Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

Kembali ke Selera Asal, Pulanglah ke Emas

  • Whatsapp
Bambang Budiarto

KEMPALAN: Deg deg blas atau dag dig dug adalah debaran di dada yang dirasa sangat menggelora. jantung berdetak lebih kencang, seakan langit runtuh bumi terbelah. Gambaran perasaan yang tak terkira karena adanya ketidakpastian. Situasi demikian bisa menyasar ke mana-mana dan kepada siapa saja, tidak terkecuali kelompok masyarakat pemilik banyak uang.

Hari-hari ini, para pemilik uang (baca: investor) dibuat kepikiran. Harap-harap cemas atas investasinya pada beberapa bentuk dan jenis surat berharga. Simpanan jangka panjang ataupun jangka pendek dalam rekening-rekening perbankan masih menunggu kepastian perolehan nilainya.

BACA JUGA

Yang berinvestasi di properti termasuk tanah juga penanaman pohon jati dan sejenisnya  juga merasa belum aman-aman betul. Apalagi yang memutar uangnya dengan berwirausaha dalam  waralaba ataupun unit-unit kegiatan ekonomi yang dimilikinya secara mandiri, dirundung kecemasan atas daya beli dan fluktuasi mata uang.

Keseluruhan bentuk-bentuk investasi tersebut nyaris bersinggungan dengan situasi ekonomi kekinian; tingkat bunga, kurs, inflasi, pertumbuhan ekonmi, jumlah uang beredar, pajak, stabilitas,  dan lain-lain sampai pada yang non-ekonomi, pandemi Covid-19. Belum lagi kemungkinan yang lain seperti akan datangnya tapering off the fed, defisit neraca pembayaran, ledakan jumlah penduduk diikuti tambahan jumlah pengangguran, serta bentuk-bentuk pengenaan pajak terbaru.

Keseluruhannya berpengaruh terhadap segala bentuk investasi yang tentu saja muaranya adalah para investor atau pemilik uang. Beberapa waktu lalu ketika sebuah pariwara dalam beberapa media bertubi-tubi menawarkan produk terbarunya, dalam diam produk lama cukup mengatakan ‘kembalilah ke selera asal, pulanglah ke produk sebelumnya.”

Pun demikian dengan investasi, ketika sudah dibuat ruwet dengan prospektus, portofolio, diskon rate, juga analisis teknik-nya, serta keharusan memahami situasi ekonomi terkini dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, dan ketika tidak mau berurusan dengan segala keruwetan tersebut, pemilik uang bisa kembali berinvestasi dengan cara tradisional, emas.

Emas dalam arti yang sebenarnya, emas fisik. Emas secara kimiawi tahan terhadap korosi maupun oksidasi. Sebagai sebuah logam mulai keberadaannya dianggap mengikuti peradaban zaman, oleh karenanya menjadi alat ukur yang standar sesuai masanya. Memiliki nilai yang cenderung naik meskipun pada beberapa titik tertentu menurun karena hempasan gejolak sesaat.

Tahan goncangan inflasi ataupun indikator makro ekonomi yang lain bahkan  dalam beberapa situasi tidak perlu bersinggungan dengan pajak seperti halnya investasi yang lain. Sebagai alternatif solusi investasi, emas memang cukup memikat, tidak perlu membuat berpikir dan kepikiran bagi pemiliknya bahkan  memiliki likuiditas yang lebih baik dibanding yang lain.

Silahkan The Fed mengeksekusi Tapering-nya,  emas mungkin terguncang tapi sesaat, setelahnya akan normal dalam grafik yang increasing. Tapi seindah indahnya ciptaan pasti ada kelemahannya, pun demikian emas.

Secara individu mungkin positif bagi pemiliknya, namun secara makro, investasi emas kurang berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Perubahan atau kenaikan harga emas berpengaruh positif bagi pemilik emas, namun kenaikan ini kurang memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Kenaikan harga emas tidak mampu mendorong pergerakan uang dan barang-barang yang lainnya. Di sinilah bedanya dengan saham misalnya, pergerakan harga saham memiliki kontribusi positif terhadap perekonomian secara nasional sebab didalamnya ada unsur re-investasi.

Pertanyaannnya sekarang, jika emas adalah pilihan investasi bagi para pemilik uang supaya terhindar dari rasa deg deg blas, bagaimanakah dengan kelompok masyarakat yang tidak memiliki uang supaya terhindar dari rasa deg deg blas? Salam. (Bambang Budiarto– Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

 

Berita Terkait