Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

Pak Gossen, Ada yang Bapak Lupakan…

  • Whatsapp

KEMPALAN: Di saat seru-serunya Pangeran Diponegoro bertaruh nyawa bertempur melawan kolonialisme di seputaran 1825 – 1930 mempertahankan setiap jengkal bumi nusantara, ternyata jauh di seberang dengan ribuan kilometer jaraknya, ada Hermann Heinrich Gossen dengan kegelisahan demi kegelisahan. Tidak dalam pertarungan di medan laga tapi berperang dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantuinya.

Berpikir keras di masa hidupnya, 1810 – 1858 di Jerman tanah kelahirannya. Anggannya jauh tinggi di awan penuh tanda tanya, bagaimana mungkin seseorang yang mengkonsumsi barang yang sama dengan harga yang sama juga kualitas yang sama di tempat dan suasana yang sama, namun mendapati kepuasan yang berbeda-beda. Demikianlah awal lahirnya Hukum Gossen. Kurang diperhatikan anak-anak sekolah menengah pada saat dijelaskan, namun sejatinya hampir selalu dan pernah dialami oleh semua orang.

BACA JUGA

Mukidi sebagai sosok yang jarang berolah raga di satu kesempatan coba lari 1.500 meter mengitari stadion. Sesaat di langkah terakhir larinya, tanpa berpikir panjang Mukidi mengambil air mineral dalam kemasan gelas plastik. Hilang haus dahaga, kenikmatan optimal didapat segera. Kepuasannya mencapai puncak atas konsumsi segelas air mineral tersebut.

Dengan situasi masih menyusun tarikan nafas satu demi satu, kembali Mukidi mengambil air mineral kemasan gelas platik yang kedua. Basah tenggorokannya, namun kenikmatan gelas kedua ini sudah tidak senikmat pada saat minum gelas yang pertama. Itulah ide dasar Hukum Gossen.

Sampai akhir hayatnya di 1858, ada dua Hukum Gossen yang diungkap oleh Hermann Heinrich Gossen, Hukum Gossen 1 dan Hukum Gossen 2. Secara lebih gampang dapat dipahami bahwa kepuasan yang didapat dari mengkonsumsi barang yang terus menerus pada titik tertentu akan mendatangkan kejenuhan yang pada gilirannya memunculkan indikasi  menurunnya tingkat kepuasan.

Itulah dan siapapun boleh mencoba kebenaran Hukum Gossen ini. Selanjutnya setelah lebih dari 150 tahun kepergian Gossen kita sekarang sedang berada di masa yang tidak diduga duga sebelumnya, pandemi Covid-19. Muncul sebuah masa seorang anak manusia dituntut untuk di rumah terus-menerus melakukan aktivitasnya.

Pekerjaan dan liburan adalah sebuah bentuk aktivitas. Boleh diperbandingkan, jika Hukum Gossen karena mengkonsumsi barang tertentu beberapa kali dapat melahirkan titik kejenuhan yang pada gilirannya menjadikan kepuasan menurun, bagaimana dengan work from home saat sekarang ini.

Aktivitas yang sama, dilakukan di tempat yang sama, suasana yang sama dalam  beberapa kali. Implikasinya sepertinya sama dengan Hukum Gossen. Pada titik tertentu akan menghasilkan kejenuhan yang pada gilirannya menciptakan penurunan kepuasan. Ini yang tampaknya dilupakan dan tidak dipikirkan oleh Gossen, bahwa ternyata terdapat situasi yang hampir sama, namun dengan akibat yang tidak berbeda. Mengkonsumsi barang secara terus menerus dan melakukan aktivitas secara terus-menerus.

Mencermati pemahaman yang demikian rasanya tidak berlebihan jika pandemi Covid-19 telah menyadarkan pemikiran bahwa dimungkinkan dibuatnya “diversifikasi” Hukum Gossen. Fakta yang demikian semakin menjadi-jadi di hari-hari menjelang tahun ajaran baru, baik di tingkat dasar, menengah, ataupun pada jenjang pendidikan tinggi.

Kejenuhan pelaku pendidikan, baik pendidik ataupun anak didik untuk belajar di rumah sudah di ubun-ubun. Kepuasan suasana pembelajaran tidak lagi menurun, namun sudah dapat dikatakan terjun bebas. Pak Gossen, ternyata masih ada yang belum bapak selesaikan.

Memikirkan kejenuhan bukan karena berulang kali mengkonsumsi barang yang sama, namun karena melakukan aktivitas yang sama. Pertanyannya sekarang adalah, salahkah Pak Gossen? (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)  

Berita Terkait