Senin, 9 Februari 2026, pukul : 09:49 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Hari berlalu. Orang tua Sindhu sudah mencari hari baik. Lagi-lagi ke tempat pakdhenya di Solo. Sudah dihitung-hitung ketemu harinya. Kurang lebih dua bulan lagi. Tapi Sindhu justru dilanda keraguan. Pasca melamar sepertinya banyak godaan. Suara-suara bahwa Sumi anak haram, dia anak cina semakin mengganggu pikiran Sindhu. Malah pakliknya menyebut-nyebut anak pak lurah dari desa Jeblog berminat pada Sindhu. Anaknya juga cantik dan malah sudah sarjana. Sedikit terombang-ambing hati Sindhu.

“Mau kamu le sama ananya pak lurah. Anaknya cantik, malah sudah lulus kuliah.”

Sindhu tidak menjawab tawaran pakliknya. Pakliknya pun enggan meneruskan tawarannya.

Ada saudara sepupunya yang dari Cokro malah memberikan info yang membuat dia makin ragu.

“Mas Sindhu tahu kan Sumi itu hasil hubungan gelap?”

“aku pernah dengar selentingan begitu. Jadi ceritanya bagaimana?”

“Jadi Sumi itu bukan anak kandungnya Pak Sugiyono. Kelihatan kan kulit dan wajahnya beda?”

“maksudmu?”

“Ya kata orang, ibunya Sumi dihamili tuan Shanghai ketika jadi pembantu di rumahnya.”

Sindhu sedikit kaget . Lalu diam.

“Sumi kan nggak salah to?”

“Iya dia kan tidak tahu apa-apa.”

“Ya sudah nggak masalah bagi saya. Saya justru senang dia punya etos kerja seperti orang Tionghoa. Kerja keras, teliti, hemat.”

“Yo wis kalau mas Sindhu sudah tahu ya nggak masalah.”

Sindhu meski omongannya tegas, hatinya ragu. Jangan-jangan nanti ada bibit-bibit sifat buruk pada Sumi karena dia lahir dari proses yang kurang benar.  Ya tapi dia tepis. Semua manusia punya sifat baik buruk. Banyak orang sukses meski lahir dari keluarga yang tidak harmonis. Begitu juga banyak orang memble gegara terlalu mulus dan lurus kehidupan di keluarganya. Tidak pernah mendapat guncangan untuk menguatkan mentalnya.

Bahkan konon Newton juga dibesarkan neneknya karena bapak ibunya cerai.  Suharto sang penguasa terlama di Indonesia  juga tidak jelas orang tuanya. John Lennon juga dibesarkan dalam rumah tangga yang tidak sempurna. Muhammad juga ditinggal bapaknya ketika masih kecil.

**

Sumi persiapan ujian kejar paket C. Dia sudah belajar sejak lama. Dia harus pergi ke Klaten untuk mengikuti ujian itu. Dia nekat naik motor sendiri ke Klaten. Sangat bersemangat dia untuk segera mendapat ijazah persamaan.

Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Seharusnya Sindhu bisa mengantar. Tapi Sumi memilih berangkat sendiri.

Tidak sampai satu jam dia sudah sampai di kantor dinas pendidikan Klaten. Dia ikuti ujian bersama banyak orang yang lain. Ujian dia kerjakan dengan baik. Sumi tidak merasakan hal yang sulit. Lega dia. Dalam hati sudah optimis bahwa dia pasti lulus.

Sumi segara pulang. Dia ingin mengabarkan pada orang tuanya, juga Sindhu kalau ujiannya lancar.

Ngebut dia mengendarai motor. Tanpa terasa sudah sampai pertigaan Karanganom lebih kurang 20 menit dari Klaten. Dari arah selatan mau belok, ada kendaraan mobil dari arah timur yang ngebut. Sumi harus mengalah ngerem mendadak dan belok ke arah kiri, motor terjatuh. Sumi terlempar.

Kepala Sumi terantuk aspal. Dia tidak bisa bangun. Sobek kulit di batuknya.

Beberapa orang membantu. Motor diselamatkan di rumah penduduk dekat situ. Sumi dibawa ke rumah sakit terdekat. RSI Klaten. Sumi masih sadar.

Dia minta ke orang yang menolongnya untuk melihat KTP di dompetnya. Segera ada yang mengabari ke rumahnya setelah melihat alamat.

Di rumah sakit Sumi di rawat di UGD. terlalu banyak darah keluar.

Luka Sumi segara dijahit. Tapi dia butuh banyak darah. Kepala di rontgen. Sementara hanya luka luar saja yang kelihatan.

Berita segera tersebar. Sindhu mendengar berita itu segera menyusul ke RSI. Dia takut ada yang serius dengan Sumi.

Sindhu menuju UGD. Ia mencari dimana Sumi berada. Sindhu bertanya ke perawat dimana Sumi dan  siapa yang tadi membantu membawa ke rumah sakit. Tercatat nama di situ Purnomo.

Sindhu segera menuju ke PMI Klaten. Ada beberapa stok tapi masih kurang. Sindhu pergi ke rumah keluarga Shanghai mengabarkan kalau Sumi butuh darah. Kebetulan darah AB siapa tahu cocok dengan anggota keluarga Shanghai.

“Ha Sumi kenapa nak Sindhu?”

“Kecelakaan…. Butuh darah pa..”

“iya gimana nasibnya?”

“Luka di kepala, perlu dijahit dan butuh darah karena banyak pendarahan dari kepalanya.”

“Darahnya apa?”

“AB..”

Beruntung tuan Shanghai dan Andi golongan darahnya sama.

Segera keduanya menyusul ke rumah sakit. Tuan Shanghai takut ada apa-apa dengan Sumi. Dia sedih melihat Sumi terbaring lemah di ruang UGD.

Dari keduanya kemudian diambil darah. Darah segera ditranfusi ke Sumi. Tuan Shanghai baru kali ini merasa sebagai bapak bisa membantu secara nyata pada anaknya. Dia merasakan sedikit kebahagiaan. Andi justru ini yang kedua punya jasa untuk Sumi. Sumi merasakan kasih sayang keluarganya.

“Semoga kamu baik-baik Sumi..” kata tuan Shanghai sambil memegang tangan anaknya itu. Kata-kata itu dirasakan sebagai kasih sayang dari seorang bapak. Di saksikan Andi keduanya mengobrol sebentar.

“Untuk biaya nanti papa yang menanggung,” kata tuan Shanghai ke Sumi.

**

Sumi masih tertidur di bed ruang gawat darurat. Nampaknya merasakan sakit luka di kepalanya. Kemungkinan kecantikan Sumi akan berkurang dengan luka di jidatnya. Pasti bekas hitam akan ada di sana. Sindhu sudah nggak peduli. Cuma dia berpikir mengapa banyak cobaan menghadapi pernikahan.  Sndhu duduk di dekat ranjang Sumi. Ada ibu Sumi yang ikut menjaga.

“Sudah lama bu?”

“Iya tadi begitu dikabari saya ke sini.”

“Lukanya cuma yang di kepala itu?”

“iya. Masih tunggu hasil rontgen.” Kata Kartiyem sedih.

Sindhu duduk sambil memegang telapak tangan Sumi. Terasa hangat badan Sumi. Sindhu mengelus-elus tangan Sumi.Tidak lama Sumi terbangun dan melihat sekitar. Ada ibunya dan Sindhu.

“Lho mas…kapan datang mas?” tanya Sumi dengan suara lemah sambil menahan nyeri lukanya.

“ya beberapa menit lalu..” sahut Sindhu sambil mengusap wajah Sumi pelan.

“Bagaimana rasanya?”

“Ya sedikit perih, nyeri dan lemes.”

“Tidak pusing?”

“Sedikit saja. .”

Sindhu lalu mengingat nama di catatan perawat itu, barangkali ia saudaranya yang tinggal dekat tempat kejadian. Sindhu pamit ke Sumi dan ibunya. Ia naik motor menuju rumah saudaranya. Rumah buliknya itu terleta di pinggir jalan. Bukan bulik langsung tapi masih satu mbah buyut.

Kurang lebih 20 menit sampailah di sana.

“Kulo nuwun…”

“ Lho mas ini putranya Yu Padmo kan?”

“Nggih bulik..”

“Asmane sinten?

“saya Sindhu “

“Kok tumben.”

“iya ada keperluan bulik. Apa dik Pur ada?”

“Ada. Pur…Pur…ini ada mas Sindhu.”

Pur pun keluar sambil menghisap rokoknya.

“lho mas..ada apa?”

“ya main-main. Sambil ada keperluan. “

“tadi siang ada kecelakaan di pertigaan?”

“iya, aku yang mbawa ke RSI. Kasihan kepalanya luka darah mengucur.”

“Lho dik Pur yang tadi membantu?”

“Iya. Cewek cantik terjatuh dari motornya. Ada mobil ngebut dari arah timur. Lho ini apanya mas?”

“Lho itu calonku,” Sindhu agak kaget yang menolong Sumi adalah saudaranya. Purnomo pun kaget cewek cantik itu calon dari kakak sepupunya.

“Wah untung ada orang baik seperti dik Pur yang mau repot-repot. Ada ongkos-ongkos yang sudah dibayar dik?”

“Belum mas hanya tanda tangan sebagai yang menjamin. Ya kalau mas Sindhu lihat kecelakaan begitu mungkin juga akan melakukan hal yang sama,” Pur merendah.

“Tapi aku takut lihat darah. Jadi dik Pur termasuk hebat . Wah maturnuwun sanget ya dik sudah membantu. Gusti sing mbales,” ucap Sindhu tulus. Dia sebenarnya juga nggak punya uang. Dia sarjana pengangguran. Dia perlu mengucapkan terima kasih. Kalau pun ada biaya dia akan bilang ke Sumi.

“Oh ya saya pamit dulu bulik.”

“itu diminum dulu tehnya. Nggak ada temannya, cuma teh saja.”

”Wah nggak papa bulik. Saya sangat berterima kasih. Sudah banyak dibantu.“

Lalu Sindhu pamit betulan. Segera ia menaiki motornya.

Sindhu  balik menuju ke rumah sakit. Dia mampir cari makan di warung depan rumah sakit. Dari siang belum sempat makan. Lalu dia menuju ke ruang UGD lagi. Beberapa lama diperoleh hasil dari foto rontgen. Beruntung  tidak ada keretakan di tulang tengkorak. Sumi perlu opname beberapa hari untuk menyembuhkan luka dan jahitannya. Dia harus pindah kamar.

Untuk pertama kali Sindhu menyuapi Sumi karena Sumi masih susah bergerak. Dari sisi samping ranjang sindhu pelan-pelan menyendok makanan jatah rumah sakit lalu menyuapkan ke Sumi. Sumi merasa aneh. Ya aneh nggak mengira ini terjadi. Hanya ibunya yang pernah menyuapinya. Karena badan tidak enak, nasi suapan Sindhu juga terasa hambar. Tapi dia merasakan kasih sayang yang berbeda. Hatinya membuncah, bahagia sekali. Sindhu menunggui hingga malam. Sumi terharu melihat kesetiaan Sindhu menungguinya. Mungkin kalau dia nggak sakit dia nggak akan tahu ada sisi lain dari Sindhu yang dia rasakan sekarang, perhatian Sindhu.

“ini obatnya diminum..” kata Sindhu sambil memberikan obat untuk penghilang sakit, anti radang  dan anti biotik.

Sumi pun meminum ketiga pil dan tablet tersebut.

“Nggak capek mas?”

“ya biasa. Lebih capek yang merasakan sakit,” kata Sindhu.

Sumi tersenyum kecil. Benar juga lebih baik menjaga orang sakit daripada merasakan sakit.

Lalu Sindhu tiduran di teras RSI. Ibunya Sumi yang menunggu di dalam. Sumi susah tidur merasakan sakitnya. Malam sunyi, ibunya sudah tertidur pulas. Pertama dia merasakan opname di RS. Cuma melihat langit-langit kamar dan selang-selang infus yang ditancapkan ke tangannya. Dia berharap ini tidak lama. Tidak ada luka serius di dalam badannya.  (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.