KEMPALAN: Pembangunan proyek rekreasi mulai dilakukan. Gangguan Dipo tidak berlangsung lama kecuali hanya demo itu. Tidak ada gangguan atau dari masyarakat sendiri. Banyak penduduk desa ikut terlibat dalam pembangunan itu, baik sebagai tukang atau laden tukang, mandor, penjaga keamanan. Bahan-bahan bangunan disupplai dari toko Sumi sendiri. Sindhu berharap masyarakat Cokro merasa memiliki tempat itu karena terlibat dalam pembangunannya. Sindhu juga tidak ingin maju sendiri.
Menjelang penyelesaian proyek terjadi kecelakaan kerja. Dua orang pekerja jatuh di kolam buatan yang sedang mereka bangun. Satu orang, Suranto berhasil diselamatkan. Tubuhnya diangkat lalu diberi nafas buatan, selamatlah dia. Tapi nasib naas menimpa satu pekerja yang lain. Sarwono tidak berhasil diselamatkan. Tubuhnya sudah dingin kaku, bibirnya berwarna biru ketika diangkat dari dasar kolam.
Suranto sempat menuturkan bahwa beberapa hari terakhir dia mimpi didatangi penjaga daerah itu. Seorang tua yang mengatakan ‘jangan ganggu kami’. Suranto tidak tahu apa maksud mimpi itu. Konon di Umbul Ingas beberapa tahun silam sering ada yang mati saat acara padusan menjelang bulan puasa. Katanya yang ‘jaga’ umbul itu minta jatah. Cerita mitos ini dipercaya turun temurun.
Sindhu pusing tujuh keliling menghadapi masalah kematian pekerjanya ini. Ini masalah besar. Tidak boleh tersebar di masyarakat. Sebab akan bisa merugikan bagi promosi tempat wisatanya. Mitos minta jatah itu pun juga harus dihilangkan. Kalau nggak pasti akan menurunkan minat orang berwisata ke Umbul Ingas.
“Ternyata waduk itu minta tumbal,” bisik-bisik salah seorang di warung Lik Marto.
“Lho tapi kan nggak sengaja? Itu kecelakaan.”
“Siapa tahu memang itu sengaja. Biasa orang mau bisnis kan sering cari tumbal biar laris.”
“Oh kalau ini lain lagi. Tadi maksudnya tumbal dari penjaga daerah itu.”
“Masak setingkat mas Sindhu mikir pesugihan atau tumbal?”
“Lho pengaruh mbak Sumi bisa saja. Dia kan ada darah Tionghoa, biasa mereka ke Gunung Kawi mencari pesugihan.”
“Jangan-jangan Toko Ijo laris gegara pesugihan?” yang lain bikin makin ramai.
“Nggak usah Tionghoa, orang Jawa pun banyak yang cari pesugihan ke Gunung Kawi.”
“Sstt jangan nuduh yang tidak-tidak.Nggak mungkin, wong sejak Pak Jarwo dulu sudah maju kok tokonya. Kalian ini kalau ada yang berhasil mesti terus nuduh aneh-aneh.”
“Lho tapi itu realita mas. Tetangga kita yang punya selepan, truk berpuluh-puluh itu juga kabarnya punya pesugihan. Tahu kan beberapa waktu lalu istrinya mati kecelakaan?”
“Ya kalau mau maju ya usaha yang bagus, seperti mbak Sumi itu jelas,” pungkas yang lain.
Isu macam-macam bisa berkembang. Katanya kurang sajen saat memulai pembangunan kolam itu. Sindhu takut Dipo mendengar kabar ini. Karena pasti dia akan menyebarkannya untuk membuat proyek Sindhu tidak sukses.
Dia pun mendatangi Pak lurah, Tejo dan Dono.
“Pak Lurah tolong jangan sampai berita ini sampai ke Dipo.”
“Baik mas Sindhu..” ucap Pak Lurah disertai senyuman penuh harap.
“Weleh pak, usaha belum mulai kok sudah minta jatah. Nantilah…” jawab Sindhu menangkap apa yang dimaksud Pak Lurah.
“Tejo dan kau Dono, jaga jangan sampai Dipo dengar kejadian ini. Awas sampai bocor, jatah parkirmu bisa kucabut,” gertak Sindhu ke kedua preman itu.
“Okey boss beres,” keduanya serentak. Meski keduanya preman tapi ternyata punya kesetiaan pada bosnya. Sejauh komitmen awal dijaga keduanya akan setia pada janji mereka. Itu kode etik di dunia preman, mirip mafia.
Sindhu juga mendatangi keluarga Sarwono.
“Yu kabeh biaya pemakaman tak tanggung, nganti pitung ndinan. Sampeyan ora sah bingung.”, kata Sindhu pada istri Sarwono menenangkan.
“Tapi kan kang Sarwono nggak ada, nggak bisa cari nafkah untuk keluarga mas,” sahut istri Sarwono penuh harap.
“Wis engko tak wenehi dana perugian”, Sindhu meyakinkan istri Sarwono. Dia juga takut istri Sarwono protes lalu menyebarkan berita bohong. Sindhu kasihan karena istri Sarwono juga sedang punya anak seumuran anaknya. Jadi dia tidak ingin istri Sarwono susah membesarkan anaknya. Bahkan Sindhu berjanji dalam hati nanti akan membantu biaya sekolah anak Sarwono hingga lulus SMA. Tapi itu tidak dia ucapkan kepada istri Sarwono, semacam tekad dalam hati.
Bagi Sindhu kejadian ini murni kecelakaan, tidak ada hubungan dengan tumbal dan pesugihan.
Sindhu mendatangi pemakaman Sarwono. Dia juga datang acara tiga hari dan tujuh hari, ikut baca tahlil dan ngaji di rumah Sarwono.
“ Kematian almarhum Sarwono adalah murni kecelakaan kerja. Tidak karena sebab yang lain. Saya mohon bapak ibu para pelayat untuk tidak menyebarkan berita-berita yang aneh. Kita buat suasana desa kita kondusif,” ucap Pak Lurah saat memberikan sambutan di rumah Sarwono menjelang jenazah diangkut ke pemakaman.
Sore hari Sindhu menyampaikan apa yang dia janjikan ke istri Sarwono pada Sumi.
“Ya mas pokoke beres, kalau perlu nanti anaknya kang Sarwono kita bantu biaya sekolah..” kata Sumi pada Sindhu. Untung Sumi punya pemikiran yang sama dengan Sindhu. Mereka percaya niat baik tidak akan merugikan bagi mereka. Pasti nanti ada rejeki untuk membantu. Itu keyakinan dari pengalaman mereka selama ini. Bisnis tidak harus melupakan aspek kemanusiaan, begitu keyakinan Sindhu juga. Sindhu belajar filosofi itu dari Irwan Hidayat pemilik pabrik jamu Sido Muncul yang menonjol tindakan kemanusiaannya. Sido Muncul jadi pabrik jamu yang maju mengalahkan Jamu Djago, dan Nyonya Meneer.
**
Sindhu mulai mengontak teman-temannya mengenai keberadaan tempat rekreasi baru ini. Dia berharap teman-temannya akan menceritakan dari mulut ke mulut sebagai sarana promosi. Dia juga mempromosikan tempat ini lewat radio dan koran Jawa Tengah, Solo maupun Jogja. Kapan akan diresmikan dan dibuka untuk umum.
Penduduk yang punya modal pun ada yang ikut membuat warung di depan rumahnya. Nanti jika pengunjung ramai pasti akan butuh tempat makan.
Dalam waktu 11 bulan proyek itu selesai dengan masih tetap dilakukan perbaikan sana -sini. Sekarang Umbul Ingas nampak beda. Ketika memasuki area itu akan kelihatan kolam besar seperti telaga dan air warna biru. Lalu disediakan perahu dayung untuk sarana wisata. Kemudian dipasang flying fox dari arah utara ke selatan melewati kolam itu. Bagi penduduk ini adalah wisata baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Saat peresmian Sindhu mengundang bapak Bupati Klaten untuk meresmikan.
“Dengan dibangunnya kawasan wisata ini, pemda Klaten mengucapkan terima kasih. Kami yakin wisata ini akan berkembang dan masyarakat bisa ikut menikmati hasilnya.” Kata pak Bupati saat peresmian. Sindhu manthuk2 tanda senang dan setuju dengan ucapan pak Bupati.
**
Wisata Cokro jadi ramai. Tiap hari ratusan pengunjung mendatangi tempat itu. Sabtu Minggu makin ramai. Untuk Sabtu Minggu disediakan penggung musik untuk pertunjukkan campursari, dangdut atau pop. Bergantian tiap minggu. Ternyata ini cukup mendongkrak kedatangan pengunjung dari berbagai daerah sekitar. Para pemuda yang punya bakat seni ikut berpartisipasi dalam kelompok musik itu. Desa Cokro benar-benar jadi hidup, banyak orang mendapatkan efek dari proyek itu. Penduduk merasakan manfaat. Desa juga mendapat setoran atas pendapatan dari wisata itu. Banyak orang mengapresiasi. Orang yang dulu mendemonya jadi malu dan meminta maaf karena mereka hanya ikut-ikutan. Atas kesuksesan itu Sindhu didorong maju jadi lurah.
“Saya nggak mau kemaruk untuk menguasai semua,” reaksi Sindhu ketika mendengar tawaran itu.
“Ini demi kebaikan kita”, kata paklik Sindhu yang penduduk Cokro menyuarakan aspirasi sebagian masyarakat Cokro.
“Tapi saya nggak mau dituduh jadi oligarki di tingkat desa,pengusaha sekaligus penguasa”.
“ kita semua melihat bagaimana pemihakan mas sindhu. Kami percaya.”
“Tapi saya nggak mau pakai uang kalau jadi maju. Dan tolong saya diingatkan jika nanti membuat kebijakan yang merugikan masyarakat.” Sindhu terlalu antusias padahal belum menyatakan iya.
Pesan-pesan dari Sindhu segera menyebar. Masyarakat mulai membicarakan.
“Saya sih pilih yang kasih duit saja,” kata salah seorang dari penduduk yang sedang di tempat cangkruk.
“Lalu nasibmu digantung selama 5 tahun?”
“Maksudmu?”
“Lha dapat uang 10 ribu rupiah tapi habis itu lurahnya pingin balik modal.”
“Daripada nggak ada uang?”
“Yang tidak pakai duit pasti akan berjuang untuk kita, nggak perlu mengembalikan modal.”
Sumi belum tahu harus memberi saran apa soal ide maju jadi calon lurah ini. Dia malah tidak berpikir ke sana. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kemenonjolan peran tidak harus diperlihatkan dalam kursi jabatan. Mereka jadi pemain utama di belakang panggung tapi yang jadi pejabat bisa orang lain. Sementara orang Jawa dan pribumi lain suka tampil di panggung, padahal aslinya dia cuma kacung. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi