Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 04:14 WIB
Surabaya
--°C

Di Balik Ayunan Gada Piala Gubernur Jatim 2026: Saat Kursi Roda Meruntuhkan Batas Lapangan Woodball

SIDOARJO-KEMPALAN: Tepuk tangan riuh mendadak sunyi berganti haru di rumput hijau Stadion Jenggolo, Sidoarjo. Di tengah kompetisi sengit Woodball Tournament Piala Gubernur Jatim Open 2026 yang berlangsung pada 14–17 Mei 2026, sebuah pemandangan tidak biasa memaku pandangan ratusan pasang mata.

Sebanyak 13 atlet difabel berkursi roda tampak sejajar di garis awal, siap mengayunkan gada (mallet) melawan keterbatasan.Turnamen bergengsi ini diikuti oleh 400 atlet dari 9 provinsi, 8 klub, serta 11 kota/kabupaten. Kehadiran pejabat teras mulai dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Timur, Bupati Sidoarjo, Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jatim, hingga Ketua Umum KONI Jatim, M. Nabil dan ketua umum IWba menegaskan status kompetisi ini sebagai ajang nasional yang prestisius. Namun, sorotan utama justru bergeser dari papan skor ke sudut lapangan tempat para atlet luar biasa ini berjuang.

Ketua Pengurus Provinsi Indonesia Woodball Association (Pengprov IWbA) Jawa Timur, M. Ali Kuncoro, menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan di atas kertas.”Woodball adalah olahraga untuk semua. Kehadiran 13 atlet difabel ini bukan pelengkap, melainkan tamparan bagi kita yang fisik sempurna namun sering mengeluh. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak mampu memenjarakan semangat juang,” ujar Ali Kuncoro dengan nada bergetar.

Kehadiran para atlet ini memicu getaran emosi mendalam di tengah stadion. Aulia Rahma, salah satu atlet difabel yang turun bertanding, menyampaikan kalimat yang menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.”Kami tidak butuh kasihan, kami hanya butuh kesempatan. Di atas kursi roda ini, saat tangan saya mengayun gada dan bola itu masuk gawang (gate), di sanalah saya merasa utuh sebagai manusia,” ungkap Aulia dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketegasan.

Empati mendalam juga ditunjukkan oleh Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (PERWOSI) Jawa Timur, Arumi Bachsin Dardak. Seusai pembukaan, Arumi langsung menghampiri barisan atlet difabel. Ia berlutut menyamakan tinggi badannya, mengajak mereka berdialog kecil penuh kehangatan, sebelum akhirnya berswafoto bersama.”Melihat mereka bertanding membuat dada saya sesak oleh rasa kagum. Ini bukan lagi soal menang atau kalah, ini adalah perayaan kemanusiaan.

PERWOSI Jatim akan terus mengawal agar ruang-ruang olahraga seperti ini semakin ramah untuk saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus,” kata Arumi emosional.Senada dengan Arumi, Ketua PERWOSI Kabupaten Sidoarjo, Sristun, menyatakan rasa bangganya karena Sidoarjo dipilih menjadi saksi sejarah runtuhnya batas-batas perbedaan dalam olahraga.”Stadion Jenggolo hari ini mencatat sejarah. Kami dari PERWOSI Sidoarjo berkomitmen memastikan fasilitas dan dukungan moral bagi atlet difabel tidak boleh berhenti di turnamen ini saja. Mereka adalah pahlawan olahraga yang sesungguhnya,” tutur Sristun menutup wawancara.Turnamen Piala Gubernur Jatim 2026 ini pada akhirnya bukan sekadar mencari juara, melainkan melahirkan standar baru dalam dunia olahraga nasional: bahwa lapangan hijau adalah milik siapa saja yang menolak untuk menyerah pada keadaan.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.