Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 20:23 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: “Mas bangun itu tehnya di meja,” Sumi membangunkan Sindhu.

Sindhu masih belum biasa dengan kamar di rumah Sumi. Butuh beberapa saat dia beradaptasi. Lalu mengucek mata. Baru sadar dia melewati malam pertamanya, badan terasa lungkrah.

Energinya terkuras.

“Aku ke pasar sebentar..” ucap Sumi, walau badannya agak lenyu karena semalam dibobol Sindhu.

“iya jangan lama-lama”

“Takut ya?”

“Takut ilang, digondol orang.Wong ayu mesti banyak yang nglirik.”

“Eh..sekarang kan sudah qda yang punya. Nggak berani orang nggondhol..”

Sindhu pun tertawa melihat istrinya juga pinter guyon. Sumi segera melangkah meninggalkan rumah.

“wah pengantin baru kok pagi-pagi sudah ke pasar..”

“Ah ya gak papa” sahut Sumi tersipu. Dia merasa setiap orang memperhatikan dirinya

“Bagaimana mbak Sum, malam pengantinnya?” pancing si tukang bubur mbah Wiji.

“Ya…mbah…gitulah mbah…”

“Kan lawannya perjaka ting ting. Pasti rosa….”

“Ah mbah Wiji.. ingat jaman muda ya?”

“Wah wis lali mbak…”

Seakan Sumi pengantin baru, padahal dia janda. Tapi memang beda hebohnya pernikahan Sumi kali ini. Tidak sepeti pernikahannya dulu yang diam-diam.

“Jadi ini beli apa mbak?”

“Bubur..2 ya mbah. Banyak ya lethoknya.”

Ya Sumi beli 2 bungkus bubur beras yang dikasih sayuran dan ditumpangi lethok dan tahu. Lethok adalah masakan khas daerah Klaten dari tempe, ditumbuk diberi bumbu dan  kuah, dikasih daun salam. Aromanya harum sedap.

Sumi juga beli pohung yang ditumbuk dicetak lalu diberi parutan kelapa, pohung alus kata orang Cokro.

Dia yakin pasti mas Sindhu suka. Lalu dia jalan balik ke rumahnya.

“Ayo mas…” pinta Sumi ke Sindhu.

“Mau apa lagi?”

“Ah mau apa..ya ini dimakan.”

“oh kirain mau bertempur lagi…

“Ih nggak kenal waktu. Kuat apa?”

Sindhu pun mendekat ke meja makan. Dibukanya bungkusan daun pisang.

“Wow..ini hobiku…jenang nganggo lethok karo janganan…’

“Bojomu kan tahu seleramu..”ucap Sumi sambil tersenyum manja.

“Iya e elok tenan…, nggak salah pilih…”kata Sindhu sambil memandangi Sumi yang berdiri di sebelahnya.

“Iya untung nggak sama anaknya pak lurah itu. Paling nggak biasa ke pasar…”

Sindhu lahap memakan buburnya dengan suru (sendok alami dari daun pisang yang dilipat). Sangat nikmat, ada aroma daun pisang, daun salam dan aroma tempe agak sedikit busuk..tempe bosok.

Lalu nyrutup teh manis bikinan Sumi yang juga sedap. Sindhu menemukan kebahagiaannya.

“Ini bisa makin kuat..”

“Haha..bubur nggak lama kenyangnya mas..”

“Nah kan ada tambahan pohung…”

“Nanti siang kubelikan tongseng kambing, pasti joss…”

Sindhu benar-benar dimanjakan oleh istrinya. Memang Sumi setahun lebih tua.

Mereka menikmati buan madunya.

Sementara toko diurus lik Kartiyem dan suaminya.

“Kapan masak sendiri?”

“Nah aku nggak bisa masak mas. Waktuku dulu habis untuk jaga toko.”

*

Sindhu mulai berpikir mewujudkan cita-citanya untuk membuat kawasan rekreasi sekitar Umbul Ingas Cokro. Tapi dia kepikir adanya perusahaan  yang masuk daerahnya. Perusahaan itu membuka pabrik Aqua di kawasan Cokro. Sindhu khawatir masyarakat lupa efek jangka panjangnya. Cokro yang dikenal sebagai sumber air bisa-bisa dalam puluhan tahun ke depan akan jadi kawasan yang kesulitan air. Air tanah disedot airnya hingga ribuan kubik setiap hari.

“Kasihan penduduk sini lho nanti.”

“Kan penduduk seneng mas bisa kerja. Ganti rugi lahannya juga tinggi.”

“Nah itu. Mereka senang sawahnya dibeli dengan harga 2 kali lipat. Lalu naik haji. Setelah pulang haji terus pada mau apa?”

“Iya ya. Kasihan kehilangan lahan. Duit juga cepet habis. Ya cuma dapat gelar haji saja. Wis biar saja mas. Memang sukanya yang begitu. Lebih baik pikirkan saja Mas Sindhu mau bikin bisnis apa.”

“Iya masyarakat kita orientasinya bukan hidup di dunia ini. Untuk rencana usaha, sambil jalan. Akan kubuat rencana. Nanti diajukan ke pak lurah dan Pak camat. Intinya sungai besar dari aliran buangan air umbul ingas itu akan kubendung. Jadi nanti akan seperti waduk besar di tempat dulu simbok biasa cari pasir.”

“Lalu buat apa?”

“Buat wisata naik perahu. “

“Wah ide bagus mas. Butuh uang besar..”

“Iya itu termasuk masalah.”

Lalu mereka terdiam sejenak duduk di meja makan. Hari menjelang siang, Sumi jadi pesan tongseng.

Kemudian mereka menikmati tongseng kambing itu. Lahap sekali Sindhu memakannya.

“Bagaimana kata orang-orang soal acara kemarin ya?”

“Ya pasti seneng dapat hiburan.”

Tapi paklik itu sepertinya kurang sreg dengan hiburan campur sari. Dia sukanya keroncong.

“Ya campur sari kan gayeng. Penduduk desa seneng. Bisa joget.”

“Iya paklik itu suka musik yang harmonis, nglaras. Bukan yang asal gayeng. Kalau campur sari kan asal gayeng.”

“Ya selera orang macem-macem. Kalau dituruti semua, nggak jadi nanggap musik.”

“Tapi aku ingat nasehat Kirun untuk subuh dua kali lho..”

“ Haha…disusubi barang abuh pancen enak mas.”

Sindhu memandangi Sumi. Keayuan dan kemolekan tubuh  istrinya mengundang darah lelakinya.  Lalu mereka berpandangan dan dengan kode tertentu keduanya  masuk kamar.

“Aja kesusu lho mas..”

“Siip…”

“Yang lama pemanasannya..”

Mereka mengulangi kehangatan malam pertama. Siang ini keduanya bermain lebih tenang, lebih lama.  Mereka menuntaskannya dengan kenikmatan puncak.

“hmm..tambah joss mas.” bisik Sumi sambil mendekap Sindhu.

“Berkat lethok dan tongseng…” kata Sindhu menyenangkan istrinya.(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.