Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 18:34 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Sumi merenung di tokonya. Dia kadang tidak merasa bahwa dia sekarang menjadi pemilik toko ini. Sambil matanya mengamati orang-orang yang berlalu lalang di depan tokonya. Dia sudah mendapatkan apa yang dia impikan, harta. Melebihi apa yang dia bayangkan. Lalu dia terbayang bagaimana dulu Sarmo tiap hari membantunya membuka dan menutup toko. Dia juga ingat ketika memberikan sapu tangan dan foto kepada Sarmo ketika melepasnya di stanplat Delanggu. Iya dia banyak berhutang budi pada Sarmo. Tapi celoteh Lik Marto yang menganggapnya anak haram dan gadis kotor karena diperkosa, sulit dilupakan. Dia yakin Sarmo masih mengharapkannya. Tapi  semakin sulit rasanya berhubungan dengan Sarmo. Apakah dengan keadaannya kini Sarmo masih bisa berperan seperti dulu. Ini yang dipikirkan Sumi. Tidak baik dia kawin dengan Sarmo hanya karena hutang budi. Meskipun kini dia menjalani itu dengan Pak Jarwo. Tapi dengan Pak Jarwo adalah keterpaksaan. Dia tidak boleh mengulangi hal itu pada Sarmo. Dia juga ingat dulu dia harus tidur di toko bersama Sisri dengan tikar dan bantal tipis. Kini dia tidur di kasur empuk lengkap dengan bantal guling.

Pada Sindhu sungguh Sumi kagum, rindu. Tapi Sumi hanya sedikit mengenal sisi pribadi Sindhu. Dia tidak menyangka Sindhu orang yang jiwanya rapuh. Dia merasa aneh saja ada orang dengan kemampuan seperti Sindhu lalu bingung mencari Tuhannya, berbalik 180 derajat meninggalkan dunia yang penuh harapan. Sementara dia begitu berminat mengejar dunia. Sumi telah membuktikan dengan kemampuannya dia bisa melakukan banyak hal : membantu ibunya, membantu bapaknya, dia bisa mempekerjakan orang. Kini dia akan membeli toko sebelahnya untuk dijadikan toko bangunan. Sungguh sayang ada orang-orang berotak cerdas, berkecukupan dan punya waktu justru mencari Tuhan lewat tindakan yang tidak produktif: berdoa dan berdzikir saja. Tuhan disamakan dengan makhluk yang suka dipuja-puji. Tuhan tidak butuh itu. Bagi Sumi yang tidak sampai menikmati bangku kuliah justru memahami doa dan dzikir sesungguhnya adalah bekerja. Bekerja adalah doa paling nyata. Tidak mungkin Tuhan mengabulkan keinginan makhluknya kalau hanya dengan meminta tanpa usaha. Mengingat Tuhan pun yang terbaik adalah dengan berbuat baik dalam keseharian, menghindari berbuat jahat di tempat kerja, tidak menipu di tempat kerja, bukan dengan menyebut-nyebut namanya tanpa ada tindak laku nyata. Ah Sumi bingung sendiri. Yang jelas Sumi merindukan kasih sayang. Dia sementara ini lebih banyak memberi. Dia merawat suaminya, dia membantu simbok dan bapaknya serta adiknya. Sumi bahagia bisa melakukan itu tapi ada hal yang kurang : kasih sayang. Simboknya memberikan kasih sayang, tapi ada yang kurang yaitu belaian cinta. Dia merindukan kasih sayang dari seorang pria yang dia impikan. Dia berdoa semoga Mas Sindhu bisa lekas normal. Dia takut jika justru sebaliknya yang terjadi: mas Sindhu makin egois memikirkan surganya sendiri tanpa peduli pada orang di sekelilingnya.

Tepat di akhir lamunannya pembantunya memanggil

“Bu bapak pingsan…”

“ha? Bapak?”

Sumi segera bergegas pulang. Dilihatnya pak Jarwo tidak sadarkan diri.

Cepat-cepat dia memanggil sopir untuk membawa Pak Jarwo ke RS Tegalyoso Klaten.

“mbok tolong diurus tokonya. Aku ngantar bapak ke rumah sakit” pinta Sumi pada Lik Kartiyem.

Mobil segera meluncur ke Klaten dengan kecepatan tinggi. Sumi tidak tahu apa yang terjadi. Kemungkinan gula darah suaminya naik. Tadi pagi suaminya minta bubur sumsum dengan diberi juroh, gula kelapa yang dicairkan. Mungkin terlalu banyak makan karbo yang manis sekaligus.

Sampai di Tegalyoso, segera masuk di Unit Gawat Darurat.

Anwar anak tirinya segera menyusul.

Dilakukan beberapa tes lab dan pak Jarwo di rawat di ICU dengan selang-selang inpus menempel di tangannya.

Beberappa jam kemudian dokter menyatakan kalau ginjalnya sudah kena. Jadi harus dilakukan cuci darah.

**

Sindhu masih menekuni ajaran gurunya. Dia belajar ikhlas dalam melaksanakan segala sesuatu, tidak ada takut siksa atau tidak juga karena mengejar pahala. Dia berusaha semeleh, menerima nasib tanpa protes. Ajaran gurunya aslinya bagus. Salahnya Sindhu adalah dia meninggalkan tanggungjawab dunianya, tanggungjawab sebagai anak, tanggungjawab sekolahnya. Hal-hal itu adalah sarana menguji keikhlasannya. Dia belum cukup kuat berusaha namun sudah pasrah. Ketika sedang dzikir di mesjid Sindhu merasa ada yang mendatangi dan memberikan wejangan

“ Wis kamu pulang sana. Temui ibumu. Minta maaflah. Turuti apa nasehat ibumu. Sesungguhnya ridha Tuhan bergantung pada ridha orang tua.”

Sindhu terbangun dari tidurnya yang sambil duduk. Dia mencari ke akan kiri. Suara itu begitu nyata. Seperti suara mbah buyutnya yang sudah meninggal. Tertegun sejenak dia mengunyah pesan dari suara itu. Tapi Sindhu menganggap itu godaan setan. Itu suara yang akan menghalangi upayanya mencari Tuhan. Sindhu tetap tidak tergerak, dia yakin dengan jalan yang ditempuhnya kali ini.

*

Sarmo masih tekun dengan usahanya. Diam-diam dia ingin sekolah lagi. Dia menganggap Sindhu adalah saingannya untuk mendapatkan Sumi. Kata-kata Sumi ingin dibuatkan rumah besar masih terngiang di telinga Sarmo. Kini dia mampu untuk melakukan itu. Tapi dia sadar bunga cantik selalu diminati banyak orang. Sumi tidak salah jika harus memilih yang terbaik. Dia tidak tahu bagaimana sekarang kondisi Sindhu yang sedang tidak normal. Dia hanya tahu Sumi pernah jalan dengan mahasiswa. Bapaknya yang memberitahu. Bagi Sarmo itu adalah penyemangat. Dia juga ingin sekolah hingga tamat kuliah. Dengan begitu masih ada peluangnya untuk mengejar Sumi.

Sarmo mencari informasi soal Kelompok Belajar (Kejar) paket C. Dia berharap bisa dapat ijazah setara  SMA. Jika lepas SMA dia bisa meneruskan ke universitas swasta atau Universitas Terbuka. Dia mendaftar di dinas pendidikan setempat untuk ikut Kejar paket C. Tiap minggu 2-3x dia ikut belajar paket C.  Dia ingin cepat bisa segera ujian untuk mendapat ijazah. Ternyata tidak mudah. Sudah terlalu lama dia tidak baca buku. Waktunya habis untuk mengurusi usaha dagangnya. Otaknya seperti sudah membeku untuk mengikuti materi pelajaran sekolah. Dia pilih yang sosial yang lebih mudah. Perlu waktu untuk set up lagi otaknya. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.