Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 13:17 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Mereka berdua melanjutkan jalan kaki berkeliling kampus. Sumi cukup surprise banyak cewek-cewek ITB yang cantik-cantik dengan pakaian modis. Dia berpikir kenapa Sindhu tidak memilih satu di antara mereka. Atau juga mojang priangan yang cantik yang biasa ditemui di setiap sudut kota.

Atau Sindu nggak laku sehingga bergerilya di kampung halaman? Sejak tadi Sumi mengamati betapa banyak wanita cantik di kota kembang itu. Sindhu tidak pernah cerita ke Sumi soal Silvy adik kelasnya yang dulu sempat dekat. Kalau Sumi melihat Silvy pasti juga akan heran kenapa Sindhu mau sama Sumi.

Mereka melintasi lapangan bola di tengah kampus. Lalu melintasi pertigaan antara student center timur dan barat.

“Di sini kalau wisuda selalu terjadi perkelahian antara mahasiswa Sipil dan Geologi.”

“Wah malu-maluin mas mahasiswa kok berantem.”

“Berantemnya sih untuk ramai-ramaian saja. Tradisi. Adu kejantanan.”

“Maksudnya?”

“Ya bergaya saja pas banyak tamu. Berantemnya juga ramai-ramai. Bukan satu lawan satu.Nanti juga kalau ketemu lagi juga sudah biasa.”

“oo..seru juga ya..”

“Biasa cowok itebe beraninya kalau keroyokan..”

“Lha mas Sindhu kok berani sendiri?”

“Haha ini beda…sudah ada dalam genggaman. Jadi berani…”

“Ee enak saja…”

Mereka menikmati obrolan sambil jalan menuju pintu depan kampus.

Selepas berkeliling sebagian kampus, mereka menuju ke Pasar Simpang Dago. Sumi ingin mengenalkan Sindhu dengan mbok ciliknya. Mereka berjalan ke Dago untuk mencegat angkot. Keduanya nampak menikmati kebahagiaan berduaan. Sekali-sekali tangan Sumi direngkuh Sindhu untuk digandeng. Sindhu lupa di jalan yang dia lewati adalah kawasan mesjid yang dia sering sholat di situ. Tapi dia justru tenang saja. Menggandeng cewek di tempat umum justru aman. Yang bahaya adalah di tempat sepi bermesraan.

“Itu mesjid Salman. Aku sempat mengajar anak-anak SMP dan SMA di situ.”

“Ngajar apa mas? Ngaji?”

“Haha..ngaji aku nggak bisa. Ngajar Matematika.”

“oo kirain guru ngaji.”

“Wong abangan kok guru ngaji.”

“Nggak ada yang nyantol murid-muridnya?”

“Hmmm..banyak yang minat tapi aku mikir buat apa pacaran sama anak SMA. Mending sama mbak Sumi…” canda Sindhu sambil nyubit pipi Sumi.

“Sssttt dilihat orang…” kata Sumi pipinya memerah dengan perasaan tersanjung.

“Justru aman kalau dilihat orang…” Sindhu menjawab seenaknya saja.

Sumi dan Sindhu menuju angkot. Sumi merasakan sesuatu yang lama dia rindukan. Dia merasa aman duduk di samping Sindhu. Sindhu pun tidak ada niat menyakiti atau memperlakukan Sumi dengan tidak hormat.

“oo ini nak Sindhu…” tanya Lik Mujinah.

“Nggih..dalem Sindhu..”

“wah ternyata ada juga orang Karanglo kuliah di Itebe ya..”

“ya kebetulan bu, ”jawab Sindhu merendah.

Sumi ingin ijin ke buliknya untuk tidur di kos Sindhu. Itu bukan hal yang wajar tapi Sumi nekat. Karena rumah buliknya juga sempit. Di sana ada pakliknya, ada adik sepupunya.

“Ya tapi kamu bisa menjaga diri to nduk?” peringatan Mujinah untuk ponakannya itu.

“nggih bulik…”

“Awas ya diingat-ingat.”

Sumi sudah tahu maksud buliknya. Dia juga bukan anak ingusan. Dia pernah berumah tangga. Dia tahu bagaimana menjaga diri.

Sumi ingin mengetes bagaimana Sindhu memperlakukan perempuan. Dia nekat akan menginap di kos Sindhu. Dia sudah siap jika Sindhu macam-macam maka dia tidak akan takut-takut menendangnya.

Malam itu Sumi sempat diajak Sindhu menikmati wedang bajigur di dekat kosnya di Pelesiran.

“Wah mantap mas…hangat segar “ kata Sumi pertama kali mnikmati bajigur yang mirip seperti kuah kolak.

“Aku sering menikmati bajigur atau bandrek kalau malam. “

Mereka berdua syik menikmati bajigur dan merasakan dinginnya udara malam Bandung.

“Apa nanti kalau sudah lulus mau kembali ke desa mas?”

“Rencananya begitu. Mungkin jdi petani atau mengembangkan wisata di Cokro.”

Sumi lagi-lagi merasakan kelegaan. Harapannya sepertinya akan terkabul. Tapi Sindhu belu punya pengalaman bekerja sebagai wiraswasta. Ide-ide besar perlu dukungan agar tidak mudah nglokro jika gagal atau ada hambatan. Sumi siap untuk memberikan dukungan.

Malam itu Sumi tidur di kamar Sindhu yang hanya cukup untuk satu orang dengan kasur tipis yang memprihatinkan.

“Kamu tidur sini ya..” kata Sindhu memberi tahu sebelu menutup pintu kamar yang hanya terbuat dari triplek. Kamar itu bagian dari kamar tamu yang disekat jadi kamar. Kamar berukuran 3 x 2 meter persegi. Pikir Sindhu dia tinggal tulis skripsi buat apa nyewa kamar bagus-bagus. Sudah lama dia membebani orang tuanya, maka dia ingin menghemat biaya. Itu pun dia bayar dari uang honor proyek dosennya. Dia juga mnerima beasiswa dari Astra yang cukup untuk hidup di Bandung.

“Lho kamu dimana mas?”

“Di sebelahmu ..”

“heit belum boleh…” sahut Sumi manja.

“Jadi nanti boleh ya?”

“Ya kalau sudah resmi kamu nikahi aku mas…” jawab Sumi tersipu lagi.

Sindhu akhirnya tidur di atas kursi panjang di ruang depan. Sumi baru tahu kehidupan anak kos yan ternyata penuh keprihatinan. Sindhu tidak berani mengganggu atau bersikap nakal ke Sumi. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya laki-laki baik-baik.

Dia sempat mencium Sumi sebelum tidur. Itu saja. Tidak lebih. Meski Sumi pernah punya suami tapi ciuman Sindhu terasa beda. Ciuman dari seseorang yang dicintai terasa beda sensasinya. Sumi merasakan sensasi luar biasa ketika ciuman Sindhu mendarat di pipinya. Pikirannya melayang-layang. Seandainya suatu saat Sindhu akan melamarnya dan menikahinya.

Sumi masih khawatir apakah anggota keluarga Sindhu akan setuju jika Sindhu menikah dengan janda yang hanya lulusan SMP. Kakak dan adik Sindhu belum tentu semua bersikap sama seperti ibunya. Bisa saja diantara mereka tidak setuju.

“Met tidur ya…”

Kata Sindhu sambil melepas genggaman tangannya ke Sumi sebelum dia menuju ruang depan. Sumi serba salah, mau tapi malu tangannya digenggam Sindhu.

Malam itu Sumi merasakan perlakukan tidak senonoh dari Sindhu. Ternyata Sindhu sama saja seperti Dipo. Di tengah malam ketika ia sedang nyenyak tidur Sindhu datang. Menciumi wajahnya lalu makin berani tangannya menggerayangi tubuh Sumi. Lalu Sindhu memaksa melucuti pakaian Sumi.

Kemudian dengan tenaganya yang seperti kesetanan memaksa Sumi. Sindhu melakukan apa yang dulu Dipo lakukan kepada Sumi. Sumi tidak berdaya.

Sumi sangat marah, menyesal. Ia mencintai Sindhu tapi dia tidak mau Sindhu memperlakukan dia seperti itu. Dia menangis.

“Kurang ajar kamu mas..sama saja kamu dengan Dipo “

Sindhu diam saja. Tidak menjawab atau menepis omongan Sumi.

Sumi lalu menangis sesenggukan. Bejat juga mas Sindhu yang ia puja-puja.  Dia menyesali diri kenapa harus nekat datang ke Bandung. Pertemuan yang mestinya indah dengan orang yang ia cintai dan ia percaya ternyata harus berakhir dengan duka.

Terbayang olehnya wajah buliknya yang sudah mewanti-wanti. Lalu wajah Sarmo yang dulu selalu membela dia jika diejek sebagai Cino gosong. Terbayang pula wajah Bimo pegawai pengadilan yang pernah akan melamarnya. Kenapa hal-hal yang sudah di depan mata dia ingkari malah dia mengejar Sindhu sampai Bandung. Dia telah mengorbankan gengsinya, ternyata justru petaka yang lebih berat yang ia dapat. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.