Selasa, 21 April 2026, pukul : 08:46 WIB
Surabaya
--°C

Bergeser ke Digital Nomad?

KEMPALAN: Madangkara, kerajaan di wilayah barat tanah Jawa ini cukup makmur di bawah kepemimpinan Brama Kumbara. Sakti, adil, dan bijaksana. Kisah berlatar belakang abad 13 yang dimunculkan tahun ’80-’90 an oleh Nicky Kosasih ini akhirnya menorehkan catatan sebagai  sandiwaran radio terlama yang pernah ada.

Sebagai seorang raja, Brama yang tokoh fiktif ini digambarkan lebih sering mengembara menyamar sebagai rakyat biasa untuk memastikan bahwa seluruh rakyat Madangkara dalam keadaan aman, sehat, sejahtera. Dalam bahasa sekarang mungkin ini adalah kepala daerah yang suka blusukan. Begitulah Brama Sang Pengembara dengan Ferry Fadli sebagai dubber yang tak tergantikan sampai hilangnya serial ini.

Ribuah tahun kemudian di abad 21 ini ternyata kembali muncul pengembara. Seiring dengan perubahan jaman, perubahan peradaban, perubahan teknologi, dan perubahan di segala bidang, yang muncul adalah pengembara digital (digital nomad). Tentu saja dengan maksud dan tujuan yang berbeda dengan pengembaraan Brama Kumbara.

Digital nomad dipahami sebagai seseorang yang bekerja berbasis digital  atau memberdayakan tools online di tempat yang dipilih secara mandiri di manapun yang mereka suka. Seorang digital nomad sering dikatakan independen secara lokasi karena memilih lokasi kerja sendiri.

Digital nomad telah meruntuhkan pemahaman bahwa orang bekerja harus berada pada suatu ruang tertentu, dengan seragam tertentu, jam kerja tertentu dan beberapa ketentuan lain yang sangat mengikat dan berkonsekuensi pada hak pekerja tersebut. Eksistensi digital nomad semakin nyata di masa pandemi Covid-19 yang memunculkan kebijakan dan peraturan bahwa aktivitas harus minim dan menghindari kerumunan.

Berangkat dari pemahaman yang demikian maka semakin suburlah tumbuh perkembangan digital nomad, tidak jauh berbeda dengan perkembangan digital payment yang cukup signifikan di era pandemi ini. Pada tahapan berikut keberadaan digital nomad tak dapat dibendung lagi.

Fakta ini sulit diingkari sejalan dengan munculnya milenial yang juga lebih mahir dalam melakukan pekerjaan berbasis teknologi digital. Bekerja sambil berwisata, berwisata sambil bekerja. Hal yang dapat dilakukan dengan mudah oleh seorang digital nomad, tidak seperti jenis dan bentuk pekerjaan di masa sebelumnya, bahwa bekerja harus berada dalam batasan ruang dan waktu.

Mencermati keberadaannya, digital nomad tetap sebagai sebuah bentuk tenaga kerja. Sesuai konseop dasar ketenagakerjaan, dapat terbagi menurut sifatnya, kemampuannya, jenis pekeraannya, dan hubungannya dengan produk. Digital nomad masuk dalam kelompok tenaga kerja yang memiliki keterkaitan tidak langsung dengan output.

Jika dalam sebuah kelompok, maka pekerjaan yang dilakukan oleh digital nomad tentunya tidak lagi berorientasi pada proses seperti kebanyakan pekerja yang bekerja dengan batasan ruang dan waktu.  Orientasinya tentu juga sudah bergeser menjadi orientasi output, tidak lagi orientasi proses.

Pimpinan perusahaan atau pelanggan tidak lagi memikirkan proses yang dilakukan oleh digital nomad, namun lebih berpikir pada hasil atau perolehan dari yang dilakukan oleh digital nomad.  Terkait derasnya perkembangan digital nomad, catatan pentingnya adalah pengenaan pajak terhadap digital nomad jika dia bekerja mandiri, juga masalah legalitas, sebagai wisatawan ataukah sebagai tenaga kerja.

Situasi yang demikian dapat melahirkan ambiguitas tersendiri yang dapat disiasati oleh digital nomad untuk berbagai kepentingannya. Kemudian  masalah adaptasi tradisi dan budaya seorang digital nomad dengan masyarakat.

Sering berpindah-pindahnya tempat tentu memerlukan strategi penyesuaian tersendiri agar tidak melukai tatanan yang ada dalam masyarakat tersebut. Memahami fakta yang demikian, kita pun mulai sekarang sejatinya harus rela menerima keberadaan digital nomad.

Pertanyaannya adalah, benarkah keberadaan digital nomad akan memunculkan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi dibanding sebelumnya? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.