Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 08:48 WIB
Surabaya
--°C

Perang Dunia Ketiga, Manusia vs Covid 19

KEMPALAN: Zaman dulu orang mengira bumi ini datar dan ceper seperti piring. Tapi kemudian diketahui bumi bulat seperti bola. Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan hal itu, dan pandangan bahwa bumi itu flat datar sudah kuno dan malah dianggap takhayul.

Tapi sekarang di abad ke-21  pandangan bahwa bumi itu datar muncul lagi. Ini bukan pandangan takhayul, malah sebaliknya, pendapat ini muncul dari wartawan dan pemikir terkemuka Amerika Serikat, Thomas Friedman yang pada 2005 menulis buku best seller “The World is Flat: A Brief History of the Twenty First Century”.

Tentu yang dimaksud Friedman bumi ceper bukan dalam artian geografis, tetapi lebih dalam artian kiasan teknologis. Kalau dulu ketika dunia masih bundar satu titik dunia tidak kelihatan dari titik lainnya. Ada satu bagian yang gelap dan ada bagian lainnya yang terang. Kadang ada satu bagian dunia yang ada di bawah lalu kemudian, karena rotasi bumi, berputar ke atas.

Lalu pada abad ke-21 tiba-tiba dunia menjadi ceper, semua bagian dunia bisa dilihat dari sisi manapun. Temuan teknologi informasi internet menjadikan dunia terkoneksi menjadi satu dalam jaringan w.w.w, worlwide web yang melahirkan globalisasi total. Satu kejadian di sebuah sudut dunia langsung bisa diketahui oleh seluruh dunia secara  real time pada saat itu juga. Apa yang terjadi pada satu sudut dunia tidak bisa lagi terisolasi dari bagian dunia lainnya dan langsung membawa pengaruh ke bagian dunia lainnya. Tidak ada orang yang bisa bersembunyi pada dunia yang datar ini. Semua terbuka lebar dan semua menyebar dengan cepat. Budaya K-Pop Korea bisa menyebar dengan cepat ke seluruh dunia karena globalisasi. Ribuan turis asing bekerja dari Bali sebagai digital nomaden yang bekerja untuk perusahaan multinasional di seluruh dunia. Sambil berjemur di pantai Legian atau menyeruput kopi di kafe Kuta para digital nomad itu menyelesaikan order dari seluruh dunia.

Pada saat yang bersamaan Covid 19 juga bisa menyebar cepat menjadi pandemi ke seluruh dunia karena globalisasi. Itulah globalisasi yang telah membuat dunia menjadi datar. Manusia, barang, dan jasa bergerak bebas di dunia global, demikian pula virus dan berbagai jenis penyakit pun bergerak bebas di dunia global.

Kira-kira 50 tahun yang lalu di saat  bumi masih dianggap bulat, terjadi dua kali perang dunia antara kurun waktu 1914 sampai sekitar 1945. Perang Dunia I dan II adalah perang terbesar yang pernah dialami umat manusia di dunia. Karena disebut sebagai perang dunia maka seharusnya seluruh dunia berperang satu melawan lainnya. Tapi dalam praktiknya tidak demikian. Perang Dunia Pertama hanya terjadi di Eropa antar kekuatan-kekuatan Eropa yang saling berebut kekuasaan. Perang Dunia kedua pada  juga perang antar kekuatan-kekuatan Eropa yang sama, tapi skalanya kemudian meluas karena melibatkan Jepang yang tidak sengaja menyerang pangkalan Pearl Harbour sehingga membuat Amerika marah dan ikut perang. Selebihnya, wilayah Asia maupun Afrika tidak terlibat langsung. Dua wilayah itu menjadi bagian dari kolonialisme Eropa dan Jepang dan diposisikan sebagai barang pampasan yang jadi rebutan negara-negara yang berperang.

Perang Eropa disebut sebagai Perang Dunia karena Eropa mengklaim diri sebagai the center of universe, pusat dunia, yang bisa mengatur dan menguasai seluruh jagat raya. Kehancuran Eropa adalah kehancuran dunia, begitu pikir mereka. Karena itu tidak boleh ada perang lagi, mending bagi-bagi kekuasaan saja secara damai. Maka wilayah Asia dan Afrika yang tidak ikut perang dijadikan pampasan perang dan dibagi-bagi antar pemenang perang Amerika dan Uni Soviet.

Dunia kapok tidak berani perang lagi. Amerika dan Uni Soviet yang menjadi penguasa baru sama-sama kuat dan punya senjata pemusnah yang sama-sama dahsyat. Tapi justru karena tahu karena kedahsyatan senjata nuklir pemusnah itu maka mereka tidak pernah berani melakukan perang terbuka yang panas. Yang mereka lakukan adalah perang dingin, cold war, saling gertak dan saling ancam, tidak lebih.

Tidak ada perang dunia yang benar-benar melibatkan manusia di seluruh dunia kecuali dalam angan-angan fiktif seperti yang digambarkan oleh pengarang  Inggris H.G Wells dalam novel terkenalnya “The War of the World” (1897). Ketika itu Wells membayangkan perang dunia terjadi bukan antar sesama manusia, tapi antara manusia melawan penyerbu dari planet lain. Sejumlah mahluk alien dari planet luar bumi menyerang dengan senjata canggih dan bisa menguasai bumi dengan mudah. Perang melawan mahluk asing ini digambarkan dengan sangat detail dan mencekam oleh H.G Wells sampai-sampai penduduk Eropa benar-benar ketakutan dan merasa ancaman itu benar-benar nyata. Ketika novel itu disiarkan sebagai drama radio jutaan orang menyimaknya dengan penuh ketakutan.

Tapi, namanya juga fiksi, lakon pasti menang belakangan. The War of the World yang difilmkan pada 2005 menampilkan Tom Cruise sebagai sang jagoan yang akhirnya bisa membawa pasukannya menghancurkan dan mengusir seluruh pasukan alien dari planet asing. Happy ending.

Imajinasi manusia membawa kepada cerita fiksi yang liar tapi terasa nyata. Dan sekarang perang dunia yang sebenar-benarnya ada di depan mata kita. Musuh yang dihadapi oleh dunia sekarang ini bukan pasukan alien yang sakti tapi bisa dilihat jelas. Musuh kali ini adalah virus Covid 19 yang sakti dan sekaligus tidak bisa dilihat.

Perang global kali ini benar-benar perang total melawan mahluk asing yang tidak terlihat. Dibanding dengan ketakutan yang digambarkan H.G Wells, ketakutan yang dihadapi umat manusia sekarang ini jauh lebih mengerikan. The invisible enemy, musuh yang tidak terlihat itu, bisa membunuh dalam waktu singkat dan bisa menghancurkan apa saja dalam waktu singkat.

Umat manusia sebenarnya sudah sedemikian canggih sekarang ini. Dunia yang rata karena globalisasi memang membuat virus Covid 19 menyebar dan menyerang dengan sangat cepat ke seluruh dunia. Tetapi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang didapat umat manusia dalam bumi yang datar ini juga menyebabkan lahirnya vaksin penangkal dari seluruh bagian dunia. Pada masa perang dunia melawan mahluk angkasa di novel H.G Wells itu jagoannya hanya muncul dari Barat. Sekarang jagoan yang punya kesaktian untuk mengalahkan pandemi muncul dari banyak negara, mulai dari Amerika, Eropa, Rusia, China, dan bahkan Indonesia. Negara-negara itu sudah bisa menemukan senjata vaksin untuk mengalahkan pandemi.

Tapi ternyata virus Covid 19 ini musuh yang licik, ulet, dan ganas sekaligus. Ia tidak terlalu kuat dan gampang dihancurkan tapi ia bisa berubah bentuk dengan cepat untuk menghindari serangan vaksin. Begitu vaksin ditemukan dan proses vaksinasi masih berjalan varian virus baru bermunculan.

Di Brazil muncul varian baru yang disebut sebagai P1 yang menyebar cepat ke seantero negeri dan dikhawatirkan akan meluas di wilayah Amerika Selatan. Di Inggris muncul varian baru yang disebut B117 dan dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa. Catatan Badan Kesehatan Dunia, WHO, menyebutkan bahwa varian B117 sudah menyebar ke 60 negara Eropa dan Asia. India dan Singapura sudah terserang varian baru itu. Indonesia pun juga sudah diterobos oleh virus varian baru impor dari Inggris itu.

Inilah risiko globalisasi sebagai akibat bumi yang ceper seperti digagas Thomas Friedman. Varian virus baru yang muncul di Inggris bisa masuk ke Indonesia dengan relatif cepat meskipun Inggris sudah melakukan lockdown. Di dalam dunia yang ceper ini tidak mungkin kita mengisolasi diri total dari dunia lain. Indonesia tidak melakukan kontak langsung dengan Inggris tapi mungkib saja Inggris masih kontak dengan negara Timur Tengah seperti Arab Saudi. Dari situlah varian B117 menyebar ke Arab Saudi dan kemudian sampai ke Indonesia melalui dua orang tenaga kerja Indonesia yang balik dari Arab Saudi.

Uber-uberan vaksin melawan virus sangat sulit diprediksi kapan bisa berakhir. Andai H.G Wells masih hidup dia akan bisa menggambarkan perang melawan pandemi ini jauh lebih menyeramkan dibanding perang melawan mahluk alien dari angkasa luar.
Kejar mengejar vaksin melawan virus ini seperti uber-uberan polisi vs maling. Polisi sering kelabakan karena ulah licik dan licin para maling. Orang selalu mengatakan maling lebih pintar dari polisi. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.