KEMPALAN: Goldilocks, gadis kecil manis cantik berambut keemasan. Tokoh ciptaan Joseph Cundall yang dimunculkan tahun 1904 dalam cerita anak dunia “Goldilocks and The Three Bears” ini sebenarnya sudah mengalami beberapa kali metamorfosis sejak 1849. Sudah pula dibuat versi animasinya dan kalau disinetronkan mungkin ketokohan Goldilocks mirip dengan Reyna di “Ikatan Cinta”-nya Andin-Aldebaran.
Terdorong rasa lapar dalam satu perjalanan, Goldilocks yang menemukan tiga mangkok porridge (susu+sereal) coba mencicipinya. Mangkok pertama dirasa sangat panas, pindah ke mangkok kedua ternyata begitu dingin, pada mangkok ketiga terasa suhunya pas, dinikmatilah porridge yang sebenarnya bukan miliknya.
Enak, nyaman, tapi tidak aman, demikian pikir Goldilocks. Karena kenyang diapun ingin tidur yang disana sudah tersedia tiga ranjang. Ranjang pertama terlalu besar, yang kedua terlalu kecil. Ranjang ketiga dirasa pas, dia pun tertidur pulas, namun sesaat kemudian datang orang lain membangunkan dan mengusirnya.
Penggalan kisah inilah yang di pertengahan 1990 akhirnya memunculkan istilah “ekonomi goldilocks”, gambaran sebuah kinerja positif ekonomi yang tidak terlalu panas pun tidak terlalu dingin. Tidak kepanasan boleh dipahami sebagai situasi perekonomian suatu negara yang tidak mengundang inflasi, dan tidak kedinginan yang berarti keadaan perekonomian suatu negara yang dapat terseret dalam jurang resesi.
Mencermati hal yang demikian berarti ini adalah keadaan ideal perekonomian suatu negara karena ditandai dengan ketersediaan lapangan kerja secara penuh dan stabil. Tentu saja untuk sampai pada kondisi stabil tersebut memerlukan peran yang begitu besar dari dua kebijakan dalam makro ekonomi, fiskal, dan moneter secara bersama-sama.
Raihan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 masih minus 0,74% yang berarti kita semua masih “kedinginan” di dalam jurang resesi yang sama sejak 2020. Ada lima negara memang yang telah memproklamirkan diri segera melepas “topeng”, bebas beraktivitas tanpa masker karena pandemi Covid-19 telah tertangani dengan baik; Israel, Buthon, China, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.
Dari beberapa indikator yang ada, Indonesia pun sebenarnya bisa. Penanganan pandemi sudah lebih terkoordinasi dibanding sebelumnya, konsistensi pelaksanaan vaksinasi yang tetap terjaga di tengah keraguan atas vaksin Astra Zeneca batch CTMAV-547, pengetatan protokol kesehatan, stimulus fiskal yang bertubi-tubi, kenaikan nilai ekspor, dan beberapa indikator positif makro ekonomi yang lain.
Semua menuju optimisme bahwa kita bersama-sama akan mampu untuk sampai pada zona ekonomi goldilocks. Kondisi ekonomi ideal, baik dari sisi permintaan, penawaran, maupun keseimbangannya.
Catatan pentingnya, ekonomi goldilocks ini tidak bertahan lama. Persis goldilocks kecil yang tidak bertahan lama menikmati kenyang dan lelap tidurnya, karena semua itu bukan miliknya. Satu alasan utamanya, ekonomi goldilocks memiliki trade-off pada saat sebuah tujuan telah tercapai.
Simulasinya, untuk sampai pada pengurangan jumlah pengangguran tentu saja pertumbuhan ekonomi harus tinggi. Ketika pertumbuhan ekonomi sudah tinggi sebagai syarat terserapnya supply tenaga kerja, ternyata memunculkan inflasi.
Ini salah satu dari sekian yang dimungkinkan terjadi dalam ekonomi goldilocks yang pada gilirannya menjadikan ekonomi goldilocks itu sendiri tidak dapat bertahan lama. Goldilocks, gadis kecil berambut keemasan satu saatpun akan dewasa menjelma menjadi remaja cantik dengan tetap berambut keemasan. Akhirnya Goldilocks akan tua juga dengan rambut bukan lagi keemasan, tapi memutih.
Jika kajiannya adalah Goldilocks di usia senja, masihkah ekonomi goldilocks tetap menjadi representasi kondisi ekonomi yang ideal? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi