah mengakar kuat dan menjadi budaya tentunya sulit dihadang jika dari sisi internal konsumen.

Namun dari sisi eksternal, konsumen bisa saja dibuat tak berdaya. Sebutlah pelarangan mudik, ini adalah salah satu bentuk barrier bagi masyarakat untuk berkonsumsi lebih selama Ramadhan – Idul Fitri. Konsumsi Idul Fitri dua tahun ini, yang sudah terkendala faktor eksternal berupa pandemi Covid-19 masih ditambah pelarangan mudik sebagai upaya pemutus rantai penularan Corona.

Kesimpulannya jelas; lepasnya momentum peningkatan konsumsi. Momentum terdekat yang mampu diberdayakan sebagai upaya peningkatan konsumsi segera setelah Idul Fitri di Mei ini adalah Idul Adha yang jatuh pada pertengahan Juli 2021.

Satu yang harus dicatat bahwa pergerakan ekonomi Idul Adha selama ini belumlah sebesar pergerakan ekonomi Idul Fitri. Memahamai hal tersebut tentu pertanyaannya adalah, lepasnya momentum peningkatan konsumsi Idul Fitri, harus diganti dengan apa?

Salam, kita tunggu saja strategi pengambil keputusan sambil ngopi. (Bambang Budiarto – Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.