KEMPALAN: “Sum kita ke rumah papah yok.” ajak Sindhu petang itu.
“oo iya mas aku nggak kepikiran.”
“Siapa tahu papah merayakan Imlek”.
Mereka berdua meluncur ke rumah Papa Shanghai. Sindhu sebenernya iseng saja ngajak Sumi jalan. Siapa tahu memang ada perayaan walaupun pemerintah sangat melarang perayaan Imlek oleh warga Tionghoa secara terbuka.
“kulo nuwun “ Sumi mengetuk pintu rumah papanya.
Menunggu beberapa saat.
“oe kalian datang ..Silakan-silakan . “
“terima kasih. Gong Xi fa Cai pah “ kata Sumi, disusul Sindhu.
“Terima kasih..” Ini ada Andi dan adiknya, Yenni.”
Jarang kita bisa kumpul begini”lanjut Shanghai. Ya Yenni ananknya yang di Singapor juga pulang.
Mereka berkumpul di ruang keluarag makan bersama. Sumi pun bersalaman dengan Andi dan Yenni di susul Sidhu.
Ada hidangan khas, kue keranjang, bebek panggang , dan jiaozi atau dim sum.
“Ayo-ayo silakan,” tuan Shanghai mengajak meikmati hidangan khusus Imlek.
Mereka pun menikmati makanan yang sengaja disiapkan menyambut Imlek itu.
“ Kalian meski beda ibu, harus tetap rukun,” tuan Shanghai menasehati anak-anaknya sambil menikmati makan malam.
Andi dan Yenni saling pandang lalu mengangguk. Mereka tidak keberatan dengan nasehat papanya. Meski Sumi hasil hubungan gelap tapi Sumi tidak bersalah. Meski Sumi juga baru hadir belakangan itu tidak menghalangi untuk bisa bersaudara. Memang kaku awalnya.
“Bagi orang tua, tidak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan anak-anaknya rukun”, kata papa Shanghai serius.
Andi, Yenni dan Sumi berpandangan.
“Jangan sekali-sekali berantem gara-gara warisan,” lanjut tuan Shanghai.
Kata-kata terakhir benar-benar menyentak perasaan Andi dan Yenni. Mereka kebetulan tidak berpikir untuk rebutan warisan tapi mereka melihat banyak persaudaraan hancur karena harta warisan. Padahal orang sering bilang rejeki ditangan Tuhan, rejeki nggak akan kemana, rejeki sudah ada yang ngatur. Tapi kenyataannya banyak orang ribut, perang, bunuh-bnuhan gara-gara urusan rejeki ini.
Sindhu sangat menghayati nasehat tuan Shanghai. Dia sambil lahap menikmati bebek gorengnya yang mantap, terutama ada sausnya yang khas.
“Jadi kalian ingin bikin usaha rekreasi di Umbul Ingas Cokro itu?”
“iya jadi pah” sahut Sindhu.
Beberapa hari ke depan saya mau menghadap pak Lurah dan pak camat tentang rencana proyek ini.”
“kalau memang meyakinkan papa mau bantu mendanai.”
“ya itu mau bangun bendungan, nanti air dari umbul ingas ditampung di kolam besar , tidak langsung kebuang begitu saja. Lalu dipakai wisata perahu sama pancingan”.
“ide yang bagus. Mudah-mudahan para pejabat bisa kasih ijin,” lalu tuan Shanghai bagi-bagi angpao untuk ketiga anaknya. Sumi tidak menyangka dapat amplop tebal.
“Ya jangan dihitung nilainya.” Kata papa Shanghai.
Padahal bagi Sumi memang banyak isinya.
Malam itu tuan Shanghai merasa sangat senang bisa kumpul dengan anak-anaknya.
**
Sumi dan Sindhu pamitan. Mereka melewati jalan Pabrik Karung ke arah Barat menuju Cokro, jalannya berlubang sana -sini. Di desa Kuwel mereka berbelok ke kiri, melewati jembatan yang dulu katanya sering dipakai membuang mayat2 korban Gestok.
“Hati-hati mas..” kata
Sumi sambil menguatkan pegangannya. Jembatan yang menyambungkan desa kuwel dan Karang geneng itu memang serem. Bawahnya adalah sungai yang hulunya dari umbul Ingas Cokro dan menuju ke pabrik Karung goni. Sungai itu memang airnya diperlukan untuk pembuangan limbah pabrik.
“Di situ dulu untuk pembuangan mayat para korban yang dituduh PKI lho.”
“hmm nggak usah cerita itu. Takut. Ayo ngebut.” seru Sumi. Sindhu pun tidak melanjutkan ceritanya. Padahal dia sendiri takut melewati jembatan tadi.
Konon sering terdengar suara-suara tangisan di tengah malam dari bawah jembatan itu. Kadang ada tangan atau kaki berjalan tanpa badan dan kepala.
Tidak lama mereka sudah sampai rumah. Malam itu Sindhu dan Sumi bahagia bisa mengunjungi papanya yang sudah makin tua dan mendapat nasehat dan juga angpao. Seumur-umur baru ini mereka dapat angpao.
*
Sindhu bertanya ketika duduk di toko ijo sambil membantu melayani pembeli.
“Siapa itu penjual bubur kacang ijo? Dari aku kecil dia sudah keliling jualan bubur itu. Sampai sekarang dia masih jualan bubur keliling.”
“Oo itu lik Dul memang dari dulu begitu. Termasuk kuat fisiknya.Dari masih bujangan sampai sudah kaek-kakek masih kuat naik sepeda keliling dari satu kampung ke kampung lain.”
“Buburnya enak ada aroma jahenya yang harum. Aku masih ingat waktu gunung Merapi meletus tahun 76 dia pas jualan di depan rumahku pakai payung soalnya hujan abu beberapa hari.”
“Kok masih ingat mas?”
“Iya ingat. Waktu itu mas Tunjung kuliah di UGM cerita kalau ada harimau mau masuk ruang kelas. Ternyata harimau dari Merapi karena suhunya panas banyak hewan turun dari lereng Merapi.
“Wah ada tanda-tanda alam ya gunung mau meletus.”
‘Iya kalau kita paham. Aku waktu itu beli bubur Lik Dul itu di depan rumah. Pas beli bawa payung. Hujan abu beberapa hari. Pasar Cokro sepi. Genteng-genteng penuh abu dari gunung Merapi. Menunggu beberapa bulan hujan datang akhirnya genteng-genteng bersih. Tapi habis itu sawah-sawah panennya bagus. Tanah jadi subur”.
“Balik ke lik Dul tadi. Orang-orang kita memang nrimo ya mas. Jualan bubur dari dulu ya begitu terus, nggak mau membesarkan usahanya. Jadi tukang patri ya seumur-umur begitu.”
“Mungkin nggak punya modal.” Sahut Sindhu
“iya dan jualan bubur susah mau dibesarkan jadi apa,” kata Sumi.
“Mungkin memang beda filosofi hidup orang Jawa dan Tionghoa. Orang Jawa asal ada yang dimakan untuk besok, sudah cukup. Kalau orang Tionghoa kan berpikir panjang. Memperbesar usaha kadang sampai cucu masih terus berkembang.”
“Iya memang begitu. Sukur-sukur bisa menghidupi banyak orang.”
“Wah aku jangan dipaksa terus memperbesar usaha lho ,”Sindhu mulai takut.
“Lho akau kan blasteran Jawa Tionghoa Mas. Pola pikirku juga campuran. Aku mau memperbesar usaha tapi ya nggak ngototlah.”
“Wah yo wis cocok. Dari dulu aku pingin nikah sama orang Tionghoa. Dapat blasteran lumayan. Haha..kebetulan kamu punya darah Tionghoa. Aku suka etos kerjanya. “
“Ah mosok sih? Lumayan?”
“Ya nggak lumayan, untung besar. Waktu aku SMA punya teman Tionghoa. Aku sering diajak nginap di rumahnya. Diajak nonton video, disediakan makanan. Papanya nunggui sampai malam. Padahal besok paginya papanya harus buka toko, pagi-pagi. Jadi kagum sama etos kerjanya”.
“lho kenapa mas Sindhu yang diajak nginep?” tanya Sumi sambil membereskan barang-barang di tokonya.
“Ya ramai-ramai. Tapi dia suka berteman denganku karena katanya aku pinter. Haha…”
“Walah tenane…..Tapi soal usaha, aku nggak kalah lho mas..”
“Ya itu kamu punya gen Tionghoa, darah bisnis pasti mengalir.”
“Tidak selalu. Yang mengalir mungkin etos kerja keras, disiplin.”
“Tapi jarang lho perempuan Tionghoa mau nikah sama laki Jawa.”
“Ya katanya orang Tionghoa secara abu, lebih tua. Tapi kalau sudah cinta, apa pun bisa diabaikan.”
“ Mungkin begitu, cinta sejati memang mengalahkan dinding ras, agama, ekonomi dan umur,” sahut Sindhu.
“Ha nyindir ya, lebih tua setahun.”
“Loh bukan itu berlaku umum.”
“Tapi perempuan yang katanya menonjol emosinya kalau milih jodoh justru sangat rasional lho mas. Kalau laki kan asal lihat paras cantik terus tertarik?”
“Ya mulai dari fisik kalau laki-laki.”
“Kalau perempuan pasti lihat bagaimana sekolahnya, bagaimana masa depannya.”
“wah laki-laki justru melihat masa lalunya.”
“Tapi masa laluku suram kamu kok mau mas?”
“Nah di situ nggak rasionalnya. Karena kamu cantik..” Sindhu bercanda sambil mencubit hidung istrinya yang mbangir itu.
“Haha..bener ya laki-laki memang buta kalau sudah cinta.”
“Tapi kecantikan tidak cukup berupa wajah ayu lho. Kadang laki-laki hilang moodnya meski menghadapi perempuan cantik tapi sulit diajak ngobrol, diajak diskusi nggak nyambung. Ya mati gaya kan?”
“Memang pernah nemu yang begitu?”
“Ya pernahlah. Di Bandung ketemu cewek cantik tapi dijak ngobrol kurang nyambung, ya nggak asiklah. Asik Sumiati. Sudah cantik, pinter, dan pinter bisnis lagi, ” ucap Sindhu sambil melirik istrinya.
“Tapi aku nggak pinter masak…” Sumi tersipu mendengar pujian suaminya.
“Ya memang selalu ada yang kurang, nggak mungkin sempurna. Aku sih maklum saja. Kamu kan suka cari duit.”
“iya makanan nanti beli saja. Aku nggak kayak ibu mas, masakannya enak-enak.”
“Nggak masalah, asal bisa kasih yang enak-enak.”
“ah…mesti begitu..” kata Sumi menangkap maksud suaminya.
Mereka pun segera menutup tokonya. Lalu menuju rumah Sumi. Sore itu mereka mandi bersama dengan air hangat. Sesuatu yang baru bagi mereka berdua. Sumi mengambil sabun dan menyabuni tubuh suaminya. Sindhu merasa aneh tapi suka. Lalu gantian Sindhu menyabuni tubuh istrinya.
” ih geli mas”.
Lalu mereka bilasan berdua sambil mengguyurkan air dari gayung.Sindhu nggak bisa menahan gejolak melihat tubuh Sumi yang indah menawan. Maka segera ia mendekap dan menciumi Sumi dari belakang. Sumi mendesah.
“Lagi mas”
Ciuman dan dekapan diteruskan ke beberapa tempat sensitif. Sumi mendesah makin kencang. Lalu mereka mengulangi cerita malam pengantin barunya di ranjang. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi