Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 11:23 WIB
Surabaya
--°C

Selenggarakan Diskusi Umum, LSSB FISH UNESA Ingin Membuka Pandangan tentang Isu Myanmar

SURABAYA-KEMPALAN: Kudeta dan demonstrasi Myanmar telah menimbulkan isu-isu yang melibatkan seluruh entitas internasional. Senin (1/2) telah terjadi perebutan kekuasaan Myanmar oleh militer yang disusul oleh unjuk rasa warga sipil pada selasa (2/2) dan masih bertahan hingga sekarang. Kejadian di Myanmar ini kemudian memantik Lingkar Studi Sosial dan Budaya (LSSB) FISH UNESA untuk mengadakan diskusi umum dengan tema “Burma: Militer, Demokrasi, dan Geopolitik Kawasan Asia Tenggara.”

Diskusi umum yang diadakan pada hari Rabu (31/3) sore, diisi oleh Prof. Peter Carey, sejarawan asal Inggris, Airlangga Pribadi, dosen Ilmu Politik UNAIR, dan Dimas Anggara, yang sedang menempuh magister Sejarah UGM. Diskusi ini bertujuan untuk membuka pandangan tentang apa yang terjadi di Myanmar dan sejarahnya.

Peter Carey mencoba menjelaskan sejarah Myanmar (yang dulu bernama Burma) dari awal terkolonisasi oleh Inggris pada abad ke 18 hingga saat ini. Adjunct Professor FIB UI itu menjelaskan bahwa jajahan Inggris tidak selamanya maju layaknya Singapura dan Malaysia. Carey mencoba mengajak para audiens untuk merefleksikan bahwa yang terjadi di Burma tidak sebaik jajahan Inggris lainnya.

Penjajahan Inggris membuat beberapa perubahan terhadap Burma seperti peta politik, peta etnis, dan kekayaan alam. Carey juga menyebutkan bahwa Tiongkok memiliki kepentingan di Burma dan sempat mengintegrasikan Burma dengan India.

Burma merdeka dirintis oleh Aung San yang merupakan ayah dari Aung San Suu Kyi. Pada titik ini, dinamika politik dari Burma dimulai. U Nu yang menjadi Perdana Menteri pada periode 1947-1962 dikudeta oleh Ne Win yang militeristik berkuasa hingga pada tahun 2010 yang digantikan oleh pemerintahan demokratis.

Menurut Dimas Anggara, isu sosialisme yang diangkat oleh Ne Win mampu menarik simpati masyarakat sehingga pemerintahannya berjalan hampir 50 tahun.

Di tengah pemerintahan yang militeristik, terdapat pergerakan demokrasi yang digagas oleh Aung San Suu Kyi pada tahun 1988. Aung San Suu Kyi yang karismatik memimpin gerakan pemberontakan massal. Wanita itu juga mendirikan partai demokrasi yang dinamakan National League for Democracy (NLD).

diskusi-lssb-2

Peter Carey juga menjelaskan mengenai tantangan Myanmar di masa depan, yakni militer yang masih memegang kendali di Myanmar serta konstitusi yang belum berhasil memecahkan masalah tentang konstitusi yang mengatur dwifungsi Tatmadaw atau tentara Myanmar.

Carey juga memaparkan bahwa Aung San Suu Kyi bisa jadi gagal sebagai presiden. Selain itu, isu kedaulatan Birma terhadap Tiongkok, isu etnis, isu ekonomi, dan isu kedudukan tentara menjadi tantangan terbesar terhadap pemerintahan demokratis Myanmar.

Namun, Kudeta Myanmar saat in , menurut Peter Carey merupakan kegagalan pemerintahan demokratis. Carey mengatakan, “Aung San Suu Kyi memang karismatis, tapi kurang sebagai politikus.”

Pernyataan ini diperkuat oleh Dimas Anggara bahwa kudeta yang saat ini terjadi baik aktor utama maupun yang melawan tidak melibatkan kaum muda sebagai sorotan. “Kebanyakan pelaku utama politik Myanmar adalah yang sudah berkepala enam,” tambahnya.

Dimas Anggara juga mempertegas bahwa kudeta Myanmar ini merupakan perhatian dari seluruh negara dunia dan tentu saja akan mendapatkan konsekuensi dari sistem internasional.

Diskusi mengalir dengan menarik dengan forum yang kurang lebih berjumlah 150 peserta. Terjadi diskusi interaktif antara peserta dengan narasumber yang membahas tentang dinamika yang ada di Burma atau Myamar. Agenda pembahasan ini ditutup dengan kesimpulan oleh moderator pada pukul 17.00 sore. (Belva Dzaky Aulia)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.